
Suara terompet kerajaan berbunyi nyaring membahana di ibukota kerajaan Panchala, pertanda ada sebuah kejadian besar di sana akan berlangsung. Bunyi tiupan terompet di masa itu adalah pertanda untuk memulai hari besar, atau bisa juga sebagai pertanda untuk peperangan.
Seluruh peserta dari berbagai kerajaan sudah mulai berdiri rapi di tengah alun-alun, menunggu sang raja memberikan sambutan. Sekaligus melihat hadiah yang akan dipertaruhkan oleh mereka.
Drupada naik ke atas podium yang memang disediakan untuknya, usianya sudah hampir seratus tahun membuat pemimpin kerajaan Panchala itu harus ditopang oleh tongkat kerajaan yang terbuat dari perak. Namun dibalik usianya, tubuh lelaki itu masih terlihat kekar.
Bekas luka peperangan dan pertarungan membuat pria yang dibalut kain berwarna keperakan terlihat sulit untuk berjalan tegak.
“Selamat pagi para ksatria. Selamat datang di kerajaan Panchala yang kecil ini. Kedatangan anda semua saya sambut dengan sukacita.”
Para ksatria dan pangeran yang ada di sana bertepuk tangan dengan gembira.
“Izinkan saya, memperkenalkan seorang putri sekaligus darah daging saya sendiri. Srikandi!”
Suara sorakan semakin riuh ketika Srikandi naik ke podium berdampingan dengan ayahnya. Rambut panjangnya yang biasa diurai, hari ini digulung dan diikat di pangkalnya. Pertanda kalau dirinya siap tempur.
Wajahnya yang cantik dengan mata bulat dan hidung sedikit mancung, beserta bibir tipisnya yang merona merah dan selalu menyunggingkan senyum itu, menyembunyikan sebuah fakta bahwa ada jiwa lelaki di dalam dirinya. Jiwa yang menyimpan dendam kepada orang yang pernah membunuhnya dulu sebelum turun kembali ke dunia dalam wujud seperti sekarang ini.
“Siapapun pemenang dalam sayembara ini, berhak memperistri putri kerajaan Panchala sekaligus menjadi penerus tahta milik saya sendiri,” sambung Drupada dengan penuh wibawa.
Para ksatria dan pangeran peserta sayembara pun bertepuk tangan sambil bersorak lebih riuh lagi.
Mata Arjuna dan Srikandi tak sengaja bertemu, keduanya saling melemparkan senyum. Saat itu Arjuna memakai baju yang terbuat dari kulit lembu yang disamak menjadi sangat tipis dan lentur, modelnya seperti sweater milik Elang dengan tudung dan tanpa lengan.
Pakaian kebesarannya disembunyikan di tempat mereka bermalam, ditimbun dalam tanah untuk menyempurnakan penyamaran mereka.
__ADS_1
Nakula dan Sadewa pun melakukan hal yang sama.
“Babak pertama, adalah berburu. Siapa saja yang berhasil membawa lima **** hutan dalam waktu tercepat akan lolos ke babak berikutnya.” Drupada melanjutkan pidatonya yang juga menjadi pembuka sayembara. “Perburuan… dimulai!”
Begitu selesai raja Panchala itu memberikan pidato sambutan, suara terompet kembali berbunyi. Kali ini lebih panjang dan lama, menandakan bahwa perburuan atau pertarungan sudah dimulai.
Arjuna berjalan santai melewati para peserta yang tampak seperti mengejar kemenangan, mereka saling berpencar mencari jalan terdekat masuk ke hutan Alasjiwo dengan kudanya masing-masing.
Begitu naik ke atas kuda, putra ketiga Pandawa itu langsung memacu cepat kudanya. Insting memburunya selama menyamar sebagai rakyat biasa dulu, membuatnya cepat menemukan sekawanan **** hutan.
Elang beserta Nakula dan Sadewa sengaja tidak ikut berburu, mereka berinisiatif menunggu di alun-alun sambil mencari makanan serta minuman khas dari kerajaan Panchala.
Jari-jari lentik Arjuna memegang lima buah anak panah yang ada dalam tas khusus panah di punggungnya, ia meraih lima sekaligus.
Dengan cekatan, dilesakkan langsung anak panah yang ada di dalam genggamannya, sehingga langsung menerjang tubuh kelima **** hutan yang ada di sana.
Suara derup langkah kuda terdengar di kejauhan dari alun-alun Panchala yang sunyi, semua mata sigap menanti siapakah sosok ksatria yang pertama memasuki alun-alun. Sesosok ksatria tanpa baju kebesaran negaranya masuk ke dalam kota, tanpa mahkota di kepala dan baju yang aneh menurut mereka. Di belakang kuda yang dia tunggangi, menggantung lima **** hutan hasil buruannya.
Dari dalam sebuah kedai minuman, Elang, Nakula dan Sadewa tersenyum sumringah ketika tahu yang datang adalah Arjuna.
Setelah turun dari kuda, Arjuna melepaskan ikatan buruannya itu kemudian melapor di pos penjurian yang dijaga oleh para abdi dalem kerajaan Panchala. “Sumantri melaporkan telah memenuhi persyaratan perburuan,” kata Arjuna dengan tegas.
Dua orang abdi dalem memeriksa **** hutan hasil buruan yang dibawa oleh Sumantri alias Arjuna, dilihatnya darah yang masih mengalir dari bekas luka panah yang ada di tubuh hewan itu. Setelah memastikan kalau hewan itu benar-benar baru mati dengan tanda darah yang mengalir dan tubuh yang sedikit hangat.
Salah seorang abdi dalem memberi isyarat kalau Sumantri tidak curang, dan benar-benar itu hasil buruannya.
__ADS_1
Sehabis mendapatkan tanda lolos, Arjuna mulai melangkahkan kakinya ingin mencari saudara kembarnya dan Elang, tapi sebuah suara menghentikan langkahnya.
“Siapa namamu, Ngger?” Suara itu milik Drupada yang kebetulan ada di sana.
“Sumantri, Bambang Sumantri,” tukas Arjuna sambil berbalik dan memberi hormat.
Drupada mengangguk, pemilik kerajaan Panchala itu tersenyum melihat sosok Bambang Sumantri yang terlihat tampan dan santun. Ada kekaguman dalam dirinya pada ksatria di hadapannya itu. Sayembara yang baru berjalan kurang dari satu jam, namun Bambang Sumantri berhasil menyelesaikan tugasnya.
“Selamat, Ngger. Semoga kamu berhasil di babak berikutnya.”
Setelah pamit pada Drupada, Arjuna kembali melanjutkan langkahnya yang tadi terhenti oleh sang raja.
Baru saja Arjuna menyeruput minuman yang sudah dipesan oleh Nakula ketika melihat kedatangannya tadi, suara derap langkah kuda terdengar lagi dari kejauhan. Dari baju yang dikenakannya terlihat kalau sosok penunggang kuda itu adalah pangeran dari kerajaan Kurawa, Karna.
Seolah tak mau menjadi yang kedua, Karna memacu kudanya dengan sangat cepat dan langsung berhenti di pos penjurian. Tanpa turun dari kuda, lelaki berpakaian kebesaran Kurawa itu langsung melepaskan ikatan hewan buruannya ke tanah.
Raut kekecewaan tersirat di wajah Karna ketika melihat ada lima ekor **** hutan yang sudah teronggok di sana, pertanda sudah ada ksatria yang datang sebelum dirinya.
Setelah mendapatkan tanda lolos di babak pertama, sepupu jauh Arjuna itu langsung memacukan kudanya menjauh dari pos. Ia kembali ke tenda kebesaran bertanda kerajaan Kurawa yang dibawanya dalam perjalanan.
“Sepertinya kita menemukan lawan setimpal untukmu, Kang Mas!” celetuk Elang sambil memakan singkong rebus yang tersaji bersama ubi dan juga kacang rebus. Makanan Khas di setiap kedai minuman.
Nakula dan Sadewa tertawa berbarengan mendengar celetukan Elang.
“Kita lihat saja, siapa yang paling hebat di antara aku dan dia.” Arjuna tersenyum sambil menempelkan bibirnya dengan bibir gelas untuk membasahi kerongkonganya yang kering.
__ADS_1
“Sudah pasti, Kang Mas yang akan jadi pemenangnya. Semua sudah tertulis,” pungkas Elang diikuti tawa dari ketiga saudara Pandawa yang ada di depannya.