Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Benda Asing


__ADS_3

Waktu menunjukkan hampir tengah malam, Elang masih berkutat di depan tabletnya, mencari berita terbaru dari kejadian siang tadi. Baru kali ini ada serangan yang terjadi secara bersamaan, namun tidak ada yang bisa menerangkan apa penyebabnya.


Sejak lulus SMA dua setengah tahun lalu, Mang Ujo dan Istrinya meminta izin untuk tidak lagi menemani Elang. Karena umurnya yang tidak lagi muda, dan juga mereka mau menghabiskan masa tua di desa.


“*Tinggal di sini aja, Mang. Temenin Elang!” Pinta Elang sewaktu Mang Ujo pamit.


“Mamang pengen banget tinggal di sini, bahkan enggak dibayar juga ikhlas. Tapi, Mamang pernah punya janji sama Bi Asih. Mau menghabiskan masa tua di kampung,” jawab lelaki tua itu sambil menahan tangis. Ia duduk di kursi yang sama dengan Elang dan Bi Asih, Istrinya.


Dengan berat hati, akhirnya Elang merelakan Mang Ujo dan Bi Asih untuk pulang ke kampung halamannya di daerah Cianjur. Sebelum pergi, Elang memberikan ongkos dan uang yang tidak sedikit. Hitung-hitung untuk modal mereka membuka usaha*.


Banyak pelajaran yang diberikan oleh Mang Ujo kepada Elang. Tapi yang paling disuka olehnya adalah kisah tentang cinta, persaudaraan, kejujuran, dan pengkhianatan. Semua terangkum dalam cerita Mahabharata.


Sebuah pesan masuk di ponsel Elang.


“Kamu udah tidur, Lang?”


Elang tersenyum, kemudian membalas pesan dari perempuan yang sedang didekatinya, Dara. “Belum, Ra. Kamu sendiri kok belum tidur?”


Setelah membalas pesannya, Elang kembali mencari-cari penyebab fenomena kejadian siang hari tadi. Matanya tertuju pada satu berita yang menarik perhatiannya.


Tampak di layar monitor ada sesuatu yang aneh di langit, dan itu terjadi sekitar sedetik sebelum ada tembakan sinar berwarna biru yang menyebabkan terjadinya ledakan. Mata Elang menatap tajam dengan penuh rasa penasaran, kemudian ia berinisiatif untuk menyimpan video untuk diperhatikan lebih lanjut.


“Benda apa itu?” Gumamnya sambil memperbesar video yang sudah disimpannya, lalu memutar tampilannya. Untungnya teknologi video zaman ini sudah mampu menghasilkan gambar secara 4 dimensi, sehingga memungkinkan Elang untuk memperhatikan video itu dari berbagai sudut. 


Semakin diperhatikan, samar terlihat ada seperti benda asing yang melayang di langit. Hanya saja tertutup oleh asap tebal, namun bukan awan. Benda itu mengeluarkan asap tebal berwarna putih yang aneh.


“Ting!” Ada pesan masuk lagi ke ponselnya. Ternyata bukan cuma satu, tapi tiga pesan, semuanya masih dari Dara.


Tanpa menunggu lama, Elang mengambil ponselnya, membuka pesan tapi tidak membalas. Lelaki itu menekan tombol untuk menyambungkan telepon.


“Halo, Lang. Kamu belum tidur?” Ujar suara lembut di ujung sana.


“Belum, Ra. Aku masih nyari berita. Tau gak, aku nemuin satu video yang aneh!” 

__ADS_1


“Apa, Lang? Video skandal?”


“Bukan. Ini tentang kejadian siang tadi!”


“Ledakan itu?” Suara lembut Dara terdengar semakin serius.


“Iya, Ra. Aku liat ada sesuatu di langit tepat sebelum sinar warna merah melesat. Tapi aku belum tau itu benda apa. Mungkin besok bisa kita tanya sama Profesor Tejo!” Jawab Elang sambil memindahkan isi video ke dalam folder penting di dalam tabletnya.


“Hmm, aku setuju. Udah malem, Lang. Istirahat sana, jangan begadang!”


“Sebentar lagi, Ra. Ada tulisan yang mesti aku selesaikan. Kamu tidur duluan aja.”


“Malam, Elang!”


“Malam, Ra!” 


Dara menutup telepon, lalu tersenyum sambil memeluk bantal guling. Bahagia menyelimuti hatinya, karena Elang menelepon.


Sementara itu, Elang baru saja menyelesaikan tulisannya yang akan dia kirimkan ke redaksi Masa.com, sebuah surat kabar elektronik yang selalu menampilkan tulisan yang dibuatnya. Isinya tentang kejadian ledakan massal di Jakarta hari ini.


“Kampus diliburkan untuk waktu yang belum ditentukan”


Sebuah papan pengumuman terpampang besar di depan gerbang kampus. Elang memarkirkan motornya di dekat kantin yang jaraknya hanya tinggal menyeberang jalan kecil di depan kampusnya. Kantin tempat biasa ia makan bersama teman-temannya terlihat sebagian hancur, namun sebagian lagi masih berdiri utuh. Matanya menyapu beberapa mahasiswa yang berdiri di dekat gerbang, mencari keberadaan Dara.


“Elang!” Sapa seorang perempuan dari arah kios kantin yang masih berdiri utuh.


“Dara!” Dihampirinya pemilik suara itu. Gadis itu duduk di bangku tempat biasa para mahasiswa biasa berkumpul dan makan siang.


“Kamu udah masuk ke dalam?”


Lelaki itu menggeleng pelan, seperti tidak ada gairah. Terlebih melihat pemandangan di depannya yang terlihat hancur.


Ledakan kemarin masih teringat jelas di ingatannya, erangan kesakitan mahasiswa yang terluka, darah berceceran di mana-mana. Sampai Pak Marto, keamanan kampusnya yang tertusuk besi panjang di tempat biasa dia duduk menjaga pos

__ADS_1


“Kamu nemuin video apa semalam, Lang?” Selidik Dara.


“Ooh itu,” Elang mengeluarkan tablet dari tasnya, lalu memutar video yang didapatnya semalam. “Coba kamu perhatikan deh."


Dengan penuh rasa penasaran, Dara memperhatikan video yang diputar. Tapi ia tidak menemukan kejanggalan apapun pada tayangan itu.


“Ketemu?” Kata Elang ketika melihat Dara mengerutkan dahinya.


“Ketemu apa?” Gadis itu kebingungan.


“Yang janggal di video ini.”


Dara menggeleng pelan, matanya tidak lepas dari video.


“Coba lihat dari sudut yang beda,” Elang kemudian memutar video itu, menampilkan pandangan dari bawah. Terlihat di balik awan ada seperti benda aneh mengeluarkan seberkas sinar berwarna biru, lalu ledakan terjadi.


“Hah!” Dara terbelalak kaget, tangannya menutup mulutnya yang hanya mengeluarkan kata itu sebagai tanda keterkejutannya.


Sesaat kemudian keduanya terdiam.


“Itu apa, Lang?”


“Aku juga gak tau, Ra. Makanya aku mau nanya sama profesor Tejo...” Elang memasukkan tabletnya ke dalam tas. “Kamu mau ikut?” Sambungnya.


Gadis bermata bulat yang hari ini memakai jilbab berwarna biru itu mengangguk pelan.


“Waaah, kayaknya Profesor Tejo punya fans baru nih,” goda Elang sambil berdiri dari tempat duduknya.


“Apaan sih, gak jadi ikut nih aku!” Rajuk Dara. Dirinya mau ikut bukannya mau ketemu dengan manusia super nyentrik yang disebut profesor itu. Tapi ia hanya mau menikmati momen berduaan dengan Elang.


“Hehehe, jangan marah dooong, Ra. Kamu penasaran kan itu apaan? Yuk jalan sekarang!” Elang kemudian menarik tangan Dara yang ternyata tak ada penolakan dari gadis itu.


Beberapa menit kemudian kedua insan itu sudah ada di atas sepeda motor, menyusuri jalanan Jakarta yang masih hancur akibat tragedi ledakan kemarin. Meskipun begitu keadaannya sudah tidak separah sehabis ledakan kemarin. Tak ada lagi mayat-mayat bergelimpangan di jalan, namun jalanan sangat sepi karena masyarakat masih dilanda trauma.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2