
Detik berikutnya Elang membuka mata, dirinya memilih untuk menghadapi kematian dengan mata terbuka. Namun ketika membuka mata kedua saudara itu menurunkan tangannya dan tidak saling menyerang, tapi tampak dari wajah mereka masih ada dendam yang belum terselesaikan.
Elang menghela nafas lega. “Kalian adalah saudara, sama-sama putra dari Bima!”
“Dia membunuh Dewi Unggrasari!” protes Gatotkaca.
Antareja tidak menjawab, ia hanya menggeleng pelan.
“Bukan Antareja pembunuhnya. Aku pernah lihat dengan mata kepalaku sendiri, yang dibunuh olehnya berubah menjadi batu atau hancur menjadi abu.” Elang berjalan menuju sosok tubuh perempuan yang sudah tidak bernyawa itu, lalu menunjukkan sesuatu dari bekas lukanya. “Lihat, ada yang membunuh dia dengan dalih digigit ular.”
Gatotkaca menatap Antareja dengan penuh amarah.
“Tapi ini hanyalah sebuah fitnah, lihat!” Elang menekan bekas luka gigitan ular, dua buah besi kecil keluar dari kulit perempuan itu. “Tidak ada ular yang meninggalkan besi dalam bekas lukanya!”
Amarah keduanya mereda, seiring dengan penjelasan dari Elang. Mereka saling bertatapan, namun tak ada lagi emosi yang tersirat.
“Aku kemari karena mendengar ada suara perempuan minta tolong. Kebetulan saja kalian datang di saat aku sedang mencari pelakunya,” kata Antareja sambil memandangi besi kecil yang jadi senjata untuk membunuh.
“Belum lama aku lewat sini, berjumpa dengan gadis itu. Namanya Dewi Unggrasari, kami baru saja berkenalan. Waktu aku cerita pada paman Elang, kudengar suara teriakan. Kami langsung kemari.”
“Ya, sekarang aku tau kenapa kau menyerangku.” Antareja melirik pada Gatotkaca. Lidahnya yang bercabang mengendus besi pembunuh itu untuk mengendus pelakunya.
“Untung aja kalian gak jadi saling pukul, kalo enggak, mungkin ada dua mayat yang ada di sini!” tukas Elang yang sedang mengendalikan emosinya.
“Maaf, Paman. Aku kebawa emosi. Lagipula aku dan dia belum pernah bertemu sebelumnya.”
“Kalian sebenarnya bersaudara, hanya saja beda ibu. Bapak kalian adalah Bima, sedangkan ibumu.” Elang menunjuk pada Antareja. “Ibumu Dewi Nagagini, putri dari Sang Hyang Antaboga. Penguasa kerajaan Dasarbumi.” Kemudian Elang menunjuk pada Gatotkaca. “Dan ibumu, Dewi Arimbi,” pungkasnya dengan nafas yang terengah-engah.
“Kurawa…” Antareja tidak meneruskan kata-katanya, hal ini menimbulkan kebingungan pada Elang dan Gatotkaca.
__ADS_1
“Ada apa dengan Kurawa?” selidik Elang.
“Pihak Kurawa pelakunya. Mereka sengaja mengirim pembunuh untuk memecah belah kita.” Antareja mengendus lagi besi kecil itu dengan lidahnya. “Pasti ada kaitannya dengan sayembara waktu itu.”
“Kau tau kemana pelakunya pergi?” sambar Gatotkaca dengan penuh amarah.
Antareja menjulurkan lidahnya, mencium udara di sekitarnya. Dengan cekatan, ia menunjuk ke arah barat. “Ia kesana.”
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Gatotkaca langsung mengentakkan kakinya ke tanah. Dengan sekali dorongan ia terbang dan meluncur di udara tanpa suara.
Setelah tak lama terbang, Gatotkaca melihat seorang ksatria sedang memacu kudanya dengan kecepatan tinggi. orang itu bak dikejar sesuatu yang menakutkan.
Perlahan-lahan Gatotkaca menurunkan ketinggian terbangnya, ia tak mau sasarannya itu mengetahui keberadaan dirinya. Dalam sekali sambaran, ksatria berkuda itu terpental sejauh beberapa meter.
“Uhuk… Uhuk… Pengecut, beraninya bersembunyi!” tantang Ksatria berkuda itu setelah ia bangkit kembali. Ada darah mengucur dari mulutnya.
Gatotkaca perlahan turun, lalu menapakkan kakinya di tanah. Menampakkan dirinya di hadapan orang yang baru dihajarnya.
“Siapa diriku tidak penting, yang pasti kau telah membunuh seorang yang tidak berdosa!” Selangkah demi selangkah, ksatria Pringgandani itu maju mendekati lawannya.
Ksatria itu mengeluarkan pedangnya, ia bersiap melawan. Tetapi nyalinya menciut tatkala melihat lawannya yang perlahan mendekatinya memukul hancur sebatang pohon hanya dengan sebuah pukulan kecil.
Tinggal beberapa langkah lagi Gatotkaca sampai di hadapan ksatria itu, namun dengan sisa kekuatan yang ada ia memilih untuk lari menghindari lawannya.
Malang tak dapat dihindari. Belum jauh langkah panjang yang diambil, Antareja menarik kakinya ke dalam tanah, sehingga membuatnya terjerembab dan terjatuh.
Sebuah serangan siap dilancarkan oleh Gatotkaca, tapi dihalangi oleh Antareja. Dikendalikan oleh emosinya yang memuncak, hampir saja terjadi perkelahian antara mereka berdua lagi.
“Kita akan buat perhitungan pada Kurawa.” Dengan nada tenang, Antareja menjelaskan.
__ADS_1
“TIDAK… Orang ini harus mati!” Emosi Gatotkaca benar-benar meledak.
“Iya, dia memang akan mati. Tapi kita akan buat kematiannya menjadi sebuah kengerian bagi Kurawa.”
Mata Gatotkaca menatap tajam pada Antareja, keduanya kini saling berhadapan. Kemiripan wajah mereka menunjukkan kalau keduanya adalah dari keturunan yang sama, Bima. Keduanya punya kumis tipis dan juga hidung yang sedikit memanjang. Namun bedanya, yang punya darah raksasa punya tubuh yang lebih tinggi dan kekar ketimbang Antareja yang mempunyai kulit berwarna kebiruan serta dilapisi sisik di di kulitnya.
“Bagaimana?” selidik Gatotkaca singkat tanpa melepas pandangannya.
“Kita buat dia tak sadar, lalu biarkan kudanya memacu sampai ke Hastinapura. Ketika sampai di sana, akan kubunuh tubuhnya sampai menjadi abu di hadapan para Kurawa,” papar Antareja dengan tenang.
Bibir kakak beradik itu menyungging senyum pertanda kesepakatan terjalin antara mereka berdua.
Ksatria dari Hastina pura itu dibiarkan terikat dengan posisi duduk di atas kuda coklat miliknya. Dengan sedikit tepukan di punggung, kuda itupun langsung melesat dengan cepat. Sementara Gatotkaca mengawasinya dari angkasa, Antareja bersiap menunggu aba-aba dari Gatotkaca untuk mencium jejak kaki lawannya.
Jarak ke Hastinapura tinggal beberapa kilo lagi dari tempat Antareja berada.
Dari dalam halaman istana Hastinapura, Duryudana mendengar suara derap langkah kaki kuda menuju arahnya. Langkah kaki kuda dari abdi dalemnya yang baru saja ditugaskan olehnya untuk memfitnah Antareja.
Sengkuni tersenyum sambil meringis kesakitan, ada kepuasan tersendiri jika mengetahui rencana jahatnya berhasil. Sebab kekuatan Pandawa akan berkurang.
Derap langkah kaki kuda semakin mendekat, ketika di tikungan terakhir mereka melihat pengendarnya terduduk pingsan di atas kuda dengan kecepatan yang tidak juga berkurang. Beberapa pengawal melompat, mencoba untuk menghentikan kuda yang melaju dengan cepat, yang pada akhirnya bisa mereka kendalikan selepas sepuluh meter melewati pendopo kerajaan Hastinapura.
“Periksa keadaannya,” titah Duryudana sambil berjalan menuju abdi dalemnya.
Pasukan perang Kurawa yang ada di sana terlihat sibuk memeriksa kondisi orang kepercayaan dari Duryudana, semuanya tampak kebingungan karena tak ada tanda-tanda kekerasan di tubuhnya. Namun ketika sang raja Hastinapura itu mendekat, tiba-tiba tubuh sang abdi dalem membatu. Sebentar kemudian hancur menjadi abu.
“A—Apa itu?” Duryudana kaget sambil memerhatikan sekeliling. “PAMAN! PAMAN SENGKUNI! APA YANG TERJADI?” pekiknya.
Kengerian menyelimuti kerajaan Hastinapura setelah orang kepercayaan Duryudana yang baru saja menjalankan tugasnya hancur menjadi abu. Sementara Gatotkaca yang memperhatikan dari atas tersenyum penuh dengan kemenangan. Ia lalu meluncur kembali menuju Elang yang mereka tinggal di dekat jasad Dewi Unggrasari.
__ADS_1
Setelah pemakaman kecil yang dilakukan oleh mereka bertiga, Gatotkaca dan Elang kembali ke Karang Kedempel, sedangkan Antareja kembali ke kerajaannya di dasar bumi.