
Kenyataan bahwa menjadi peserta kedua yang kembali setelah menjalankan misi di babak pertama membuat Karna menjadi berang, terlebih setelah tahu bahwa yang mengalahkannya adalah orang asing yang belum pernah dikenal olehnya. Sepanjang hari dirinya bersama Sengkuni menyelidiki siapa sebenarnya Bambang Sumantri yang telah mengalahkan dirinya.
“Ini tidak bisa dibiarkan, Paman Sengkuni. Aku penasaran, siapa si Sumantri ini?” Mata Karna tak lepas memandang jalanan ibukota Panchala yang berupa tanah basah sehabis diguyur hujan lebat dari pintu tendanya, sementara Sengkuni hanya duduk sambil tersenyum licik di dalam tenda yang dipenuhi dengan bantalan tempat duduk yang nyaman dan buah-buahan segar dan juga daging **** hutan yang diburu oleh Karna setelah misi.
“Besok pasti kau akan menemukan siapa dia, anakku. Sekarang, nikmatilah dulu hidangan ini.” Sengkuni berkata lirih, suaranya serak namun tegas.
Karna menoleh sedikit ke arah pamannya, sedikit mengangguk kemudian lelaki berperawakan tegak itu masuk ke dalam tenda yang kering dan sejuk.
Hujan yang mengguyur Panchala hingga ke hutan Alasjiwo membuat tanah di sekitar bivak yang dibuat oleh Arjuna dan rombongannya menjadi basah dan becek. Untungnya Elang mendesain bivak mereka aman dari tanah yang basah. Dengan sedikit ilmu yang pernah didapatnya saat melihat video petualangan di youtube, ia membuat bivak dengan model panggung yang dasarnya tidak menyentuh tanah.
Selepas hujan, tak ada lagi kayu kering yang bisa dipakai untuk membuat api unggun, tapi ikan-ikan di sungai dekat bivak semakin banyak. Elang menombak beberapa ikan besar, kemudian diolah agar bisa dibakar dan disantap.
“Sadewa, boleh pinjam pedangmu?” tukas Elang sambil mengumpulkan kayu bakar yang sudah basah.
“Untuk apa?” Sadewa mengeluarkan pedangnya, lalu mengoper pada Elang.
“Kita butuh kayu bakar. Pedangmu bisa mengeringkan kayu-kayu ini.” Elang menyalakan api di pedang Sadewa, sebentar saja kayu di depannya kering dan menyala.
Diam-diam, Arjuna takjub pada kemampuan lelaki yang datang dari masa depan itu. Elang yang ketika pertama kali dilihatnya sebagai orang yang penuh bualan karena cerita tentang hal yang tidak masuk akal, hari ini ia melihat banyak sekali kemampuan yang dimilikinya.
Setelah makan malam, mereka pun beristirahat dalam lelap. Sementara Arjuna mempersiapkan diri untuk pertandingan pagi hari nanti.
* * *
__ADS_1
Suara terompet kembali membahana di kerajaan Panchala, alun-alun ibukota yang tadinya sepi, mulai dipadati oleh para peserta sayembara yang berhasil menyelesaikan misi di hari pertama. Sementara mereka yang gagal, langsung kembali ke kerajaan masing-masing.
Arjuna berdiri di kerumunan paling belakang, dirinya sengaja menghindari keramaian agar tidak ada yang memerhatikan dirinya, termasuk Karna.
“Selamat pagi para ksatria. Hari ini kita akan melihat, siapa ksatria yang akan memperistri putriku, sekaligus menjadi penerus tahta kerajaan Panchala menggantikan diriku.”
Para ksatria yang berhasil lolos bersorak gembira.
“Hari ini, pertandingan akan berlangsung di sini, di alun-alun kota Panchala. Setiap peserta diharuskan memanah target bergerak untuk bisa memenangkan sayembara ini.” Tangan kanan Drupada menunjuk pada sebuah tanah lapang yang sudah dibentuk sebagai arena pertandingan.
Tumpukan jerami yang disusun sedemikian rupa di tanah lapang dekat alun-alun menjadi arena pertandingan. Mengingatkan Elang pada sebuah tempat yang disebut lapangan tembak, sebuah arena permainan menembak menggunakan peluru terbuat dari bola-bola berisi cat yang akan pecah jika mengenai target.
Hanya saja di sini, target akan ditembak dengan anak panah.
Setelah mengambil nomor undian, Arjuna mendapat urutan kesepuluh, sementara Karna mendapat urutan keempat dari lima belas peserta yang tersisa.
Ketiga peserta lain sebelum Karna kebanyakan gagal ketika harus memanah target bergerak.
Giliran Arjuna maju ke arena. Semua mata memandang kepadanya, karena dari cara berpakaian terlihat sekali kalau dirinya bukanlah seorang ksatria ataupun pangeran. Pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Bambang Sumantri ini menjadi bahan perbincangan semua orang karena kecepatannya menyelesaikan misi di hari pertama.
Ketenangan dan ketepatan dari lesakkan panah Arjuna membuat semua peserta tertuju padanya. Karna terus memerhatikan gerak-gerik Bambang Sumantri sambil memicingkan mata, tiba-tiba ia melihat sebuah gerakan tangan ketika mengambil anak panah dan memasangnya di senar busur yang sangat dikenalnya.
“Paman, aku tau siapa Bambang Sumantri.” Sambil menyondongkan tubuhnya ke Setyaki, ia berbisik pelan.
__ADS_1
“Siapa?”
“Dia adalah Arjuna. Lihat gerakannya saat mengambil dan memasang anak panah.”
Sengkuni mengangguk pelan, di wajahnya terpasang senyum menyeringai seperti menyembunyikan sebuah rencana licik. “Tenang Anakku, saatnya nanti akan kita bongkar siapa dirinya di hadapan orang banyak.”
Arjuna mendapat nilai sempurna, dari semua bidikannya tak ada satupun yang meleset. Ada senyuman kembali mengembang di wajah Drupada ketika mengetahui pemuda yang kemarin membuatnya terenyuh dengan sikap hormatnya itu berhasil melewati ujian kedua.
Srikandi yang kebetulan ada di situ melirik ke arah Arjuna, mata mereka kembali beradu, seperti memercik sebuah perasaan dari dua hati yang terpisah.
Sayembara pun akhirnya berakhir tepat di tengah hari. Karena hanya ada dua peserta yang berhasil mencapai nilai sempurna, akhirnya diadakan pertandingan final yang mempertemukan Arjuna dan juga sepupu jauhnya, Karna.
Pertarungan berikutnya sedikit sulit, karena kedua peserta diharuskan memanah target dengan tepat dari jarak jauh.
Karna mendapat giliran pertama, ia melesakkan panahnya dari jarak 500 meter. Sasaran yang terlihat kecil itu berhasil ditubruk oleh anak panahnya.
Arjuna mundur seratus meter ke belakang, lesakkan panahnya berhasil membelah anak panah sepupunya yang sudah terlebih dahulu menancap di sana.
Tak mau kalah, Karna ikut mundur sejauh dua ratus meter, dilesakkan kembali anak panahnya, sehingga membelah anak panah milik Arjuna.
Melihat kedua peserta yang saling bersaing dengan kemampuan mereka, Srikandi tak mau tinggal diam. Perempuan berparas cantik itu berdiri di tengah-tengah jarak antara target sasaran dan juga kedua ksatria yang siap memanah. Sambil menyanggul rambutnya, ia berteriak lantang. “HAI PARA KSATRIA, AKU TAU CARA MENGETAHUI SIAPA PEMENANGNYA!” Suasana hening seketika. “KITA LEPAS ANAK PANAH BERSAMA-SAMA. SIAPAPUN DARI KALIAN YANG PANAHNYA BERHASIL MENGENAI PANAHKU, DIALAH PEMENANGNYA!” pungkas Srikandi sambil menyiapkan panah di busurnya.
Setelah tanda bendera dikibarkan, ketiga panah melesat dengan cepat. Karena jarak antara Srikandi dan target lebih dekat, anak panahnya mengenai target lebih dulu. Tak lama kemudian panah milik kedua saudara yang berseteru itu menyusul. Salah satu anak panah tepat mengenai sasaran di tengah, sementara anak panah yang lainnya menghujam panah milik Srikandi yang bergeser sedikit ke kanan dari target.
__ADS_1
Sayup-sayup terdengar suara sorakan penduduk desa yang menonton pertarungan panah jarak jauh, tidak ketinggalan para ksatria yang gagal menuju babak berikutnya pun ikut menjadi saksi.
“KITA PUNYA PEMENANGNYA!” Suara Raja Drupada terdengar membahana. Tersirat kebagahagiaan dalam dirinya, meskipun ia belum mengetahui siapa yang mengenai panah milik putrinya.