
Gencatan senjata telah usai, genderang perang kembali ditabuh. Kali ini Pandawa memiliki sebuah keuntungan selain gugurnya Resi Bisma yang menjadi panglima perang pihak Kurawa tidak ada, Gatotkaca baru kembali setelah menghabisi Raden Setyaboma di Trajutrisna.
Tanpa berpikir panjang lagi, Kresna langsung memilih Gatotkaca untuk memimpin pasukan Pandawa turun di medan laga. Karena memang dari awal sebelum perang bergulir, Kresna memang berniat menurunkan raja Pringgandani itu untuk menjadi pemimpin perang.
Begitu genderang perang dibunyikan, Gatotkaca langsung terbang rendah di antara para pasukannya. Kekuatan angin yang dimilikinya dipakai untuk menghembuskan debu-debu dari tandusnya Padang Kurusetra yang sudah bercampur dengan darah para ksatria yang gugur di hari sebelumnya.
Hari ini Elang tidak lagi ditugaskan untuk berjaga di belakang garis pertahanan, ia sendiri yang meminta untuk maju ke garis depan pertempuran. Tetapi Kresna tidak begitu saja memberikan izin pada Elang untuk maju sendirian, Nakula dan Sadewa ditugaskan untuk membantu sekaligus menjaganya.
Lelaki berambut acak-acakan itu tidak ragu lagi seperti saat-saat pertempuran pertamanya yang lebih memilih melumpuhkan lawan, ketimbang membunuhnya. Hari ini di tangan kanannya sudah sigap pedang karatan yang diberikan oleh Petruk.
Sementara itu di pihak Kurawa.
Melihat Kresna mengutus Gatotkaca untuk memimpin peperangan, Dorna yang saat itu menggantikan posisi Resi Bisma tak mau kalah. Ia mengutus Karna dan lima orang anaknya, Susena, Wresasena, Citrasena, Sudama, Satyasena. Untuk menggempur pasukan Pandawa.
Berkali-kali Gatotkaca memukul mundur pasukan Kurawa dengan kemampuan terbang dan kekuatannya, berulang kali juga para pasukan Kurawa tercengang melihat panglima perang lawannya tidak mempan diserang dengan senjata apapun yang mereka gunakan.
Memasuki pertengahan hari, Susena, anak dari Karna gugur. Kepalanya hancur dijar oleh Bima memakai gada emas raksasa miliknya.
Nakula dan Sadewa terus menghajar para pasukan Kurawa, tak terhitung berapa banyak yang telah mereka habisi hari ini. Sementara Elang meskipun memberikan perlawanan sengit, tetapi konsentrasinya terpecah antara mengawasi musuh yang menyerang dan juga keberadaan Gatotkaca.
__ADS_1
Gelang waktu yang melingkar di lengannya masih menunjukkan angka 85 persen. Selama peperangan bergulir, ia tidak sempat mengisi daya karena harus fokus turun ke medan laga. Di antara para prajurit kedua kubu, hanya Elang yang terlihat paling mencolok. Karena ia membawa ransel miliknya di peperangan kali ini.
“Apa isi benda di belakang punggungmu itu, Lang?” tanya Nakula ketika ia baru saja menusukkan pedangnya ke tubuh lawan.
“Barang-barang milikku!” Elang berkelit menghindari serangan tombak lawannya, kemudian menebaskan pedangnya pada lengan penyerangnya itu hingga terputus.
“Buat apa kau bawa dalam perang? Kau mau pulang?” sambar Sadewa.
“Entahlah, mungkin.” Elang hanya tertawa setelah menjawab pertanyaan Sadewa. Harus diakui beban di dalam tasnya kali ini semakin berat. Semua itu karena ia membawa bongkahan emas yang dicarinya bersama Nakula dan Sadewa beberapa hari sebelum peperangan dimulai.
Suara kereta perang yang terbuat dari emas dan ditarik oleh dua ekor kuda berderap dengan sangat kencang menuju tempat di mana Elang, Nakula dan Sadewa berada. Kereta itu berisi tiga orang ksatria Kurawa, Satyasena, Sudama dan Citrasena.
Setelah menghindari terjangan kereta perang milik Kurawa, ketiganya langsung bersiap melawan anak-anak dari Karna.
Ada perasaan gugup dalam hati Elang saat harus berhadapan satu lawan satu dengan Sudama, sebab baru kali ini ia harus menghadapi langsung seorang ksatria. Sebelumnya ia hanya pernah menghadapi bala tentara dan juga raksasa. “Ya, raksasa. Aku pernah menghadapi raksasa secara langsung, masa lawan satu ksatria saja aku takut?” gumamnya pelan.
Serangan pedang dari Sudama yang sangat kuat dan terarah membuat Elang harus beberapa kali melompat dan menghindar dari sabetan pedang besarnya. Ia berkelit dan berguling, menunggu saat yang tepat untuk menyerang karena setiap kali Elang melepaskan serangan, selalu bisa ditangkis oleh Sudama.
Tubuh Elang yang lebih kecil membuat Sudama mempunyai keuntungan dari jarak dan kekuatan, namun Elang juga punya keuntungan dengan kecepatannya meskipun terhambat oleh beban pada tas di punggungnya.
__ADS_1
Pada satu kesempatan setelah Sudama melakukan serangan, Elang melihat ada celah kelemahan di kaki lawannya. Kuda-kuda yang tidak sempurna dan tanpa perlindungan. Tanpa menunggu waktu lama, Elang langsung menebaskan pedangnya pada lutut kiri Sudama. Sebuah luka sobek menganga di lututnya membuat Sudama terjatuh, tak lama luka itu semakin membesar dan memisahkan bagian bawah lutut dengan pahanya.
Sudama terkejut dengan kehebatan pedang milik lawannya, dengan sisa tenaga yang ada ia berdiri meskipun hanya ditopang oleh kaki kanannya. Niatnya untuk mengunci Elang dengan tubuhnya dan merebut pedangnya. Namun naas, sabetan pedang berkarat yang diberikan oleh Petruk lebih dulu menghantam pinggang Sudama, sehingga tubuhnya terpisah seketika.
Sudama gugur dengan berlumuran darah yang mengalir dari kedua bagian tubuhnya.
Sementara Nakula, tanpa kesulitan berarti ia menghadapi Satyasena. Meskipun dilempari dengan berbagai jenis senjata dan berhasil melukai tangan dari Nakula, namun energi listrik yang dihempas dari pedang miliknya mampu melumpuhkan Satyasena dan membuatnya terjembab menghancurkan kereta perang emas yang tadi dibawanya.
Satyasena gugur karena tertiban roda emas kereta perangnya yang berat, di perutnya tertancap tiang poros dari roda keretanya yang terlepas.
Sadewa menatap tajam mata lawannya, ia harus menghadapi Citrasena yang terkenal akan kebengisan dan kemampuannya dalam memainkan senjata tombak. Beberapa kali Sadewa harus menghindari serangan tombak Citrasena yang panjang dan juga besar di matanya, meskipun ia mencoba maju, selalu saja sapuan tombak lawannya berhasil membuatnya mundur.
Lumayan lama Sadewa harus menghadapi serangan demi serangan yang dilepaskan lawannya secara bertubi-tubi. Berbagai cara juga ditempuh agar mampu menembus pertahanan dari Citrasena, malahan yang ada pahanya terluka oleh sabetan mata tombaknya.
Bungsu kembar keluarga Pandawa itu sempat terpojok dan terjatuh, ia menunggu saat-saat Citrasena akan menghantam senjata ke tubuhnya. Namun belum sempat Citrasena menghajar Sadewa, adik dari Nakula itu mengeluarkan jurus lidah api dari pedangnya. Sontak saja tubuh Citrasena terbakar seketika.
Tanpa menunggu waktu lama lagi, Sadewa langsung menebas pedangnya pada batang leher Citrasena yang menyebabkan kepalanya lepas dari tubuhnya seketika.
Citrasena gugur dengan kondisi tubuh yang hangus dan kepala terlepas dari tubuhnya.
__ADS_1
Elang, Nakula dan Sadewa berdiri berjejer menyaksikan kematian dari ketiga lawannya. Tanpa disadari, darah menetes dari lengan kanan Elang. Pertarungannya melawan Sudama membuatnya tak mengindahkan pertahanan dirinya. Untung saja ia memakai rompi yang diberikan oleh Antareja, sehingga terhindar dari luka di tubuhnya. Namun tetap saja, bagian lengannya tidak terlindungi.
Mengetahui keempat saudaranya gugur, Wresasena menjadi beringas. Ia menghajar pasukan Pandawa dengan senjata tombaknya yang panjang. Sekali sabetan, lima sampai sepuluh prajurit gugur seketika. Kemampuan menggunakan berbagai macam jenis senjata dipakainya untuk menyerang Elang, Nakula dan Sadewa. Sehingga membuat ketiganya berlari menghindari serangan lawan yang melempari mereka dengan senjata apapun yang ada di hadapannya.