
Suara langkah kaki berdebum sangat kencang, menggetarkan tanah di sekitar sebelah barat Hutan Amarta. Tak ada satupun suara yang keluar dari para raksasa yang berkumpul di tanah lapang yang bersebelahan langsung dengan istana Pringgandani. Hingga akhirnya muncul seseorang dari dalam istana, sesosok raksasa bertampang sangar dengan mahkota yang terbuat dari batu.
Di seberang barisan para raksasa itu, Bima berdiri paling depan. Ia didampingi oleh putranya, Antareja. Dan juga adiknya, Arjuna. Sementara tak jauh di belakangnya ada kedua adik bungsunya yang kembar, Nakula dan Sadewa. Beserta Elang yang tubuhnya masih gemetaran karrna takjub, sebab ia baru saja membunuh sesosok raksasa dengan tangannya sendiri.
Putra kedua dari keluarga Pandawa itu memicingkan matanya, mencoba untuk mencari tahu siapakah sosok yang akan keluar dari dalam istana.
“Graaaaaar!” Suara teriakannya menggema, beda dengan suara teriakan raksasa yang lainnya.
Wajahnya penuh dengan bekas luka pertempuran, menandakan kalau ia panglima tertinggi di antara para raksasa lainnya. Kepalanya ada sesuatu seperti mahkota yang terbuat dari batu, menandakan kalau ia adalah pemimpin yang paling disegani di antara para raksasa. Begitu langkahnya yang sedikit pincang keluar dari istana, seluruh raksasa yang lain menunduk dan memberi hormat.
“Arimba,” gumam Arjuna pelan. Meskipun ia belum pernah melihat sosoknya, tapi dari berita yang beredar dari mulut ke mulut para ksatria yang pernah selamat keluar dari hutan barat Amarta, seperti itulah gambaran sosoknya.
“Wangsa manusia la—lancang! Er…” katanya dengan suara menggelegar. Bangsa raksasa jarang sekali diberi anugrah bisa berbicara. Tak jarang siapapun yang bisa berbicara layaknya manusia, akan langsung diangkat sebagai raja.
Bima maju tiga langkah ke depan, meskipun Arimba belum maju.
“Aku menantangmu bertarung!” Suara Bima lantang memecah suasana. Ditunjuknya Arimba dengan memakai gada besar berlapis emasnya.
Merasa ditantang, makhluk tinggi besar itu menggeram keras. Nafasnya berhembus pendek-pendek, ia seperti disulut api emosi.Kemudian maju ke tengah tanah lapang di mana Bima, sang penantangnya sudah terlebih dahulu ada di sana.
Kedua lelaki bertubuh besar itu sudah berdiri berhadapan, meskipun jarak mereka terpaut beberapa meter. Bima yang tinggiya dua kali orang biasa, masih kalah tinggi dengan Arimba yang satu kali lipat lebih besar dan tinggi darinya.
__ADS_1
Meskipun begitu, tak ada sedikitpun terlintas rasa takut dari diri Bima. Diangkatnya gada besarnya hingga di atas kepala, lalu dihantamkan ke tanah. Seketika tanah yang barusan dihentaknya itu merangsek ke dalam, ada guncangan yang lumayan besar ketika gada milik Bima menyentuh tanah.
Tanpa dikomando lagi, mereka langsung mengeluarkan kuda-kuda. Arimba melirik sejenak ke arah bekas pertempuran antara rakyatnya dengan para Pandawa. Tiba-tiba amarahnya meluap, ketika melihat sesosok tubuh pamannya yang tergeletak tidak berdaya dengan kondisi mengenaskan. Tempurung kepalanya hancur dengan otak yang berceceran dan darah yang menggenang di sekitarnya.
Arimba melompat, kepalan tinjunya diarahkan ke arah Bima yang berdiri tepat di bawahnya sehingga membuat putra kedua Pandawa itu harus menerima pukulan keras yang membuatnya terbenam dalam tanah.
Tapi pukulan itu bukan apa-apa buat Bima, karena ternyata ia mampu bangkit lagi tanpa sedikitpun ada luka di tubuhnya.
Salah satu kesaktian dari putra kedua keluarga Pandawa itu memang kulitnya yang keras, anugrahnya itu didapat ketika masih bayi.
*Tepat setelah dirinya dilahirkan, ada selubung berwarna putih keperakan yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Selubung itu membesar dengan cepat, mengikuti perkembangan tubuh dari Bima yang masih bayi.
Ternyata selubung itu memberikan kekuatan pada kulit Bima kecil, hingga saat ini.
Dilemparkannya gada emas besar yang sedari tadi dipegang oleh Bima. Putra kedua Pandawa itu memutuskan untuk bertarung dengan tangan kosong.
Guntur menggelegar dengan keras, langit yang tadi cerah berubah mendung dengan cepat. Hujan pun turun ke bumi dengan derasnya. Membasahi tubuh kedua musuh yang saling berhadapan.
Bima melompat tinggi, melebihi tinggi dari Arimba. Begitu sudah sampai di titik tertinggi lompatannya, ia meluncur dengan kaki kirinya yang menghantam wajah sangar Arimba sehingga membuatnya terhunyung dan jatuh.
Tepat ketika tubuh lawannya terjatuh, Bima mendaratkan kaki kanannya di dada Arimba sehingga membuat raksasa itu terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.
__ADS_1
Bima beranjak meninggalkan Arimba yang kesulitan untuk bangun, ia kembali ke tempat pertama kali berdiri sembari menunggu lawannya kembali bangkit.
Sebenarnya bisa saja pada saat itu juga Bima menghabisi Arimba, tapi sebagai ksatria urung dilakukannya. Terlebih lagi lelaki bertubuh besar itu selalu menjunjung tinggi keadilan dalam bertempur, salah satunya jangan pernah menyerang lawan yang sudah tidak berdaya. Meskipun dalam perang sesungguhnya banyak orang yang mengabaikan hal ini.
Hujan turun semakin deras, air yang menggenang di sekitar hutan Amarta sebelah barat itu berwarna cokelat dan merah gelap. Warna hasil pencampuran antara tanah dan juga darah para raksasa yang tumbang terkena gempuran dari keempat Pandawa ditambah Antareja dan juga Elang.
Detik berikutnya Arimba bangkit, amarahnya semakin memuncak. Raksasa itu meraih apapun yang ada di sekitarnya, pedang, gada, sampai bandul batu yang dipakai oleh salah satu pasukannya yang tewas di tangan Arjuna. Dilemparkannya satu per satu benda itu ke arah Bima, namun dengan sigap, benda itu dihancurkan oleh Bima dengan pukulannya.
Arimba merangsek maju dengan kecepatan tinggi sambil melempari lawannya dengan benda apapun, ia bersiap untuk menghajar Bima yang sedang kewalahan menghindari benda-benda yang melayang ke arahnya. Kepalan tangannya mengayun tepat menuju Bima, tapi belum sampai pukulannya menghantam lawannya, terdengar suara keras seperti ledakan. Seketika semua pasang mata yang menyaksikan pertarungan antara Arimba dan Bima tercengang. Di hadapan mereka terlihat dua musuh yang saling berhadapan itu saling beradu kepalan tangan.
“K—Kurang ajar!” Arimba geram, mengetahui pukulannya dimentahkan lagi oleh Bima.
Tanpa menungu lama lagi, Bima memundurkan langkahnya. Dengan cekatan ia melompat ke depan ke arah Arimba. Kuku sakti pancanakanya keluar dari sela-sela antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Menghantam tepat di jantung Arimba.
“GROAAAAAAAR!” pekik teriakan kesakitan dari Arimba terdengar memekakkan telinga, mengalahkan suara derasnya hujan.
Belum sampai di situ, Bima menurunkan tangannya yang kukunya masih menancap di dada Arimba. Dirobeknya tubuh besar itu sehingga isi tubuhnya terburai keluar. Darah memancar dari tubuh raksasa itu.
Arimba tewas seketika, isi tubuhnya berceceran di lapangan. Tubuh Bima tertutup oleh darah lawanya itu, tapi tidak lama karena air hujan menghapusnya.
Mengetahui raja mereka telah gugur, sorakan para raksasa sontak terhenti. Satu persatu para raksasa itu pergi menjauh dari istana Pringgandani yang telah jatuh ke tangan Pandawa.
__ADS_1