
“Apa itu, Paman?” Gatotkaca menyapu pandangannya ke sekeliling ruang bawah tanah persembunyian Profesor Tejo, sesaat setelah getaran yang mengguncang tempat mereka berada saat ini.
“Itu adalah serangan makhluk angkasa luar yang pernah kuceritakan padamu, mereka ada di luar sana. Kita akan lawan mereka.”
Profesor Tejo masih tidak percaya pada apa yang Elang bawa dari masa lalu, harusnya Elang membawa seorang pahlawan, bukan seorang pelarian perang seperti Gatotkaca.
“Tenang Prof, ini hanya masalah paradoks waktu yang pernah Profesor ceritakan.” Elang menepuk bahu sahabatnya, mencoba memberi penjelasan yang singkat namun cukup dimengerti oleh Profesor Tejo. “Oh, iya Prof. Gelang waktu ini, tolong diisi penuh dengan daya dua kali lipat. Aku hampir tidak bisa pulang karena dayanya habis!” tandas Elang sambil memberikan dua buah gelang waktu yang tadi dipakainya untuk kembali.
Hanya anggukan kecil yang keluar dari pria berambut gondrong dengan kaos hitam bertuliskan nama band favoritnya itu. Dengan pengalamannya dibongkar seluruh komponen gelang yang terbuat dari baja ringan, lalu ia mengganti beberapa komponennya.
“Kapan kita akan serang mereka, Paman?” Gatotkaca kini berdiri tepat di samping Elang yang sedang menatap layar televisi yang sedang menayangkan kejadian di luar sana.
“Sebentar lagi, kita tunggu mereka turun dari pesawatnya. Kau serang di atas, aku serang mereka dari bawah.” Mata Elang tidak lepas memandangi kejadian di layar televisi. Kelihatannya makhluk angkasa luar itu sebentar lagi akan turun ke bumi, terlihat dari ketinggian pesawat mereka yang semakin merendah.
“Elang.” Suara Dara memanggilnya, membuat lelaki yang baru saja kembali dari masa lalu itu mencari keberadaan pemilik suara itu.
“Iya, Ra.”
“Kenapa lama sekali? Aku khawatir sama kamu.”
Elang mengusap kepala Dara yang dlindungi jilbab warna hitam, mencobanya memberi ketenangan padanya. “Aku sampai di waktu yang salah, Ra. Ketika sampai, Gatotkaca belum lahir. Untungnya aku ditemukan oleh Arjuna dan kedua saudara kembarnya, Nakula dan Sadewa…”
“A—Apa, kamu ketemu Arjuna, Lang?” pekik Dara.
__ADS_1
“Iya, Ra. Aku juga sempat ikut berpetualang sama Arjuna, bertemu Srikandi sampai ikut perang Bharatayuda.” Dengan antusias Elang mencoba menceritakan secara singkat kepada Dara, gadis yang ia sayang. “Nanti kuceritakan semuanya, Ra.”
Sebuah guncangan lagi terasa, kali ini tak sekuat sebelumnya. Dari siaran yang ditampilkan di layar monitor, tak ada ledakan yang terjadi. Namun sebuah gambar menunjukkan kalau pesawat super besar milik makhluk angkasa luar itu turun dan mendarat di Bundaran Hotel Indonesia.
“Sekarang, kita akan serang mereka.” Elang menatap Gatotkaca. Ksatria Pringgandani itu masih kebingungan dengan layar monitor transaparan yang sedang menyiarkan secara langsung kejadian di luar sana.
“Baik, Paman. Tapi, bagaimana caranya kita sampai kesana?” tukas Gatotkaca.
“Ikut aku.” Sambil merapikan posisi pedang yang tersampir di punggungnya, Elang berjalan ke arah lift yang akan membawa mereka ke atas.
“Elang, tunggu.” Kapten Firman menyela mereka. Ia berdiri tegak dengan senjata yang dibawanya saat datang ke tempat Profesor Tejo. “Aku ikut!”
Melihat kedua lelaki yang disayangnya sebentar lagi akan keluar untuk menghadapi pasukan makhluk angkasa luar yang menyerang, Dara menghampiri mereka. Ia memeluk kakaknya. “Hati-hati, Kak. Jangan sampai terluka.” Lalu ia ke arah Elang dan mengusap rambutnya yang berantakan. “Kamu juga yah. Aku tunggu di sini,” katanya dengan senyuman manis yang mengembang tulus di bibirnya.
Pintu lift terbuka, ketiga lelaki yang siap bertempur itu masuk ke dalamnya diiringi dengan senyuman manis yang keluar dari bibir tipis Dara sebelum pintu lift kembali menutup dan membawa mereka ke atas untuk menghadapi lawan.
Pemandangan berikutnya yang terlihat sesampainya di atas, bukanlah hal terenak untuk dilihat. Sebuah ledakan yang terjadi beberapa saat lalu ternyata adalah sebuah ledakan besar yang menghancurkan jalan penghubung sepanjang Stasiun Cikini menuju Taman Menteng.
Banyak serpihan puing-puing besar yang berserakan di sekitar taman Situlembang tempat mereka berada saat ini. Tubuh yang bergelimpangan korban ledakan yang sebelumnya juga masih ada di sana. Menyebarkan bau tak sedap di sekitar danau buatan. Tak ada lagi burung merpati yang biasanya terbang bebas di sekitar taman. Semuanya terasa suram.
“Gatotkaca, kau bawa Kapten Firman ke tempat yang ditujunya. Aku menyusul dengan motor,” ujar Elang berusaha mencari keberadaan motornya.
“Motor, Paman?”
__ADS_1
“Maksudku, kuda bermesin milikku.”
Meskipun masih bingung dengan apa yang dikatakan Elang, namun Ksatria dari masa lalu itu langsung membawa Kapten Firman melesat terbang menuju tempat pesawat milik makhluk angkasa luar itu mendarat.
Elang mencari motor kesayangannya di antara tumpukan puing-puing dan debu yang berserakan, ia kemudian menemukan motornya di bawah tumpukan motor yang lain.
Diputarnya kunci persneling untuk menyalakan mesin motornya, namun naas. Tak ada reaksi sama sekali dari mesin motor kesayangannya itu.
“Ah, sial. Terpaksa mesti kukejar mereka.”
Tanpa menunggu waktu lama, lelaki pemilik rambut acak-acakan itu berlari menuju tempat Gatotkaca dan Kapten Firman berada. Namun ia merasakan tubuhnya terasa ringan dan tanpa beban sama sekali saat berlari, berbeda dengan saat ia masih di masa lalu sebelum melompat ke masa saat ini.
Elang terus berlari. Kecepatannya bukannya melambat, malah semakin cepat. Namun nafasnya terasa biasa saja, bahkan ia sangat terkejut tatkala melompat. Entah mengapa lompatannya jadi sangat tinggi sekali dengan jarak yang sangat jauh.
“Hey, ada apa ini? Kenapa lompatanku tinggi sekali?” Ia menghentikan langkahnya, matanya menatap tempat awalan ia melompat sebelumnya. Kemudian Elang melihat ke arah sebuah bis di depannya yang teronggok karena ditinggalkan saat ledakan pertama terjadi. Tanpa mengambil ancang-ancang berlari, ia melompat setinggi lima meter dan mendarat tepat di atapnya. “Whoaaa, kereeen!” pekiknya takjub
Namun sayangnya Elang tak bisa terlalu lama larut dalam rasa takjubnya, ia harus cepat-cepat sampai di tempat Gatotkaca dan Kapten Firman berada.
Begitu sampai di salah satu sudut Bundaran Hotel Indonesia, hal pertama yang dilihat oleh Elang adalah sebuah pemandangan yang benar-benar membuatnya marah. Pesawat milik makhluk angkasa luar itu mendarat tepat di tengah air mancur yang sebelumnya berdiri patung selamat datang.
Mereka menurunkan cukup banyak makhluk yang mempunyai wajah dengan mata hitam besar dan mulut kecil, kulit mereka berwarna merah mengkilap dengan baju seperti jubah dan menenteng senjata yang besar. Pemimpin mereka wajahnya lebih jelek, namun baju yang dikenakannya menunjukkan kalau dia adalah pemimpin pasukan.
Kapten Firman bersandar di sebuah beton pembatas jalanan yang ada di dekat sana, ia berlindung agar tak dilihat oleh makhluk-makhluk itu. Senjata yang ada di tangannya saat ini adalah senjata serbu milik prajurit pasukan khusus yang dipungutnya saat menuju kemari.
__ADS_1
Tinggal menunggu waktu yang tepat bagi mereka bertiga untuk melakukan serangan mendadak.