Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Antareja Gugur


__ADS_3

Suara ayam berkokok dan terpaan sinar mentari membangunkan Elang yang baru tidur hanya beberapa jam, karena semalam dirinya ikut Nakula dan Sadewa berpatroli malam hari di sekitar Astina. 


Suasana di Astina yang mulai rawan pemberontakan, membuat Yudhistira selalu mengadakan patrol untuk menghadang musuh yang masuk dari luar, maupun yang sudah ada di dalam kerajaan.


Terlebih lagi perhelatan akbar Rajasuya untuk menggalang kekuatan pasukan koalisi di bawah Pandawa akan dimulai dalam waktu beberapa hari. Hal ini menandakan kalau peperangan akbar Bharatayuda akan segera pecah.


Elang menatap gelang waktu yang dipakainya sebagai alat transportasi dari masa depan ke masa lalu, penunjuk dayanya masih menunjuk angka 75%. Tinggal sedikit lagi terisi penuh. Ketakutan terbesarnya adalah jika saat Bharatayuda pecah nanti energi dalam gelang itu tidak terisi penuh, maka misi yang diembannya untuk masa depan akan gagal.


Karena dalam cerita yang pernah dibacanya, Gatotkaca akan gugur di hari keempat belas pecahnya perang Bharatayuda. Ironisnya lelaki yang kulitnya sangat tebal dan kebal senjata apapun itu akan tewas oleh senjata yang dipakai untuk memotong tali pusarnya sendiri saat bayi, senjata yang dibuat oleh para dewa, Kunta Wijaya.


Para dewa sengaja membuat senjata Kunta Wijaya agar bisa mengendalikan Gatotkaca supaya tidak memberontak kepada kerajaan Kayangan.


Lelaki berambut acak-acakan itu menaruh gelangnya di dekat jendela supaya mendapatkan paparan sinar matahari, berharap cepat terisi kembali energinya.


Semakin siang, Istana kerajaan Astina semakin ramai. Tamu undangan dari berbagai kerajaan mulai berdatangan. Elang hanya menatap dari halaman istana siapa saja yang hadir, karena ia tidak punya hak untuk ikut duduk di dalam pertemuan itu.


“Gak masuk ke dalam, Lang?” tukas Sadewa mengagetkan Elang.


Elang tertawa kecil. “Ah, nggak. Ini kan perhelatan para raja.” Elang duduk di gazebo taman tempat biasa ia istirahat setelah berlatih bela diri. “Kau sendiri, kenapa nggak masuk?”


“Males, Lang. Selalu politik, lagipula sudah ada Nakula di dalam sana.”


“Petinggi kerajaan kalau sudah kumpul, apalagi yang diomongin selain politik?”


“Perang!” jawab Sadewa dengan cepat.


“Nah, itu juga. Bharatayuda sebentar lagi pecah, mungkin mereka berbicara soal Bharatayuda.”


Sadewa menggarukkan kepalanya. “Bisa jadi sih.”


Mendengar jawaban Sadewa yang terasa tak acuh pada apa yang akan terjadi, membuat Elang tertawa sendiri.

__ADS_1


“Kenapa tertawa, Lang?”


“Hahaha… Ternyata Sadewa asli sama yang pernah kubaca di cerita itu beda jauh!” kata Elang, masih dengan tawanya.


“Jauh? Emangnya yang di cerita seperti apa, Lang?”


“Sadewa itu lebih dewasa dan tegas daripada Nakula.” Elang kemudian mengambil tabletnya lalu menunjukkan cerita Mahabharata pada Sadewa. “Tapi yang asli malah kebalikannya.” Elang kembali tertawa, begitu juga dengan Sadewa.


“Mungkin mereka tidak bisa membedakan mana Nakula, mana Sadewa!” tukas Sadewa sambil tertawa.


Perhelatan Rajasuya dimulai, seluruh peserta undangan terlihat sangat khidmat mengikuti acara pertemuan para raja yang diprakarsai oleh Yudhistira. Elang dan Sadewa yang tadinya tidak mau mengikuti acara itu, terpaksa harus ikut karena dipaksa oleh Arjuna.


Pandangan Elang menyapu satu per satu raja yang datang di sana, tak banyak yang dikenalnya selain para Pandawa. Gatotkaca yang mewakili kerajaan Pringgandani, juga Ramadwipa dari kerajaan Pamujan. Tapi, ada yang belum datang di acara ini.


“Sadewa, kau lihat Antareja dan Kresna?” Setengah berbisik, ia bertanya pada Sadewa untuk menuntaskan rasa penasarannya.


 Kali ini Sadewa melepaskan pandangan menyapu seluruh peserta Rajasuya, dirinya baru sadar kalau dua orang yang disebut Elang tidak nampak batang hidungnya. Sadewa tidak menjawab, ia hanya menggeleng pelan.


“Hmm… Jangan-jangan…”


“Sadewa, ikut aku. Kita cari di mana mereka.” Elang beranjak dari duduknya, ia memilih duduk di pojok belakang agar tidak mendapat perhatian dari peserta yang lain.


“Kita mau kemana?” ujar Sadewa yang mau tidak mau mengikuti apa yang dikatakan Elang.


Elang tidak berkata apa-apa, ia mempercepat langkahnya menyusuri lorong di samping bangunan utama istana Astina.


“Lang, kita mau kemana?”


“Istal, ambil kuda. Kita cari Antareja dan Kresna, mereka pasti ada di suatu tempat dekat hutan Amarta,” jawab Elang tanpa memperlambat langkahnya.


Diliputi kebingungan akan jawaban yang diberikan Elang, Sadewa mengikuti saja apa yang dikatakan olehnya.

__ADS_1


Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Elang. Setelah berkuda selama lima belas menit dan melewati jalan setapak di hutan Amarta, mereka melihat sosok Kresna dalam perwujudan seorang Dewa Wisnu sedang berbincang dengan Antareja yang sedang duduk bersila.


“Bharatayuda sudah dekat, Ngger. Ada pesan dari para dewa untukmu.” Dewa Wisnu dalam wujud Kresna itu menatap ke arah Antareja. Ia juga tahu kalau di dekat sana ada Elang dan Sadewa.


“Apa itu, Hyang Wisnu?” Antareja masih duduk bersila dengan tenang di atas sebuah batu.


“Kemarilah, Sadewa. Kau juga manusia yang datang dari masa depan,” ujar Wisnu. Ia hanya menoleh sedikit ke tempat di mana Elang dan Sadewa berada.


Dengan sedikit keraguan, mereka berdua mendekat dan berdiri di sebelah kanan Kresna.


“Genderang perang Bharatayuda sebentar lagi akan ditabuh, para dewa merasa agar kau tak ikut campur dalam peperangan ini, Ngger.” Wajah Kresna kembali menghadap pada Antareja.


“Saya berjanji tidak akan mengikuti perang Bharatayuda, Hyang Wisnu.”


Dewa Wisnu tersenyum, “Maafkan aku, Ngger. Ini bukan keputusanku, tapi keputusan para dewa jugalah yang menginginkan untuk mencabut nyawamu sebagai jaminan kau tidak ikut berperang,” pungkasnya lagi.


Elang dan Sadewa terbelalak kaget atas apa yang dikatakan oleh Dewa Wisnu, namun keduanya tak berani untuk memprotes.


Antareja hanya tersenyum, dirinya memberi tanda pada Dewa Wisnu untuk memberi waktu untuknya sebentar. Kemudian ia mendekati Elang untuk memberikan sebuah lipatan kain yang terbuat dari kulit ular.


“Paman, ini adalah baju yang dibuat dari kulitku. Pakai ini untuk melindungi paman dari serangan yang datang. Aku senang bisa kenal Paman.” Setelah memberikan bingkisan pada Elang, ia lalu menatap Sadewa. “Paman Sadewa, sampaikan salamku pada semuanya. Maaf, aku tidak bisa turun lagi dalam peperangan.”


Sadewa mengusap kepala keponakannya sebagai tanda restu. Antareja tersenyum, ia kembali ke tempat duduknya.


“Sudah siap, Ngger? Sekali lagi, maafkan aku.”


“Saya sudah siap, Hyang Wisnu. Tapi biar saja yang melakukannya.” Tanpa menunggu persetujuan dari Dewa Wisnu, Antareja menunduk lalu mencium jejak kakinya sendiri di tanah basah yang baru saja diinjaknya.


Seketika tubuhnya yang berwarna kebiruan dan dipenuhi oleh sisik ular itu berubah menjadi batu. Dengan bantuan angin yang berhembus, tubuhnya kemudian hilang tertiup angin.


“Maafkan aku, Ngger.” Dewa Wisnu yang sedari tadi mengendalikan tubuh Kresna sudah kembali, kini tinggal Kresna meratapi kepergian raja dari kerajaan Dasarbumi.

__ADS_1


Elang dan  Sadewa hanya diam menatapi hilangnya Antareja, tak ada yang bisa mereka lakukan karena ini adalah takdirnya. 


“Paman Kresna, ayo kita kembali ke Astina.” Sadewa mencoba menenangkan Kresna yang ditanggapi dengan anggukan. Mereka bertiga kemudian kembali ke kerajaan Astina sambil membawa berita duka.


__ADS_2