Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Gatotkaca Gugur


__ADS_3

Sebuah cahaya dengan asap berwarna biru kehijauan menyelimuti tubuh Elang dan Gatotkaca. Sesaat asap itu menebal dan menipis dalam waktu singkat, tubuh keduanya pun menghilang seiring hilangnya kepulan asap di ruangan bawah tanah tempat Profesor Tejo beserta Dara dan kakaknya berada.


Perasaan yang aneh seperti saat kembali ke masa depan bersama Gatotkaca kembali timbul dalam tubuh Elang, seperti ada sesuatu yang mengalir masuk dari dalam tubuhnya. Perasaan hangat menjalar dari kaki sampai kepala.


Rupanya aliran hangat ini yang dibilang oleh Profesor Tejo soal kekuatan yang mengalir, sebuah kekuatan yang menyusup masuk ke dalam tubuh Elang. Perasaan yang sama seperti saat ia kembali ke masa depan. Namun, sama sekali tak disadari oleh Elang.


Perjalanan kembali ke masa lalu berlangsung lumayan lama oleh kedua insan yang berbeda zaman itu. Di satu sisi, Elang senang karena kota tempat tinggalnya sudah aman dari serangan makhluk dari angkasa luar. Di sisi lain, ia harus merelakan pahlawan idolanya sekaligus orang yang membantu menyelamatkan kotanya harus meregang nyawa setelah mereka keluar dari terowongan waktu.


Tak ada pilihan lain bagi Elang untuk mengembalikan Gatotkaca kembali ke zamannya, karena membawanya ke masa depan saja sudah menjadi sebuah keputusan yang salah. Sejarah berubah drastis ketika mereka sampai di masa depan.


Ada sinar berwarna biru kehijauan yang menyala terang di depan mereka, sinar itu semakin mendekat. Seiring dengan mendekatnya mereka ke sana, suara riuh para pasukan terdengar. Ditambah lagi suara genderang yang ditabuh berkali-kali, sama seperti saat peperangan Bharatayuda.


Cahaya itu semakin lama kian membesar dan membentuk seperti gerbang keluar dari lorong waktu.


“Kau siap, Gatotkaca?” Elang meyakinkan Gatotkaca yang ada di sebelahnya.


“Selalu siap, Paman,” jawab Gatotkaca dengan tegas.


Asap tebal berwarna biru kehijauan muncul satu meter di depan asap berwarna kebiruan yang baru saja menghilang di Padang Kurusetra. Menurut mata para prajurit yang ada di medan pertempuran, Gatotkaca hanya melompat satu meter ke depan saat masuk ke dalam gumpalan asap biru. 


Elang terjatuh begitu sampai di sana, sementara senjata Konta Wijaya yang mengejarnya langsung melesat dan menembus perut lelaki yang kebal terhadap semua senjata itu. 


Gatotkaca terjatuh sesaat setelah Konta Wijaya merobek perutnya, ia terjerembab dari terbangnya. Namun, tak lama kemudian bangkit lagi. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, perlahan-lahan otot-ototnya membesar dan semakin membesar. Seperti apa yang pernah dikatakan oleh Elang, Gatotkaca tiwikrama menjadi raksasa. Dengan sisa-sisa nafas di tubuhnya ia menghantam pasukan Kurawa, sehingga tak sedikit dari mereka harus meregang nyawa. Sesaat kemudian, tubuh raksasa Gatotkaca jatuh menghantam bumi. Begitu tergeletak di tanah, lama-kelamaan tubuhnya mengecil kembali pada ukuran normal.


Ditengarai oleh emosi dan amarah dalam diri Elang, lelaki yang berasal dari masa depan ini bangkit, lalu terbang sambil mengangkat kereta kuda milik Setyaki yang dipakainya untuk mengejar Gatotkaca sebelum mereka masuk ke lorong waktu.


Kereta kuda yang diangkatnya sudah siap untuk dilempar dan dihantamkan ke arah Karna dan beberapa prajurit Kurawa lainnya. Namun, belum sempat ia melemparkan benda yang dipegangnya, Kresna muncul di hadapannya. Suasana saat itu hening seketika, waktu seolah tak bergerak sama sekali


“Urungkan niatmu, Ngger. Ini bukanlah perangmu.” Dengan tenang, Kresna berusaha menenangkan Elang.

__ADS_1


“Tapi mereka membunuh Gatotkaca!”


“Aku tau, Ngger. Memang sudah ketentuan para dewa, ia harus gugur di medan laga. Kau sudah menjalankan misimu, Gatotkaca pun sudah melakukan tugasnya dengan baik. Semua sudah menjadi keputusan para dewa.”


Elang terdiam, ia menurunkan kereta kuda yang tadi diangkatnya lalu mendarat.


“Sekarang kau pulanglah ke masamu. Kalau mau mengambil barang untuk kenang-kenangan di masa depan sana, ambillah yang kau mau tapi dengan syarat. Jangan kau ikut mencampuri takdir Bharatayuda yang sudah digariskan,” pungkas Kresna masih dengan kewibawaannya yang tinggi.


“Baiklah, aku akan pulang. Namun, izinkan aku untuk menemui Ki Lurah Semar dan para guruku di Karang Kedempel.”


Kresna mengangguk, menyetujui permintaan Elang.


Begitu Elang memisahkan diri dari tengah medan pertempuran, waktu yang sempat terhenti kembali berputar. Suara riuh kembali terdengar.


Setelah gugurnya Gatotkaca, Karna akhirnya berinisiatif untuk mundur dan menghentikan serangan pada hari itu.  Dalam hati ksatria Kurawa itu, ia menyesali mengapa harus melepas senjata yang akan dipakainya untuk berduel melawan Arjuna. Namun di sisi lain, ia puas karena telah melenyapkan Gatotkaca yang berpotensi besar bisa membuat Kurawa kalah.


Jarak yang ditempuh oleh Elang untuk menuju Karang Kedempel ternyata tidak sejauh yang dilaluinya ketika harus melalu jalan darat. Melalui udara ia hanya perlu memakan waktu sekitar setengah jam dari Padang Kurusetra.


Matahari bersinar sangat indah di Karang Kedempel, Elang langsung bersimpuh di hadapan para gurunya, lalu memberikan salam pada Semar.


“Akhirnya semua tujuanmu datang kemari sudah tercapai, Ngger.” Ki Lurah Semar tersenyum memandangi Elang yang sudah mempunyai perubahan sangat pesat dalam dirinya. “Apa rencanamu ke depannya, Ngger?”


“Aku mau pamit pada Ki Semar, sekaligus berterima kasih telah menerimaku di sini selama ini. Aku mau pulang ke zamanku.”


Sambil menenggak teh hangat yang disajikan, Semar mengangguk. “Sudah semestinya kau kembali, Ngger. Di sini bukan tempatmu. Lagipula tujuanmu datang kemari sudah tercapai.


“Darimana Ki Semar tau kalau tujuanku sudah tercapai?” Elang penasaran pada apa yang dikatakan oleh Semar.


“Aku tahu apa yang terjadi di negeri ini, Ngger. Bahkan tidak usah ke Padang Kurusetra pun aku tahu kalau semalam Gatotkaca gugur di medan laga.

__ADS_1


Elang memakan singkong rebus yang disuguhkan oleh Semar, tanpa disadarinya semenjak kepergiannya dari zaman ini, hingga ke tempatnya dan kembali lagi kemari. Lelaki berambut berantakan itu belum sempat makan.


Petruk sangat senang ketika melihat pedang miliknya yang dipakai oleh Elang kini berubah menjadi berkilau dan lebih bertenaga dari sebelumnya. Ketika Elang ingin mengembalikannya, Punakawan sekaligus guru dari Elang ini menolaknya.


“Anggap saja itu kenang-kenangan buatmu, Ngger. Di sini, kami tidak membutuhkannya. Lebih baik kau simpan.” Petruk memberikan kembali pedangnya pada Elang.


Setelah berpamitan, Elang langsung meluncur kembali ke Padang Kurusetra yang saat itu peperangan sedang berlangsung dengan sengit.


“Nakula, Sadewa. Aku pamit kembali ke zamanku!” pekik Elang pada kedua kembar Pandawa.


“Buru-buru sekali, Lang?” jawab Nakula setelah menarik pedangnya dari tubuh musuh.


“Iya, misiku sudah selesai. Aku harus pulang. Terima kasih pada kalian.”


Tak ada jawaban dari keduanya, hanya anggukkan kompak dari Nakula dan Sadewa. Setelah itu, Elang meluncur menuju Arjuna yang berada di atas bukit.


“Arjuna, aku pamit pulang ke masa depan.”


Setelah melepaskan anak panahnya, Arjuna langsung menatap Elang. “Kau yakin tidak mau tinggal lebih lama lagi di sini?”


Elang menggeleng pelan. “Tugasku di sini sudah selesai, aku harus kembali.”


Arjuna menghela nafas panjang. “Baiklah, ini untukmu.” Ksatria berparas tampan itu memberikan sekuntum bunga berkelopak emas yang ada di mahkotanya kepada Elang. Terima kasih karena sudah menemaniku dan meyakinkanku untuk mendapatkan istriku.”


“Sama-sama. Salam juga untuk KangMas Bima dan Yudhistira. Maaf aku tidak bisa pamit, karena mereka sedang ada di garis depan.


Hanya anggukan dari kepala Arjuna, kemudian ia melanjutkan perannya melepas anak panah ke arah pasukan Kurawa.


Elang melesat terbang ke tempat di mana ia dan Nakula serta Sadewa mengambil bongkahan emas di sungai sebelum Bharatayuda bergulir. Dengan tangannya sendiri ia mengambil beberapa bongkah emas yang bertebaran di dalam aliran sungai yang mengalir. Setelah dirasa cukup, ia pun menekan tombol yang ada di gelangnya untuk kembali ke 2050.

__ADS_1


__ADS_2