
Semua mata tertuju ke arah lelaki muda yang beberapa menit lalu masih seorang bayi, Jabang Tutuka kini menjadi seorang remaja dengan ilmu yang tinggi. Kecepatan terbangnya melebihi pesawat supersonik, bahkan prajurit besi yang dilihat Elang sebelum dirinya pergi ke masa saat lalu.
BLAAAAAR!!!... Sebuah batu besar yang ada di dekat bibir kawah, hancur seketika dalam sekali pukulan oleh Jabang Tutuka. Kemudian ia melesat terbang ke angkasa, melakukan beberapa manuver sebelum turun tepat di hadapan para Pandawa.
“Salam hormat Bapakku.” Ia memberi salam pada Bima dengan menempelkan jari tangan kanannya yang mengepal dan jari kirinya yang menggenggam kepalan tangan kanannya. Lalu kepada empat pandawa lain dan juga Kresna. “Salam hormat Paman.” Terakhir memberi hormat pada Elang.
Bima merengkuh pundak anaknya, perasaan haru menyelimuti hati pria bertubuh besar itu. Baru saja beberapa hari dirinya menggendong bayi lelaki yang dibelit oleh tali pusarnya sendiri, hari ini ia melihat bayi itu sudah berubah menjadi seorang remaja yang diberkati dengan kekuatan hasil tempaan para dewa.
Baru saja mereka akan turun dan kembali ke kerajaan Astina, tiba-tiba seorang dewa turun dari langit. Penampakannya seperti seorang resi dengan jubah kain putih menutupi tubuhnya, ia bersimpuh memberi salam pada rombongan dari Astina.
“Salam hormat kami, Dewa,” kata mereka, terkecuali Elang yang hanya menunduk. Ia punya keyakinan yang berbeda dengan para pandawa lainnya, dirinya tidak percaya dengan adanya dewa. Sebab itulah ia tidak memberikan hormat, hanya sedikit menundukkan kepala saja.
“Ngger, para dewa ingin meminjam anakmu.” Suaranya penuh wibawa ketika ia berbicara pada Bima
“Untuk apa, Tuan?”
“Kerajaan Kayangan sedang dalam bahaya, Ngger. Bangsa Banaspati dan Gandarwa punya rencana ingin menyerang Kayangan.” Dewa itu terdiam, kemudian melanjutkan ucapannya, “sudah takdir dewata anakmu menjadi seperti sekarang ini. Maka izinkan kami, para dewa meminjam anakmu untuk membantu mempertahankan kerajaan Kayangan. Kelak, kami akan melatih dan mendidiknya agar menjadi lebih tangguh dan dewasa.”
Sejenak Bima menatap anaknya, ia menepuk bahunya. “Nak, kalau memang takdirmu untuk melindungi kerajaan para dewa, pergilah. Nanti kalau sudah selesai tugasmu di sana, kembalilah, Nak. Kerajaan Pringgandani dan Kerajaan Astina selalu terbuka untukmu.”
Sekali lagi Jabang Tutuka remaja memberi hormat kepada Bima. Setelah memisahkan diri dari rombongan dan berdiri di sebelah sang dewa, keduanya kemudian terbang menjauh dari bibir kawah Candradimuka.
Elang mengikuti rombongan untuk turun dari gunung. Selama hidupnya, baru kali ini dirinya merasakan naik gunung dengan waktu yang singkat. Tidak seperti yang pernah ia ikuti saat kegiatan Mapala dikampusnya. Tak ada pasang tenda, api unggun, ataupun barang bawaan yang berat. Semuanya berjalan dengan tidak membawa barang-barang apapun, kecuali senjata.
__ADS_1
Perjalanan turun gunung terasa berat bagi Bima, tak disangka di balik tubuhnya yang besar dan kekar itu, ternyata hatinya sangat lembut. Sepanjang perjalanan ia terlihat murung, kesedihan tampak jelas dari raut wajah kerasnya. Bagaimana tidak, ia baru saja kehilangan kesempatan menimang bayinya. Ditambah ketika si bayi sudah beranjak remaja dalam waktu singkat, kebersamaan mereka kembali direnggut oleh takdir para dewa yang menginginkan anaknya untuk memerangi bangsa paling licik dan ganas, Banaspati dan Gandarwa.
Setelah mengalami perjalanan turun yang panjang, akhirnya mereka sampai di kaki gunung Candradimuka. Sebuah wajah yang tak asing menunggu mereka di dekat pintu hutan Amarta, beserta sebuah kereta kuda yang siap untuk mengangkut para rombongan.
Setyaki tersenyum melihat kedatanga para Pandawa seraya berkata, “jadi, kalian melakukan perjalanan tanpa mengajak aku?” Ksatria itu menatap ke arah Bima yang terlihat murung. “Anakmu mana, Kang Mas?”
Nakula dan Sadewa mendekati Setyaki. “Wah maaf Kang Mas, perjalanannya tidak diduga dan tanpa persiapan. Makanya gak sempat ngabarin ke Kang Mas.”
“Si bayi di atas sana,” kata Sadewa sambil menunjuk langit.
“A—Apa? Di—Dia?”
“Dia tidak apa-apa kok, Kang Mas. Para dewa meminjamnya untuk melawan Banaspati dan Gandarwa.” Nakula merangkul Setyaki sambil mengajaknya berjalan kembali ke kereta kuda milik kerajaan Dwarawati yang berlapiskan emas.
“Hah? Emas?” Sadewa kebingungan pada apa yang dimaksud oleh Elang.
“Iya, emas. Benda berwarna kekuningan berkilau ini.” Elang menunjuk pada rangka kereta kuda dan pintu di kereta kuda.
“Ooh itu, memang apa istimewanya selain untuk kerangka kereta dan juga fondasi istana?”
“Ah tidak apa-apa kok.” Lelaki berambut acak-acakan itu memilih untuk diam. Sebenarnya dia sendiri kaget, emas yang sering menjadi alasan banyak negara untuk memulai peperangan di masa depan. Ternyata hanya jadi bahan baku untuk rangka kereta atau fondasi bangunan saja.
Setyaki kembali duduk di belakang kuda. Ia sendiri yang akan mengendalikan kudanya. Sementara Nakula dan Sadewa sudah masuk ke dalam kereta kuda.
__ADS_1
Sebelum naik ke dalam kereta, Kresna menepuk bahu Bima yang masih terlihat sedih.
“Relakanlah anakmu ditempa para dewa, putramu bukan anak biasa. Pasti dia akan bisa melewati rintangan yang akan dia hadapi.”
Bima menghirup nafas dalam-dalam, lalu dihembuskannya. “Baiklah Kang Mas. Semoga saja kami bisa bertemu kembali secepatnya.”
“Nanti aku sendiri yang akan menjelaskan pada istrimu, Dewi Arimbi.”
Setelah semuanya naik ke dalam kereta, mereka pun kembali ke Astina. Elang duduk di samping Setyaki yang sedang mengendalikan kudanya. Ketika ditanya mengapa ia tidak ikut masuk ke dalam kereta, dengan singkat ia menjawab, “aku bukan dari kalangan kerajaan, lagipula aku mau menikmati udara dan pemandangan di sekitar hutan.”
Sesampainya di istana, Elang buru-buru menuju gazebo tempat biasa dirinya beristirahat sehabis latihan. Tubuhnya sudah mulai lelah setelah perjalanan panjang tanpa henti beberapa hari belakangan.
Sambil meminum teh hangat dan juga rebusan singkong yang menjadi makanan favoritnya selama di zaman ini, ia membuka album foto di tabletnya. Ditatapnya foto Dara yang sedang tersenyum, gingsul di giginya menambah manis senyumannya.
“Dara, Gatotkaca udah lahir. Sebentar lagi aku pasti akan segera pulang. Segera, Ra. Setelah dia berhasil melawan para penyusup ke istana Kayangan, aku akan membawanya pulang dan menyelamatkan dunia kita.”
Elang menyeruput minumannya tanpa melepaskan pandangan dari foto perempuan yang disayanginya.
“Aku, sayang kamu, Ra.” Elang memeluk tabletnya, lalu memasukannya kembali ke dalam tas.
Baru saja ia akan merebahkan tubuhnya di gazebo, Sri Gita datang menghampirinya. “Kamu pasti lelah, Mas.”
Elang hanya menganggukkan kepalanya pelan. Gita duduk di sampingnya lalu membiarkan pahanya menjadi bantalan untuk menyangga kepala Elang. Aroma wangi tubuh dan rambut Gita yang beraroma rempah membuat desiran darah di tubuh Elang bergejolak. Tapi rasa kantuk lebih menguasainya, ia pun terlelap dalam usapan lembut jemari Gita di wajahnya.
__ADS_1