Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Desa Yang Terbakar


__ADS_3

Malam sebentar lagi berganti pagi, matahari belum menunjukkan kekuatan sinarnya. Di kejauhan tampak sinar berwarna kemerahan, diikuti dengan kepulan asap hitam dengan puluhan bara api yang membumbung tinggi ke angkasa.


Seorang berpakaian hitam dengan penutup kepala memacu kudanya dengan cepat setelah berhasil membakar desa yang ada di luar hutan Alasjiwo. Bukan hanya membakar, tapi orang itu juga membunuh siapapun penduduk desa yang mencoba melawan atau menghentikannya.


Gatotkaca terbangun dari tidurnya karena terganggu dengan teriakan minta tolong dari kejauhan. Tubuhnya melayang di udara sesaat setelah keluar dari gubuk milik Semar, lumayan tinggi ia mengangkat tubuhnya untuk mencari sumber suara yang didengarnya. Begitu melihat kepulan asap dengan warna membara, ia langsung turun.


“Paman, bangun. Ada kepulan asap di kejauhan.” Gatotkaca berusaha membangunkan Elang dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya.


Elang hanya menggeliat sedikit.


“Bangun, Paman. Cepat!” Kali ini ia mengguncang tubuh Elang lebih keras.


Perlahan Elang membuka mata, melihat sekeliling hingga pandangannya tertuju pada Gatotkaca. “Masih gelap, Tot. Ada apaan sih?” keluhnya.


“Ada kebakaran, jauh di sebelah sana, Paman. Sepertinya mereka butuh pertolongan.”


Lelaki bermata elang yang datang dari masa depan itu terkejut, sebab selama tinggal di zaman ini tak pernah dirinya melihat ada kebakaran.


“Mau ikut tidak, Paman?” tegas Gatotkaca lagi.


“Ayo!” Elang kemudian memakai baju yang diberikan oleh Antareja beberapa waktu lalu, menyampirkan pedang di punggungnya. Lalu ia berlari ke luar gubuk tanpa berpamitan dengan ketiga gurunya dan Semar.

__ADS_1


Bagai burung pemangsa yang sedang membawa mangsa, tangan kekar Gatotkaca memegang erat bahu Elang agar dia tidak jatuh. Meskipun sedikit melambatkan kecepatan terbangnya, namun cara ini dinilai paling efektif.


Angin yang berhembus menerpa wajah Elang membuatnya sedikit kesulitan untuk melihat pemandangan di sekitarnya, ia sedikit memicingkan matanya agar tak banyak angin yang mengganggu pandangannya. Sayup-sayup di kejauhan ia melihat asap hitam dengan bara yang menyala membumbung tinggi ke angkasa.


Gatotkaca menurunkan kecepatannya dan menukik begitu mereka sampai di desa yang terbakar, ia melepaskan Elang dua meter di atas tanah, kemudian ia mendarat beberapa meter di depan Elang. Hawa panas langsung menerpa wajah dan tubuh mereka, rumah-rumah yang ada disana nyaris seluruhnya terbakar. 


“Gatotkaca, cari sumber air. Bawa dan siram air dari ketinggian!” pekik Elang seraya berusaha membantu orang-orang yang masih selamat. 


Tak jauh di hadapannya terhampar beberapa tubuh tak berdaya dari penduduk desa yang terbunuh karena mencoba menghalau orang yang membakar desa mereka.


Tanpa disadari Elang, beberapa orang prajurit kerajaan mengepung dirinya dari belakang dalam posisi siap untuk menangkapnya. Mereka mengira kalau Elang adalah pelaku pembakaran desa itu.


Elang baru mengetahui keberadaan mereka setelah punggungnya merasakan ada sedikit tusukan besi tajam di punggungnya. Salah seorang dari prajurit itu menodongkan tombaknya dari belakang.


Perlahan-lahan Elang berdiri, tangannya diangkat ke belakang kepala sambil menggeleng. “Bukan aku yang membakar, justru aku kemari mau membantu memadamkan apinya,” jawab Elang tegas.


“Dusta!” Tanpa mendengar penjelasan selanjutnya dari Elang, prajurit yang menodongkan tombaknya itu melancarkan serangan untuk menusuk. Tapi Elang lebih sigap, ia menghindari tusukan tombak dengan berguling ke depan.


Elang langsung memasang kuda-kuda, bersiap untuk menerima serangan berikutnya. Bisa saja ia mencabut pedang untuk senjata, tapi diurungkannya karena lelaki berambut acak-acakan itu tahu kalau pedang miliknya hanya boleh digunakan saat mendapat lawan yang lebih berat darinya. Bukan musuh yang dia sendiri tak tahu mereka ada di pihak mana.


Sebuah serangan datang dari sebelah kanan Elang lewat hujaman tusukan tombak yang langsung dihindarinya dengan memundurkan tubuhnya sedikit, kedua tangannya dipakai untuk menangkap tombak milik lawan lalu ditariknya sampai si pemilik tombak limbung dan maju mengikuti arah tombaknya. Begitu dekat, Elang langsung melancarkan tendangan tepat ke dada prajurit yang menyerangnya.

__ADS_1


Berbekal tombak yang berhasil direbut dari lawannya, Elang memanfaatkan jangkauan panjangnya senjata yang gagangnya terbuat dari kayu yang lentur dengan mata tombak diasah dari perunggu itu. Meskipun ia belum pernah belajar menggunakan tombak selama di latih oleh ketiga gurunya, tetapi dirinya sering melihat gerakan para pendekar tombak di beberapa film aksi kesukaannya.


Serangan kembali datang kali ini bukan cuma satu, tapi empat prajurit langsung menyerang Elang. Dengan sekali ayunan Elang memutar tombaknya sehingga musuhnya mundur sedikit, memberikan ruang untuknya menyiapkan serangan sekaligus pertahanan. Dipasangnya kuda-kuda dengan sebelah kaki kiri di depan, dengan cekatan ia menyerang seorang lawan yang ada di hadapannya.


Tombak panjangnya ditusukkan ke samping wajah prajurit yang akan diserangnya, tapi tak mengenai wajah. Begitu sejajar di depan wajahnya, Elang mengayunkan tombak sehingga sisi lebar dari mata tombak yang terbuat dari perunggu itu menampar wajah musuhnya hingga pingsan.


Sisa tiga orang prajurit lagi yang harus dihadapi Elang, kali ini mereka memakai formasi bertahan dengan berada saling berdekatan dan siap menyerang jika lawan sedang lengah. 


Di tengah panasnya udara menjelang pagi yang bercampur dengan panasnya api yang semakin membara, pandangan Elang tidak lepas dari ketiga orang lawan yang ada di hadapannya. Sekali saja ada gerakan dari mereka, Elang sudah siap melancarkan serangan. Tapi tanpa disadari, seorang prajurit yang ditendang pertama kali olehnya menyerang dari belakang dengan menyabetkan balok kayu di punggung Elang hingga ia pingsan.


Gatotkaca baru kembali sambil membawa air sungai dalam sebuah kantong yang terbuat dari kulit kerbau, matanya melihat tubuh Elang yang tak berdaya sedang diseret oleh beberapa orang prajurit kerajaan. Emosinya memuncak, ia langsung menukik tajam dan menghujam tanah di sekitar para prajurit itu hingga mereka terpental.


“Si—Siapa kau?” ujar salah satu prajurit dengan suara bergetar ketakutan.


Tatapan tajam Gatotkaca membuat para prajurit itu gentar, baru kali ini mereka bertemu dengan lawan yang membuat beberapa orang terpental dengan hanya sekali hentakan.


“Namaku Gatotkaca, niatku kemari mau menolong kalian. Tapi kenapa malah kau serang pamanku?” Suaranya terdengar menggelegar, menciutkan nyali para prajurit di hadapannya.


Tubuh Elang yang tadi diseret, langsung ditinggalkan begitu saja oleh para prajurit. Dengan kesakitan akibat menghantam benda dan pepohonan karena dihempas oleh Gatotkaca, mereka buru-buru kabur dari tempat itu.


Gatotkaca kemudian memindahkan Elang ke tempat yang aman, setelah itu ia menyiramkan air ke sekeliling desa agar si jago merah yang melahap sebagian besar rumah penduduk di sana padam.

__ADS_1


Elang sendiri baru bangun setelah matahari bersinar dan api yang membakar desa sudah hilang lenyap. Hatinya miris melihat pemandangan memilukan di hadapannya. Ternyata tak sedikit warga yang menjadi korban yang dilakukan si pembakar.


__ADS_2