
Keheningan di istana Astina tiba-tiba pecah, ketika suara derap kaki kuda terdengar menderu dan memacu kereta yang dibawanya dengan kecepatan tinggi.
Sebuah kereta kuda berukuran besar masuk gerbang istana kemudian berhenti tepat di depan tangga yang menuju langsung ke singgasana.
Bima keluar dari dalam kereta, wajahnya yang biasanya tenang kali ini terlihat sangat panik. Dirinya tidak sendirian, di pangkuannya ada Dewi Arimbi yang sedang merintih kesakitan. Perutnya terlihat membesar, ia sedang mengandung seorang putra.
Beberapa cantrik istana bergegas membantu Bima. Meskipun ia sudah menjadi raja di Pringgandani, namun ia masih tetap tamu kehormatan di Astina.
“Cepat bawa masuk ke dalam!” ucap Yudhistira pada Bima seraya menyuruh para cantriknya untuk mempersiapkan ruangan untuk mereka.
Arjuna yang baru pulang berburu, langsung menghampiri kakak pertamanya. “Ada apa, Kang Mas?”
“Entahlah, kalau kuihat sepertinya Dewi Arimbi akan segera melahirkan.” Yudhistira menggandeng bahu adiknya, kemudian mengajaknya masuk ke dalam istana.
“Bagaimana mungkin? Kan baru sembilan hari kang mas Bima menikah.”
“Kehendak para dewa,” jawab Elang yang tadi langsung berlari dari taman samping istana, tempatnya biasa berlatih.
“Apa?” Arjuna dengan cepat menoleh ke arah Elang.
“Kehendak para dewa. Mereka memang menginginkan anak itu cepat lahir, akan ada rencana besar dari para dewa terhadap si jabang bayi.”
Sebenarnya ada rasa ketidak percayaan dari Arjuna atas apa yang dikatakan oleh Elang, tetapi mengingat apa yang pernah dibilang oleh anak dari masa depan itu selalu benar terjadi. Ia pun diam hanya menyimak.
Angin tiba-tiba berhembus memasuki istana ketika Yudhistira, Arjuna dan Elang sedang duduk di kursi yang ada di pendopo istana. Bukan angin biasa, tapi itu adalah kedatangan raja dari kerajaan Dwarawati. Ia datang dengan menaiki awan, lalu turun di hadapan mereka.
“Salam sembah Kang Mas Kresna!” Yudhistira dan Arjuna memberikan penghormatan, sementara Elang hanya menundukkan sedikit kepalanya.
Dengan penuh kharismatik, Kresna menyapa kembali kedua kakak beradik itu. Lalu menganggukkan kepala kepada Elang. Tanpa banyak bicara, ia masuk ke kamar tempat Bima dan istrinya dan beberapa cantrik berada.
__ADS_1
Tak lama setelah Kresna masuk kamar, suara tangis bayi terdengar nyaring. Bayi dari Bima dan Dewi Arimbi telah lahir. Namun kelahirannya sendiri tidak sempurna, ia masih dililit oleh tali pusarnya yang membelit di seluruh tubuhnya.
Bayi lelaki itu digendong oleh ayahnya keluar kamar, diperlihatkan kepada kakaknya, Yudhistira. Adiknya, Arjuna. Juga Elang.
Lelaki berparas tampan itu kemudian mengambil sebilah pisau untuk memotong tali pusar yang melingkar di tubuh keponakannya, tapi yang ada malah pisau itu patah menjadi dua. Yudhistira ikut mencoba memotong dengan pisau yang lain, tapi lagi-lagi gagal.
“Bagaimana ini, Kang Mas Kresna? Apa yang terjadi pada jabang bayiku?” kata Bima dengan bergetar.
“Hanya ada satu senjata yang mampu memotong tali pusarnya, namun senjata itu berada jauh dari sini, dan dijaga oleh seorang pertapa sakti.”
“Di mana itu, Kang Mas?” selidik Arjuna.
“Di sebuah hutan dekat dengan negara Alengka.”
“Hu—Hutan Bajubarat?” pekik Arjuna terkejut.
“Senjata itu berupa keris, namanya Kunta Wijaya. Senjata yang ditempa dan dibuat oleh para dewa.”
Arjuna menghela nafas panjang, menahannya selama beberapa detik lalu menghembuskannya. “Baiklah, aku yang akan ke hutan Bajubarat mencari keberadaan senjata itu.”
“Aku ikut!” sambar Elang, diikuti tatapan mata tajam dari Kresna, juga Arjuna.
“Tidak perlu,” jawab Arjuna dingin.
“Ada banyak rintangan di sana, mudah-mudahan aku bisa membantu untuk melewatinya.” Elang mencoba meyakinkan para ksatria yang ada di sana, meskipun ia sendiri tak tahu rintangan apa saja yang akan ditemuinya. Tapi kepercayaan dirinya meningkat setelah berhasil membunuh raksasa di kerajaan Pringgandani, dan juga jin Banaspati beberapa hari lalu.
Baru saja Arjuna akan menjawab kata-kata Elang, tapi dihentikan oleh Yudhistira. “Biarlah dia ikut. Kalian bisa saling jaga, lagipula anak ini punya bakat bertarung yang hebat.”
“Hmm… Baiklah. tapi ingat, jangan menyusahkan!”
__ADS_1
“Siap!” Elang memberikan isyarat jempol. Ia lalu masuk ke dalam kamarnya mempersiapkan diri dengan baju dan sweater hitam kesayangannya, pedang pemberian Petruk disampingkan di punggungnya lalu ia memakai tas punggung.
Lima menit kemudian, kedua ksatria itu sudah siap di atas kuda. Mereka baru akan memacukan kudanya, tapi Nakula dan Sadewa menghentikannya.
“Lang, Elang. Tunggu dulu!” teriak Nakula dari dalam istana.
“Pakai ini.” Sadewa memberikan sebuah pakaian yang terbuat dari kulit ular.
“Ini apa?”
“Kemarin Antareja datang kemari, tapi kamu lagi pergi bareng Sadewa. Ini sama seperti baju yang kau pakai, ada penutup kepalanya dan bisa untuk melindungimu.”
Elang membentangkan kain berbahan kulit ular, lalu terlihat bentuk sweater tanpa lengan. “Whoaaa… Kereeeen!” Dilepaskannya sweater yang dipakai, lalu diganti dengan yang baru didapatnya. “Lebih ringan dan lebih sejuk. Terima kasih, Nakula, Sadewa.”
“Berterima kasihlah pada Antareja, dia yang memberikannya untukmu,” tukas Sadewa.
“Baiklah, nanti akan aku bilang padanya.” Elang menatap ke Arjuna, lalu mengangguk pelan pertanda ia sudah siap untuk berangkat. “Ayo Kang Mas Arjuna, kita berangkat.”
Kuda putih yang dipacu oleh Arjuna mulai melaju meinggalkan halaman istana kerajaan Astina, Elang kemudian mengikuti dengan kuda warna coklatnya. Keduanya menyusuri jalan-jalan di sekitar kerajaan Astina, memandang para penduduk yang menundukkan kepala tanda hormat ketika Arjuna melintas.
Kerajaan Astina adalah sebuah bentuk kerajaan dengan rakyat yang makmur dan juga kehidupan masyarakatnya jauh dari kata miskin. Mereka menghormati Yudhistira sebagai raja yang murah hati dan selalu ingin membantu rakyatnya yang kesusahan tanpa memandang orang itu dari kasta manapun.
Boleh dibilang kalau raja mereka adalah tipikal pemimpin yang selalu mengayomi rakyatnya. Ini semua terbukti dari kesejahteraan rakyatnya, kebanyakan pedagang yang berjualan di alun-alun yang juga berfungsi sebagai pasar merupakan pendatang dari kerajaan lain yang ingin mencari keberuntungan di Astina.
Kuda yang dipacu oleh Elang dan Arjuna mulai memasuki daerah terluar Astina, sebentar lagi mereka akan memasuki perbatasan kerajaan Astina dengan hutan Amarta.
Tanpa mereka sadari, Adipati Karna pun punya rencana yang sama dengan Arjuna. Ia ingin mencari Kunta Wijaya, senjata hasil tempaan para dewa.
Sebuah catatan kuno yang ditemukan oleh Karna, memuat tentang senjata sakti itu. Membuatnya ingin memilikinya untuk dipakai ******* semua musuh-musuhnya jika perang terpaksa harus pecah dalam waktu dekat.
__ADS_1