
Kebijakan Arjuna pada rakyat Panchala soal pembebasan bayar pajak membuat perekonomian masyarakat menjadi sejahtera, bahkan orang-orang dari kerajaan lain berdatangan untuk mencari atau berjualan di Panchala.
Sudah tiga hari lamanya Elang berada di Panchala karena permintaan Arjuna untuk sementara tinggal di sana sambil mengobati lukanya, padahal kalau di Karang Kedempel cukup dibacakan mantra oleh Bagong, luka bekas pukulan di punggungnya pasti sembuh. Tapi karena yang meminta langsung adalah sang raja, maka ia pun tak bisa menolaknya.
Sementara Gatotkaca langsung pulang setelah membantu membangun kembali desa yang dibakar oleh Kurawa.
Tidak banyak yang bisa dilakukan Elang selama tinggal di Panchala, kecuali berlatih dengan prajurit kerajaan yang tertarik dengan gerakan tombak yang diperagakan oleh Elang. Karena pada saat ini hanya ada dua gerakan dalam serangan tombak, yaitu mendorong dan menarik.
Sebenarnya jika disuruh memilih antara pedang atau tombak, Elang akan memilih pedang. Meskipun jarak serang yang pendek, namun ia bisa mengendalikan sepenuhnya. Dibandingkan tombak yang setiap gerakannya membutuhkan tenaga yang disalurkan dan waktu untuk bisa menggerakkan ujungnya.
Dengan kemampuan pencak silat yang dimilikinya sewaktu sekolah, Elang menggabungkan gerakan yang didapatnya ketika bermain senjata tongkat dengan film bela diri yang pernah ditontonnya. Hasilnya, sebuah gerakan yang belum pernah ada di zaman ini.
Hari menjelang siang ketika Elang berjalan sendirian ke kedai minuman tempat dia dan si kembar Pandawa, Nakula dan Sadewa, menunggu Arjuna saat sayembara.
Sebenarnya Arjuna sudah menyediakan seorang cantrik untuk menyediakan apapun yang Elang mau dan tetap di dalam istana, tapi lelaki berambut berantakan yang datang dari masa depan itu lebih memilih untuk minum di kedai minuman.
Kedai minuman tak terlalu ramai ketika Elang sampai di sana dan duduk bersila di depan sebuah meja panjang dekat pintu. Tak jauh dari tempatnya duduk ada dua orang pengembara yang duduk berjauhan dengan topi caping petani.
“Jadi minum sendirian aja nih?” ujar pengembara yang duduk tak jauh darinya.
Elang menatap bingung pada pengembara yang barusan berbicara padanya.
“Minuman akar, sama anggur dua, Pak!” tukas satu pengembara lainnya. “Bagaimana kalau kami yang traktir. Seketika keduanya berbalik dan menunjukkan wajahnya.
__ADS_1
“Nakula… Sadewa?” pekik Elang girang, diikuti dengan tawa dari kedua saudara kembar itu.
“Kami langsung kemari waktu dengar kau terluka karena diserang. Kau gapapa kan, Lang?”
“Hahaha, hanya luka kecil aja kok!” Ketiganya duduk di meja yang ada dekat pintu kedai.
“Memangnya, berapa orang yang kau lawan, Lang?” sambar Sadewa.
“Ah, gak banyak kok. Cuma lima orang.”
Nakula dan Sadewa tertawa dengan takjub, mereka salut dengan kemajuan Elang. Lelaki masa depan yang ketika datang tidak bisa apa-apa, bahkan sampai harus ditolong oleh Arjuna. Hari ini sudah menjadi seorang ksatria yang melawan lima orang prajurit dengan gagah berani. Meskipun pada akhirnya harus pingsan karena diserang dari belakang.
“Lima orang itu gak sedikit lho, Lang!” Sadewa menepuk bahu Elang. “Kamu gak lihat sih waktu dia mengalahkan Banaspati di hutan Amarta, Nakula. Dari sejak itu aku yakin kalau dia ini punya potensi yang tinggi.” sambungnya lagi.
“Tapi tetap aja, aku masih ingat waktu pertama kali dia datang. Mukanya ketakutan dikejar raksasa,” cetus Nakula menirukan saat pertama kali Elang datang dengan wajah ketakutan yang lucu. Tawa Elang dan Sadewa pun pecah saat itu juga.
Orang-orang memberi nama hutan ini dengan nama hutan Alasjiwo bukan tanpa alasan, karena menurut cerita yang beredar di dalam hutan ini tinggal sekelompok makhluk aneh yang akan memangsa siapapun manusa yang masuk ke dalamnya.
Makhluk aneh itu wujudnya berjalan dengan dua kaki seperti manusia, namun berkulit dan kepala seperti hewan. Konon kabarnya makhluk itu adalah hasil perkawinan antara bangsa jin dan bangsa hewan.
Kuda yang dikemudikan Elang merasakan kehadiran makhluk tersebut, suaranya meringkih dan kakinya menyepak tanah dengan tidak beraturan.
“Ada yang aneh di hutan ini,” gumam Elang yang masih terus berusaha menenangkan kudanya.
__ADS_1
Nakula dan Sadewa yang juga masih di atas kuda menatap ke sekeliling, lalu turun dari kuda yang mereka tunggangi.
“Apa benar mitos itu ada?” Nakula mengeluarkan pedangnya, sementara Sadewa menaikkan bahu, memberi kode bahwa ia tidak tahu.
“Mitos? Mitos apa?” tukas Elang sambil mengambil pedang yang tersampiri di punggungnya.
“Ada makhluk ganas di hutan ini, dan makhluk itu adalah…” Belum sempat Sadewa menyelesaikan kalimatnya, sesosok harimau besar menyerang dari atas pohon.
“Apa itu?” pekik Elang panik, ia langsung bersiaga memperhatikan keadaan di sekitarnya.
Sosok harimau besar dan ganas itu menggeram, tatapannya tajam menatap tiga anak manusia yang lancang masuk ke dalam wilayahnya.
Elang menghunuskan pedangnya ke arah makhluk percampuran jin dan harimau itu, matanya tak lepas memandangi setiap langkah yang diambil oleh lawannya. Sementara Nakula membantu Sadewa berdiri dengan siaga penuh.
BRAK…! Sesosok makhluk lainnya muncul dari belakang Elang sambil menunjukkan gigi taringnya yang panjang dan kuku tajam. Warnanya lebih kehitaman dan lebih besar dari yang barusan menyerang Sadewa.
Sebuah sabetan cakar hampir saja mengenai tubuh Elang kalau saja ia tidak menghindar dengan berguling. Sewaktu masih aktif latihan parkour, Elang paling suka dengan gerakan berguling ini. Karena selain bisa mengalirkan energy pada saat melompat dari ketinggian, ternyata manfaat lainnya baru ia temukan pada saat di zaman ini. Yaitu menghindar dari setiap serangan musuh.
Begitu berhasil mengendalikan keseimbangan tubuhnya, Elang merangsek maju sambil berlari. Ketika musuhnya sudah dekat, ia menjatuhkan tubuhnya sambil menyapu kaki lawannya hingga makhluk besar itu tersungkur jatuh. Dengan cekatan, disabetkannya pedang di tangan kanannya ke arah batang leher lawannya. Hanya dalam hitungan detik, kepala makhluk itu pun terlepas dari tubuhnya.
“Di belakangmu!” Elang menunjuk ke belakang Nakula.
Nakula menoleh sambil menghindar, makhluk yang tadi menyerang Sadewa melancarkan sebuah serangan. Untungnya ia merespon dengan cepat, sehingga dengan sekali balikan badan lengannya terayun sambil menebas pedang. Tubuh makhluk itu pun terbelah dua.
__ADS_1
Suara raungan terdengar semakin banyak dari dalam hutan, langkah kaki mereka pun terdengar riuh tatkala tahu kedua makhluk lainnya tewas. Elang menarik Nakula dan Sadewa untuk mundur, begitu ketiganya berada di atas kuda, mereka langsung memacunya dengan cepat keluar hutan.
Begitu sampai di luar hutan, ketiganya tertawa dengan gembira, tak menyangka akhirnya mereka bisa menemukan makhluk yang menjadi mitos di Alasjiwo.