Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Aku Minta Putus!


__ADS_3

Tuan Darius sudah menunggunya sejak tadi. Pria itu tidak bisa memaksakan William untuk masuk lagi ke perusahaannya. Dia hanya ingin putranya itu belajar lagi mengurus perusahaan.


"Will, lama sekali?" keluh papanya.


"Aku berkeliling sebentar, pa. Kebetulan bertemu dengan Caroline di depan pintu ruangan papa," ucap William berbohong.


Jack lebih tidak percaya pada kakaknya. Bisa saja pria itu sengaja memanipulasi keadaan agar papanya percaya.


"Aku pikir, jarak pantry ke ruangan papa tidak terlalu jauh. Kenapa membuat Carol lama kembali?" sindir Jack.


"Sudahlah, Jack. Lagipula William dan Carol sudah kembali. Mari kita selesaikan meetingnya."


William dan Caroline duduk bersebelahan di sofa, sementara Tuan Darius dan Jack berada di seberang meja. Mereka mendiskusikan proyek yang akan berjalan di luar kota untuk beberapa hari lagi. Nampaknya hal itu membuat William semakin antusias karena papanya yang meminta William pergi dengan Caroline. Jack merasa tersisihkan. Usulnya untuk ikut ditolak oleh papanya.


"Pa, mana bisa begitu? Aku harus ikut William. Kalau mereka pergi berdua, itu tidak baik untuk perusahaan kita, pa," ucap Jack.


"Kamu ini bagaimana, Jack? Urus saja pekerjaan di kantor. Biarkan saja William dan Caroline pergi. Hanya selama tiga hari saja," balas papanya.


Oh God, Papa. Putramu itu akan menciptakan skandal dengan sekretarismu. Jadi, biarkan aku saja yang pergi. Batin Jack.


William mencoba bernegosiasi agar Jack tidak curiga padanya.


"Pa, mungkin Jack benar. Aku baru saja kembali, mungkin juga orang proyek tidak akan mengenalku," ucap Will.


Caroline merasa tidak nyaman jika pergi dengan Jack. Casanova tanggung itu selalu mengajaknya melakukan one night stand dan itu sangat tidak disukainya.


Tuan Darius sedang berpikir sejenak. Sebenarnya usul William ada benarnya, tetapi melihat kinerja Jack yang selalu setengah hati membuatnya menolak usul tersebut.


"Tidak, Will. Aku ingin proyek kali ini berjalan sempurna ditangan kalian," ucap Tuan Darius memutuskan.


Jack sangat tidak suka. Sekembalinya kakaknya malah membuatnya tidak bisa mendekati Caroline sedikitpun.


Ini gila, Will. Kamu sengaja membuat papa menggeserku perlahan. Lihat saja, aku akan merebut Caroline darimu. Dasar suami orang! Batin Jack.


Walaupun Jack adalah playboy kelas kakap, tetapi dia tidak mau membocorkan perihal pernikahan kakaknya dengan Roseanne. Itu nanti yang akan membuat Caroline menjauhinya secara perlahan. Jack tak perlu susah payah mengatur strategi perang dengan kakaknya. Anggap saja sedang berebut es cream. Tunggu waktu yang tepat sampai es cream itu jatuh tepat di tangannya.


Setelah meeting selesai, Tuan Darius mengajak Jack untuk menemui klien. Hal itu dimanfaatkan oleh William sebaik mungkin untuk mendekati Caroline.

__ADS_1


"Carol, papa dan Jack pergi ke klien. Siang ini kita makan bareng, yuk!" ajak William. Dia mempunyai langganan restoran khusus yang bisa menyediakan privat room untuknya.


Gadis mana yang tidak bahagia di ajak oleh mantan kekasihnya yang saat ini berusaha merajut kembali kisah kasih yang sudah lama putus. Caroline tidak salah, William tidak jujur sejak awal. Hal itulah yang membuat Caroline mengimbangi William yang ternyata masih sama saling mencintai.


"Baiklah, Will," ucapnya.


William sengaja menumpang mobil Caroline. Selama perjalanan menuju restoran yang dimaksud, William banyak bertanya pada gadis itu.


"Kenapa tidak menikah atau mencari kekasih baru?" tanya William.


"Aku ingin fokus bekerja Will. Papamu memberikan tempat terbaik dan sangat layak untukku berjuang seorang diri. Mama juga sudah tinggal ditempat yang layak. Kami sudah memiliki rumah dan seisinya. Ini semua berkat papamu yang selalu baik padaku," ucapnya. Caroline merasa perjuangannya untuk membuat Austin Group semakin maju selalu dihargai oleh Tuan Darius.


"Kamu trauma pernah menjalin hubungan denganku?" tanya Will lagi.


"Tidak. Hanya saja, sangat susah untuk move on darimu." Memang kenyataannya seperti itu. Caroline selalu mencintainya.


Mobilnya telah sampai di restoran yang dimaksud. Pelayan sudah menyiapkan privat room untuk mereka yaitu lantai paling atas restoran yang khusus dipesan oleh orang tertentu. Bukan semacam ruangan tertutup, melainkan area yang jarang ditempati orang dan memang itu khusus tamu VVIP.


Seperti makan siang romantis untuk dua orang. Itu yang membuat Caroline terlihat sangat bahagia. William selalu bersikap romantis.


"Kamu sengaja menyiapkan ini untuk kita berdua?" tanya Caroline yang baru saja duduk.


"Terima kasih, Will. Hanya kamu pria yang selalu bisa mengertiku," ucapnya.


Ketika sedang fokus mengobrol, ponsel William berdering. Dilihatnya sekilas panggilan dari sayang. Siapa lagi kalau bukan Roseanne, istrinya. William sengaja mengganti dering ponselnya menjadi silent.


"Kenapa tidak diangkat?" tanya Caroline.


"Kamu tau Jack, 'kan. Dia selalu saja mengganggu urusan kita," jawab Will. Pria itu sengaja berbohong lagi untuk menutupi statusnya yang telah menikah.


Caroline tersenyum. Memang benar jika Jack adalah biang rusuh disetiap tempat. Tidak hanya untuk Caroline, tetapi untuk semua orang yang anti dengannya.


Makanan yang dipesan pun telah datang. William sengaja memesan steak favorit Caroline sejak dulu.


"Kamu masih ingat?" tanya Caroline. Semua perlakuan William padanya membuatnya menjadi orang yang paling bahagia.


"Tentu, sayang," jawab William.

__ADS_1


"Will, tolong jangan panggil aku seperti itu. Aku takut kamu keceplosan di depan Tuan Darius atau Jack. Aku merasa tidak nyaman jika mereka tau tentang kita," ucap Caroline.


Kamu benar, sayang. Hanya kita berdua yang tau. Jangan sampai orang lain tau.


William sengaja mengambil potongan daging dari piringnya kemudian menyuapi Caroline layaknya sepasang kekasih. William sangat tergila-gila dengan gadis itu.


Sama halnya dengan Caroline. Setiap perlakuan romantis William membuat hati dan perasaannya bergelora sepanjang waktu.


Selesai makan, masih ada waktu untuk mengobrol sebelum kembali ke kantornya.


"Sayang, kamu tidak pernah menjalin hubungan dengan pria lain setelahku?" tanya William.


Caroline menggeleng. Berusaha melupakan William adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan.


"Bagaimana denganmu, Will? Tentu di luar negeri banyak gadis yang sangat menarik hatimu." Kini giliran Caroline yang bertanya.


William juga menggeleng. "Tidak ada yang mampu menggantikan cinta dan pesonamu, sayang," rayunya.


"Ck, rayuan gombal. Kamu masih sama seperti dulu, Will," ucap Caroline. Dia mengambil minumannya kemudian menyedotnya.


"Seandainya aku sudah menikah dan ternyata aku masih menginginkan dirimu, bagaimana?"


Pertanyaan William membuat Caroline tersedak. William kemudian berdiri dan sedikit memukul punggung atas Caroline agar gadis itu bisa kembali seperti semula.


"Kamu bercanda, Will? Tentu saja aku akan langsung meminta putus!" balas Caroline.


Deg!


"Apa alasannya?" tanya William lagi.


"Kamu pikir aku mau jadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain? Yang benar saja, Will. Aku masih waras!" ucapnya.


William tidak mampu mengatakan apapun lagi. Sebentar lagi hubungannya dengan Roseanne akan tercium juga oleh Caroline.


"Baiklah. Aku hanya bercanda, sayang," ucap William.


William sudah gila. Dia berani menjalin hubungan tersembunyi dengan mantan kekasihnya. Dia memberikan harapan palsu bagi Caroline. Entah, apa yang akan terjadi jika Caroline mengetahui dirinya telah menikah?

__ADS_1


🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓


__ADS_2