Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Membenci Papa


__ADS_3

Pasca pertunangan, William mengajak Caroline makan siang bersama. Tepat jam 12 siang, William menjemput Caroline di ruangannya.


Tok tok tok.


Ceklek!


"Bagaimana, Carol? Apa kamu sudah siap?" tanya William.


"Shirley, maaf hari ini aku tidak bisa makan siang bersamamu."


"Tidak masalah, Carol. Calon suamimu lebih penting. Apalagi kalian akan menikah." Shirley tidak mungkin terus mengekor pada Caroline. Seminggu lagi mereka akan menikah. Tentu saja banyak yang harus dibicarakan.


"Terima kasih, Shirley."


Caroline dan William pergi ke restoran yang tak jauh dari kantornya. Mereka pergi ke sana menggunakan mobil William.


"Kalau hanya ke restoran sebelah, kenapa menggunakan mobil, Will?"


"Tidak, aku akan membawamu ke restoran yang sangat spesial."


William sengaja mereservasi atas namanya supaya ketika sampai, semuanya sudah siap. Hari ini, William akan menjelaskan mengenai papanya Caroline yang merupakan papa dari Jack Austin, adik bungsunya.


Sampai di restoran, William membukakan pintu mobil untuk Caroline. Gadis itu merasa sangat beruntung diperlakukan seperti itu.


"Terima kasih, Will."


William menggenggam erat tangan calon istrinya. Keduanya memang pasangan yang sangat serasi. Sampai di meja yang sudah dipesan, Will memundurkan satu kursi dan mempersilakan Caroline duduk.


"Terima kasih." Berulang kali Caroline mengucapkan terima kasih pada William. Penantian panjangnya akan berbuah manis.


Makanan sudah datang. Sebelum berbincang, William memintanya untuk makan terlebih dahulu.


"Makanlah, setelah ini akan ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu."


Caroline mengangguk. Sepiring steak favoritnya terpampang jelas di hadapannya. Tak mungkin disia-siakan. Dia langsung memulai makan siangnya untuk memegang pisau kecil dan garpu. Sungguh ini merupakan makan siang romantis pasca keributan masa lalu mereka.

__ADS_1


Selesai makan, mereka melanjutkan perbincangan sebentar sebelum kembali ke kantornya.


"Caroline, apa kamu tidak ingin mengetahui bagaimana kabar papamu?"


Deg!


Sedari kecil, mendiang mamanya tidak pernah menceritakan secara detail mengenai papanya. Caroline hanya tahu kalau mamanya William bercerai dan menikah dengan pria yang bernama Alex Ryder. Dia juga tahu kalau Jack adalah anak dari pria itu.


"Papamu dan papa Jack adalah orang yang sama."


Deg!


Kata itu sudah cukup mewakili semua rasa penasarannya. Walaupun belum pernah bertemu secara langsung, sedikit banyak pria itu pasti ada kemiripannya dengan Jack.


"Maksudmu, aku dan Jack bersaudara? Oh God, kejutan apalagi ini?"


"Bukan kejutan, Carol. Ini karena kesalahan papaku di masa lalu."


"Tuan Darius?"


"Ya, papaku terlalu mencintai mamamu. Dia tidak tega melihatmu belum menikah. Sampai akhirnya, papa memberikan solusi terbaik menurutnya, tetapi sangat menyakiti mama. Mamaku menderita selama bertahun-tahun. Dia berusaha membalaskan dendamnya pada mamamu. Entah, cara kotor apa yang dilakukan mamaku pada suami mamamu."


"Kenapa aku dan Jack berbeda? Maksudku, umur kami sangat jauh berbeda. Dia lebih seperti kakak untukku."


"Kamu benar. Mamaku menjerat papamu sebelum hamil dirimu. Mamaku mungkin memberikan janji manis dan mengajukan syarat untuk papamu agar meninggalkan mamamu. Sampai di sini, kamu paham?"


Tentu saja paham. Bagaimana derita wanita itu mengandungnya. Dia harus bekerja seorang diri. Pindah rumah dari kontrakan ke setiap kontrakan lainnya.


Tak berhenti di situ, Lavina juga membuat Caroline kesusahan. Dia harus kehilangan William untuk selamanya. Dia pikir, pria itu akan kembali dan menikahinya. Namun, kenyataan yang didapatkan sangat menyakitkan. William menikah dengan Roseanne. Lebih menyakitkan lagi kalau ternyata William masih mengejar dirinya. Caroline seperti orang bodoh karena kesalahan masa lalu orang tuanya.


"Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang? Apa aku harus bertemu dengannya?"


"Terserah padamu, Carol. Dia juga papamu. Tak ada salahnya kalian bertemu."


Setelah disakiti puluhan tahun, Caroline rasanya sulit sekali menerimanya. Walaupun di dalam darahnya juga mengalir darah pria itu. Mengingat bagaimana perjuangan mamanya sampai menghembuskan napas terakhirnya, pria itu tidak pernah sedikit pun tahu keadaannya. Sekarang mendadak datang untuk membuat hidupnya berantakan, Caroline tidak akan membiarkannya. Dia sudah terlanjur membenci papanya.

__ADS_1


"Lupakan tentangnya. Aku hanya ingin kehidupan kita berjalan sebagaimana mestinya. Aku tidak ingin mengingat masa lalu yang menyedihkan."


Luka yang ditorehkan Alex Ryder padanya sangat menyakitkan. Tidak bisa hanya memberikannya maaf dan semua selesai. Bagaimana perjuangan Caroline sampai di titik ini? Dia harus jatuh bangun bersama mamanya.


Aku tidak tahu harus mengakuimu sebagai seorang papa yang baik atau buruk. Bahkan, kamu mungkin tidak pernah mengenalku dan tidak ingin bertemu denganku. Buktinya sudah jelas kalau Anda lebih mementingkan orang di masa lalu daripada aku. Aku tidak akan mungkin memaafkan dengan mudah. Apalagi sekarang Anda sudah menikah dengan wanita yang merusak kehidupan mamaku. Rasanya sangat tidak adil untukku.


"Lupakan cerita itu, Will. Bagaimana rencana pernikahan kita?" tanya Caroline. Dia tidak ingin menangisi masa lalunya yang sudah dikubur dalam-dalam.


"Seperti kesepakatan awal, Carol. Semua akan dilangsungkan di rumahmu."


Caroline mulai bersiap. Dia tidak ingin terlambat untuk kembali ke kantor.


"Will, sebaiknya kita kembali ke kantor sekarang. Sebentar lagi bisa saja terlambat."


William lekas membayar makanannya. Mereka kembali ke mobil dengan segera. Will melihat wajah Caroline yang nampak tidak senang setelah mendengar ceritanya. Bagaimana pun gadis itu harus tahu mengenai masa lalunya.


"Carol, apa kamu marah setelah mendengar semua kenyataan pahit ini?" tanya William sembari mengemudikan kendaraannya.


"Aku tidak marah padamu, Will. Justru aku sangat marah pada papaku. Apakah masih pantas menyebutnya sebagai seorang papa setelah apa yang dilakukannya padaku? Ah, bukan padaku. Lebih tepatnya pada mamaku. Kehidupan kami tidak seindah yang kamu bayangkan. Kami memiliki kekurangan keuangan kala itu. Rasanya sangat tidak adil kalau pria itu datang dan memintaku untuk mengakuinya."


William sangat sedih membayangkan bagaimana Caroline kecil berjuang hidup dengan mamanya? Dia berusaha menjadi gadis yang tangguh sebelum usia yang seharusnya.


"Kamu membencinya?"


Deg!


Apakah kata itu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya kali ini? Sebuah kata yang menyebabkan kehancuran untuk hidup orang lain seperti yang dilakukan Lavina, mama William.


"Aku tidak tahu, Will. Mungkin saja aku membencinya. Aku seperti orang asing baginya. Lalu, untuk apa aku mengharap dirinya lagi? Lupakan tentangnya. Aku ingin kamu terus menggenggam erat tanganku sampai kapanpun, Will. Jangan pernah melepaskannya seperti waktu itu. Aku tidak bisa berjauhan hidup denganmu."


William menepikan mobilnya. Dia menggenggam erat tangan gadis itu yang beberapa hari lagi akan menjadi istrinya.


"Aku berjanji padamu dan tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Tetaplah menjadi Caroline yang kukenal. Aku selalu mencintaimu, Carol."


Caroline pun sama mencintainya. Beberapa tahun ditinggalkan pria itu tak membuatnya untuk bisa membenci. Semakin hari, dia selalu mencintainya hingga tak ada orang lain yang bisa masuk ke dalam hatinya.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu, Will."


Kisah masa lalu orang tuanya tak akan pernah menghalangi kisah cinta mereka. Perjuangan yang panjang untuk mencapai titik ini tidak boleh rusak hanya karena kehadiran seorang Alex.


__ADS_2