Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Pura-pura Kedinginan


__ADS_3

Setengah perjalanan lagi akan sampai ke penginapan yang dimaksud, tetapi setengahnya itu bukan waktu yang singkat. William mengemudikan mobilnya seorang diri. Terkadang jika dia lelah, mobilnya sengaja menepi untuk sekedar menghilangkan rasa lelah sesaat.


Caroline sebenarnya bisa menggantikan William untuk mengemudikan mobilnya, tetapi dia malas untuk membantu pria itu. Rencananya untuk menghindar akan gagal jika dirinya menawarkan bantuan.


"Kalau seperti ini, seharusnya aku membawa sopir." William sengaja mengeluh di hadapan Caroline agar gadis itu meresponnya. Tetapi William salah, dia tidak merespon bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Rasanya seperti membawa mannequin bersamanya.


William tidak menyerah. Jika di jalan raya dia tidak dilirik sedikitpun oleh Caroline, maka di penginapan nanti dia akan membuat kejutan untuknya.


Beruntung rasa capeknya tidak terlalu terasa karena bersama orang yang sangat dicintainya. Setelah perjalanan panjang, mobilnya mulai memasuki halaman villa yang sengaja di sewa oleh papanya.


Caroline kebetulan tidak tertidur. Dia langsung turun dan mengambil kopernya untuk dibawa masuk. Dia sengaja membiarkan William sibuk dengan barang bawaannya sendiri.


Caroline lebih dulu mengambil kuncinya dan masuk ke dalam. Dia sengaja memilih kamar yang view-nya langsung ke taman bunga. Setelah di dalam kamarnya, Caroline menguncinya agar tidak ada orang yang masuk. Dia ingin mandi terlebih dahulu.


"Hemm, udaranya sangat sejuk sekali. Berbeda dengan di kota. Ini sangat luar biasa. Bekerja sekaligus berlibur. Terima kasih, Tuan Darius." Caroline sangat menikmati setiap guyuran shower yang ada di kamar mandinya.


Sementara di kamar lain, William sedang mengeluarkan beberapa bajunya. Istrinya sudah lupa untuk membawakan baju casual.


"Kalau seperti ini, aku seperti orang kantoran yang tidak kenal lelah dan waktu. Bayangkan di Villa harus memakai jas lengkap. Aku heran dengan Rose. Apa yang ada di pikirannya saat itu?"


Terpaksa William masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Bayangan tentang Caroline muncul begitu saja. Bayangan mesum tentang percintaan mereka berdua.


"Ya ampun, Carol. Di manapun kamu berada selalu bisa menggetarkan hati dan perasaanku." Secepatnya William menyelesaikan ritual mandinya. Dia memakai kemeja lengan panjang dan melipat lengannya sampai ke atas siku tangannya. Sementara celana panjangnya sudah persis seperti orang yang mau bekerja ke kantor.


William keluar kamar karena haus. Dia menuju ke dapur. Di sana semua bahan memasak dan kebutuhan lain sudah disiapkan. Dia ingin membuat kopi karena sore hari udaranya semakin dingin.

__ADS_1


"Kemana gadis itu? Sejak masuk ke Villa sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya." William merebus sedikit air yang cukup digunakan untuk secangkir kopi.


Panjang umur, belum sempat William menyelesaikan secangkir kopinya, Caroline muncul dengan aura yang lebih segar karena dia baru saja selesai mandi. Dia melewati William begitu saja tanpa mau bertegur sapa padanya.


Caroline mengambil daging ayam dan beberapa sayuran dari lemari pendingin. Dia ingin memasak sesuatu untuk di makan.


"Kamu menyiapkan makanan untukku?" tanya William ingin memastikan. Jika Caroline tidak menyiapkannya juga tidak masalah.


"Belilah makanan dari luar! Tidak pantas wanita lain memasak untuk suami orang," ucap Caroline. Dia fokus memotong sayuran. Dia terbiasa berada di dapur, jadi tak heran semuanya akan berjalan dengan mudah.


Glek!


William seperti mendapatkan sindiran pedas. Hanya masalah makanan saja Caroline tidak mau membuatkannya.


Secangkir kopi sudah ditangan. William masuk kembali ke kamarnya. Dia sedang memikirkan cara yang tepat untuk menguji cinta Caroline. Apakah gadis itu masih mencintainya atau tidak?


Caroline sendiri masih menyimpan perasaan pada William yang statusnya sebagai suami orang. Namun, Caroline juga ingin menepis perasaan itu. Rasa cintanya yang tidak pernah terkikis sejak kepergian William lima tahun yang lalu. Ini perasaan yang salah. Tetapi, hatinya tidak mampu berbohong jika nama William Austin masih melekat di sana.


Mencintaimu dalam diam akan selalu kulakukan Will. Walaupun ragamu tak pernah jadi milikku, biarkan rasa ini tetap ada bersamaku. Maafkan aku harus menghindarimu. Biarkan aku yang selalu menanggung rasa sakit ini sampai aku menemukan pria yang tepat. Pria yang mampu mengikis rasa cintaku padamu.


Sup ayam yang lezat siap dinikmati. Dia sengaja membuat William untuk berhenti mendekatinya. Ini diusahakan Caroline supaya dia bisa profesional dalam urusan pekerjaan. Sementara urusan sehari-hari di Villa ini biarlah menjadi urusannya masing-masing.


Caroline membawanya ke meja makan. Dia juga menyiapkan satu gelas lemon hangat karena udara di Villa semakin dingin. Perlahan Caroline mulai menyeruput kuah supnya dengan perlahan. Rasanya sangat nikmat sekali. Dia memang pandai memasak.


Setelah menghabiskan semangkok sup ayam, Caroline meminum lemonnya yang mulai dingin.

__ADS_1


"Rasanya sangat aneh. Segelas lemon ini cepat sekali dingin. Untung saja aku memakai baju dobel untuk menghangatkan badanku." Caroline membawa bekas makan dan minumnya ke wastafel. Bergegas dia mencucinya dan ingin segera beristirahat.


Ketika hendak kembali ke kamarnya, samar-samar Caroline mendengar orang yang sedang merintih. Lebih tepatnya seperti orang yang sedang kedinginan.


"Selain aku dan William, apakah ada orang lain lagi di Villa ini? Rasanya aneh tiba-tiba ada suara seperti itu." Caroline menajamkan pendengarannya. Dia mendekati kamar William yang semakin lama suara itu semakin jelas. "Apa yang terjadi dengan William?"


Perasaan cintanya pada pria itu menuntunnya untuk mendekati pintu kamarnya. Semakin dekat suaranya semakin jelas.


"Berrrr, dingin sekali. Rasanya aku tidak kuat kalau udaranya terus seperti ini," ucap William dari dalam. Suara itu didengar jelas oleh Caroline.


Caroline tidak tega mendengarnya. Dia ingin masuk, tetapi diurungkan niatnya. Sampai ketika hendak kembali, dia mendengar seperti benda pecah belah yang jatuh dari meja. Caroline sangat khawatir dengan keadaan pria itu. Dia memberanikan diri untuk masuk.


Ceklek!


"Astaga, William!" teriaknya. Dia melihat pria itu jatuh tersungkur di lantai Villa. Bergegas dia menolong pria itu. Pria itu bahkan bertelanjang dada dan sepertinya pingsan. Beberapa pecahan cangkir sempat mengenai tangan pria itu dan mengeluarkan darah yang tidak terlalu banyak.


Dengan susah payah Caroline mengangkat pria itu untuk naik ke ranjangnya. Di rebahkan tubuh kekar itu di sana dan dicarikan selimut untuk membuatnya kembali hangat.


"Will, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu. Kamu tau sendiri 'kan jika sekarang kita berbeda. A-aku tidak bisa membohongi perasaanku padamu. Tapi tolong sadarlah! Jangan seperti ini!" Caroline mengguncang tubuh William yang sudah berselimut tebal itu. Setelah itu, Caroline meninggalkannya sesaat untuk mencarikan obat dan plester untuk luka ditangannya.


Senyum kepura-puraan William berhasil lolos begitu saja melihat kekhawatiran Caroline padanya.


Maafkan aku, Carol. Aku yakin rasa cinta kita tetap sama seperti dulu. Biarkan aku seperti ini yang ingin menguji seberapa besar cintamu padaku.


🍎🍎🍎🍎Bersambung🍎🍎🍎🍎

__ADS_1


__ADS_2