Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Meminta Restu


__ADS_3

Selepas makan siang bersama, keduanya bergegas kembali ke kantor. Mereka tidak ingin terlambat untuk masuk ke ruangannya. Seperti dugaannya, William sudah menunggunya di sana. Dia sengaja menunggu kedatangan Caroline karena ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting itu.


"Carol, bisa kita bicara sebentar?" tanya William.


Sepertinya ini kesempatan bagus untuk William kembali lagi ke Caroline. Shirley cukup sadar diri untuk memberikan kesempatan pada sepasang pria dan wanita yang sedang mengejar cintanya itu.


"Ehm, Carol, sebaiknya kalian bicara di dalam saja. Aku akan pergi ke toilet sebentar," pamitnya. Shirley tidak ingin menjadi pengganggu.


Beberapa saat keduanya terdiam. William akhirnya memulai pembicaraan terlebih dahulu.


"Boleh aku masuk? Aku akan berbicara padamu sebentar saja," pinta William.


Tanpa banyak bicara, Caroline membuka lebar pintu ruangan itu. Dia masuk terlebih dahulu kemudian diikuti William. Tempat yang aman untuk Caroline saat ini duduk di kursinya. Gadis itu berharap kalau William tidak akan berbuat nekat lagi.


"Katakan! Aku tidak punya banyak waktu."


William masih dalam posisinya berdiri. Dia tidak bisa berbuat banyak dan harus mengikuti ucapan gadis itu.


"Baiklah, Carol. Langsung ke inti masalahnya saja. Aku sudah bercerai dengan Roseanne. Statusku sekarang duda. Sebenarnya papa sudah melarangku untuk mendekatimu pasca perceraian. Aku baru saja mendapatkan status dudaku kemarin. Aku tidak tahan untuk menahan semua ini sendirian. Aku ingin mengembalikan hubungan kita seperti dulu. Bagaimana denganmu?" William mempunyai alasan kuat untuk segera mengejar Caroline. Supaya dia lebih tenang dan berharap tidak akan ada orang yang sedang mengejarnya.


Caroline terdiam. Dia belum bisa memutuskan apapun walaupun kenyataannya bisa memutuskan dengan segera. Ingatan gadis itu kembali kepada Lavina, mama William.


"Maaf, Will. Aku bisa saja menerimamu saat ini. Aku tidak bisa membohongi perasaanku kalau kenyataannya masih mencintaimu. Namun, ada hal lain yang tidak kamu ketahui selama ini. Aku tidak bisa menerimamu karena alasannya ada pada Nyonya Lavina. Wanita itu pasti tidak akan pernah setuju dengan hubungan kita."


William tidak bisa memaksa Caroline untuk saat ini. Dia harus memaksa mamanya untuk merestuinya.


"Baiklah kalau itu alasanmu. Secepatnya aku akan meminta restu padanya. Ingat, jangan pernah untuk menerima pria lain karena kamu hanya untukku," ucapnya.


Caroline tidak mendebat. Mungkin ini saatnya dia memperjuangkan cintanya. Lagi pula, status William sudah menduda sekarang.


"Will, apa kamu yakin? Kalau mamamu menolak, lebih baik tidak perlu dipaksakan. Bukannya aku tidak mau, tetapi aku takut terornya akan terus ditujukan padaku," ucapnya sendu.


Teror? Bahkan aku tidak tahu jika mama menerormu.


"Kamu jangan khawatir."


William kemudian keluar dan membiarkan Shirley kembali ke ruangannya.

__ADS_1


"Hai, Carol. Apa dia menyakitimu?" tanya Shirley. Sejak tadi gadis itu mengkhawatirkannya.


"Tidak, Shirley. Dia sudah berubah dan tidak berbuat kasar padaku."


Shirley merasa lega. Pada akhirnya, pria itu sudah bersikap baik pada rekan kerjanya.


...***...


Sesuai kesepakatan, sore ini William berniat meminta restu mamanya. Sepanjang jalan pulang, dia berkonsultasi dengan Papanya. William berharap bisa lebih cepat supaya lekas meminang gadis itu.


"Pa, bantu aku berbicara dengan mama, ya?" pinta William.


"Hemm, Papa coba, ya." Tuan Darius tidak yakin akan berhasil. Wanita itu terlalu kekeh pada pendiriannya.


Ada secercah harapan yang ada di hadapan William. Dia tidak berjuang sendirian, tetapi dibantu Papanya. Harapannya terlalu tinggi. Mobilnya mulai memasuki area Mansion. William bergegas turun dan mencari keberadaan mamanya. Dia sudah tidak sabar untuk menemuinya.


William masuk ke Mansion dan mencari keberadaan mamanya. Rupanya wanita itu masih mengurus Jack di kamarnya.


Tok tok tok.


"Masuk!" jawab Mamanya.


"Ma, bagaimana kabar Jack hari ini?" tanya William.


"Apa pedulimu, Will. Kamu pasti bahagia kan melihatku cacat seperti ini? Kamu puas kan?" bentak Jack. Dia masih tidak terima dengan kondisinya yang seperti ini. Patah tulang kaki dan harus menggunakan kursi roda. Dia sudah menjadi pria cacat sekarang.


"Aku tidak pernah merasa bahagia di atas penderitaanmu, Jack. Kamu masih saudaraku. Aku tidak pernah memikirkan keburukan tentangmu. Bahkan, aku tidak bisa membencimu," terang William. Walaupun sejak kecil sering ribut perkara rebutan mainan, tetapi William berusaha mengalah dari adiknya.


"Ada apa kamu ke sini, Will?" tanya Lavina.


"Seperti ucapanku kemarin, Ma. Aku ke sini untuk meminta restu hubunganku dengan Caroline." William tidak bisa menyembunyikan fakta ini di hadapan Jack.


"Will, kamu gila! Aku juga berhak untuk mengejar Caroline. Sekarang, kamu memanfaatkan aku yang sedang cacat ini, hah? Bersainglah secara sehat," cibir Jack.


"Stop! Jangan bertengkar hanya karena gadis miskin itu. Mama tidak suka. Baik Will maupun Jack, sampai mati pun, Mama tidak akan pernah memberikan restu!" tegasnya. Wanita itu sangat tidak menyukai Caroline. Entah, alasan apa yang sebenarnya disembunyikannya.


"Ma!" teriak Jack. "Aku akan tetap mengejar gadis itu. Dia gadis yang baik."

__ADS_1


"TIDAK JACK!" Suara Mamanya membuat Jack maupun William membulatkan matanya. Keduanya saling pandang. Ada rahasia besar yang disembunyikan wanita yang hampir mendekati usia tuanya itu. Namun, tak satupun yang tahu mengenai rahasianya itu. Tidak suaminya maupun anak-anaknya.


"Apa alasan Mama? Kalau memang alasan Mama bisa kuterima, aku akan menjauhi Caroline sekarang." William tidak mau mengalah. Dia harus tahu alasan sebenarnya.


Keributan tidak bisa dielakkan. Tuan Darius langsung masuk ketika mendengar pertengkaran antara istri dan anak-anaknya.


"Lavina, jelaskan pada putramu alasannya kenapa kamu menolak gadis sebaik Caroline?" ucap Tuan Darius.


"Nah, benar itu, Ma," ucap William dan Jack bersamaan.


"Tidak perlu tanya alasannya apa. Yang pasti, alasannya sudah jelas dari Papa, bukan? Apa William bisa menerima kenyataan itu?" Lavina malah menuding Tuan Darius sebagai penghalang hubungan William dengan gadis itu.


"Itu tidak masalah, Ma. Aku bisa menerima semua cerita Papa. Sekarang aku hanya meminta restu pada Mama. Iya atau tidak. Cukup jawab seperti itu, apa susahnya?" ucap William.


"Aku merestui William dengan Caroline. Terserah apapun keputusanmu, aku tidak akan ikut campur lagi," ucap Tuan Darius.


"Tidak, Pa! Caroline hanya untukku," protes Jack.


"Tidak, Jack. Kamu ataupun William, tidak akan ada orang yang bisa memiliki gadis itu. Kalau kalian nekat, Mama bisa melakukan hal yang paling buruk dalam hidup ini. Bisa saja Mama melompat dari gedung tertinggi, misalnya," ancam Lavina.


Tuan Darius tidak pernah kaget dengan ancaman istrinya. Itu sudah sering terjadi di masa lalunya.


"Silakan, Ma. Itu keputusanmu. Papa hanya mendukung William untuk meraih cintanya," ucap Tuan Darius.


"Pa, Caroline itu masih milikku atau pun William. Papa harus adil. Salah satu dari kami belum memutuskannya," sahut Jack. Dia merasa tidak terima kalau Papanya mendukung William.


Restu belum sepenuhnya di dapat William, tetapi pria itu yakin kalau Papanya memberikan dukungan paling besar untuk hubungannya. Dia harus menggali informasi penting yang sedang dirahasiakan oleh Mamanya.


...🍒🍒🍒...


Hai Kakak Readers di manapun berada. Jangan lupa like, komentar, dan votenya.


Oh ya, Emak mau rekomendasikan karya keren yang baru netas. Yuk kepoin, masih anget nih... Jangan lupa mampir. Berikan bintang, favoritkan, like dan jangan lupa tinggalkan jejak komentar.


Aku Diantara Mereka by Author Asyfa


Terima kasih. Lup yu All 😍😍😍

__ADS_1



__ADS_2