Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Kakak Vs Adik


__ADS_3

Mengenai kedatangan Roseanne ke kantor hari ini akan berbuntut panjang. William mencurigai seseorang yang sengaja meminta Roseanne untuk pergi ke kantornya.


Aku yakin jika ini adalah kerjaan Jack. Dia tidak terima kalau papa memintaku mengurus proyek bersama Caroline.


Sesampainya di Mansion, William tidak langsung masuk ke kamarnya karena dia punya tujuan khusus untuk menyelesaikan masalahnya dengan Jack.


Bagaikan mendapatkan dukungan yang luar biasa, Jack lupa tidak mengunci pintunya. William langsung saja masuk dan melihat Jack sedang berbaring di ranjang king size-nya.


Jack langsung bangun manakala melihat kakaknya masuk dan mengunci pintunya dari dalam.


"Ada apa, Kak?" tanya Jack dalam kepolosannya. Padahal dia tau jika William akan ribut dengannya.


"Apa yang kamu katakan pada Rose?" tanya William baik-baik.


"Wah, ini pasti tontonan yang sangat seru. Dimana seorang istri melabrak selingkuhan suaminya. Ideku memang sangat cemerlang!" ucapnya sembari menertawakan kakaknya.


"Apa yang kamu katakan pada Rose?" bentak William.


William mendekati adiknya kemudian memegang kuat rahangnya dengan sangat keras. Bisa saja William akan emosi lalu terjadilah baku hantam dengan Jack. Tapi ini belum dilakukan karena William ingin mengorek informasi terlebih dahulu.


"Tenang dulu, brother! Aku cukup mengatakan pada kakak ipar, jika sekretaris papa adalah perempuan ganjen yang suka menggodaku maupun papa. Tetapi, kami berdua tidak tertarik padanya sama sekali. Kalau soal Kak William, aku tidak yakin untuk tidak tergoda padanya. Dia sangat cantik dan seksi," ucap Jack setelah berhasil melepaskan cengkeraman tangan kakaknya.


Sial! Apa yang diinginkan Jack sebenarnya? Bisa-bisanya dia memasukkan Rose ke dalam masalahku dan Caroline.


"Apa tujuanmu sebenarnya?" tanya William.


Masa kecil keduanya selalu ribut mengenai mainan. Itu membuat William harus selalu mengalah pada adiknya. Sebagai seorang kakak, dia selalu memberikan apapun barang yang pernah dimintanya.


"Simpel saja, Kak. Jangan terlalu dekat dengan Caroline. Kakak jangan serakah! Berikan dia padaku seperti kakak memberikanku mainan ketika kita sama-sama masih kecil." Jack beralih menatap jendela. Tujuannya memang ingin mendapatkan Caroline dan memiliki gadis itu seutuhnya.


Aku tidak akan memberikan Caroline pada siapapun. Dia tetap untukku seorang.


"Aku tidak akan pernah memberikan Caroline padamu." William hendak keluar dari kamar adiknya, namun Jack lebih dulu mencegahnya.

__ADS_1


"Tunggu! Kakak ingin kita bersaing mendapatkan Caroline? Baiklah, aku akan membuatnya untuk tidur denganku. Dia akan datang kepadaku dan menyerahkan kehormatannya yang selama ini selalu dilindunginya. Kita lihat saja, siapa yang akan menang dan mampu menaklukkan hatinya?" ucap Jack membuat William semakin emosional.


William mendekati adiknya kemudian memukulinya dengan membabi buta.


"Jangan kurang ajar, Jack! Caroline gadis baik-baik dan dia bukan bahan taruhan untuk kita. Kalau kamu mau, kita bisa bersaing secara sehat. Tentunya jangan libatkan kakak iparmu. Kalau kamu melanggar perjanjian kita, aku tidak segan untuk meminta papa memindahkanmu mengurus proyek minyaknya di negara B."


"Wow, William Austin. Kamu serakah sekali! Ingat statusmu, brother! Caroline perlahan akan menjauhimu," ledek Jack.


Kenyataannya benar. Caroline sudah mundur dari rencananya. Itu artinya William harus mendekati Caroline dari awal dan sangat membutuhkan perjuangan ekstra.


"Baiklah. Kita lihat saja Jack. Siapa yang akan memenangkan hati dan seluruh tubuh Caroline? Aku menantangmu!" ucap William yakin. Sedikit saja memaksa Caroline untuk masuk dalam permainannya, maka dia akan menang.


"Oh, ayolah Will. Lepaskan dia untukku. Kamu bisa bersenang-senang dengan kakak ipar sampai puas. Biarkan aku yang akan memuaskan Caroline." Jack sengaja memancing kemarahan kakaknya.


Untung saja semua kamar yang ada di mansion itu sudah diberikan peredam suara sehingga orang diluar kamar Jack tidak akan tau apa yang sedang terjadi didalam.


Bayangan Caroline bercinta dengan Jack menari indah dipelupuk matanya. Dia tidak terima jika orang yang selama ini dicintainya akan dijamah oleh orang lain. Apalagi itu adalah adiknya.


Caroline hanya untuknya seorang. Tidak ada pria lain yang boleh mendekati ataupun menyentuhnya.


"Oh ayolah, Will. Kamu ini manusia macam apa? Sudah beristri dan masih mengejar gadis lain. Hemm, jika Mama dan papa tau, habislah riwayatmu!" ancam Jack. Tujuannya agar dia lebih leluasa untu mendekati Caroline.


"Caroline itu cinta pertamaku, Jack. Sampai kapanpun aku tidak akan melepasnya," jawab William santai. Dia sudah bisa mengontrol emosinya.


"Dengan menjadikannya istri keduamu? Wah, ini namanya bukan lagi pernikahan idaman, tetapi neraka idaman. Salah sendiri, siapa suruh pulang bawa istri. Ribet sendiri, 'kan?"


Seribu persen ucapan Jack benar. William harus berpikir keras bagaimana cara mendapatkan Caroline dan melepaskan Roseanne dengan mudah.


Agaknya ini menjadi perjuangan yang sangat sulit untuk menggapainya. Dia harus punya strategi khusus untuk membuat Caroline mau kembali padanya dan menceraikan Roseanne.


Ketika keributan sedang terjadi, seseorang mengetuk pintu dari luar kamar Jack.


Tok tok tok.

__ADS_1


Sebelum Jack membuka pintu, William lebih dulu mengancam adiknya yang sudah babak belur tanpa perlawanan itu.


"Jangan katakan apapun pada mereka tentang memar di wajahmu! Atau aku akan membuatmu di deportasi lebih cepat dari perkiraan yang kamu pikirkan."


Jack terdiam. Dia menggenggam erat satu tangan kanannya. Itu tandanya dia siap berperang melawan kakaknya sendiri demi memperebutkan seorang Caroline.


William membuka pintu, nampak seorang gadis cantik yang tidak dikenalnya.


"Maaf, aku mencari Jack. Kata mama, dia sedang berada di kamarnya," ucap gadis itu.


"Masuklah, Elena!" teriak Jack dari dalam. Dia baru saja membersihkan bekas lukanya dengan apapun yang ada.


William menatap tajam adiknya dan mengatakan dengan sorot matanya jika pertempuran mereka tetap berlanjut. Jack menanggapinya dengan santai karena tugasnya untuk membuka kedok kakaknya telah terbongkar di depan Caroline.


Setelah William pergi, Elena masuk ke kamar kekasihnya.


"Siapa dia, sayang?" tanya Elena.


"Dia kakakku. Kenapa?" tanya Jack.


"Dia sangat tampan!" puji Elena pada pria yang belum pernah dikenalnya. Walaupun dirumah keluarga Austin terpampang jelas foto pria itu, tetapi bagi Elena lebih menarik yang aslinya.


"Ck, kamu tertarik padanya? Silakan saja tidur dengannya. Aku yakin seratus persen dia akan menolakmu!" cibir Jack.


Elena tersenyum memandang kekasihnya. "Itu artinya kamu cemburu padaku, sayang."


Jack hatinya mulai bercabang. Biasanya dia akan senang dengan kehadiran Elena, namun setelah perseteruannya dengan sang kakak, pikiran Jack sedang fokus memikirkan Caroline. Gadis segudang prestasi yang sangat cantik dan seksi itu.


"Sayang, bagaimana rencana kita malam ini?" tanya Elena.


Jack dan Elena mempunyai kebiasaan yang sama yaitu pergi ke club. Itulah bedanya Elena dengan Caroline. Elena anak relasi bisnis Tuan Darius, makanya sang mama tidak pernah melarang Elena untuk main ke rumahnya bahkan sampai masuk ke kamar putra bungsunya.


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“BersambungπŸ“πŸ“πŸ“πŸ“

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan komentarnya...


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€β˜•β˜•β˜•β˜•β­β­β­β­β­pun boleh dikirimkan ya... Terima kasih... πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


__ADS_2