Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Jack Frustrasi


__ADS_3

Jack sangat terguncang. Selepas dokter meninggalkan mereka, Jack menangis sesenggukan. Ini untuk pertama kalinya dia merasa kehilangan teramat sangat. Darius berusaha menenangkan putranya itu.


"Jack, kamu tenang, ya? Kita urus pemakaman Elena dengan segera. Papanya tak akan mungkin mau datang," ucap Darius.


"Ini salahku, Pa. Harusnya aku tidak mengatakan hal seperti itu padanya. Dia telah meninggalkanku untuk selamanya."


Darius membiarkan putranya meratapi kesedihan. Sementara dirinya meminta petugas rumah sakit untuk menyiapkan segalanya sampai pemakaman.


Darius mengajak Zack untuk makan siang terlebih dahulu. Sejak tadi pria itu belum makan sama sekali, tetapi Jack malah menolaknya dengan dalih tidak bisa meninggalkan Elena begitu saja.


"Aku makannya nanti saja, Pa. Aku tidak bisa membiarkan Elena seorang diri. Dia pasti ketakutan," ucapnya.


Darius menggeleng. Tidak menyangka putranya langsung down seperti itu. Harusnya dia bisa lebih tegar karena Elena sudah tidak merasakan sakit lagi. Kekecewaan yang didapat dari gadis itu sudah dilepaskan oleh Jack ketika melihatnya koma kala itu.


"Jack, dengarkan Papa! Kamu butuh tenaga untuk mengikuti pemakaman Elena. Kalau kamu lemah seperti ini, dia pasti sangat kecewa."


Ucapan Papanya benar. Ini pertemuan terakhir dengan gadis itu dan Jack tidak boleh lemah.


"Papa akan menghubungi William. Apa kamu keberatan?" tanya Darius lagi.


"Tak masalah, Pa."


Darius sedikit menjauh. Dia segera menelepon William. Tidak mungkin Darius akan menelepon Lavina.


"Halo, Pa," sapa William ketika telepon tersambung.


"Will, bisakah kamu datang ke rumah sakit? Elena meninggal."


"Papa serius? Kasihan sekali gadis itu," balas William.


"Iya, aku kasihan sekali dengan Jack. Datanglah sekarang!"


"Pa, boleh aku mengajak Caroline?" tanya William.


"Ajaklah!" Klik, sambungan telepon tiba-tiba terputus karena Darius melihat Jack hampir saja meninggalkannya. Darius menarik tangan pria itu untuk tetap bertahan di sini.


"Kamu mau ke mana, Jack?"


"Aku mau menyusul Elena, Pa," ucapnya mulai tidak beraturan.

__ADS_1


"Kamu gila! Elena tidak akan menyukai caramu yang seperti ini."


Darius tentu saja memarahi putranya. Walaupun sudah menjadi orang lain, kasih sayang Darius tetap sama.


...🍒🍒🍒...


"Ada apa, Will?" tanya Caroline.


Setelah perceraian Lavina dan papanya William, hubungannya dengan Caroline sudah lebih baik sekarang.


"Elena meninggal, Carol. Bisa kita pergi ke rumah sakit sekarang?" tanya William.


Caroline tidak percaya kalau gadis itu telah meninggal. Jack pasti sangat terpukul mendengarnya.


"Tentu, Will."


Keduanya naik satu mobil yang sama. Sebelum itu, Caroline dan William mampir ke toko bunga. Tak lupa dia membawakan bunga untuk pemakaman Elena.


"Carol, ponselku berdering. Aku angkat dulu ya," ucapnya setelah membeli beberapa macam bunga.


"Ya, Pa?"


"Aku baru saja keluar dari toko bunga. Kalau begitu, aku dan Caroline langsung ke sana."


"Baiklah. Cepatlah!"


Darius memutuskan sambungan teleponnya. William meletakkan ponselnya kembali ke saku jas. Dia melanjutkan mengemudikan mobilnya menuju pemakaman yang tidak terlalu jauh dari Mansionnya.


...😭😭😭...


Pemakaman sudah di siapkan. Beberapa petugas yang dimaksud telah menjalankan tugasnya dengan baik. Selesai memakamkan Elena, William dan Caroline baru saja sampai. Mereka mengambil jalan memutar karena jalan menuju rumah sakit sempat macet.


William melihat Jack sangat kehilangan. Pria itu lekas menaburkan bunga di atas makam Elena. Dia sangat terpukul kehilangan gadis itu.


"Jack, aku turut berduka cita," ucap William.


"Terima kasih, Will," balas Jack.


"Tuan Jack, aku tu--"

__ADS_1


"Wah, Jack, bahkan Elena enggan untuk menerimamu," cibir seorang wanita yang baru saja datang. Dia bahkan memotong pembicaraan Caroline.


Semua mata menatap ke arah kedatangannya. Entah, wanita itu berdiam di mana. Ketika mengetahui Elena sudah meninggal, dia baru berani menampakkan wujudnya.


"Untuk apa kamu datang ke mari?" selidik Darius.


"Wow, Papa mertua, ehm, maksudku mantan Papa mertua. Apa kamu lupa kalau ada nyawa yang hidup di dalam rahimku? Ini atas ulah putramu. Dan, beberapa minggu lagi dia akan terlahir ke dunia. Aku rasa, lebih baik aku memberikan nama Elena padanya. Supaya anakmu itu mau bertanggung jawab padaku."


Suasana pemakaman yang sedang berduka agaknya tak membuat wanita itu tidak mengerti bahwa kondisi masih berkabung. Dengan seenaknya, dia mengganggu suasana hati Jack yang masih berduka itu.


"Rose, sebaiknya kamu pergi sekarang!" usir William. Dia malas sekali untuk bertemu dengan mantan istrinya.


"Wah, Tuan William yang terhormat. Sepertinya Anda sekarang jauh lebih bahagia ya? Anda bisa menggaet lagi wanita itu yang lebih tepat didebut sebagai perebut laki orang. Aku tidak menyangka, rupanya wanita itu masih sanggup menunggumu. Buktinya, sampai menjadi suami orang saja masih ditunggu. Apalagi sekarang sudah menduda, pasti membuat Anda berbunga-bunga kan Nona Caroline?"


Caroline tak menanggapinya. Begitu juga Darius, William, dan Jack. Kedatangan Roseanne dianggap seperti tak ada orang sama sekali. Jack masih fokus menaburkan bunga di makam Elena.


Roseanne yang merasa diabaikan oleh keluarga Austin nampaknya tidak mau menyerah. Dia harus menjalankan balas dendamnya pada keluarga itu.


"Wow, Jack, aku tidak menyangka. Elena yang masih hidup saja kamu sia-siakan. Sekarang sudah mati baru kamu kirim bunga. Rupanya kamu pria yang tak punya hati. Apa kamu juga pernah berpikir untuk tanggung jawab pada anak yang ada dalam kandunganku ini? Tidak dengan Elena dan aku saja. Kamu mau enaknya saja! Dasar pengecut!" ejek Roseanne.


"Rose, jaga bicaramu! Pergi kamu dari sini!" usir Darius.


Darius melihat perubahan mimik muka yang aneh pada Jack. Pria paruh baya itu takut kalau Jack akan bertindak nekat.


"Tunggu, Tuan Darius! Aku ingin melihat betapa depresinya putra yang selama ini kamu agungkan itu. Yang tabiatnya, ya, kalian tahu sendirilah. Aku tak perlu mengatakannya," jelas Roseanne.


Sepertinya kedatangan Roseanne ke pemakaman sudah terencana. Wanita itu masih mengandung dan belum melahirkan. Karena setelah kejadian penolakan Roseanne pada Jack, wanita itu hamil muda.


Jack mulai menampilkan wajah datarnya. Dia seperti pria yang kehilangan arah. Caroline meminta William untuk menenangkannya.


"Will, lebih baik kamu ajak Jack ke mobil dan tenangkan dia. Aku takut terjadi sesuatu padanya," pinta Caroline.


William menuruti ucapannya. Namun, sepertinya Jack memberikan penolakan dan hampir saja melukai William. Nampak aura kebahagiaan pada Roseanne telah membuat kakak beradik itu hampir saja berkelahi. Untung, Caroline lebih cepat melerainya. Saat sibuk dengan Jack, mereka tidak tahu kalau Roseanne langsung pergi begitu saja.


Wanita itu berhasil membuat Jack semakin frustrasi. Pria itu menghamburkan tanah yang ada di makam Elena berikut bunganya yang baru saja ditaburkan.


"Jack, jangan seperti itu! Roseanne hanya membuatmu dirundung rasa bersalah tinggi. Jangan dipikirkan ucapannya. Kita sudah bertanggung jawab penuh pada pengobatan Elena. Kamu tidak salah, Jack," ucap Darius berusaha menenangkan.


Jack masih bersikap sama. Dia teringat kejadian beberapa bulan lalu yang menyebabkan kecelakaan. Andai saja dia tidak bertengkar dengan Elena, mungkin saat ini keduanya bisa hidup bersama.

__ADS_1


__ADS_2