Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Ucapan Terima Kasih


__ADS_3

Lewis menatap tidak percaya pada Caroline. Gadis itu memberikan berita yang sangat mengejutkan. Dia sudah terlanjur emosi padanya. Rencana untuk membalas William hanya akan menjadi angan belaka.


"Maafkan aku, Carol. Aku terlalu emosi padamu. Aku sudah senang kamu mau bergabung dengan perusahaanku, tetapi tiba-tiba kamu mundur begitu saja. Sekali lagi aku minta maaf. Aku turut mengucapkan duka cita atas kepergian Mamamu."


Caroline menanggapinya biasa saja. Lagi pula Lewis memang berhak marah padanya.


"Tidak apa-apa, Tuan Lewis. Kalau begitu, aku langsung pamit." Caroline bergegas keluar dari ruangan Lewis sebelum pria itu berubah pikiran.


Caroline bergegas pergi ke kantor Tuan Darius. Banyak hal yang ingin dibicarakan dengan pria paruh baya itu. Pikiran Caroline mulai bercabang. Dia ingin kembali ke Austin Group, tetapi dia takut untuk menyakiti perasaannya. Dia tidak mungkin kuat untuk melihat kemesraan William dengan istrinya.


"Benar orang bilang. Aku memang gadis bodoh yang masih mengharapkan cinta suami orang. Aku sudah berusaha move on darinya, tetapi rasanya sulit sekali," ucap Caroline ketika berada dalam mobilnya.


Austin Group, tempat yang membesarkan namanya sebagai seorang sekretaris. Anehnya, istri Tuan Darius tidak pernah menyadari keberadaannya. Mungkin saja wanita itu menyadari, tetapi karena tidak ada hubungan lagi dengan putranya, wanita itu berhenti meneror Caroline.


Kembali ke sana adalah pilihan terbaik yang disarankan Mamanya. Caroline baru sadar, mengambil keputusan terlalu terburu-buru membuat hasilnya tidak baik.


Caroline segera turun dari mobilnya setelah sampai di area parkir Austin Group. Dia memantapkan langkah untuk bertemu Tuan Darius. Sebelum itu, dia akan mampir ke tempat Shirley terlebih dahulu.


Tok tok tok.


"Masuk!" jawab Shirley.


Ceklek!


Shirley terkejut melihat kedatangan Caroline. Gadis yang paling dirindukannya beberapa hari ini.


"Carol?" Gadis itu langsung memeluk Caroline. "Apa kamu akan kembali ke perusahaan?"


Caroline membalas pelukan gadis itu. Teman terbaik yang selama ini terus berada di sampingnya.


"Aku belum tahu, Shirley. Aku akan bertemu dengan Tuan Darius terlebih dahulu."


Shirley melepas pelukannya.


"Awas saja kalau kamu tidak jadi masuk. Aku akan membencimu seumur hidupku," ancamnya.


Caroline tersenyum melihat gadis itu. Gadis yang selalu lucu di matanya.


"Tunggulah di sini. Aku akan masuk ke ruangan Tuan Darius, tetapi apakah William ada di sana?"


"Ehm, hari ini aku belum melihat Tuan Will. Mungkin tidak masuk." Shirley kembali ke tempat duduknya.


"Jangan kemana-mana. Setelah bertemu dengan Tuan Darius, aku akan kembali lagi," pamitnya.


Caroline keluar dari ruangan lamanya. Berjalan menuju ruangan Tuan Darius dan meminta maaf pada pria itu yang pertama akan dilakukannya.


Tok tok tok.

__ADS_1


Keputusan Caroline sudah bulat. Dia akan kembali ke Austin Group.


"Masuk!" jawab Tuan Darius.


Ada perasaan lega mendengar suara Tuan Darius. Semoga di dalam sana tidak ada William. Supaya Caroline leluasa untuk berbicara dengannya.


Ceklek!


"Selamat siang, Tuan," sapa Caroline.


"Oh, Carol. Silakan duduk!"


"Terima kasih, Tuan," jawabnya.


"Bagaimana keadaanmu?" Pertanyaan pertama yang diucapkan Tuan Darius.


"Lebih baik, Tuan." Caroline tidak mungkin menunjukkan rasa sedihnya di hadapan orang lain. Dia harus tetap tegar.


"Harusnya kamu beristirahat saja di rumah. Masih ada waktu untuk besok. Aku juga akan memberikan kelonggaran padamu."


"Terima kasih, Tuan. Saya tidak ingin menundanya terlalu lama. Mungkin dengan kembali bekerja, saya bisa melupakan kesedihan ini," ucapnya sendu.


"Jadi, apa keputusanmu?" tanya Tuan Darius.


Caroline terdiam sesaat. Dia teringat ucapan Mamanya.


Tuan Darius merasa lega karena sekretarisnya yang sangat berharga itu telah kembali.


...***...


Sementara di Mansion Austin, William yang sengaja pamit bekerja untuk beberapa waktu, nyatanya kembali ke Mansion. Dia tidak mendapati istrinya berada di kamarnya.


"Kemana perginya wanita itu?" gerutunya.


William bergegas menemui Mamanya, tetapi kata pelayan, wanita paruh baya itu sudah pergi sejak dia dan Papanya berangkat ke kantor. Mereka juga tidak melihat Roseanne keluar dari kamarnya.


Pasti mereka berdua sedang memadu kasih di dalam kamar Jack. Sebaiknya aku masuk ke ruangan Papa dan melihat CCTV di sana.


William tak ingin buru-buru, tetapi dia ingin secepatnya bercerai dengan Roseanne. William memiliki akses masuk ke ruangan Papanya sebelum dia pergi ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya.


Ceklek!


Ruangan itu gelap karena sakelar lampunya belum dinyalakan. William secepatnya harus menemukan bukti kotor istrinya itu. Setelah William menyalakan sakelar, dia langsung menuju komputer yang langsung mengarah ke CCTV. Mungkin saja Roseanne tidak menyadari jika pengamanan rumah ini juga menggunakan alat itu.


William melihat dengan jelas bagaimana Rosseanne mengendap-endap untuk masuk ke kamar Jack.


"Rasanya aku tidak perlu masuk ke kamar mereka. Aku cukup menunggunya di kamar dan menginterogasinya."

__ADS_1


William tidak ingin terjadi keributan di dalam Mansion keluarganya. Cukup dia dan Roseanne yang akan menyelesaikan masalahnya.


Setelah mendapatkan bukti, William kembali ke kamarnya. Benar dugaannya, Roseanne belum juga kembali. Dia kembali menemui pelayan dan menanyakan siapa wanita terakhir yang bersama Jack. Pelayan memberitahu namanya Elena. Dia gadis muda yang sering keluar masuk kamar Jack, tetapi beberapa minggu ini tidak nampak kehadirannya di Mansion.


Cukup bagi William untuk memasukkan gadis itu ke dalam rencananya. Tinggal mencari di mana alamatnya dan semuanya akan selesai.


William kembali lagi ke kamarnya. Dia sengaja menunggu Roseanne dan memberikan kejutan padanya. Lama William menantinya, tepat tiga jam setelahnya, Roseanne baru saja kembali.


Ceklek!


"Sudah puas bersenang-senangnya?" tanya William.


Roseanne yang tidak menyadari jika suaminya sudah berada di kamar membuatnya terkejut.


"Oh, aku baru saja cari angin di dekat kolam renang. Aku tidak tahu kalau kamu sudah kembali, sayang," ucapnya berbohong. Padahal Roseanne berada di kamar Jack selama berjam-jam.


Teruskan berbohongmu itu. Semakin lama semakin baik. Biar secepatnya aku bisa menceraikanmu.


"Cepatlah mandi! Aku tidak suka bau keringatmu," ucapnya.


Setelah Roseanne masuk ke kamar mandi, William keluar kamar. Dia sengaja menuju kamar Jack, adiknya.


Tok tok tok.


Jack rasanya senang sekali. Baru saja Roseanne keluar dari kamarnya, sekarang wanita itu datang lagi.


"Masuk saja, Rose!" teriaknya dari dalam. Jack tidak mengunci pintunya setelah wanita pemuas ranjangnya itu keluar.


Ceklek!


"Kamu?" Jack kelabakan karena yang datang bukan Roseanne melainkan William.


"Sudah puas bermainnya? Terima kasih, karena kamu mempermudah pekerjaanku yang rumit itu," ucap William.


William melihat ranjang Jack yang masih berantakan. Adiknya itu juga masih di atas ranjang dengan memakai selimutnya. Tentu saja bekas pertempuran itu membuat Jack sangat kelelahan.


"Apa maksudmu, Kak?" Jack berpura-pura.


"Jangan membuat skandal di Mansion Papa. Kalau kamu mau, pergilah ke hotel. Bawa serta istriku ke sana," sindir William.


"Ck, William Austin. Rupanya kamu lupa. Siapa yang lebih dulu membuat skandal? Lihat, Caroline sampai keluar dari Austin Group karena ulah siapa?" ucap Jack.


"Setidaknya aku mengejar gadis single," balas William sinis.


"Aku juga pria single. Ternyata suami istri sama saja. Sama-sama mencari kepuasan di luar," cibir Jack.


Keributan antara kakak beradik itu tidak dapat dielakkan. Namun, untuk kali ini William tidak menyerang Jack. Dia hanya memerlukan bukti untuk menceraikan Roseanne.

__ADS_1


🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵


__ADS_2