
Sesuai kesepakatan, Jack dan Elena akan pergi ke club berdua. Namun ditengah jalan, Jack sengaja membatalkannya karena dia mulai malas pergi bersama Elena.
"Kenapa kamu memutar balik laju kendaraannya? Bukankah tujuan kita ke club?" protes Elena yang menyadari jika mobil mereka tidak menuju ke club, melainkan kembali pulang ke mansion Austin.
"Elena, aku sangat lelah hari ini," ucapnya.
"Kenapa tidak kamu katakan dari awal saja jika tidak ingin pergi ke club. Kalau seperti ini, aku malah kesal padamu, Jack!" ucap Elena.
Jack memang berbeda dengan William. Jack lebih gampang mendekati wanita hanya dengan menunjuknya saja, maka wanita atau gadis itu akan mendekat padanya.
Elena memasang wajah kesal dan bertambah kesal lagi ketika Jack menghentikan mobilnya dekat apartemen yang biasa dihuni Elena.
"Turunlah!" perintah Jack.
"Jack, padahal sepulang dari club, aku ingin bersenang-senang denganmu. Bukankah kapan hari kamu pernah bilang ingin tidur denganku?" ucap Elena.
"Itu hanya bercanda, Elena. Jangan kamu masukkan ke dalam hati," jawab Jack.
Elena sudah sangat marah pada Jack. Dengan cepat dia menyambar bibir pria itu yang sudah menjadi kekasihnya selama dua tahun terakhir ini. Jack belum pernah menyentuhnya sama sekali. Ini pertama kalinya Elena nekat mencium kekasihnya itu. Ciuman berlangsung sangat lama membuat jiwa mesum Jack bangkit.
"Elena, kalau seperti ini, kamu malah membangkitkan gai*ahku yang sudah lama diam. Kenapa kamu lakukan ini?" tanya Jack yang telah berhasil melepaskan ciuman gadis itu.
"Jack, aku tidak ingin kehilangan dirimu. Kapan kita akan menikah?" tanya Elena.
Sudah puluhan kali Elena meminta kejelasan hubungannya tetapi malah Jack selalu beralasan jika masih meneruskan bisnis papanya yang sedang berkembang pesat itu. Dia ingin menunda pernikahannya sampai tahun depan. Sebenarnya Jack ingin putus dengan Elena, tetapi sang mama selalu mendukung gadis itu untuk dekat dengannya.
"Aku belum tau, Elena. Jangan paksa aku untuk menikahimu dalam waktu dekat. Aku belum siap," ucap Jack.
__ADS_1
Elena terlanjur mencintai pria itu. Apapun akan dilakukan demi menjerat pria itu untuk masuk ke dalam rencananya. Keluarga Austin sangat kaya raya dan itu akan menopang bisnis keluarga papanya yang mulai diambang kehancuran karena kalah modal dengan pesaing bisnis lainnya.
Demi papa, aku akan menjerat salah satu keluarga Austin. Maafkan aku, pa. Aku memakai cara seperti ini.
"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu, tetapi bisakah kamu mampir ke apartemenku sebentar? Aku hanya ingin mengobrol bersamamu," ucap Elena.
Sebagai wujud permintaan maafnya pada Elena, Jack mau saja mampir ke apartemen gadis itu. Ini memang bukan pertama kalinya, tetapi bagi Elena ini adalah awal rencana yang sesungguhnya.
Jack secepatnya membawa mobilnya masuk ke basemen. Apartemen XY lantai enam belas, unit sembilan adalah tempat yang biasa ditinggali Elena.
Keduanya segera memasuki unit apartemen yang dimaksud. Elena mempersilakan Jack untuk duduk di ruang tamu, sementara dirinya mengambil makanan ringan dan soft drink yang selalu tersedia.
"Minumlah, Jack!" Elena meletakkan dua botol soft drink dan satu bungkus snack di atas meja.
Jack dengan cekatan meminumnya karena haus.
"Terima kasih, Elena." Jack meletakkan kembali botol itu ke atas meja.
"Film apa? Kalau action aku mau." Jack yakin jika kekasihnya ini tidak akan punya film yang dimaksud olehnya. Elena penggemar film romantis, jadi mana mungkin dia suka dengan film action.
"Wah, kebetulan sekali, Jack. Aku ada satu. Ayo kita langsung nonton ke kamar," ucap Elena.
Gadis itu dengan mudah membohongi Jack. Tujuannya adalah untuk tidur dengannya dan esok hari supaya keluarganya menuntut keluarga Austin dan menggantinya dengan sejumlah uang ganti rugi. Rencana yang sempurna.
Setelah Jack masuk ke kamarnya, Elena segera mengunci pintu kamarnya agar pria itu tidak kabur begitu saja. Jack belum sadar jika Elena sengaja menjebaknya.
Elena meminta Jack untuk duduk di ranjang dan bersandar pada headboard. Sementara dirinya sedang fokus mencari film yang dimaksud.
__ADS_1
Setelah film itu mulai, Elena secepatnya ke kamar mandi untuk berganti kostum. Dia sengaja memancing Jack dengan lingerie seksinya yang berwarna hitam.
Ketika durasi film sudah masuk pada bagian inti, Elena segera keluar menampakkan wujudnya. Jack awalnya sangat terkejut, tetapi ketika melihat pemandangan indah dan menantang itu membuat jiwa kelelakiannya bangkit.
Jack mendekati Elena dan menyambar bibir gadis itu. Dia bermain-main sangat lama disana. Setelah itu, Jack memberikan tanda kepemilikan di leher kekasihnya. Puas memberikan tanda cintanya, Jack mulai membuka bajunya perlahan.
Ketika hendak melanjutkan merobek lingerie yang dipakai Elena, tangannya terhenti. Bayangan wajah Caroline menari dipelupuk matanya.
Elena yang merasa gagal mendapatkan Jack untuk malam ini membuatnya marah.
"Jack, kenapa kamu berhenti?" tanya Elena.
"Maaf, Elena. Aku tidak bisa melakukan ini padamu," ucapnya. Jack segera memungut pakaiannya yang telah dilemparkan ke sembarang arah. "Kemarikan kunci kamar ini!"
Elena sebenarnya tidak ingin memberikan karena kegagalannya barusan. Tetapi melihat Jack dengan auranya yang sebentar lagi akan meledak, terpaksa Elena memberikannya.
Setelah berhasil membuka pintu, Jack masih sempat menoleh ke arah Elena dan memberikan pesan terakhir pada gadis itu.
"Elena, hubungan kita berakhir sampai di sini," ucapnya kemudian menutup pintu kamar itu dengan sangat keras sehingga membuat Elena terkejut sangat luar biasa.
"Sialan kamu, Jack! Aku akan membalasnya padamu. Aku tidak akan membiarkanmu lepas begitu saja. Kamu adalah tambang emas untukku." Elena menekan tombol off untuk film laknatnya itu. Bergegas dia merobek lingerie kemudian menelepon seseorang. Dia meminta orang itu untuk memata-matai pergerakan Jack. Kalau perlu, sekalian dengan kakaknya. Dia ingin menghancurkan keduanya.
Perjuangan Elena untuk mendapatkan Jack tidaklah mudah. Kini, ketika ingin mendapatkan Jack seutuhnya maka pria itu kabur begitu saja dan memutuskan hubungan asmaranya.
Sementara Jack yang berhasil lepas dari jeratan Elena merasa bersyukur bisa bebas darinya. Jika tidak, kehidupannya sebagai anggota keluarga Austin akan dipertaruhkan.
"Sial! Bisa-bisanya Elena melakukan itu padaku. Untung saja wajah Caroline tertanam jelas di mataku. Tak perlu susah payah aku lari dari cengkeraman wanita itu. Huft, hampir saja aku menumpahkan cairan surga itu padanya. Apalagi aku tidak membawa pengaman, bisa-bisa Elena dan keluarganya datang padaku dan meminta pertanggungjawaban atas kehamilannya. Dikiranya aku bodoh, hah?" cerocos Jack seorang diri di dalam mobilnya.
__ADS_1
Jack hendak kembali ke mansion setelah pulang dari apartemen Elena. Gadis atau bukan, yang pasti wanita itu hampir saja mencoreng namanya sebagai seorang playboy kelas kakap.
🌹🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹🌹