
"Tante, William pamit. Mungkin lain kali mampir lagi kemari," pamit William.
"Terima kasih sudah datang, Will. Sudah lama tante tidak bertemu denganmu. Tante harap, kamu selalu bersabar menghadapi sikap Caroline yang seperti itu," Ucap Veronica.
Wanita paruh baya itu tidak tahu jika William telah menikah. Walaupun hubungannya dengan Caroline sempat putus, tetapi mendengar cerita Caroline yang masih mencintainya membuat Veronica mendukung William.
"Iya, tante. Sama-sama." William keluar diantar Veronica.
"Sering-seringlah main kemari. Mungkin saja Caroline butuh teman mengobrol selain tante," ucap Veronica sebelum pria itu meninggalkan halaman rumahnya. Dia juga yang membukakan pintu gerbangnya.
Bagaimana aku bisa datang kemari, tante. Caroline terus saja menolakku.
"Iya, tante." Hanya itu yang mampu diucapkan William.
William mengemudikan mobilnya tidak langsung ke kantor melainkan pulang ke Mansionnya. Hari ini, dia malas sekali untuk bertemu Papanya. Pertanyaannya tidak jauh dari Caroline. Bukan karena dia kesal pada Papanya, tetapi William gagal belum bisa membawa Caroline kembali.
Suasana Mansion sangat sepi ketika mobilnya mulai memasuki halaman luas itu. Mobil Mama dan Papanya sudah tidak ada. Hanya tersisa mobil Jack yang masih terparkir rapi seperti sebelumnya.
"Tumben Mama juga pergi. Biasanya wanita itu betah sekali berada di Mansion," ucapnya.
William bergegas turun dan masuk ke Mansion. Suasana sangat sepi. Hanya ada pembantu yang berlalu lalang sedang mengerjakan pekerjaannya. William langsung masuk ke kamar dan tidak mendapati istrinya berada di sana.
"Tumben sekali. Roseanne juga tidak ada. Baguslah, aku ingin istirahat dengan nyaman." William melepas jas dan dasinya. Hanya tersisa kemeja yang sengaja dibuka dua kancingnya.
Sementara disebuah kamar telah terjadi sesuatu yang sangat romantis. Pria dan wanita itu saling memuaskan. Setelah kepergian Mama dan Papanya, Roseanne menemui Jack. Semalam setelah perbincangan di meja makan, Jack menemui Roseanne secara sembunyi. Dia mengatakan ingin menghamili kakak iparnya itu dengan cepat. Dia akan membuktikan bahwa William memang mandul dan Mamanya pasti akan mengusir pria itu.
Roseanne seperti mendapatkan angin segar. Kesempatan untuk bertahan di keluarga Austin akan semakin lama. Dia sudah berjanji untuk menemui Jack di pagi hari setelah Papa mertua dan suaminya berangkat ke kantor.
Jack beralasan ingin beristirahat sebelum sekretaris Papanya kembali. Papanya tidak menaruh curiga pada putranya yang telah membuat skandal perselingkuhan dengan istri kakaknya. Jika ketahuan, paling Tuan Darius akan memindahkannya ke anak cabang yang sangat jauh dari jangkauannya.
__ADS_1
"Will, lebih cepat, sayang," teriak Roseanne.
Jack yang sedang bermain dengan wanita itu menghentikan aktivitasnya.
"Rose, aku Jack bukan William. Kalau kamu terus memanggil namanya, sebaiknya kita selesaikan sampai disini saja!" Jack melepaskan penyatuannya karena kesal pada Roseanne. Dia terkadang masih salah sebut lawan mainnya.
Roseanne menahannya. "Tunggu, sayang! Aku minta maaf. Bisa kita lanjutkan lagi? Tanggung juga, kan? Kamu sudah berjanji padaku, loh."
Jack memang harus segera menyelesaikan tujuannya untuk membuat Roseanne hamil. Dia melanjutkan permainannya untuk yang entah kesekian kalinya. Suasana Mansion yang sepi sangat mendukung hubungan laknat ini. Jack juga tidak mengerti kenapa dia bisa tertarik dengan istri kakaknya?
Mereka menuntaskan pelepasannya bersama. Roseanne merasa menjadi wanita yang paling bahagia karena berhasil mendapatkan pria seperti Jack. Pria itu selalu bisa membuatnya terbang ke angkasa dan memberikan kepuasan tersendiri dibanding dengan William.
Semenjak pulang ke Mansion, pria itu seperti mengabaikan dirinya.
"Terima kasih, Jack. Pagi ini sangat luar biasa. Lihatlah, aku sampai berkeringat berulang-ulang. Terima kasih, sayang." Roseanne mendaratkan ciuman pada bibir pria itu, tetapi Jack menghentikannya.
"Cukup, Rose! Aku tidak mau mengulangnya lagi. Aku sangat lelah."
"Terserah kamu saja. Mau mandi di sini atau langsung kembali ke kamarmu?" tanya Jack.
"Aku langsung ke kamar saja. William juga sedang ke kantor. Kita bebas hari ini." Roseanne mengelap keringatnya dan kembali memakai pakaiannya yang dilemparkan Jack seenak jidatnya. Dia harus mengambil ke beberapa tempat yang berbeda.
"Terima kasih, sayang," ucap Jack untuk pertama kalinya.
Setelah bercinta untuk pertama kalinya dengan Roseanne, Jack tidak lagi mencari wanita malam untuk memuaskannya. Pria itu tidak menampik bahwa Roseanne mampu membangkitkan geloranya hanya dalam waktu beberapa menit. Seharusnya William merasa beruntung mendapatkan wanita ini.
Tunggu! Siapa sebenarnya Roseanne? Aku semakin penasaran padanya.
"Sama-sama. Aku kembali dulu, ya. Kalau kamu membutuhkannya, bisa kirim pesan. Aku sudah menyimpan nomormu. Jangan khawatir, William tidak akan curiga tentang hubungan kita." Roseanne harus mengendap-endap demi keluar dari kamar adik iparnya. Untung saja suasana sepi. Dia langsung masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Ceklek!
Roseanne tidak tahu jika suaminya telah datang.
"Darimana, kamu?" tanya William. Pria itu melihat keadaan Roseanne yang tidak rapi dari biasanya.
Deg!
Tenang, Rose. Jangan gegabah. William tidak boleh curiga.
"Oh, aku baru saja olahraga. Cari keringat sebentar. Bosan terus berada di Mansion luas seperti ini. Tumben kamu sudah dirumah, sayang?" Roseanne tidak ingin mendekati Will. Bekas percintaannya dengan Jack pasti akan terendus juga. Mungkin dari bau parfum yang ditinggalkan pria itu.
Sayang, Roseanne kalah pintar kali ini. AC ruangan itu menyala. Tentu saja William dapat mengendus aroma lain dari tubuh istrinya.
Apa mungkin kamu baru saja dari kamar Jack? Aromanya sangat kuat sekali. Jack penyuka parfum yang aromanya sangat khas untuk pria. Sedangkan aku, parfum yang kupilih tidak terlalu mencolok. Baguslah kalau begitu. Ini akan lebih mudah untuk kita bercerai. Lanjutkan saja, Rose!
"Bersihkan tubuhmu. Aku tidak suka bau keringat yang terlalu menyengat. Tumben, biasanya kamu paling anti dengan olah raga," sindir William secara halus.
"Sudah kubilang, Will. Aku mengisi kebosanan dengan berolah raga." Roseanne tidak mau berdebat lagi. Secepatnya dia masuk ke kamar mandi.
William sangat senang. Itu artinya dia harus menyusun rencana baru untuk mendapatkan buktinya dan mengajukan gugatan perceraian.
Terima kasih, Rose. Kamu mempermudah rencanaku.
William bukan pria bodoh yang bisa menerimanya begitu saja. Walaupun menikahi Rose adalah keterpaksaan baginya, tetapi William merasa menjadi kambing hitam atas apa yang tidak pernah dibuatnya. Dia hanya berada di tempat yang salah ketika kejadian itu.
William terpaksa menerima kenyataan harus menikahi Roseanne. Entah dia dijebak atau memang sengaja diperalat untuk bertanggung jawab. Perlahan, kebusukan Roseanne akan terungkap dan William bisa secepatnya menceraikannya. Tinggal mengumpulkan bukti yang kuat dan akan diselesaikan dengan cepat.
William harus memperjuangkannya. Sepertinya pertemuannya dengan Caroline membawanya pada keberuntungan karena mendapati istrinya yang berusaha menyembunyikan sesuatu darinya.
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️