Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Mulai Ragu


__ADS_3

Dokter baru saja keluar dari IGD. Dia hanya menyampaikan jika kedua korban selamat, hanya saja salah satunya masih belum sadarkan diri.


"Siapa yang belum sadar, dokter?" tanya William.


"Nona Elena, Tuan. Kalau untuk Tuan Jack sudah sadar, tetapi--"


"Ada apa dengan putraku, dokter?" sahut Tuan Darius.


"Pa, tunggu sampai dokter menjelaskan," pinta William.


"Kakinya mengalami patah tulang."


Tuan Darius tidak menyangka jika putranya akan mendapatkan hukuman secepat ini. Sebenarnya dia kasihan pada putranya, tetapi mau bagaimana lagi.


Setelah dokter meninggalkan mereka, dari arah lain nampak seorang pria yang terlihat sangat marah. Pria itu sepertinya sedang mencari keberadaan putrinya.


"Di mana dia? Sudah tidak pernah membantu malah menyusahkan saja," teriak pria itu.


Umpatannya berhenti ketika sampai di depan IGD.


"Apakah Anda mengenal putriku, Tuan?" tanya pria itu.


"Maaf, Anda mencari siapa?" tanya William.


"Mencari putriku yang sangat kurang ajar itu. Rumah sakit mengabariku jika dia mengalami kecelakaan. Kenapa tidak meninggal saja sekalian?" umpat pria itu.


Tuan Darius dan William saling pandang. Bisa-bisanya pria itu menyumpahi kondisi anaknya seperti itu. Padahal Jack juga anaknya yang paling brengsek, tetapi Tuan Darius tetap tidak tega dengan kondisinya.


"Siapa namanya, Tuan?" tanya William.


"Elena!"


Deg!


Elena adalah mantan kekasih Jack. Ya, pria itu adalah Papanya Elena, Hariz.


"Dia yang mengalami kecelakaan bersama adikku. Kondisinya belum sadar," jelas William.


"Oh, rupanya adikmu yang membuat anakku celaka, hah? Apa kau tidak tahu kalau anakku itu sedang berjuang untukku? Kenapa malah celaka bersama adikmu? Aku tidak terima. Aku akan menuntut keluargamu!" hardik pria itu.

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Bisa kita bicara baik-baik? Lagi pula tidak sepenuhnya itu salah putraku," elak Tuan Darius.


"Oh, jadi Anda Papa dari pria bejat itu. Dia hampir saja memerkosa putriku," ucapnya.


Deg!


Tuan Darius rasanya ingin mengirim Jack ke neraka saat itu juga. Di luar ternyata kelakuannya sudah sebejat itu.


"Apa yang Anda inginkan, Tuan?" tantang Tuan Darius. Bukannya sengaja mengalah, tetapi ingin tahu apa yang diinginkan Papa gadis itu.


"Oh ya, perkenalkan namaku Hariz. Aku Papanya Elena. Dia putri tunggalku dan harus bekerja menghidupi keluarga kami. Sekarang dia terbaring lemah. Aku hanya ingin meminta kompensasi sesuai dengan apa yang terjadi dengan putriku. Bukankah Anda juga tahu, Tuan. Biaya rumah sakit tidaklah sedikit. Belum lagi biaya hidup kami untuk sehari-hari. Kalau Elena terbaring lemah seperti itu, bagaimana kami bisa bertahan hidup," jelas Tuan Hariz.


Menurut William, pria itu sengaja memperalat putrinya untuk mendapatkan uang. Dia mendapatkan kesempatan bagus saat putrinya mengalami kecelakaan.


"Baiklah, Tuan Hariz. Berapa yang Anda minta?" tanya Tuan Darius.


"Tidak bayak, Tuan. Aku hanya menginginkan tiga persen saham perusahaan Anda. Itu cukup untuk biaya hidup keluarga kami," ucapnya dengan enteng.


"Pa, aku tidak setuju. Itu namanya pemerasan. Saham tiga persen nominalnya sangat besar," protes William.


"Rasanya Anda salah orang, Tuan. Aku bukan pria gampangan yang memberikan saham dengan begitu mudah. Lagi pula bukan sepenuhnya salah putraku. Bisa saja putrimu sengaja mencelakai putraku," balas Tuan Darius.


"Aku mau kalian tetap memberikan kompensasi itu pada kami. Jika tidak, maka kalian akan kami laporkan ke Polisi," tantang Tuan Hariz.


Tuan Hariz tidak bisa berkata apapun lagi untuk menyerang keluarga kaya itu. Putrinya juga sangat bodoh. Harusnya tidak membahayakan nyawa seperti itu.


...***...


Di tempat lain, tepatnya di Mal, dua orang gadis sedang menikmati kebebasannya. Mereka memilih untuk berbelanja kebutuhan bulanan, baju, dan mencari jajanan. Siapa lagi kalau bukan Shirley dan Caroline.


Selepas berkeliling dan mendapatkan semua barang yang dibutuhkan, kini mereka saatnya menikmati minuman di sebuah Cafe yang berada di Mal itu.


Caroline sengaja ingin menikmati kopi hitam yang selama ini dirindukannya. Dia masih memikirkan kelanjutan rencananya pernikahannya yang mulai membuatnya ragu itu.


"Carol, kamu hanya kopi hitam saja?" tanya Shirley.


"Hemm, aku hanya ingin minum ini saja," jawabnya.


Sementara Shirley sudah memesan aneka minuman dan cemilan untuk di makan bersama Caroline.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Apa ada masalah lagi dengan Tuan Darius?"


Caroline menggeleng.


"Tidak, Shirley. Aku sedang memikirkan dokter Freddy. Kamu tahu kan, semakin mendekati hari pernikahan, rasanya aku mulai ragu dengan pria itu," ucapnya tertunduk lesu.


"Maksudnya?"


"Aku belum pernah bertemu keluarganya. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikannya. Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana akupun tidak tahu. Menurutmu aku harus bagaimana, Shirley? Apa aku batalkan saja pernikahan ini?"


"Hah, kamu sudah gila, yah? Katamu mau move on dari Tuan William. Kenapa malah ingin kamu batalkan, hah? Sampai kapan perasaanmu itu terpenjara dengan rasa cintamu pada Tuan Will. Ingat, pria itu sudah bahagia dengan istrinya. Buktinya, dia sudah tidak pernah datang ke kantor lagi."


Ucapan Shirley benar, tetapi keraguan mengenai dokter Freddy semakin membuatnya bingung. Antara terus lanjut atau membatalkannya.


"Akan kupikirkan lagi, Shirley. Aku butuh waktu untuk menyendiri," balasnya.


"Terserah kamu saja. Pikirkan kehidupanmu juga. Dokter Freddy menurutku orang baik, tetapi jika kamu ragu, lebih baik dibatalkan saja. Daripada kamu menikah kemudian bercerai. Malah akan lebih rumit. Lebih baik menyakiti di awal daripada terlanjur," ucapnya.


Caroline tersenyum. "Tumben kamu makin hari makin cerdas, Shirley?" canda Caroline.


"Hemm, aslinya aku cerdas. Aku cuman pura-pura saja biar tidak jadi sekretarisnya Tuan Darius. Kalau yang menjabat CEO Tuan Jack, kita bertukar tempat, yah?" usul Shirley.


Caroline dan Shirley tipe orang yang berbeda. Jack yang brengseknya tidak ketulungan ternyata masih mempunyai fans fanatik seperti Shirley.


Caroline saja berusaha melepaskan William, tetapi dia ragu untuk melanjutkan pernikahannya. Andai saja mamanya masih ada, tentu dia tidak akan segalau ini. Malah, dia berharap bisa bertemu dengan papanya walau hanya satu kali. Setidaknya untuk mengobati rasa rindu sosok seorang papa.


"Kamu ini, memangnya kamu masih mau jika Tuan Jack-mu itu sampai menghamili orang lain? Kelakuannya saja seperti itu. Kamu tahu tidak berapa banyak wanita yang sudah diajak ehem olehnya?" jelas Caroline.


Shirley hanya cengengesan mendengar penuturan Caroline.


"Setidaknya hanya dia yang paling tampan di Austin Group," jawabnya.


Caroline cuman bisa menatap tidak percaya bahwa Shirley telah dibutakan cinta oleh Casanova tanggung itu. Rasanya masih tidak percaya pada ucapan gadis itu. Jangan-jangan Shirley pernah menjadi korbannya.


"Kamu menyukainya bukan karena sesuatu hal, kan?" tanya Caroline penasaran.


"Maksudmu?" Shirley menatap Caroline dengan tatapan aneh.


"Maksudku, kamu tidak pernah menjadi korban ehem-nya dia, kan?"

__ADS_1


"Ya enggaklah, Carol. Mana mungkin aku serendah itu. Lemot begini, aku juga tidak mau disentuh secara tidak hormat seperti itu," jawabnya.


Caroline senang memiliki teman sebaik Shirley. Gadis itu bisa menjaga diri dari kelakuan Jack yang semakin tidak jelas itu. Dia selalu memberikan aura positif di setiap hubungan pertemanannya. Shirley memang luar biasa.


__ADS_2