
Caroline berdiri. Dia ingin secepatnya kembali ke kamarnya. Sebenarnya dia sangat rindu pada Mamanya, tetapi ingin masuk ke kamarnya, Caroline belum siap.
"Dokter, mari kuantar ke kamar tamu," ucap Caroline.
Dokter Freddy yang sejak tadi duduk di kursi kemudian beranjak mengikuti Caroline. Jarak antara kamar tamu dari tempatnya tidak terlalu jauh.
"Terima kasih, Carol," ucapnya.
"Dokter, aku minta maaf. Jika dokter lapar, silakan ke dapur. Di sana masih banyak bahan makanan yang disimpan Mama. Aku langsung masuk ke kamar saja," pamitnya.
"Carol, kamu tidak makan dulu?" Dokter Freddy sedang berusaha memberikan perhatian kecil.
"Tidak, dokter. Selera makanku menghilang." Caroline bergegas masuk ke kamarnya. Dia tak menghiraukan panggilan dokter Freddy lagi.
Pria itu langsung masuk ke kamar tamu. Sebenarnya dia sangat lapar sekali karena sejak membantu pemakaman, dia hanya minum air putih saja.
"Aku belum pernah merasakan kehilangan, Carol. Makanya aku tidak tahu bagaimana rasa sakitnya," ucap dokter Freddy. Dia langsung merebahkan diri di atas ranjang yang ukurannya tidak terlalu besar.
...***...
Keesokan harinya, Caroline menyiapkan sarapan pagi untuknya dan dokter Freddy. Sejak pagi dokter itu belum terlihat keluar dari kamarnya. Walaupun Mamanya biasa menyiapkan, Caroline juga bisa memasak. Dia sudah terlatih mandiri sejak remaja.
Caroline baru saja selesai. Dia hendak memanggil dokter Freddy. Pintu kamarnya masih tertutup.
Tok tok tok.
"Dokter," panggil Caroline.
Ceklek!
Dokter Freddy sudah rapi dengan pakaiannya. Entah dia mendapatkan baju ganti dari mana.
"Dokter, sarapan dulu. Mau langsung ke rumah sakit atau pulang?" tanya Caroline.
"Setelah ini aku mau ke rumah sakit," jawabnya.
Dokter Freddy mengikuti Caroline ke meja makan. Dia langsung duduk di sana.
"Silakan, dokter. Menu seadanya," ucap Caroline.
"Terima kasih."
__ADS_1
Dokter Freddy menikmati sarapan paginya dengan sangat lahap. Pertama kalinya pria itu bisa makan berdua dengan Caroline.
"Kamu mau ke mana?" tanya Dokter Freddy. Dia melihat penampilan Caroline yang sudah rapi seperti mau ke kantor.
"Ada urusan sebentar, dokter." Caroline tidak ingin urusannya terlalu banyak diketahui olehnya.
Dokter Freddy tidak ingin bertanya lebih jauh. Sepertinya Caroline sangat tidak nyaman dengan semua pertanyaannya. Dokter Freddy berpamitan pada Caroline setelah sarapan paginya selesai.
"Terima kasih untuk sarapan paginya. Ingat, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Kalau perlu apa-apa, kabari saja."
"Terima kasih, dokter."
Caroline bergegas masuk ke mobil setelah mengunci semua pintunya. Tak lupa, dia mengeluarkan mobilnya kemudian mengunci gerbangnya. Sedikit kesulitan memang, tetapi sebentar lagi dia juga mendapatkan pelayan dan penjaga rumah. Dokter Freddy yang akan mencarikan.
Tujuan pertama Caroline saat ini adalah Augustine Group. Dia ingin meminta maaf pada Lewis karena tidak bisa melanjutkan untuk bekerja di sana.
"Semoga Lewis mau mengerti," ucapnya.
Mobilnya telah memasuki area Augustine Group. Dia memantapkan hati untuk bertemu dengan Lewis. Bisa saja pria itu akan kecewa dengan keputusannya, tetapi mau bagaimana lagi. Mendiang Mamanya meminta kembali pada Tuan Darius.
Caroline menemui resepsionis terlebih dahulu. Dia ingin menanyakan keberadaan Lewis.
"Selamat pagi. Maaf, bisa bertemu dengan Tuan Lewis?"
"Katakan dari Caroline. Hanya ingin berbicara sebentar saja."
"Tunggu sebentar!" Resepsionis itu langsung menghubungi Tuan Lewis. Setelah disetujui baru meminta tamunya untuk ke ruangannya. "Silakan ke ruangan Tuan Lewis. Anda sudah ditunggu."
"Terima kasih."
Caroline menuju ke ruangan Lewis sambil memikirkan kata yang tepat untuk disampaikan. Dia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya ketika sampai di depan pintu ruangan itu.
Tok tok tok.
"Masuk!" jawab Lewis.
Lewis sudah menunggunya. Ternyata lebih cepat dari dugaannya. Padahal baru kemarin, hari ini Lewis akan bertemu lagi.
Ceklek!
Caroline masuk dengan wajah yang berbeda. Gurat kesedihan masih tampak jelas di matanya.
__ADS_1
"Boleh aku duduk?" tanya Caroline.
"Silakan. Maaf, aku terlalu bersemangat melihat kedatanganmu. Aku berharap berita bagus yang kamu bawa kali ini," ucap Lewis.
"Lewis, sebelumnya aku minta maaf. Sebenarnya aku ingin sekali bekerja di sini, tetapi Mama melarangku. Aku tidak bisa berbuat banyak untuk menolak permintaan Mama," ucapnya.
Lewis langsung menampakkan wajah kecewanya. Dia memang tidak bisa memaksa Caroline untuk bekerja di perusahaannya. Walaupun ada niat lain yang akan dilakukan Lewis pada gadis itu.
"Tak masalah, tetapi boleh aku berbicara dengan Mamamu? Aku akan meyakinkannya supaya kamu bisa bekerja di perusahaanku."
Caroline menggeleng. "Maaf, Lewis. Kamu tidak bisa bertemu dengan Mama."
Lewis mulai kesal. Dia sebenarnya berharap sekali bisa membalas William melalui Caroline.
"Lama-lama aku tidak mengerti dengan sikapmu, Carol. Kita memang baru saja kenal, tetapi aku sudah memberikan tempat yang bagus untukmu bekerja. Sekarang kamu menolak begitu saja karena alasan Mamamu. Aku minta bertemu dengannya, kamu melarang. Sebenarnya kamu sengaja mempermainkanku, kan? Katakan saja, jangan jadi wanita pembohong seperti itu! Oh ya, aku baru ingat. Mungkin ucapan istri William ada benarnya. Kamu memang pelakor. Makanya tidak suka bekerja denganku karena tidak ada tantangannya sama sekali. Iya, kan?" Lewis sudah kepalang kesal terhadap Caroline. Dia mengatakannya dengan nada yang lebih tinggi dari biasanya.
Deg!
Baru kali ini Caroline melihat sikap Lewis yang seperti itu. Walaupun William atau Tuan Darius marah, mereka tidak pernah menampakkannya di hadapan Caroline. Lewis sangat berbeda.
"Aku tidak bermaksud mempermainkanmu, Tuan Lewis. Predikat pelakor memang pantas untukku. Rupanya Anda sama saja dengan istri William yang tidak tahu apapun, tetapi berusaha menuduhku seperti itu. Mendiang Mamaku meminta untuk tidak bekerja ditempatmu. Rupanya naluri seorang Mama tidak pernah salah," ucap Caroline. Gadis itu merasa tidak dihargai sama sekali. Dia sudah meminta maaf, tetapi tanggapan Lewis di luar dugaannya.
Lewis terdiam sejenak. Dia sepertinya sedang menelaah ucapan Caroline barusan.
Tunggu! Apa maksudnya mendiang Mamanya? Apakah orang yang kutemui itu bukan Mamanya?
"Memangnya Mamamu sudah meninggal? Bukankah masih hidup?" tanya Lewis.
"Tuan Lewis, sekali lagi aku minta maaf. Ini keputusanku. Anda tidak perlu tahu di mana Mamaku. Yang pasti, aku minta maaf tidak bisa melanjutkan bekerja di sini. Sekali lagi aku minta maaf," ucap Caroline. Dia ingin sejenak melupakan kesedihan karena kepergian Mamanya.
"Jangan main teka-teki denganku. Apa kamu mau kembali ke Austin Group?" selidik Lewis.
"Iya, Tuan. Seperti permintaan terakhir Mamaku," jawabnya.
Sial! Ini di luar dugaanku.
"Katakan yang jelas!" Suara Lewis meninggi.
Caroline biasa saja menanggapinya. Baginya, Lewis hanya sedang kesal. Itu saja.
"Mamaku meninggal kemarin sore. Makanya hari ini aku memutuskan untuk tidak melanjutkan bekerja di perusahaan Anda, Tuan Lewis. Apakah bisa dimengerti?" ucap Caroline dengan sangat tenang. Dia masih ingat ucapan Mamanya jika Lewis pasti bisa mengerti keadaannya.
__ADS_1
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇