
Sesuai jadwal, hari ini William akan pergi ke luar kota bersama Caroline. Dia sudah terlihat sangat bahagia sejak berada di mansion.
"Sayang, berapa lama kamu ke luar kota?" Roseanne sengaja menyiapkan beberapa pakaian suaminya dan dimasukkan ke dalam koper.
"Sekitar lima hari, Rose. Kamu di mansion saja bersama mama. Kalau bosan, mintalah antar Jack untuk jalan-jalan. Atau, kalau perlu pergilah bersama sopir kemana pun kamu mau. Debit card yang biasa kamu pegang masih ada isinya, 'kan?" William sembari merapikan rambutnya di depan cermin. Tujuannya hanya satu, dia ingin agar Caroline terus memandangnya.
"Lama sekali, Will. Kenapa papa mertua tidak meminta Jack saja yang pergi? Kalau aku rindu bercinta denganmu, bagaimana?" Roseanne merasa kesal. Kebutuhan untuk menghangatkan ranjangnya adalah hal yang sudah terjadwal oleh Roseanne. William bahkan tidak boleh melewatkannya sedikitpun kecuali Roseanne sedang libur.
"Rose, bersabarlah! Hanya lima hari, itu tidak akan lama, sayang," ucap William yang sudah siap untuk membawa kopernya.
"Kalau begitu, jangan salahkan aku selingkuh!" ucap Roseanne untuk membuat suaminya cemburu.
"Silakan saja kalau kamu mau. Kita lihat saja, kamu atau aku yang menang," ucap William terkekeh. Pria itu tau jika Rose sangat mencintainya.
"Aku hanya bercanda, sayang. Lekaslah pergi dan kembali dengan cepat!" ucap Roseanne.
William langsung berangkat. Sesuai kesepakatan, dia akan bertemu Caroline di kantornya terlebih dahulu. Mereka akan berangkat bersama menuju ke puncak.
Caroline, aku masih tidak percaya dengan ucapanmu tempo hari mengenai Jack. Maafkan aku jika nantinya aku akan bertindak nekat.
Sepanjang jalan menuju ke kantor, William memikirkan cara apa yang akan digunakan untuk mendapatkan hati Caroline kembali. Gadis itu sudah terlalu menjauh darinya. Bayangan ciuman panasnya masih teringat betul dalam memori William.
Ck, dasar gadis bodoh. Aku pikir omongan yang kemarin benar, ternyata mengingatkan ciuman itu kamu masih amatiran. Jack pasti berbohong padaku.
Mobil William mulai memasuki halaman kantor. Di sana William melihat Caroline dengan koper warna ungu kesayangannya. Mobilnya sengaja berhenti tepat di depan Caroline.
William bergegas membuka pintu depan agar Caroline mau duduk di sebelahnya.
"Di belakang saja, Will." Caroline membuka sendiri pintunya. William tidak bisa mencegahnya.
"Baiklah, terserah kamu saja," balas William. Dia memasukkan koper Caroline ke bagasi. Setelah itu kembali ke kursi kemudinya. "Tidak ada yang ketinggalan?"
"Tidak, Will. Semua berkas sudah masuk ke koperku."
__ADS_1
Perjalanan dari kantor ke puncak membutuhkan waktu sekitar lima jam. Itulah kenapa papanya memberikan waktu selama lima hari untuk pulang pergi dan berada di sana selama tiga hari.
Baiklah, Carol. Tak masalah. Setidaknya selama lima hari ke depan kita akan terus bersama.
Sepanjang perjalanan, Caroline lebih fokus ke ponselnya. Dia sengaja mendiamkan William agar pria itu tidak macam-macam lagi padanya.
"Carol, aku sudah seperti sopir, yah?" ucap William memulai pembicaraan. Sejak tadi dia merasa bosan karena tidak ada teman untuk berbicara. Sementara dirinya ingin memutar musik, tetapi takut mengganggu Caroline yang terlihat sibuk.
"Jangan katakan apapun! Fokus saja mengemudi. Aku masih punya masa depan panjang daripada harus mengobrol denganmu, Tuan." Caroline benar-benar harus menghindar.
"Carol, apa salahnya aku mengajakmu bicara? Di sini tidak ada orang lain selain dirimu." William butuh teman mengobrol selama perjalanan.
"Nyalakan musiknya! Aku ingin tidur," ucap Caroline.
Lebih baik aku pura-pura tidur.
William menyalakan musik. Dia sengaja memutar lagu favorit mereka ketika sedang menjalin hubungan beberapa tahun lalu. Caroline sengaja menutup telinganya menggunakan headset walaupun kenyataannya masih terdengar juga.
William pasti sengaja membuatku mengingat masa lalu. Oh ayolah hati, please move on dengan segera. Jangan sampai aku khilaf padanya.
William tersenyum nakal. Dia ingin membuat gadis itu merasakan pembalasannya karena berani berbohong padanya. Secepatnya William turun kemudian membuka pintu belakang dan mendaratkan bibirnya pada gadis itu. Caroline terkejut dan mendorong William dengan cepat.
"Apa yang kamu lakukan?" teriak Caroline.
William membungkam mulut gadis itu dengan kedua tangannya.
"Ssssttt! Pelankan suaramu. Aku sengaja membangunkanmu untuk makan siang. Aku lapar."
William melepaskan kedua tangannya.
"Tapi, tidak seperti itu caranya. Bangunkan aku dengan sopan. Ada hati wanita lain yang harus kujaga!" sindir Caroline. Dia bergegas turun dan masuk ke restoran. Sebelum itu, dia pergi ke toilet untuk sekedar mencuci mukanya.
Sampai di depan cermin, Caroline memegangi bibirnya. Rasanya sangat aneh mendapat serangan mendadak seperti itu.
__ADS_1
Ayolah hati, please move on. Anggap dia hanya bayangan dan tidak nyata.
Caroline bergegas mencuci mukanya dan mengoleskan make up tipis untuk memperbaiki riasannya.
"Ingat, Carol. Jangan sampai khilaf padanya. Dia itu pria beristri. Kamu akan jadi orang ketiga yang dianggap sangat jahat sekali, padahal suaminya yang ngebet ngejar aku." Caroline mengucapkannya di depan cermin. Untung saja hanya ada dirinya.
Caroline merapikan tas kecilnya kemudian keluar mencari keberadaan William. Ternyata sampai sana, William sudah memesankan makanan untuknya.
"Lama sekali di dalam," protes William.
"Jangan mengurusi urusan orang lain, Tuan. Itu tidak baik untuk rumah tangga Anda," balas Caroline.
Gadis itu langsung duduk dan memakan semua yang ada di hadapannya. Dia tidak peduli lagi dengan image di hadapan William. Caroline sengaja melakukannya agar William semakin ilfil padanya.
"Hemm, sepertinya papa salah memilih sekretaris. Lihat saja etika makannya sudah tidak sesuai dengan peraturan table manner yang berlaku," sindir William.
Caroline menghentikan makannya. "Ck, tidak ada aturan khusus makan di luar lingkungan pekerjaan!" Caroline melanjutkan lagi makannya.
Maaf, Tuan Will. Sepertinya saya harus selalu membuat Anda ilfil.
Ternyata bukan malah membuat William menyerah, tetapi malah mendapatkan kesempatan ketika ada sisa sedikit sambal di bibir Caroline, pria itu langsung mengusapnya dengan tanganya. Caroline yang merasa diperlakukan aneh seperti itu rasa jantungnya hampir melompat sangat kencang sekali.
Deg!
Caroline menghentikan aktivitas makannya. Dia menatap Will dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Makanya kalau makan pelan-pelan. Sekretaris Austin Group tingkahnya bar-bar seperti itu." William berdiri dan menuju ke kasir untuk membayar pesanannya.
Caroline kalah selangkah dari pria itu. Secepatnya Caroline bergegas kembali ke mobil setelah selesai makan dan minum. Dia menunggu William di samping mobil.
"Nah, apa yang kubilang. Kamu pasti akan selalu menungguku, Carol. Lihat, kamu rela berdiri demi menanti kedatanganku," ucap William dengan senyum kemenangannya.
"Jangan buat omong kosong apapun, Tuan. Ini mobil Anda dan pemegang kuncinya juga siapa. Permisi saya mau masuk." Caroline kembali duduk di kursi penumpang.
__ADS_1
Mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke proyek yang dimaksud Tuan Darius. Setelah kejadian di restoran tadi membuat Caroline semakin diam.
ππππBersambungππππ