Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Tidak Peduli


__ADS_3

Lavina masih tidak percaya jika Veronica telah tiada. Bisa saja ini hanya akal-akalan Darius untuk membuatnya mengalah dan menyetujui pernikahan putranya dengan Caroline.


Lavina sendiri memang sudah lama tidak tahu kabar mengenai wanita itu semenjak keberangkatan William ke luar negeri. Dia juga sudah tidak pernah tahu kabar Caroline lagi. Rupanya suaminya juga berbohong padanya. Pernah sekali waktu Lavina menanyakan perihal sekretaris perusahaannya yang baru. Darius hanya mengatakan kalau namanya adalah Shirley.


Belakangan setelah masuknya Roseanne ke Mansion, Lavina baru menyadari jika Caroline telah bekerja di perusahaan Austin cukup lama. Itu sudah bukan jadi masalah untuknya. Apalagi ketika tahu putranya sudah menikah. Lavina malah terlihat tak peduli pada Caroline.


"Kamu pasti berbohong, Pa! Mana mungkin wanita itu meninggal. Bukankah katamu dia wanita yang kuat dan tegar? Lalu, kenapa bisa pergi secepat itu?" balas Lavina masih tidak percaya.


"Kamu pikir aku Tuhan, hah? Tentu saja aku tidak tahu," balas Tuan Darius. Semakin lama istrinya selalu membuatnya kesal.


"Baguslah kalau begitu. Tidak akan ada lagi perusak rumah tangga yang sebenarnya," balas Lavina sengit.


"Sudahlah. Lupakan masa lalumu itu. Toh dia juga sudah tidak ada," tegas Tuan Darius.


Lavina terdiam. Ingatannya tidak jauh pada kesengsaraan masa lalunya karena ulah Veronica. Memang dia tidak bersalah, tetapi telah membuat hidup Lavina berada di dalam duka nestapa. Tidak ada bahagia yang hinggap waktu itu.


"Tidak semudah itu, Pa. Apa Papa lupa pernah menyakitiku selama bertahun-tahun? Itu karena siapa? Bukan karena aku, tetapi karena dia," jelas Lavina.


Rupanya terlihat sangat sulit berbicara dengannya. Darius pikir akan sangat mudah berbicara dengan istrinya setelah kematian Veronica, tetapi ternyata semuanya salah. Wanita itu tetap kekeh pada pendiriannya.


"Kamu terlalu berlebihan, Lavina. Kamu tahu betul bahwa dia tidak bersalah. Justru yang bersalah itu aku, bukan dia. Seharusnya kamu tidak menghukumnya secara berlebihan seperti itu," balas Darius.


Aku memang menghukumnya dan juga menghukummu, Darius. Aku sakit hati karena kamu abaikan selama bertahun-tahun itu. Aku hampir gila menunggu kepastian darimu. Aku merasa menjadi istri yang tidak pernah kamu anggap keberadaannya.


"Kamu sudah banyak berbohong kepadaku, Pa. Apa kamu ingat bagaimana Caroline bekerja di tempatmu? Bukankah selama ini kamu mengatakan jika Shirley adalah nama sekretarismu?" serang Lavina.


"Memang kenyataannya begitu, Lavina. Awalnya Shirley sekretarisku, lambat laun perkembangan Caroline untuk mengurus pekerjaan semakin signifikan. Aku tergerak untuk memilihnya karena beberapa alasan," ucapnya.


"Ck, alasan untuk bisa terus bertemu dengan mamanya, kan?" tuduh Lavina.


"Itu hanya pikiran kotormu saja, Lavina. Aku bahkan tidak pernah memikirkannya lagi. Aku kasihan pada Caroline. Selama ini dia tidak pernah bertemu dengan papanya, Alex Ryder."


Deg!

__ADS_1


Lavina terdiam. Mendengar nama itu membuatnya merasa kembali ke masa lalu. Dia tidak lagi membalas ucapan suaminya karena sudah lelah berdebat. Dia tidak ingin suaminya tahu rahasia yang sangat rapat disembunyikannya selama ini.


...***...


Di Mansion, tepatnya di ruang tengah keluarga Austin telah terjadi keributan kakak beradik. Jack yang memulainya lebih dulu.


"Will, kamu dari mana?" tanya Jack yang baru saja bersandar di sofa. Dia meminta tolong pelayan untuk membantu mengantarkannya ke sana.


"Kamu bertanya padaku?" Selama ini memang Jack selalu mengajaknya untuk berseteru. Makanya, William enggan untuk berbicara lagi dengannya.


"Memangnya nama William di Mansion ini siapa lagi kalau bukan kamu, hah?" bentak Jack.


"Sebenarnya kamu ada urusan apa denganku? Aku sudah malas berdebat denganmu, tetapi kamu selalu saja memulainya terlebih dahulu," balas William.


"Jangan kamu pikir akan bebas untuk mengejar Caroline tanpa aku. Aku sudah mengatakan pada Mama untuk menikah dengannya. Kamu tahu apa jawaban mama?" Jack berusaha membuat kakaknya itu menyerah untuk mendapatkan gadis itu.


William malas merespon ucapannya. Toh semua jawaban dari mamanya juga sama yaitu menolak Caroline.


"Mama setuju." Jack sengaja berbohong untuk menyulut amarah William.


"Kenapa kamu diam, Will? Apakah kamu sedang membayangkan pesta pernikahanku dengan gadis itu. Bahkan, kamu juga membayangkan malam pertamaku dengannya, bukan?" ledek Jack.


William sebenarnya ingin langsung menghajar adiknya yang semakin hari mulutnya tidak bisa dikondisikan seperti itu. Melihat kondisinya yang tidak berdaya karena patah tulang, membuatnya berpikir ulang.


"Tidak akan ada malam pertamamu dengannya. Caroline sudah pasti akan menikah denganku," balasnya tak mau kalah.


Jack rupanya tidak mau kalah. Dia sengaja membuat keadaan semakin runyam dengan berpura-pura jatuh.


"Aduh, William mendorongku!" tuduh Jack.


Beberapa pelayan yang mendengarnya segera mencari keberadaan Tuan Darius dan Nyonya Lavina.


"Kamu jangan memfitnahku seperti itu, Jack. Kalau kamu mau, kita bisa bersaing secara sehat dan tidak seperti ini," keluh William.

__ADS_1


"Ada apa ini?" teriak Lavina. Dia melihat kedua putranya seperti sedang bersitegang.


"Ada apa ini, Will?" tanya Tuan Darius.


"Ma, Pa, kalian tidak tahu ya, kalau Kak William mendorongku sampai jatuh seperti ini. Dia hanya ingin merebut Caroline dariku. Aku sudah meminta restu pada Mama dan sudah diizinkan," ucapnya berbohong.


"Jack, apa yang kamu katakan?" gerutu Lavina sembari menolong Jack.


"Itu tidak mungkin, Jack. Mamamu tidak akan pernah merestui kalian berdua, tetapi Papa mendukung William untuk bisa bersamanya," ucap Tuan Darius.


Ada perasaan tidak suka yang ditunjukkan Jack pada papanya.


"Kenapa Papa selalu mendukung William? Aku juga putramu. Kenapa aku merasa diperlakukan tidak adil seperti ini?" keluh Jack. Dia sudah kembali ke tempat duduknya.


"Papa tidak pernah membedakan kedua putraku. Kalaupun aku mendukung William, tanyakan saja masalah itu pada Mamamu. Dia itu terlalu lebay menghadapi masalah ini."


Semenjak kehadiran Caroline dalam kehidupan mereka, sepertinya tiada hari tanpa bertengkar. Apalagi kedua anaknya memperebutkan orang yang sama.


"Oke, Mama sudah capek melihat keributan ini yang tidak akan pernah berakhir. William dan Jack, Mama tidak akan pernah mengizinkan salah satu dari kalian untuk menikah dengan Caroline. Catat baik-baik!"


William sudah kepalang tanggung. Dia masih terlalu mencintai gadis itu dan sudah berjanji akan kembali kepadanya setelah mendapatkan restu Mamanya. Namun, melihat kakunya sikap sang Mama membuat William sudah tidak peduli lagi.


"Maafkan William, Ma. Semenjak Will menjalin hubungan dengan Caroline, Mama selalu menjadi pihak ketiga antara kami berdua. Bahkan Mama kerap kali menerornya, bukan?" tegas William.


Rupanya tidak hanya Veronica, tetapi juga Caroline yang membuat sikap William sekaku itu. Dia sudah tidak peduli lagi larangan mamamya karena sepanjang hidupnya William tidak pernah merasa bahagia jika tidak bersama Caroline.


...🍒🍒🍒...


Hai Kakak readers di manapun berada. Emak mau rekomendasikan karya teman Emak. Cus kepoin, jangan lupa kasih bintang, favoritkan, baca dulu, baru kasih like dan tinggalkan komentar.


Kita, Tanpa Aku by Author Hana Hikari


Terima kasih. Luv yu All 💟💟💟

__ADS_1



__ADS_2