Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Selembar Surat


__ADS_3

Caroline kembali membawa sebuah kotak obat yang berisi kapas, alkohol antiseptik, dan plester. Lukanya memang tidak terlalu besar tetapi darahnya terlihat mengalir disela jari William.


Pria itu masih berpura-pura pingsan hingga tangan halus Caroline mulai mengoleskan alkohol ke bekas lukanya.


"Auuu...." William merintih.


"Will, kamu sudah sadar? Kenapa tidak pakai baju seperti itu? Ini Villa bukan mansion mewahmu," cerocos Caroline memarahi pria di hadapannya.


"Kamu peduli sama aku?" William berusaha duduk.


"Eh, jangan duduk dulu! Aku selesaikan mengobati lukanya." Caroline sengaja menutup pendengarannya. Dia tidak ingin memberikan harapan lagi pada pria itu.


"Carol, kamu dengar aku tidak?" William kesal. Usahanya untuk mendapatkan perhatian Caroline nampaknya sia-sia.


"Aku tidak tuli. Bisa dipastikan aku mendengar semua ucapanmu, Tuan William." Caroline selesai memasang plester di tangan William. Setelah itu dia membereskan kotak obat yang selalu dibawanya kemanapun pergi.


William dengan cekatan meraih wajah gadis itu kemudian mendaratkan ciuman pada bibirnya. Caroline memberontak dan reflek menamparnya.


Plak!


William terkejut. Caroline yang dikenalnya sungguh berbeda.


"Jangan kurang ajar, Tuan Will! Saya membantu Anda bukan berarti melakukan hal seenak jidat seperti itu. Saya punya perasaan. Tolong jangan berikan saya harapan palsu. Setelah urusan pekerjaan ini selesai, secepatnya saya akan mengajukan surat pengunduran diri." Caroline bergegas kembali ke kamarnya namun tangan kekar itu menghalanginya.


"Jangan lakukan itu! Aku tidak mau berpisah denganmu untuk yang kedua kalinya."


Caroline melepaskan tangan kekar itu. "Saya wanita bebas, Tuan Will. Jangan paksa saya untuk selalu menuruti keinginan Anda!"


"Ck, jangan tutupi perasaan cintamu itu. Maka aku akan selalu menyakitimu. Katakanlah biar aku juga tau kalau kamu masih mencintaiku." William berdiri. Dia menyingkap selimut ke sembarang tempat.


Keduanya saling pandang. Sesaat Caroline terpesona dengan tubuh kekar itu kemudian dia mampu menguasai keadaan.


"Itu bukan urusan Anda, Tuan. Jangan masukkan kehidupan saya dengan pernikahan Anda. Walaupun saya tidak tau pernikahan Anda bahagia atau tidak."


Caroline langsung meninggalkan kamar William. Pria itu langsung meninju tembok. Usahanya gagal.

__ADS_1


Ketika sedang frustrasi karena kegagalannya, ponselnya berdering. Ada telepon dari istrinya.


"Halo, ada apa?" jawab William ketus.


"Sayang, jangan seperti itu. Aku merindukanmu," ucap Rose dengan suara manjanya.


"Aku hanya lima hari, Rose. Secepatnya aku akan pulang," balas William.


"Aku cuma mau pamit pergi berlibur bersama keluargamu. Mama, Papa, Jack, dan aku. Kami akan pergi ke luar negeri. Sebenarnya aku tidak ikut, tetapi mama memaksaku untuk ikut." Suara Roseanne terdengar sangat malas sekali.


"Tumben papa juga ikut?" William terkejut dengan kabar yang diperolehnya.


"Oh, tidak sayang. Papa hanya mengantar kami ke bandara. Cepat pulang, aku sangat merindukanmu! Katakan kamu juga merindukanku!" pinta Roseanne.


"Iya, sayang. Aku juga merindukanmu." William langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Sementara di luar kamar William, Caroline mendengar semuanya. Dia yakin dengan keputusannya walaupun rasa sakit yang didapat tidak sebanding dengan penantiannya selama ini.


Maafkan aku, Will. Ini sangat pahit untukku. Secepatnya aku akan pergi dari kehidupanmu.


Caroline kembali ke kamarnya dan tidak keluar lagi dari sana. Dia tidak ingin menatap manik mata pria itu lagi yang selalu memberikan harapan.


"Carol, keluarlah! Aku ingin minta maaf padamu. Aku tau aku salah, tetapi tolong izinkan aku menjelaskan semuanya. Aku masih sangat mencintaimu dan perasaanku ini tulus. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku!" William berjuang keras.


Caroline diam dan tidak menanggapinya. Secepatnya dia ingin pulang dan menyerahkan proyek ini kembali kepada Tuan Darius, tetapi mengingat kebaikan pria paruh baya itu, Caroline ingin menuntaskan pekerjaan kemudian mengajukan surat resign padanya.


"Carol... Percayalah padaku. Aku masih sangat mencintaimu seperti kamu mencintaiku. Kita punya hati dan cinta yang sama. Keluarlah! Kita bicara baik-baik. Jangan seperti ini! Aku sangat khawatir padamu," teriak William dari luar.


Untung saja Villa mereka khusus, sehingga tidak akan ada orang lain yang tau jika William berteriak seperti itu.


William kembali ke kamarnya, setelah dipastikan tidak ada lagi suaranya. Caroline memberanikan diri keluar untuk mengambil air minum. Dia ingin mencari Villa yang lain demi menghindari William.


Caroline mengeluarkan kopernya. Dia tidak tau jika William baru saja keluar lagi dari kamarnya. Melihat Caroline menarik kopernya, William langsung mengejar dan mencegahnya.


"Mau kemana kamu? Ini masih dalam lingkup Austin Group. Kamu tidak boleh keluar kemanapun!" ucap William.

__ADS_1


"Tuan William, saya ingin beristirahat dengan tenang tanpa gangguan dari siapapun. Anda tak perlu khawatir. Saya hanya pindah ke Villa sebelah." Caroline bersikeras untuk keluar.


"Sekali lagi kamu berani melangkahkan kaki, aku akan meminta papa memecatmu dan membuat hidupmu kembali seperti dulu!" ancam William.


Caroline meletakkan kopernya. Dia terlihat sangat marah.


"Silakan Anda menghubungi Tuan Darius. Tak perlu bersusah payah, Tuan. Setelah proyek ini selesai, saya akan mengajukannya dengan senang hati."


"Carol, aku hanya bercanda." William tersenyum padanya.


"Hidupku tidak semudah itu, Tuan. Candaan ini sangat tidak mutu sekali. Tolong izinkan saya keluar dari Villa ini. Esok hari di tempat pertemuan saya akan datang. Saya tidak akan lari dari tanggung jawab." Caroline bernegosiasi dengan mantan kekasihnya itu.


"Tidak, aku tidak akan mengizinkannya. Kembalilah ke kamarmu. Hari sudah semakin larut. Beristirahatlah!"


"Tidak, aku tidak akan bisa tenang sebelum Anda berjanji untuk tidak mendekati saya!"


William menyerah. Tak ada gunanya mendebat Caroline. Gadisnya itu sangat cerdas. Tentu dia tidak akan mudah percaya begitu saja.


"Baiklah. Aku akan bersikap profesional. Maafkan aku. Kembalilah ke kamarmu!"


Caroline masuk lagi ke kamarnya dan tidak ingin melihat wajah pria itu. Garis takdir mempermainkan perasaannya. Kenapa kehidupan selalu mempertemukannya dengan pria itu?


Malam ini Caroline sangat tenang. Tidak ada lagi gangguan dari pria itu. Dia memegang teguh ucapannya.


"Syukurlah, malam ini aman. Secepatnya aku ingin pulang dan memeluk mama. Rasanya aku ingin berteriak dengan keras agar aku bisa menghapus namanya dari hatiku. Jangan sampai aku khilaf jika sedang bersamanya. Aku harus terus sadar!" Caroline menyemangati dirinya.


Ketika hendak memejamkan mata, tak sengaja dia melihat sebuah kertas terlipat yang diletakkan dibawah pintunya.


Kertas apalagi itu?


Caroline turun dari ranjang dan memungutnya. Dia membuka lembaran kertas itu.


Maafkan aku, Carol. Aku tidak bisa membendung perasaan cinta ini. Aku tau ini salah, tetapi hatiku tidak bisa berbohong jika aku masih mencintai dan mengharapkanmu kembali. -Your Love, William-


Caroline meremat kertas itu dan menyobeknya menjadi sangat kecil lalu membuangnya ke tempat sampah. Tidak ada lagi yang perlu diperjuangkan lagi dengan pria sepertinya.

__ADS_1


Lupakan aku, Will. Kita akan saling melupakan.


🍎🍎🍎🍎Bersambung🍎🍎🍎🍎


__ADS_2