Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Kepergian Veronica


__ADS_3

"Baiklah, Carol. Aku tunggu kehadiranmu di sana. Aku berharap kabar baik yang akan kuterima."


"Terima kasih, Tuan. Silakan di minum. Maaf, hanya teh hangat," ucapnya.


Tuan Darius segera menghabiskan teh itu dan langsung berpamitan pada Caroline.


"Caroline, aku pamit. Ingat, jangan kamu ulur lagi untuk datang ke Austin Group."


Setelan kepergian Tuan Darius, Caroline menemui Mamanya. Wanita itu menunggunya di dapur.


"Kenapa Mama tidak menemui Tuan Darius?" tanya Caroline.


"Untuk apa, sayang? Tujuan Tuan Darius datang kemari hanya untuk berbicara denganmu," balas Veronica.


"Mama benar. Sekarang aku benar-benar bingung. Aku sudah melamar di perusahaan Lewis. Pria itu juga memberikan kesempatan padaku untuk memikirkan ulang. Aku merasa tidak enak pada Lewis, Ma."


Kalau boleh memilih, Veronica lebih cenderung putrinya untuk kembali bekerja pada Tuan Darius. Gadis itu akan aman bersama pria itu. Dia pasti akan menjaga Caroline dengan baik. Veronica berharap, di sisa akhir hayatnya itu, putrinya masih diberikan kesempatan untuk bertemu suaminya. Walaupun sangat tipis sekali. Darius pasti membantunya.


"Carol, kemarilah. Mama ingin berbicara denganmu dari hati ke hati." Veronica mengajak anak gadisnya itu ke ruang tengah. "Duduklah!"


Caroline menatap lekat wajah tua Mamanya. Terlihat sangat lelah dan menyimpan banyak beban.


"Mama kenapa menjadi seperti ini?" Caroline terlihat sangat khawatir pada Mamanya yang sepertinya terlihat letih itu.


"Setelah ini, sewalah pelayan dan penjaga rumah. Mama tidak akan bisa menjagamu terus-menerus. Kemarin Mama memang melarangmu untuk menyewa mereka agar uangnya bisa kamu tabung. Setelah kepergian Mama, carilah pelayan yang bisa membantumu dalam segala hal. Sayangilah mereka seperti keluargamu sendiri," ucap Veronica.


"Mama kenapa berbicara seperti itu? Mama akan terus bersamaku dan Mama tidak akan pernah pergi kemanapun tanpa aku." Caroline memeluk wanita itu dengan sangat erat. Dia berharap Mamanya menarik ucapannya.


Veronica melepas pelukan putrinya. "Kembalilah bekerja dengan Tuan Darius. Mama sengaja menitipkanmu padanya. Kelak, jika Papamu kembali, Tuan Darius yang akan membantu mempertemukan kalian berdua."


Caroline merasa ada yang tidak beres dengan Mamanya. Seperti hendak meninggalkan dirinya sangat jauh dan tidak pernah kembali lagi.

__ADS_1


"Ma, jangan katakan itu lagi. Caroline tidak siap untuk kehilangan Mama." Air mata gadis itu mulai menganak sungai di pipinya.


Veronica menghapus air mata Caroline dengan kedua tangannya. "Jangan bersedih. Tuan Darius akan menjagamu dengan baik. Lupakan untuk bekerja di perusahaan Lewis. Ada saatnya dia akan mengerti alasanmu untuk tidak bekerja dengannya."


Caroline menatap Mamanya penuh haru. Tidak biasa wanita itu akan berbicara berdua seperti ini. Rasanya ada sesuatu yang disembunyikan wanita itu dari putrinya. Caroline juga tidak pernah tahu.


"Apa Lewis tidak akan marah padaku?" Caroline masih perlu mempertimbangkan ulang permintaan Tuan Darius maupun Mamanya. Dia juga tidak akan mengabaikan Lewis begitu saja. Setelah Caroline mendapatkan keputusan, secepatnya dia akan mendatangi kedua tempat itu.


"Percayalah, pria itu tidak akan bisa marah padamu jika alasan yang kamu sampaikan tepat. Jangan ragu, sayang." Veronica memeluk putrinya sekali lagi.


Caroline mempererat pelukannya. Dia sangat sayang pada Mamanya yang sanggup untuk mempertahankan Caroline sampai saat ini. Wanita itu tidak kenal lelah walaupun pernah merasakan sakit hati.


Lama dia memeluk wanita itu dan tidak didengarnya lagi ucapan maupun hembusan nafasnya.


"Ma ... mama kenapa?" Caroline melepaskan pelukan wanita itu kemudian mengguncangnya. Tidak ada respon dari Mamanya. Caroline menyandarkan tubuh wanita itu di sofa. Bergegas dia menelepon dokter untuk datang ke rumahnya.


Tiga kali mendial nomor telepon dokter Freddy, barulah tersambung.


"Tunggu, Caroline. Sebentar lagi aku akan sampai di sana. Kebetulan aku masih di jalan," jawab dokter Freddy.


"Secepatnya kutunggu, dokter." Caroline bergegas memutuskan sambungan teleponnya dan mendekati Mamanya yang sudah tidak bernafas itu.


Caroline memegang kedua tangannya berharap bisa memberikan kekuatan lebih untuknya. Tak berselang lama, bel rumahnya berbunyi. Buru-buru Caroline ke depan untuk membukanya.


Nampak mobil dokter Freddy yang masuk ke halaman rumahnya. Dokter Freddy lekas turun dan mengikuti langkah Caroline masuk ke rumahnya.


Dokter Freddy tidak banyak bertanya. Dia langsung memeriksa kondisi Veronica yang masih bersandar di sofa. Setelah memeriksanya beberapa menit, dokter Freddy memandang lekat ke arah Caroline. Dokter itu merasa iba padanya.


"Caroline, maafkan aku. Mamamu sudah meninggal," ucap dokter Freddy.


Jeduar.

__ADS_1


Caroline merasakan hidupnya benar-benar berada di titik terendah. Tubuh gadis itu luruh ke lantai. Dokter Freddy membantunya untuk berdiri dan duduk di sofa dekat Mamanya.


"Kamu jangan khawatir. Aku akan membantu mengurus pemakaman Mamamu. Kabari seluruh kerabatmu." Hanya itu ucapan dokter Freddy. Pria itu kemudian menjauh lalu terlihat menghubungi seseorang.


Caroline masih terdiam di tempatnya. Beberapa menit yang lalu, dia masih berbincang dengannya dan sekarang wanita kesayangannya itu terbujur kaku seperti itu.


Garis takdir sangat mempermainkan kehidupan Caroline. Gadis itu tidak mempunyai kerabat dekat. Hanya Tuan Darius orang yang paling dekat dengannya selama ini. Dia ingin mengabari pria paruh baya itu, tetapi diurungkannya.


"Caroline, sebentar lagi akan ada orang yang mengurus Mamamu. Kamu jangan khawatir, ya. Aku akan membantumu sampai pemakaman selesai."


Dokter Freddy sangat baik. Selama ini dia yang selalu mengurus pengobatan Mamanya.


"Dokter, sebenarnya Mamaku sakit apa? Apa dia menyembunyikan kenyataan dariku?" tanya Caroline.


Benar, Veronica sengaja menyembunyikan penyakitnya dari putrinya itu. Dokter Freddy tidak boleh mengatakan apapun pada Caroline karena Veronica tidak ingin anak gadisnya itu kepikiran dengan kondisinya yang mulai sekarat itu. Itulah sebabnya tidak ada orang lain yang boleh bekerja di rumahnya.


Veronica merasa sanggup untuk mengatasi semua pekerjaan yang ada dirumah itu. Perjuangannya dari rumah kontrakan sampai mendapatkan perumahan yang sangat bagus tidaklah mudah. Mungkin untuk setiap orang mengatakan untuk menyewa pelayan atau segala macam, tetapi Veronica punya alasan tersendiri.


"Mamamu memiliki penyakit tekanan darah tinggi dan jantung, tetapi dia selalu berpesan kepadaku untuk tidak pernah mengatakannya padamu. Pengobatannya juga masih bisa diupayakan, tetapi Mamamu menolaknya," ucap dokter Freddy sendu.


Caroline tidak bisa berbicara apapun lagi. Cinta Mamanya kepadanya terlalu besar sehingga tidak ingin terlalu menyusahkan putrinya.


Rumah Caroline saat ini mulai ramai orang yang mengurus pemakaman Mamanya. Dia terus saja didampingi dokter Freddy.


"Carol, apa tidak ada kerabatmu yang akan datang?" tanya dokter Freddy.


"Aku tidak mempunyai kerabat, dokter. Sebenarnya hanya ada satu nama yang dikenal Mamaku. Apa aku perlu menghubunginya?"


"Hubungi saja. Anggap saja dia kerabat dekatmu."


Ucapan dokter Freddy benar. Tuan Darius harus tahu kondisi Mamanya saat ini. Caroline segera mengirim pesan kepadanya. Dia tidak kuasa jika harus menelepon pria itu.

__ADS_1


😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭


__ADS_2