Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Belum Menikah


__ADS_3

Pagi ini, Caroline akan datang ke kantor Augustine Group. Lewis sudah berjanji padanya, jika temannya bisa menerimanya bekerja di perusahaan itu. Dia sudah menyiapkan surat lamaran kerja lengkap.


Caroline memakai mobilnya dan memarkirkan di area parkir tamu. Dia langsung menemui resepsionis untuk menanyakan perihal lamaran pekerjaan.


"Selamat pagi, Bu. Saya ingin mengajukan surat lamaran pekerjaan. Apa bisa dibantu?" tanya Caroline.


Resepsionis itu sedikit terkejut karena selama beberapa bulan terakhir ini, Augustine Group tidak membuka lowongan pekerjaan.


"Maaf, kalau boleh tahu, atas rekomendasi siapa, ya?" Resepsionis itu selalu diberikan pesan oleh CEO-nya, Lewis Augustine untuk tidak memutuskan sesuatu secara sepihak. Mereka harus bekerja dan berkomunikasi dengan baik walaupun dengan tamu yang datang.


"Ehm, begini. Saya punya teman, namanya Lewis. Dia menyarankan untuk masuk ke perusahaan ini dan katanya pemiliknya itu berteman dengannya." Setahu Caroline memang seperti itu.


Resepsionis itu agak terkejut mendengar nama Lewis. Tak menunggu lama, sambungan telepon antara resepsionis dan CEO perusahaan itu langsung terhubung. Setelah selesai, Resepsionis itu mendatanginya kembali.


"Silakan Nona naik ke lantai enam puluh lima dan cari ruangan nomor satu. Itu merupakan ruangan CEO perusahaan ini."


"Baiklah, terima kasih atas bantuannya."


Caroline bergegas menuju lift dan menuju lantai enam puluh lima. Kantor Augustine Group sebenarnya sama tingginya dengan Austin Group. Perbedaannya terletak pada ruangan CEO yang berada di pertengahan bangunan gedung itu. Tuan Darius tidak suka berada di lantai teratas gedungnya.


Tring.


Lift sudah sampai di lantai enam puluh lima. Suasana lorong terlihat sangat sepi. Tak ada salah seorang pun yang lewat dan hendak dimintai tolong untuk menunjukkan dimana ruangan CEO berada?


Ternyata tidak sulit baginya untuk menemukan ruangan yang dimaksud. Dari lift, Caroline berjalan sekitar dua ruangan dan menemukan tempat yang dimaksud.


Tok tok tok.


Caroline memberanikan diri mengetuk pintunya. Walaupun dia tidak mengenal CEO-nya, tetapi dia sedang berjuang keras untuk mendapatkan pekerjaan lagi.


"Masuk!" teriak seseorang dari dalam.


Caroline seperti mengenal suaranya, tetapi dia sedikit ragu apa benar dengan apa yang didengarnya?

__ADS_1


Ceklek!


Caroline masuk dan betapa terkejutnya dengan orang yang ditemuinya.


"Lewis?"


"Selamat datang, Caroline." Hanya itu yang bisa disampaikan pada gadis itu.


"Jadi, CEO-nya itu kamu? Wah, aku sangat terkejut!" ucapnya.


"Hemm, aku sengaja tidak memberi tahu. Yah, alasannya aku takut kamu menolaknya," balas Lewis.


"Tuan Lewis Augustine, apa benar di perusahaan Anda sedang membutuhkan pegawai seperti saya?" tanya Caroline. Dia sebenarnya tidak tahu nama lengkapnya, tetapi melihat tulisan di meja kerja pria itu, Caroline baru tahu ternyata dia pemilik Augustine Group. Terlihat jelas dari namanya.


"Duduklah dulu! Kita belum bicara banyak mengenai pekerjaan. Aku juga belum tahu, kamu itu cocoknya di mana?" ucap Lewis.


"Sudah kubilang, Tuan Lewis, aku melamar menjadi office girl saja tidak masalah. Aku jago membuat kopi dan bersih-bersih. Itu sudah menjadi bakat terpendamku selama ini," ucap Caroline penuh semangat.


Caroline mengamati sekelilingnya. Ingatannya kembali kepada Austin Group. Beberapa barang di ruangan itu ada yang sangat mirip dengan milik Austin Group. Seperti lukisan keluarga yang sangat indah. Bunga di sudut ruangan yang memiliki nuansa hampir sama. Ah, nampaknya ada kemiripan antara kantor lamanya dengan tempat Lewis kali ini. Mungkin memang kebetulan selera mereka sama. Itu yang masuk dalam pikiran Caroline.


"Tatanan ruangan ini bagus, yah?" tanya Caroline.


"Iya, itu dari orang tua kami," ucapnya membuat Caroline tersenyum.


Lewis merasa senang sekali bisa bertemu lagi dengan Caroline. Gadis itu sangat cantik apabila tersenyum. Rasanya, memandang untuk jangka waktu yang lama tidak membuat mata menjadi sakit. Malah seperti mendapatkan vitamin A.


"Tuan, hei ... kenapa Anda melamun seperti itu? Sebenarnya di sini ada lowongan pekerjaan kerja atau tidak, sih? Kalau memang tidak ada, sebaiknya saya langsung pamit saja," ucap Caroline. Gadis itu merasa aneh dengan tatapan resepsionis untuk pertama kalinya. Sepertinya sedang tidak ada lowongan. Itu yang sempat ditangkapnya ketika berbicara di bawah.


"Sepertinya kamu cocok menjadi asisten pribadiku," jawab Lewis.


"Tidak bisa begitu, Tuan. Anda belum membaca surat lamaran pekerjaan yang saya buat. Setelah itu, Anda bisa memutuskannya," usul Caroline. Dia menyerahkan amplop yang dibawanya kepada Lewis.


Lewis langsung membukanya dan membaca langsung tentang daftar riwayat hidup Caroline.

__ADS_1


Tunggu! Dia sebenarnya adalah eks sekretaris Om Darius? Aku pernah mendengar ada orang hebat yang bisa membuat Austin Group seperti sekarang ini. Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya dan sekarang dia datang melamar di perusahaanku. Aku seperti mendapatkan hadiah yang luar biasa. Om Darius pasti terkejut jika eks sekretarisnya sekarang bekerja di perusahaanku. Kamu membawa keberuntungan untukku, Caroline.


"Aku sudah membaca semuanya. Aku sangat tertarik untuk menjadikanmu sekretaris pribadiku." Lewis meletakkan kembali surat lamaran pekerjaan itu di mejanya.


"Aku diterima?" tanya Caroline sedikit terkejut.


"Tentu. Selamat bergabung dengan Augustine Group. Semoga kamu betah bekerja di sini. Jangan sungkan untuk bertanya tentang kesulitan yang kamu hadapi saat bekerja. Kami siap membantu," ucap Lewis.


"Apakah aku harus menandatangani kontrak kerja?" tanya Caroline. Sebelumnya, di tempat Tuan Darius, kontrak kerja tidak berlaku untuknya. Dia bisa bekerja sampai kapanpun yang dia mau.


"Aku akan meminta HRD untuk menyiapkannya. Kapan kamu siap untuk bekerja?" tanya Lewis kemudian.


Caroline sepertinya sedang berpikir untuk secepatnya bisa bekerja di Augustine Group.


"Secepatnya akan lebih baik, Tuan Lewis," ucap Caroline.


"Tidak untuk hari ini, Nona. Hari ini kamu masih bisa bersantai dan kita bisa mengobrol terlebih dahulu." Lewis semakin penasaran pada gadis itu.


"Bukankah Anda harus bekerja, Tuan Lewis? Sebaiknya aku langsung pulang saja. Besok aku akan mulai bekerja." Caroline merasa tak enak hati mengganggu pekerjaannya.


"Jangan panggil Tuan, Carol. Panggil saja Lewis seperti biasanya. Akan terasa aneh jika kamu memanggilku seperti itu." Lewis memprotesnya karena panggilan itu sangat tidak nyaman antara dia maupun Caroline.


Caroline sebenarnya yang merasa tidak nyaman karena memanggil atasannya seperti seorang teman. Dia merasa harus menghormati atasannya itu seperti pada umumnya.


"Tidak bisa begitu, Tuan Lewis. Anda adalah atasan saya. Sudah sepantasnya saya memanggil seperti itu. Bagaimana jika diluar sana orang tahu mengenai hal ini? Akan terasa sangat tidak pantas sekali," ucap Caroline.


"Panggil saja seperti itu jika sedang berdua. Aku belum menikah dan akan terlihat sangat tua sekali dengan panggilan seperti itu. Bisa diterima, Nona Caroline?"


Lewis berusia tiga puluh lima tahun dan statusnya belum menikah. Dia juga tidak memiliki seorang kekasih karena fokus pada pekerjaannya. Lewis merupakan anak tunggal dari keluarga Augustine.


Sejak pertemuan pertamanya dengan Caroline, pria itu sudah tertarik padanya. Entah bagaimana Caroline menanggapinya. Setelah kelakuan William padanya yang tidak terkendali itu, kemungkinan terbesar Caroline akan membuka hati untuk orang lain.


🍅🍅🍅🍅🍅🍅🍅🍅🍅🍅🍅🍅🍅🍅

__ADS_1


__ADS_2