
Jack bangkit dari tempat duduknya. Dia mencoba berdiri dan berjalan mandiri tanpa bantuan siapapun. Lavina berusaha menolong, tetapi tangan wanita itu ditepisnya.
"Jangan sentuh aku! Biarkan aku pergi," ucapnya.
"Jack, kondisimu masih seperti itu." Lavina berusaha mencegah kepergian putranya.
Jack tidak peduli lagi. Tujuannya saat ini adalah keluar dari apartemen dan mencari taksi untuk kembali ke kantor papanya. Dia ingin membongkar kebusukan mamanya walaupun pada akhirnya Jack sendiri akan terhempas bersama dengan mamanya. Tindakan mamanya itu sangat tidak bisa ditoleransi lagi.
Sementara Lavina merasa khawatir pada putranya. Alex berusaha menenangkannya.
"Jangan khawatir. Putra kita akan baik-baik saja. Menurutmu, dia akan pergi ke mana?"
"Bisa saja dia langsung pulang ke rumah dan masuk ke kamarnya. Kondisinya tidak akan mungkin untuk pergi jauh," balas Alex.
Keduanya tidak menyadari jika putranya akan memberikan pengakuan langsung kepada Darius Austin. Jack merasa tertekan berada di dalam taksi. Dia kalut karena sebentar lagi papanya pasti akan sangat marah. Walaupun kenyataannya bukan putra kandung, tetapi pria itu sudah menjadi bagian hidup Darius Austin sejak lama.
Sampai di depan kantor papanya, Jack turun dari taksi. Dia berjalan tertatih untuk menjangkau ruangan papanya. Harapannya kali ini tidak akan menemukan William di sana supaya dia leluasa untuk bercerita.
Tok tok tok.
Usahanya tidak sia-sia. Dia langsung mengetuk pintu ruangan itu.
"Masuk!" jawab Darius.
Ceklek!
Beberapa detik, Darius tertegun melihat kedatangan putra bungsunya. Seharusnya pria itu berada di Mansion untuk memulihkan kondisinya.
"Jack?"
"Boleh aku masuk, Pa?"
"Tentu saja, Nak." Darius berdiri, mendekati putranya, dan membantu pria itu untuk duduk di sofa.
Jack tidak tahan untuk tidak mengatakannya. Dai menahan pria paruh baya itu untuk memeluknya.
"Hei, kamu kenapa, Jack? Apa ada masalah?" tanya Darius.
Jack melepaskan pelukannya dan duduk di sofa. Dia tahu harus memulainya dari mana. Kalaupun ini akhir dari kehidupannya, setidaknya dia pernah berbuat baik untuk papanya.
__ADS_1
"Pa, apa kamu tahu kalau selama ini kita berbeda?" tanya Jack.
"Berbeda bagaimana? Kamu putraku, tentu saja ada sedikit persamaan dan beberapa perbedaan juga."
"Tidak, Pa. Aku bukan anakmu!"
Deg!
Darius menatap tidak percaya dengan ucapan putranya barusan. Bagaimana mungkin Jack bisa mengatakan seperti itu?
"Apa maksudmu, Jack? Kamu putraku, putra bungsu di keluarga Austin."
"Tidak, Pa. Papa salah," ucapnya.
Jack kemudian menceritakan semua yang terjadi pada dirinya barusan. Dia tidak menambahkan atau menguranginya sedikitpun. Betapa terkejutnya Darius mendengar penuturan putranya. Dia tidak menyangka kalau selama ini Lavina telah membohonginya selama dan sedalam itu.
"Mamamu di mana?"
"Masih ada di apartemen pria itu, Pa," ucap Jack.
Darius terlihat sangat marah. Dia tidak menyangka kalau istrinya tega berbuat hal yang menjijikkan seperti itu. Bahkan, dia sampai hamil dan melahirkan Jack. Ini sangat tidak masuk akal karena selama ini Lavina selalu menyembunyikan kenyataan ini darinya.
"Jack, kita pulang dan selesaikan di Mansion. Papa tidak ingin terjadi keributan di sini," ajaknya.
Jack menuruti saja. Mereka pulang naik mobil yang dikendarai oleh sopirnya.
Sepanjang jalan, Jack dan Darius terdiam. Mereka berada dipikirannya masing-masing. Ketika sampai di Mansion, rupanya Lavina sudah menunggunya di sana.
Lavina pikir, putranya akan pulang lebih dulu. Rupanya dia salah. Putranya lebih dulu menemui suaminya.
Darius berusaha sabar menghadapi masalah ini. Dia meminta Jack dan istrinya untuk masuk ke ruang kerjanya.
"Ma, ajak Jack masuk ke ruang kerjaku. Aku ingin berbicara dengan kalian," ucapnya.
Deg!
Lavina merasa kalau ini adalah akhir dari kehidupannya bersama Darius. Pria itu jelas sudah tahu semua permasalahannya dari putranya. Seperti yang Lavina lihat bahwa putranya belum bisa menerima kenyataan ini. Dia terlihat sangat terpukul.
Semuanya sudah berada di ruang kerja. Darius lebih dulu mengajak istrinya untuk berbicara.
__ADS_1
"Katakan apa yang tidak kuketahui," ucapnya dalam mode tenang. Darius berusaha menahan amarahnya yang hampir saja meledak, tetapi harus mendengar penjelasan istrinya dulu. Barulah dia akan mengambil sikap.
"Tak perlu bertanya lagi, Darius. Kamu pasti sudah tahu segalanya dari putraku," balas Lavina.
"Ck, putramu? Bukan putraku?" sindir Darius.
"Ya, lalu apa masalahnya. Aku berhak bahagia, bukan? Apa kamu lupa kalau terlalu lama mengabaikanku? Berapa tahun? Kamu pikir aku akan kuat menahan selama itu?" Lavina tidak mau mengalah. Semua ini terjadi karena ulah Darius. Andai saja dia langsung memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya untuk istrinya, Lavina tidak akan berbuat seperti itu.
"Harusnya kamu berpikir dulu sebelum berbuat, Lavina. Jack terlahir beberapa tahun setelah William. Kamu masih menuduhku telah mengabaikanmu? Apa tujuanmu sebenarnya, hah?" sentak Darius.
"Aku ingin agar wanita itu merasakan bagaimana sulitnya melupakan seseorang dan bagaimana rasanya dia hidup seorang diri. Kamu tahu itu kan, Darius? Dia harus merasakan apa yang pernah kurasakan," ucapnya.
"Tidak dengan cara kotor seperti itu, Lavina!" bentak Darius.
Jack yang berada di dalam ruangan itu merasa terkejut. Papanya mulai menunjukkan amarahnya, tetapi Jack tidak pernah tahu cerita yang sesungguhnya. Siapa wanita yang dimaksud mamanya?
"Ma, Pa, cukup! Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan," sahut Jack.
"Mamamu telah berselingkuh dengan papanya Caroline. Kamu tahu itu artinya apa? Caroline dan kamu adalah saudara satu ayah," jelas Darius.
Jeduar!
Jack rasanya mendapatkan tamparan yang cukup keras setelah mendengar berita ini. Kenyataan pahit setelah mengetahui kalau dirinya bukan anak Darius Austin rasanya sudah cukup berat. Sekarang ditambah lagi kenyataan pahit kalau dia dan Caroline bersaudara. Rasanya ini sungguh tidak adil untuk Jack.
"Itu karena Alex saja yang keterlaluan. Sudah kukatakan untuk tidak menghamili istrinya, dia masih saja nekat," balas Lavina.
"Tutup mulutmu! Itu semua salahmu, Lavina. Kamu tidak pernah tahu bagaimana sulitnya kehidupan Veronica setelah kepergian Alex. Dia bekerja keras untuk menghidupi anak dan dirinya sendiri. Apa kamu mau berada diposisinya, hah?" bentak Darius.
Lavina sekarang bisa santai. Toh apapun ucapannya, suaminya sudah tidak meresponnya lagi.
"Hemm, rupanya diam-diam kamu masih perhatian padanya, Darius. Aku tidak menyangka, sedetail itu kamu bisa menceritakan kehidupan wanita itu. Apa jangan-jangan, kamu dan aku sama-sama selingkuh juga?" tuduh Lavina.
Darius tidak menyangka. Dendamnya telah membuat Lavina salah arah. Hal itu sampai membuat kehidupan rumah tangga seseorang berantakan.
"Jangan samakan aku denganmu, Lavina. Aku tidak pernah menyentuh seujung kuku pun wanita itu. Aku sangat menghormatinya. Aku tidak tahu kalau kamu sampai tidur dengan Alex. Kira-kira, apa yang kamu pikirkan saat tidur bersamanya? Aku atau dia, hah?"
Mendengar keributan mengenai perselingkuhan mamanya membuat Jack semakin pusing. Pertengkaran antara mama dan papanya masih terus saja berlanjut.
...💟💟💟...
__ADS_1
Yang mau join grup Aisy Arbia, dipersilakan. Terima kasih 🙏🏻