
Beberapa bulan kemudian, suasana meja makan di Mansion Keluarga Austin menjadi hening. Kabar perceraian William dengan Roseanne tidak terelakkan lagi. William sudah mengajukan gugatan perceraiannya. Sementara Roseanne masih berada di Mansion itu, tetapi berada di kamar terpisah dengan William. Selama proses perceraian, William sudah memutuskan untuk tidak tinggal di dalam satu kamar.
"Kapan kamu menerima kabar keputusan perceraianmu, Will?" tanya Lavina. Wanita itu yang kekeh mendorong William untuk menceraikan Roseanne.
"Dua minggu lagi, Ma," jawabnya. William tidak perlu sungkan lagi walaupun di sana ada Roseanne yang sedang makan.
"Bagus. Rose, setelah ini pergilah dari keluarga Austin. Kami akan memberikan kompensasi untuk perceraianmu dengan William," tegas Lavina.
"Ma, aku akan tetap tinggal di sini. Aku tidak mau kembali ke tempat asalku tanpa seorang suami," balas Roseanne dengan nada yang getir.
"Jangan seperti itu, Rose! Selama proses perceraian ini, kami masih memberikan tempat yang layak untukmu. Jadi, jangan ngelunjak!" tegur Lavina.
Tuan Darius sebagai pendengar saja di meja makan. Dia tidak mau ikut campur urusan William. Dia sudah menyerahkannya kepada Lavina, istrinya.
Pelayan sedang menambahkan makanan yang aromanya sangat kuat dan menyeruak sampai ke hidung semua orang yang berada di meja makan tersebut.
Ada sesuatu yang tidak biasa dalam diri Roseanne. Dia merasa kepalanya sedikit pusing dan rasanya ingin muntah.
Huek!
Semua orang menatap dengan penuh tanya pada wanita itu. Ada beberapa yang merasa jijik mendengarnya, tetapi tidak bagi Lavina. Dia merasa ada kekhawatiran tersendiri pada wanita itu.
"Rose? Apa kamu hamil?" tanya Lavina.
Deg!
Orang yang paling pusing kali ini bukan William, melainkan Jack. Selama beberapa bulan terakhir, Roseanne memang mengatakan jika William sudah tidak menyentuhnya lagi. Mulai ketika dia datang pertama untuk pertama kalinya ke Mansion.
Ini gawat kalau Roseanne sampai hamil. Aku pasti di minta Papa untuk bertanggung jawab padanya.
"Mana mungkin, Ma. Aku hanya masuk angin," jawabnya.
"Kamu pikir Mama bodoh? Mama sudah dua kali hamil. Mama paham betul kalau itu gejala orang hamil. Pelayan ...." Lavina ingin meminta bantuan kepada pelayan rumahnya.
"Iya, Nyonya." Salah satu pelayan menghampiri meja makan.
"Pergilah ke apotek. Belikan beberapa tespek dan serahkan padaku," perintah Lavina.
"Baik, Nyonya." Pelayan itu langsung pergi.
__ADS_1
Sementara Tuan Darius tidak ingin terlambat datang ke kantornya. Pagi ini, dia ada meeting penting dengan klien barunya.
"Ma, aku pamit dulu," ucapnya.
"Iya, Pa. Hati-hati di jalan."
Setelah kepergian Tuan Darius, Lavina ingin melanjutkan sidangnya yang tertunda.
"Jack, kalau Roseanne hamil, kamu harus bertanggung jawab padanya," jelas Lavina.
Deg!
Ada penolakan dalam diri Jack. Dia sebenarnya tidak terlalu suka pada Roseanne, tetapi karena kelakuannya yang sudah kelewat batas itu membuat Lavina harus bersikap tegas padanya.
"Aku tidak mau, Ma," tolaknya. "Dia kan istri William. Bisa saja dia hamil dengannya dan bukan denganku."
William langsung marah padanya. "Aku tidak pernah menyentuhnya selama ini. Bukankah kamu yang paling sering bercinta dengannya di pagi hari setiap suasana Mansion sudah sepi? Jangan melempar tanggung jawab pada orang lain."
"Cukup! Mama tidak ingin kalian bertengkar lagi. Selama ini Mama sudah cukup lelah menghadapi sikap kalian," bentaknya.
"Ma, aku mau kembali lagi pada Will. Aku tidak ingin anak ini lahir tanpa Papa, kalau memang aku benar hamil," usul Roseanne. Dia terlalu mencintai William.
"Tidak, aku tidak mau!" tolak William tegas.
"Kalau begitu, aku akan pindah ke apartemen, Ma," ucap William.
William tidak ingin masuk perangkap Roseanne untuk yang kedua kalinya. Dia sudah cukup lelah dengan keadaan seperti ini. Dia sampai harus kehilangan Caroline untuk yang kedua kalinya.
Lavina tidak bisa mencegahnya. Itu yang paling baik untuk menyelamatkan William.
"Silakan kamu tinggal di apartemen. Ingat, jangan berpikir untuk berhubungan lagi dengan Caroline. Mama tidak akan pernah setuju dengan hubungan kalian!" tegas Lavina.
Ah, William teringat lagi pada gadis itu. Selama ini, William sudah tidak pernah pergi ke kantor sampai kabar perceraiannya dengan Roseanne kelar. Dia akan memberikan kejutan pada gadis itu tepat setelah surat cerainya turun. Dia tidak akan mendekatinya dulu, melainkan hanya memberikan kabar saja.
Pelayan datang dengan tergesa-gesa. Dia takut kalau Nyonya Lavina akan marah karena terlalu lama berada di apotek.
"Nyonya, maaf sedikit terlambat," ucapnya. Pelayan itu menyerahkan satu kantung plstik kecil berisi beberapa tespek yang diminta.
"Berikan langsung pada Rose," perintahnya.
__ADS_1
Pelayan itu mengikuti perintah majikannya.
"Terima kasih," jawab Roseanne setelah menerima bungkusan tersebut.
"Pergilah ke kamar mandi! Mama tunggu di sini," perintah Lavina.
William dan Jack hendak pergi ke kamarnya, tetapi Lavina melarang.
"Tunggu! Tetap di tempatmu. Tunggu Roseanne kembali," ucapnya.
William dan Jack akhirnya mengalah. Lavina harap-harap cemas pada hasil yang akan dikabarkan oleh Roseanne.
Roseanne yang sedang berada di kamar mandi merasa khawatir pada hasilnya. Kecerobohannya untuk bertahan dengan William dengan menjerumuskan dirinya untuk mendekati Jack malah membuat bumerang untuknya.
Setelah mengambil sampel urinenya, Roseanne segera mencelupkan tespek tersebut. Roseanne menutup matanya. Ini bukan pengalaman pertamanya untuk hamil, jadi sangat mudah untuk menggunakan tespek itu.
Sekitar lima menit, Roseanne membuka matanya. Tulisan pregnant terlihat jelas di tespek yang dipegangnya saat ini.
"Oh ya ampun, aku hamil anak pria itu," gerutunya. William benar, Roseanne tidak mungkin hamil anaknya karena selama ini pria itu sibuk mengabaikannya.
Roseanne ingin menyembunyikan kehamilannya. Dia tidak ingin melahirkan anak dari Jack, tetapi untuk tetap bertahan di Mansion ini, dia harus mempertahankan kehamilannya.
Tak ada pilihan lain. Setidaknya kehidupannya akan terjamin untuk melahirkan keturunannya Austin.
"Baiklah Nyonya Lavina. Aku tidak ingin kalah darimu sebagai penguasa Mansion ini. Tidak mendapatkan William tak masalah untukku. Keturunan Austin ada dalam genggamanku," ucapnya.
Roseanne bergegas kembali ke ruang makan. Di sana, ketiga orang itu masih menunggunya. Tak lupa, Roseanne membawa tespek yang sejak tadi dipegangnya.
"Bagaimana, Rose?" tanya Lavina.
"Aku hamil, Ma," ucapnya.
Jack merasa kebebasannya akan tertekan karena keberadaan Roseanne di Mansionnya. Beda dengan William, dia tidak terlalu tertekan karena dia yakin kalau Roseanne bukan hamil darinya.
"Jack, pertanggungjawabkan perbuatanmu setelah perceraian Roseanne dengan Kakakmu." Keputusan Lavina sudah bulat.
"Tidak, Ma. Itu mungkin bukan anakku!" kilahnya.
"Jangan berkata seperti itu, Jack. Nanti kita buktikan dengan hasil tes DNA-nya. Mama tidak mau cucu Mama menderita di luar sana," ucapnya.
__ADS_1
Bagaimanapun kabar kehamilan Roseanne merupakan anugerah dan musibah dalam waktu yang bersamaan. Untung saja William sudah mengantisipasinya sejak awal. Dia tidak perlu bertanggung jawab atas Roseanne yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya.
🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓