Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Terjebak Drama Dua Pria


__ADS_3

"Shirley, aku langsung ke ruangan Tuan Darius. Berkas untuk proyek selanjutnya, siapkan siang ini." Caroline bergegas mengambil beberapa berkas yang dimaksud atasannya.


"Carol, hati-hati dengan buaya darat!" teriak Shirley ketika Caroline hampir mencapai pintu keluar.


Gadis itu hanya mengangkat satu jempol kanannya pertanda oke darinya. Dia tidak ingin membuat Tuan Darius menunggu terlalu lama.


Tok tok tok.


Caroline mengetuk pintu ruangan CEO.


"Masuk!" jawab Tuan Darius.


Ceklek!


Di dalam ruangan, William dan Jack sudah menunggunya. Keduanya berada di sofa yang sama dan jarak duduknya tidak terlalu jauh.


"Duduklah di sini, Carol!" Jack menunjuk tempat tepat di sampingnya.


"Jack, urusan Caroline kali ini akan mengecek berkas proyek bersamaku. Jadi, sudah sepantasnya dia harus duduk di sebelahku!" Kini giliran William yang dengan percaya diri menunjuk tempat yang dimaksud.


Tuan Darius merasa terganggu atas keributan kedua putranya. Dia merasa jika Caroline sanggup untuk mengatasi mereka.


"Carol, urus mereka berdua. Saya keluar sebentar." Tuan Darius sepertinya bukan malah memberikan pekerjaan ringan untuk Caroline.


Oh God, Tuan Darius harus memberikan gaji ekstra untuk mengurus mereka.


William dan Jack masih memperdebatkan Caroline setelah kepergian papanya. Sementara Caroline masih berdiri pada posisinya.


"Kalau kalian mau ribut terus, silakan! Aku ke sini untuk bekerja, bukan melihat drama keributan." Caroline sengaja menyindir keduanya.


"Please, Carol. Duduklah di sini!" Jack masih saja menunjukkan tempat yang sama seperti sebelumnya.


"Maaf, Tuan Jack. Aku kemari karena ada urusan dengan Tuan Will."


Jack merasa kalah telak dari kakaknya. Tak menunggu persetujuan Caroline, gadis itu ditarik oleh Jack dan diposisikan berada di tengah mereka.


"Eh, ada apa ini?" protes Caroline.

__ADS_1


"Nah, begini 'kan adil dilihatnya," ucap Jack penuh kemenangan.


Caroline yang berada di tengah dua manusia aneh ini merasa tidak nyaman. Dia ingin beranjak pergi dan menyerahkan semua laporan kepada William.


"Maaf, Tuan Will. Silakan cek semua data untuk proyek ke luar kota. Saya izin ada urusan sebentar," ucap Caroline.


Hemm, ini sangat keren. Sepertinya Caroline mulai menghindari William. Baguslah kalau begitu. Tak perlu bersusah payah aku mengejarnya. Batin Jack.


William menerima berkas tersebut sembari memandang lekat wajah Caroline.


"Terima kasih, Carol." William hendak berpindah tempat dan membiarkan Caroline untuk pergi, tetapi sayang Jack meminta gadis itu untuk tetap berada di ruangan papanya.


"Carol, Tuan Darius mengatakan bahwa kamu tidak boleh pergi kemana-mana sebelum berkas proyek itu kalian cek berdua." Jack mengingatkan kembali ucapan papanya. Tujuannya untuk menahan agar gadis itu tetap berada di tempatnya.


Ck, sepertinya Jack sengaja menahanku. Apa tujuannya sebenarnya? Batin Caroline.


Tak menunggu lama, Caroline dengan cepat duduk di antara keduanya. Dia membuka berkas den mengecek satu per satu. Mungkin ada beberapa bagian yang terlewati. Dia sangat fokus pada semua berkasnya dan tidak menyadari jika kedua pria itu memandang lekat ke arahnya.


Kamu selalu cantik dan sempurna, Carol. Batin William.


Hemm, istri masa depan yang cantiknya luar biasa. Batin Jack.


"Semuanya sudah sesuai, Tuan. Saya harus segera kembali ke ruangan." Caroline ingin secepatnya kembali ke ruangannya.


"Tunggu, Carol!" William memegang tangan gadis itu.


Caroline merasa William sudah sangat keterlaluan berani memegang tangannya di hadapan Jack.


"Lepaskan, Tuan!" Caroline memberontak, tetapi sayang tangan William terlalu kuat memegangnya.


"Katakan pada kami berdua, jika di dunia ini hanya ada dua pria, antara aku dan Jack, kamu akan memilih siapa?" William sengaja berbuat demikian agar adiknya berhenti mengejar gadis yang sampai saat ini selalu dicintainya.


"Wah, itu pertanyaan gampang, Caroline. Pastinya kamu akan memilih aku sebagai pria bebas yang tidak terikat status," sindir Jack pada William.


Oh, sebenarnya Jack sudah tau jika kakaknya sudah menikah. Baguslah, lebih cepat aku harus melupakannya. Walaupun rasanya berat karena harus bertatap muka setiap hari. Please wahai hati, enyahkan namanya dari ruang terkecil di dalam sana.


"Lepaskan dulu!" pinta Caroline. Dia merasa tidak nyaman dengan perlakuan William yang semakin hari sangat keterlaluan.

__ADS_1


William akhirnya menyerah dan melepaskannya. Tetapi tidak mudah untuk melepaskan gadis itu dalam hatinya. Setelah pertemuan pertamanya dan beberapa kali memberikan ciuman pada gadis itu, William seperti terkunci olehnya.


"Aku tidak akan memilih kalian berdua. Lebih baik aku menyendiri seumur hidup," ucapnya membuat kedua pria itu tercengang.


"Baiklah, aku masih tidak menerima jawabanmu. Tak mengapa, mungkin saat ini kamu menolak salah satu dari kami. Tapi ingat, suatu hari nanti kamu pasti akan memohon salah satu dari kami untuk bersamamu," ucap William.


"Ck, itu tidak akan mungkin terjadi, Tuan William. Kita lihat saja, siapa salah satu dari kalian yang terus saja mengejarku. Sayang, kalian sudah terlambat. Aku sudah memiliki hati dan cinta dari orang lain. Jadi, jangan berharap lebih padaku!" Caroline sengaja membohongi keduanya agar mereka menyerah dan tidak mengejarnya lagi.


Deg!


Kedua pria itu masih tidak percaya jika Caroline telah memilih orang lain daripada mereka. Untuk menetralkan suasana, Jack dengan cepat memintanya untuk membuatkan kopi.


"Carol, sebaiknya kamu buatkan kopi ke pantry. Aku sangat rindu kopi buatanmu," ucap Jack.


"Maaf, Tuan Jack. Saya sangat sibuk. Jika Anda ingin kopi, silakan buat sendiri!" Caroline tidak tahan berada di antara kedua pria itu. Salah satunya masih sangat dicintainya walaupun kenyataannya sudah tidak mungkin untuk bersama lagi.


"Kalau kamu menolak permintaan Jack, maka buatkan kopi untukku. Jangan ada penolakan lagi!" William berdiri dan membiarkan Caroline untuk lewat.


"Maaf, Tuan William. Apa Anda tidak mendengarku? Saya sibuk. Jika Anda menginginkan kopi, silakan telepon ke pantry agar Office Girl mengirimkannya ke sini."


Glek!


Kedua pria itu kewalahan untuk sekedar merayu seorang Caroline yang dipikiran mereka terlihat sangat mudah. Nyatanya mendapatkan perhatian dari gadis itu sangat sulit untuk didapatkan.


"Kalau kamu menolak permintaanku, aku akan melaporkanmu ke papa supaya memberikan teguran keras karena berani menolak atasan," ancam Jack.


Caroline yang mencapai pintu dan hendak membuka handle-nya kembali menoleh ke arah dua pria itu dan menatapnya satu persatu.


"Silakan saja, Tuan Jack. Jika perlu, minta Tuan Darius untuk memecat saya. Itu akan lebih baik," ucapnya kemudian keluar dari ruangan CEO tersebut.


Sial! Kalau seperti ini akan sangat sulit mendapatkan Caroline. Dia memiliki sejuta keberanian yang tidak kuduga. Batin Jack.


"Lihat, gadisku itu sangat pemberani. Dia bisa saja melawanmu dengan mudah," sindir William.


"Ck, jangan terlalu percaya diri, William. Lebih baik kamu fokus pada Roseanne. Istrimu yang tinggal di mansion keluarga Austin. Sepertinya dia bukan wanita baik-baik," balas Jack.


William tersentak mendengar penuturan adiknya. Dia bahkan lebih dulu mengenal Roseanne, tetapi kenapa adiknya mengatakan jika dia bukan wanita baik-baik? Apa pernikahannya selama ini adalah sebuah jebakan karena kesalahan malam itu?

__ADS_1


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“BersambungπŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


Jangan lupa like, vote, dan komentarnya... πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€β˜•β˜•β˜•β˜•β­β­β­β­β­nya ditunggu. Terima kasih... luv yu all... 😍😍😍😍


__ADS_2