Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Tugas Terakhir


__ADS_3

William pergi menuju ke kantor papanya. Dia harus secepatnya mendapatkan jawaban atas apa yang menjadi teka-teki kebencian mamanya di masa lalu.


Harapannya di Austin Group ada dua. Pertama, mendapat kejelasan dari papanya. Kedua, bisa bertemu dengan Caroline lagi.


William mempercepat laju kendaraannya. Dia ingin lekas sampai ke kantor. Beberapa pertanyaan untuk papanya telah disimpan dengan baik di otaknya.


Aku akan segera memperjuangkan hubungan kita, Carol. Cinta kita akan tetap ada walaupun ada tembok kokoh yang menghalanginya.


Mobil William mulai memasuki area parkir kantornya. Suasana masih padat karena belum jam makan siang. Biasanya beberapa karyawan akan keluar membawa mobilnya untuk sekadar makan siang bersama teman-temannya.


"Pa, maafkan aku yang datang mendadak seperti ini. Aku harus tahu semua masa lalu papa dan mama. Mama enggan menceritakannya padaku. Aku tidak tahu apa yang menjadi alasannya untuk membenci Caroline." William tidak langsung turun. Dia masih mempersiapkan diri untuk mendapatkan penolakan juga dari papanya.


William juga memikirkan pertemuannya dengan Caroline hari ini. Akankah dia menjauhinya seperti beberapa bulan terakhir, sampai akhirnya sang papa melarang keras William untuk berada di kantor. Hal itu dilakukan oleh Tuan Darius demi menjaga kenyamanan karyawan seperti Caroline.


William turun. Dia melewati resepsionis begitu saja. Pada saat melewati ruangan yang biasa ditempati Caroline, terlihat nampak sepi. Sepertinya ruangan itu sedang kosong. Niat hati William ingin masuk, tetapi diurungkannya. Dia teringat ucapan papanya.


Tahan, Will. Ini belum saatnya. Lebih baik aku ke ruangan papa.


Sampailah William di depan ruangan papanya. Dia mengetuk pintu layaknya karyawan yang akan masuk.


Tok tok tok.


"Masuk!" jawab Tuan Darius.


Ceklek!


Tuan Darius nampak terkejut dengan kemunculan William. Untung saja hari ini bertepatan dengan Caroline yang mengambil cuti. Bersamaan dengan itu, Shirley juga mengajukan diri untuk tidak masuk selama satu hari.


"Duduklah, Will. Ada apa? Tumben kamu tiba-tiba datang tanpa memberi tahuku," ucap Tuan Darius.

__ADS_1


"Aku tadi mampir ke Mansion sebentar, Pa. Jack sudah pulang. Aku juga sudah bertemu dengan mama," ucapnya.


"Hemm, memangnya ada apa?" tanya Tuan Darius penasaran.


"Apa Papa tahu kalau selama ini mama selalu membenci Caroline?"


Deg!


Ingatan Tuan Darius kembali ke masa lalu. Dia yang awalnya terlihat santai, sekarang mulai terlihat panik. Ada sesuatu hal yang seharusnya William ketahui dari awal.


"Memangnya apa yang kamu katakan pada mamamu sampai wanita itu marah seperti itu?" selidik Tuan Darius.


"Hari ini aku sudah mendapatkan surat ceraiku. Aku katakan padanya, kalau aku akan menikahi Caroline. Mama langsung marah dan tidak setuju," ucapnya.


Tuan Darius nampaknya terlihat sangat berat untuk mengatakannya. Dia juga sudah mengubur dalam perasaannya pada wanita itu yang kini telah tiada. Dia hanya bertanggung jawab untuk menjaga putrinya dan mengamankan gadis itu dari Lavina. Itulah sebabnya, selama bekerja di Austin Group, Lavina tidak pernah tahu keberadaan gadis itu di sini.


Tuan Darius selalu menunjukkan foto Shirley dan mengakui gadis itu sebagai sekretarisnya. Itulah sebabnya Lavina tidak pernah curiga sama sekali. Posisi Caroline selalu aman selama bertahun-tahun.


"Kenapa mama juga membenci Caroline, Pa?" Ada penolakan dalam batin William. Kalaupun mamanya membenci wanita itu, seharusnya Caroline tidak perlu diikutkan dalam masalah ini.


"Mamamu tidak mau ada hubungannya dengan mamanya Caroline. Dia juga tidak ingin mengenal keturunannya. Padahal itu hanya kesalah pahaman masa lalu saja. Papa pernah mencintai mamanya Caroline, tetapi Papa dijodohkan. Papa menerima perjodohan dengan mamamu, tetapi Papa memberikan syarat agar mamamu bersabar menunggu sampai gadis itu menikah. Papamu memang egois, tetapi Papa tidak mau orang yang Papa cintai menderita seorang diri. Itulah yang membuat mamamu tidak bisa menerimanya. Papa baru menyentuhnya setelah dua atau tiga tahun masa pernikahan kami. Selama itu mamamu menanggung beban yang Papa berikan. Dia harus kuat menunda malam pertama selama itu," jelas Tuan Darius.


William terlihat pusing. Sepertinya untuk mendapatkan Caroline kembali tidaklah mudah. Setelah terhalang statusnya sebagai seorang suami, sekarang terhalang restu mamanya.


"Bagaimana caraku meminta restu mama?" tanya William. Ini kesempatan ketiga untuk mendapatkan Caroline.


William mengalami jalan buntu. Ini seharusnya menjadi awal yang baik untuk mengejar gadis itu. Sampai kapan William kuat menahan cinta dan kerinduan yang luar biasa selama ini?


"Aku yang akan membujuknya, tetapi aku tidak yakin akan berhasil. Kebencian mamamu terlalu mendarah daging dan tidak beralasan. Papa juga sudah melupakan mamanya Caroline, tetapi mamamu memang sangat keterlaluan."

__ADS_1


Lavina belum tahu jika wanita itu sekarang hanya tinggal sebuah nama. Mungkin itu yang akan disampaikan Tuan Darius pada istrinya untuk melupakan wanita yang membuat kebenciannya tumbuh selama bertahun-tahun.


William terdiam. Dia berusaha menarik benang merah masalahnya. Ingatannya kembali pada lima tahun lalu. Saat mamanya memaksa untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri.


"Apa ini ada hubungannya dengan kepergianku lima tahun lalu, Pa?" tanya William.


Tuan Darius mengangguk. William baru menyadari kalau hubungannya dengan Caroline ternyata ada campur tangan mamanya.


"Caroline kemana, Pa? Aku ingin menemuinya dan meminta penjelasan darinya. Apa yang tidak pernah kuketahui selama ini?" ucap William.


"Dia mengambil cuti selama tiga hari. Katanya dia ingin pergi berlibur dengan pelayan dan penjaga yang ada di rumahnya."


William terduduk lemas. Keinginannya yang terlalu kuat untuk menemui gadis itu masih terhalang cuti. Ada saja halangan yang membuat William harus ekstra bersabar demi mendapatkannya kembali.


"Pa, mulai besok apa aku boleh kembali ke kantor? Lagi pula Caroline masih cuti lagi selama dua hari, kan? Itu tak jadi masalah untukku maupun dirinya," ucap William. Dia bosan berada di apartemennya dan tidak ada kegiatan apapun selain bersantai.


"Masuklah. Kamu benar, Caroline masih libur. Kalau dia sudah masuk, sebaiknya kamu jangan ke kantor dulu. Aku khawatir kalau dia akan kecewa pada Papa. Papa sudah berjanji untuk tidak mempertemukan kalian lagi."


"Baik, Pa. Terima kasih."


William mulai lega. Ternyata masa lalu mamanya hanya sebuah kesalah pahaman saja. Dia harus berusaha membujuk mamanya selain meminta tolong pada papanya.


Rasanya harapan untuk mendapatkan Caroline kembali sudah sekitar tujuh puluh lima persen. Sisanya masih berusaha berjuang lagi.


Ah, aku rindu pada gadis itu. Aku ingin memeluknya dan tidak akan pernah kulepaskan lagi. Dia hanya untukku.


"Will, masih ada satu tugas lagi yang belum Papa selesaikan. Apa kamu bisa membantunya?" Tuan Darius tidak mampu memendamnya seorang diri.


"Katakan saja, Pa," ucap William.

__ADS_1


"Mempertemukan Caroline dengan papanya."


William belum mengerti masalah ini. Dia pikir, papanya Caroline sudah meninggal. Rupanya banyak misteri yang belum diketahui tentang gadis itu dan semuanya masih berhubungan dengan papanya.


__ADS_2