
Putusan pengadilan mengenai perceraiannya sudah didapatkan. Lavina dan Jack pulang ke apartemen Alex. Pria itu sudah memberinya tempat tinggal sebagai wujud tanggung jawabnya.
"Bagaimana persidangan hari ini?" tanya Alex yang baru saja melihat mereka masuk ke unitnya.
Alex memberikan akses masuk karena merasa bersalah pada Lavina. Puluhan tahun, pria itu tidak pernah merasakan bagaimana Lavina menjalani hidupnya. Walaupun berada di Mansion mewah, hatinya masih terikat penuh pada Alex karena adanya Jack.
Jack perlahan mulai bisa menerima kenyataan pahit yang didapat. Selain kakinya yang tidak bisa berjalan dengan sempurna, dia juga mendapatkan kejutan bahwa dia bukan anak Darius Austin melainkan anak Alex Ryder.
"Ma, Jack masuk ke kamar dulu ya," pamitnya. Dia tidak ingin mengganggu kedua orang tuanya yang ingin berbicara dengan serius.
"Pergilah, Jack! Istirahatlah!" perintah Lavina.
Lavina memegang tangan Alex bermaksud meminta pengertian pria itu. Selama berada di apartemennya, Jack belum bisa memanggil Alex dengan sebutan papa. Lidahnya kaku karena masih menganggap Darius adalah papanya.
"Maafkan Jack. Lambat laun dia akan terbiasa."
"Sampai kapan? Apakah dia akan seperti ini terus?" protes Alex. Sebagai papanya, tentunya Alex menginginkan perubahan pada putranya. Namun, melihat kondisi Jack seperti itu, Alex tidak berani memaksakan kehendaknya. Dia juga berusaha mencoba meyakinkan diri untuk menerima kenyataan ini.
"Bersabarlah, Alex. Oh ya, aku sudah resmi bercerai dari Darius. Itu hasil persidangan hari ini. Maaf, aku mengabaikanmu. Aku masih memprioritaskan Jack dalam hidupku," ucapnya sendu. Dia melepaskan tangan Alex dari genggamannya.
Alex tak mempermasalahkannya. Setidaknya sekarang mereka sudah kembali bersama. Lavina mengubah posisi duduknya. Ada hal penting yang ingin dibicarakan dengan Alex.
"Alex, apakah setelah ini kamu akan membenciku?"
Alex juga tidak tahu harus seperti apa? Kejutan mengenai Lavina adalah mantan istri Darius saja sudah membuatnya kaget.
"Untuk apa aku membencimu? Semua sudah terjadi, Lavina. Apa yang perlu disesalkan sekarang?"
Lavina hanya ingin memastikan kalau putri Alex yang lain tidak akan menuntut atau meminta kembali padanya. Lavina cukup berat menghadapi kenyataan jika sampai Caroline berusaha mendekat.
"Alex, apa kamu tahu mengenai kabar terakhir Veronica?"
__ADS_1
Sebaris pertanyaan itu membuat Alex mengernyitkan dahinya. Beberapa bulan yang lalu untuk pertama kalinya bertemu Darius, pria itu mengatakan kalau Veronica sudah meninggal.
"Dia sudah tiada, kan? Untuk apalagi kamu membahasnya?" selidik Alex. Pria itu sudah melupakan mantan istrinya. Selama bertahun-tahun hidup di pengasingan membuatnya tidak nyaman. Ingin secepatnya kembali dan menemui Lavina beserta putranya.
"Apakah kamu tidak ingin bertemu dengan putrimu?"
Alex berdiri. Dia memandang sekelilingnya. Mengingatkan masa lalunya membuat Alex tak berdaya. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, tentu saja ingin bertemu dengan putrinya. Walaupun mantan istrinya tiada, tetapi ikatan darah tak bisa dibohongi.
"Ceritakan apa yang tidak pernah kuketahui!" pinta Alex.
"Kamu tak pernah tahu bagaimana terkejutnya aku ketika bertemu lagi dengan keturunan Veronica. Aku pikir, setelah kamu meninggalkannya dalam keadaan hamil, kami terlepas dari bayang-bayang Veronica. Kenyataannya malah tidak sesuai dengan harapanku."
"Memangnya kenapa lagi dengan Veronica?" selidik Alex.
"Bukan Veronica, tetapi putrinya. Gadis itu menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih dengan putraku, William. Awalnya aku tidak tahu. Lambat laun aku menyelidikinya. Betapa terkejutnya aku ketika mendapati kalau William menjalin hubungan dengannya. Rasa sakit hatiku pada mamanya berujung pelampiasanku pada gadis itu."
Sesaat, Alex menghela napas panjang. Dia tidak bisa membayangkan betapa rumitnya kehidupan putrinya. Tentu saja hal itu membuat Lavina murka, apalagi gadis itu masih ada sangkut pautnya dengan masa lalunya. Alex merasa kasihan sekali pada putrinya. Walaupun ingin rasanya memeluk, tetapi mungkin Lavina tidak akan pernah mengizinkan.
"Kamu tidak menyakiti putriku, kan?"
"Tentu saja tidak secara fisik, tetapi aku selalu membawa beberapa gadis untuk mengatakan bahwa dialah calon William. Agaknya anak gadismu itu tak pernah gentar dengan semua yang kulakukan. Aku semakin murka, akhirnya aku meminta William untuk melanjutkan pendidikannya."
Puluhan tahun Lavina dibayang-bayangi dendam yang tak kunjung usai. Selain berhasil memisahkan Alex, rupanya dia tidak berhenti sampai di situ saja. Alex sampai heran dibuatnya. Menyesal sekarang memang tiada guna. Pantas saja Darius sangat menyukai Veronica.
"Kamu keterlaluan, Lavina! Tidak cukupkah kamu membuat gadis itu menderita?" protes Alex.
Ucapan Alex barusan membuat Lavina semakin meradang. Pasalnya, tidak hanya mantan suaminya, tetapi Alex juga sepertinya berusaha bersikap baik pada putrinya. Gadis itu sangat beruntung seperti mamanya. Dia dicintai oleh banyak orang.
"Kamu membelanya, Alex? Harusnya kamu membenci gadis itu. Bagaimana pun juga, masa lalumu sudah rumit. Apalagi anak itu tidak pernah kamu inginkan, bukan?"
Lavina benar-benar wanita jahat versi Alex. Andai saja dia tidak pernah mengandung putranya, dia enggan untuk menjalin hubungan dengannya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa membencinya, Lavina. Bagaimana pun juga, dia tetap bagian dari hidupku."
"Ck, kamu rupanya sama saja dengan Darius. Oh ya, Jack pernah memaksaku untuk menikahkannya dengan gadis itu. Tentu saja aku tidak mau. Dia kan masih ada hubungan darah dengannya," balas Lavina.
"Dari tadi kamu terus saja mengatakan gadis itu, gadis itu. Memangnya siapa namanya?"
Jujur kalaupun gadis itu membenci Alex, itu memang sudah sewajarnya karena Alex memang bersalah. Namun, kalau Alex yang membenci gadis itu sepertinya sangat tidak masuk akal. Bukankah yang membuat luka itu Alex?
"Caroline. Dia bekerja sebagai sekretaris di perusahaan Darius. Mantan suamiku itu menyembunyikan keberadaannya dariku. Dia membohongiku atas nama orang lain agar anak dari Veronica bisa hidup berdampingan terus dengannya. Kamu pikir aku tidak sakit hati? Puluhan tahun hidup damai dengan Darius."
Tidak adil rasanya untuk gadis itu. Sebenarnya Alex sangat penasaran sekali ingin menemuinya. Hanya untuk sekadar meminta maaf atau mungkin ingin berbincang sebentar saja.
Maafkan papamu, Caroline. Semua terjadi begitu saja. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku ketika bertemu dengan putraku. Namun, aku tidak menampik bahwa kehidupanmu jauh sangat menderita karena ulahku. Aku minta maaf.
"Alex, ingat ya, jangan sampai kamu menemuinya! Aku tidak suka itu. Apalagi gara-gara gadis itu, semua kehidupanku berantakan. Berani kamu menemuinya, jangan salahkan aku untuk berbuat nekat!" ancam Lavina.
Alex rasanya kesal menghadapi sikap Lavina yang seperti ini. Bukannya malah memberikan kesempatan walaupun sebentar.
"Kamu jangan mengaturku lagi, Lavina. Aku juga berhak tahu bagaimana putriku. Apalagi gadis itu tidak pernah bersalah sama sekali."
Alex malas mendebat Lavina. Dengan atau tanpa persetujuannya, Alex akan menemui putrinya. Dia juga berhak memberikan kasih sayang yang sama seperti pada Jack.
...🍉🍉🍉...
Hai hai hai akak reader di mana pun berada. Jangan lupa bahagia 😍
Emak hadir lagi untuk merekomendasikan karya keren. Cus kepoin. Jangan lupa masukkan fav dulu ya,
Ternyata Itu Cinta by Author Aveeiiii
Terima kasih dan tetap semangat. Miss you All... 😍😍😍
__ADS_1