
"Wah, ini jamuan makan siang pertama dengan Anda, Tuan Will. Saya pikir kalau Tuan Darius yang akan datang sendiri ke proyek, ternyata saya salah," ucap Nyonya Aline yang baru saja duduk di kursi.
"Iya, Nyonya. Tadinya saya juga tidak tahu, tetapi tiba-tiba papa meminta saya untuk mengurusnya bersama sekretaris kebanggaan Austin Group ini." William sengaja memuji Caroline.
Caroline berusaha cuek untuk tidak peduli lagi apapun yang diucapkan William. Dia harus bisa menjaga sikap dan perasaannya untuk tidak terjebak lagi dengan pria itu. Harapannya semoga ada keajaiban untuk kembali ke kota lebih cepat.
Ketika hendak menikmati makan siang, ponsel Caroline berdering. Dia mengambilnya dan melihat nama Tuan Darius di sana.
"Maaf, Nyonya Aline dan Tuan Will. Saya permisi untuk mengangkat telepon dulu," pamit Caroline. Dia sedikit menjauh dari William.
William nampak sangat cemburu melihatnya. Sepertinya dari seseorang yang sangat penting sehingga membuat Caroline harus segera mengangkatnya.
"Maaf, Tuan Will. Kalau saya boleh kasih saran," ucap Nyonya Aline.
William langsung menoleh ke kliennya. "Ya, Nyonya. Saran mengenai apa?"
"Begini Tuan Will, saya melihat dengan sangat jelas jika Anda sangat tertarik pada Nona Caroline. Saya sebagai wanita saja tertarik padanya. Andaikan Nona Caroline tidak bekerja di perusahaan Tuan Darius, mungkin saya akan menjadikannya sekretaris pribadi. Selain dia cantik, terlihat sangat cerdas dan luar biasa. Daya tariknya sangat memikat. Kalau Anda menyukainya, kenapa tidak mengejarnya? Terlihat sekali Nona Caroline seperti menghindari Anda." Nyonya Aline lebih berpengalaman soal ini karena usianya jauh lebih tua. Dia bahkan sebaya dengan Tuan Darius.
Nyonya Aline benar. Kalau dia tidak mengejarnya, akan sampai kapan seperti ini? Sepertinya William harus melepaskan salah satu dan memilih antara Roseanne atau Caroline. Bagi William, Caroline sangat berharga di kehidupan masa lalu dan masa depannya.
Secepatnya aku akan menyelesaikan masalahku dengan Roseanne. Aku akan menceraikannya. Batin William.
Caroline akan sulit didekati jika status William masih menjadi suami orang, tetapi William lupa jika kerumitan hubungannya dengan Caroline akan bertentangan dengan mamanya. Dia tidak pernah tau selama menjalin hubungan dengan gadis itu, Mama Lavina selalu menjadi orang ketiga yang berusaha memisahkan Caroline dengannya.
"Terima kasih sarannya, Nyonya. Akan saya pertimbangkan." William melihat Caroline kembali dengan wajah yang sangat bahagia. Persis seperti ketika jatuh cinta padanya pertama kali.
"Maaf semuanya. Makan siangnya bisa dilanjutkan." Caroline mulai mengambil makanannya dan memakannya seperti sekretaris pada umumnya yang mengikuti tata cara jamuan makan siang bersama klien.
__ADS_1
William tersenyum melihatnya. Ternyata Caroline sempat mengerjainya dengan gaya makan yang bar-bar itu.
Setelah selesai makan siang, Caroline ingin mengumumkan perihal berita baru yang didapatnya barusan.
"Nyonya Aline, sebelumnya kami meminta maaf. Baru saja Tuan Darius menelepon dan mengabarkan jika terjadi perubahan jadwal. Sebenarnya untuk kunjungan ke proyek ini berlangsung selama tiga hari, tetapi karena Tuan Darius sudah menerima feedback dari Anda yang menyatakan sangat puas sekali. Maka, Tuan Darius hanya memberikan jadwal satu kali kunjungan saja, Nyonya. Bagaimana menurut Anda. Apakah bisa diterima?"
Nyonya Aline tidak menjawabnya. Dia lebih fokus mengambil ponsel di dalam tasnya.
"Ah, iya. Tuan Darius sempat menelepon saya, tetapi karena ini jamuan makan siang, ponsel saya silent. Kalau memang keputusan Tuan Darius seperti itu, saya ikut saja. Toh semuanya sudah berjalan dengan baik." Nyonya Aline sangat bisa menerima penjelasan Caroline. Gadis itu menarik perhatiannya.
Caroline bahagia dan William mulai resah. Niatnya berlama-lama dengan Caroline telah gagal. Sore ini, Caroline pasti meminta untuk kembali ke kota.
"Bagaimana Nyonya Aline? Apakah kita bisa kembali ke proyek sekarang?" tanya William.
"Tidak perlu, Tuan. Sopir sudah saya minta untuk menjemput ke restoran ini. Sebenarnya sebentar lagi saya ada pertemuan lagi di tempat lain. Mohon maaf, Tuan Will. Anda bisa langsung ke penginapan," ucap Nyonya Aline.
Terima kasih, Tuan Darius. Hatiku ini akan menjadi aman jika jauh dari putramu. Batin Caroline.
"Duduklah di depan!" perintah William.
"Tidak, Tuan Will. Kursi itu hanya untuk istrimu. Jadi, saya tidak berhak untuk duduk di sana." Caroline benar-benar menghindar.
"Ngomong apa, kamu? Mana ada aturan kursi mobil untuk istri. Semuanya bebas mau duduk di manapun," ucap William. Dia sudah membukakan pintu depan, tetapi Caroline bersikukuh duduk di kursi belakang. Hasilnya, tak sengaja high heels Caroline menginjak sesuatu yang menyebabkan dia hilang keseimbangan. Untung saja William cepat menangkapnya sehingga Caroline tidak sampai jatuh.
Sekian detik keduanya berpandangan. Hati Caroline semakin tidak tau tempat, jantungnya berdetak semakin cepat. Sepertinya sebentar lagi dia akan mendapatkan serangan jantung jika terus berdekatan dengan William.
Caroline melepaskan pegangan William. Dia sudah bisa menguasai diri untuk tidak sampai jatuh.
__ADS_1
"Terima kasih." Hanya itu yang mampu diucapkan pada pria itu.
"Kita langsung ke Villa," ucap William. Dia mengemudikan mobilnya dalam diam.
Memandang Caroline dengan jarak dekat seperti itu membuatnya semakin menggila. Dia ingin menikahinya walaupun dia akan sulit melepaskan Roseanne dalam waktu dekat. Kedua keluarga pasti tidak akan setuju.
Aku harus pulang ke rumah malam ini. Kalau menunggu besok, aku takut tidak akan kuat berduaan dengan William di Villa.
"Will, sesampainya di Villa, aku langsung berkemas. Sore ini kita kembali ke kota."
Benar ucapannya. Dia tidak bisa menahan Caroline terlalu lama. Dia bisa nekat pulang sendiri.
"Iya, agak sore ya. Aku ingin istirahat dulu." William sudah membayangkan lelahnya untuk pulang ke kota sore hari. Sampai sana jelas sudah larut malam. "Apa sebaiknya tidak besok pagi saja pulangnya?"
"Tidak bisa, Will. Tuan Darius ada rapat penting besok pagi dan aku harus selalu berada di sampingnya."
Sudah kuduga, Caroline pasti minta pulang cepat malam ini. Aku tidak bisa lagi menahannya terlalu lama.
"Baiklah. Beri aku istirahat satu jam. Aku ingin tidur dulu sebelum pulang," ucap William.
"Oke." Jawaban tersingkat yang pernah diucapkan Caroline.
Mobil William memasuki halaman Villa. Caroline segera turun dan masuk ke kamarnya. Tak ada percakapan lagi di antara mereka.
William juga melakukan hal yang sama. Tapi, sebelum masuk ke kamar, ponselnya berdering tanda pesan masuk. William lekas membukanya dan ternyata itu pesan dari istrinya.
[Sayang, aku belum pulang. Aku pergi dengan Jack.]
__ADS_1
William menatap pesan itu biasa saja. Tidak ada yang spesial seperti orang yang sedang berada di dalam Villa. William juga tidak membalasnya sama sekali. Sepertinya dia sengaja membiarkan istrinya berbuat sesuka hatinya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️