Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Kamu Wanita Serakah, Rose!


__ADS_3

Kegagalan untuk meyakinkan Caroline bertahan di Austin Group membuat Papanya murka. Belum ada orang lain yang bisa menghandel pekerjaan seperti Caroline. Sikap William kepada istrinya juga berubah. Dia semakin dingin dan tak lagi ramah.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Roseanne yang saat ini berada di sampingnya.


"Aku baik, Rose. Kenapa?" tanya William.


"Akhir-akhir ini aku kesal padamu, Will. Bahkan, kamu sudah tidak pernah menyentuhku lagi. Apakah ada gadis lain yang menarik perhatianmu?" sindir Roseanne.


Sejak kembali ke Mansionnya, William lebih banyak berubah. Pria itu sudah tidak pernah menyentuhnya lagi seperti dulu.


"Aku lelah, Rose," ucapnya. William sadar, setelah pertemuannya dengan Caroline, dia sudah tidak berniat untuk menyentuh istrinya lagi. Entah karena bayangan Caroline selalu nampak, atau memang William yang enggan untuk menyentuh istrinya.


Selalu saja begitu, Will. Jangan salahkan aku jika mencari kebahagiaan di luaran. Aku wanita normal yang selalu membutuhkan sentuhan, tetapi kamu selalu mengabaikanku.


"Aku ini istrimu, Will. Kenapa sekarang kamu malah melupakan nafkah batinku? Aku wanita normal. Aku butuh suamiku," rayunya.


William terlalu sering memikirkan Caroline sehingga dia melupakan orang yang sudah sah menjadi istrinya. Tidak bisa dipungkiri, William menikah dengan Roseanne karena terpaksa.


"Tolong tinggalkan aku sendirian, Rose. Aku pusing, Papa marah-marah padaku," ucap William.


Tak perlu berpikir terlalu lama, Roseanne keluar meninggalkan suaminya. Dia mengendap-endap menuju kamar sebelah. Setelah tidak ada orang yang melihatnya, dia mengetuk pintunya.


Tok tok tok.


Merasa tak ada jawaban, Roseanne memberanikan diri untuk langsung masuk dan mengunci pintunya.


"Rose?" tanya Jack terkejut. Pria itu baru saja keluar dari bathroom.


Tak perlu di komando, Rose datang dan memeluk pria itu dengan sangat hangat.

__ADS_1


"Aku merindukanmu, Jack. Izinkan aku seperti ini dulu."


Jack tidak menolak. Rose bisa memberikan apa yang tidak bisa diberikan wanita lain. Jack tidak peduli lagi jika Rose hanya seorang ipar. Itu salah Rose sendiri kenapa merayunya dan mengajak untuk tidur dengannya.


Will, lihatlah! Istrimu lebih memilihku daripada dirimu. Kamu memang pria yang sangat bodoh.


"Apa William menyakitimu?" tanya Jack.


"Tidak. Dia hanya menolakku. Apa William memiliki wanita idaman lain di luaran sana?" tanya Roseanne. Wanita itu belum melepas pelukannya.


"Tidak ada. Dia memang habis dimarahi Papa karena proyeknya gagal," ucap Jack berbohong. Padahal beberapa waktu lalu, Jack yang mengompori Roseanne untuk memisahkan William dan Caroline.


"Mengenai sekretaris itu, bukankah dia yang kamu maksud telah mendekati William?" Roseanne ingat untuk pertama kalinya Jack memintanya datang ke kantor.


"Dia sudah resign. Sudah kubilang, William sedang galau karena dimarahi Papa. Sekarang kamu mau apa?" tanya Jack.


Jack tidak mungkin menceritakan mengenai Caroline padanya. Bisa saja wanita gila ini akan membuatnya dalam kesulitan.


Jack melepaskan pelukan Roseanne. Dia kesal pada wanita itu. Dia yang datang padanya dan meminta untuk dipuaskan, malah sekarang mengatakan ingin hamil anaknya William. Itu sama saja membandingkan dirinya dengan sang kakak.


"Kalau seperti itu permintaanmu, lebih baik minta tidur dengan William. Kenapa malah ingin tidur denganku? Kamu pikir aku senang menjadi bahan perbandingan dengannya?" protes Jack.


Roseanne tidak peduli lagi dengan ucapan pria itu. Dia langsung mendaratkan bibirnya padanya. Tak menunggu lama, Jack bisa mengimbangi permainan wanita gila ini. Semakin cepat, Jack semakin tertarik pada permainannya.


Jack mulai bermain lembut dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana. Jack sudah tidak peduli lagi dengan status Roseanne sebagai kakak iparnya. Salah sendiri, dia datang dan menawarkan diri untuk memuaskannya. Jack yang merupakan playboy berjuluk casanova tanggung itu tak menolak. Asal dia bisa menjadi partner ranjangnya, Jack selalu siap.


Perlahan, Roseanne mulai membuka baju yang dipakai adik iparnya. Ini bukan pertama kalinya, tak susah untuk melakukannya. Jack melakukan hal yang sama pada kakak iparnya itu. Keduanya sudah dalam keadaan polos dan menggebu untuk melanjutkan penyatuannya. Tiba-tiba Jack menghentikan aktivitas yang sudah memanas itu.


"Tunggu, Rose! Aku mengambil pengaman dulu. Aku tidak mau kamu hamil anakku!" ucap Jack. Perlahan Jack turun dari atas tubuh Rose. Dia beranjak mencari barang itu di lemari kecilnya. Dia menyembunyikan barang penting itu di sana.

__ADS_1


Setelah kembali, Jack berusaha menggunakannya, tetapi Roseanne melarangnya.


"Jangan pakai itu! Biarkan saja seperti ini," pintanya.


"Kamu gila, Rose! Aku tidak mau terjebak dengan cerita gilamu. Menghamili kakak ipar sendiri. Papaku bisa marah!" Jack menolak.


"Oh ayolah, Jack. Will tidak akan curiga!" Roseanne meyakinkan adik iparnya.


Roseanne benar juga. Sebenarnya aku tidak nyaman melakukannya dengan jaket pembungkus itu. Lebih nyaman melakukannya dengan polos.


Tak menunggu lama, Jack akhirnya mengikuti permintaan kakak iparnya itu. Jack mulai melakukan penyatuannya dan keduanya saling menikmatinya.


Hanya butuh waktu yang lumayan singkat untuk mendapatkan pelepasannya. Jack tidak ingin orang rumah curiga padanya. Setelah memuaskan Roseanne dan menumpahkan cairan itu ke dalam rahim kakak iparnya, Jack meminta Rose untuk lekas keluar dari kamarnya.


"Bersihkan dirimu dan lekaslah keluar! Jangan sampai ada orang lain tahu tentang hubungan kita, termasuk William," ucap Jack.


Pria itu masih merebahkan dirinya di ranjang dalam keadaan polos karena masih malas untuk masuk ke kamar mandi.


"Terima kasih, Jack. Kamu pria yang sangat hebat. Aku mencintaimu," ucap Roseanne.


"Ck, jangan katakan cinta padaku. Hubungan kita hanya sebatas pelampiasanmu. Kamu mengatakan cinta padaku dan kakakku. Kamu wanita serakah, Rose!"


Roseanne tidak peduli apapun ucapan adik iparnya. Yang pasti, dia harus secepatnya hamil dan mengikat William dengan erat. Dia harus bisa menguasai semua keluarga Austin dan kekayaannya. Hanya dengan merayu adik iparnya, dia akan mendapatkan semuanya.


"Aku tidak peduli lagi, sayang. Ucapkan sesuka hatimu. Hubungan kita bukan hanya pelampiasanku, melainkan hubungan saling menguntungkan. Kamu tidak perlu membayar mahal wanita di luaran sana. Cukup denganku, semuanya akan terasa mudah. Kita bisa melakukannya lebih sering di kamarmu, bukan?" ucap Roseanne yang sedang mengenakan kembali pakaiannya yang sudah berserakan.


"Terserah kamu saja. Datanglah sesuka hatimu. Ingat, jangan sampai ada yang curiga." Jack berulang kali mengingatkan kakak iparnya itu.


Setelah kebutuhan Rose tersalurkan, wanita itu keluar dari kamar adik iparnya dengan perlahan. Dia harus bersikap biasa saja ketika berada di luar. Untung saja tidak ada yang tahu kalau Rose baru saja berduaan bersama adik iparnya.

__ADS_1


Lihat saja, Will. Kamu tidak bisa membahagiakanku, maka aku akan mencari kebahagiaan dengan orang lain.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


__ADS_2