Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Rencana Resign


__ADS_3

Caroline yang biasanya terkenal dengan sosok yang paling ramah, kini berusaha menjadi pribadi yang lain. Dia bahkan melewatkan beberapa orang yang menyapanya. Sampai beberapa dari mereka mengatakan jika Caroline telah berubah.


Desas-desus itu terdengar sampai ke telinga Tuan Darius. Pria itu akhirnya memanggilnya. Dia ingin berbicara berdua dengan sekretarisnya itu.


"Carol, sebenarnya apa yang terjadi pada dirimu? Semua orang membicarakanmu!" ucap Tuan Darius dengan suara yang sangat tegas.


"Maafkan saya, Tuan. Ada masalah pribadi yang membuat saya menjadi seperti ini. Sekali lagi maafkan saya, Tuan," ucapnya.


"Carol, selama lima tahun terakhir ini kamu bekerja dengan sangat baik. Boleh saya tau masalah pribadi apa yang sedang menimpamu? Itu kalau kamu berkenan supaya saya bisa mencarikan solusinya." Tuan Darius tidak mau karena masalah pribadi bisa mempengaruhi kinerja karyawan seperti Caroline.


Maafkan saya, Tuan. Sebenarnya masalah ini murni bukan dari saya, melainkan dari putra Anda sendiri. Jika nantinya William masih mengejarku, aku akan memilih mundur dari perusahaan ini.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa menceritakannya," ucap Caroline. Menceritakan masalahnya dengan William di hadapan papanya sama saja bunuh diri.


"Baiklah, Caroline. Persiapkan dirimu untuk proyek luar kota beberapa hari lagi. Kamu akan berangkat bersama William," ucap Tuan Darius mengakhiri pembicaraannya.


Deg!


Sepertinya rencana untuk menghindar dari pria itu berujung takdir yang selalu mendekatkannya. Ingin menolak, tetapi tidak ada lagi orang yang dipercayakan bisa mengurus proyek tersebut.


"Baik, Tuan. Bolehkah saya kembali ke ruangan?" tanya Caroline setelah tidak ada lagi pembicaraan.


"Silakan!" jawab Tuan Darius.


Caroline hendak keluar ruangan CEO bersamaan dengan masuknya William dan Jack. Tatapan mata keduanya tertuju pada Caroline, sementara Caroline tidak peduli lagi dengan tatapan kedua pria itu.


Pria pertama dengan sejuta kebohongannya. Pria kedua dengan kategori CEO tanggung yang berjuluk playboy kelas kakap yang tingkahnya membuat orang lain kesal. Keduanya membuat Caroline tidak peduli lagi. Fokusnya hanya ingin bekerja saja.


"Pa, ada apa dengan Caroline?" tanya Jack. Pria ini jauh lebih peduli karena ada maksud tersembunyi.


"Dia ada masalah pribadi, tetapi tidak mau cerita ke papa. Ya, maksud papa supaya tidak mempengaruhi kinerjanya." Tuan Darius menjawab pertanyaan putranya sembari fokus membaca berkas yang baru saja diperoleh dari Caroline.


Deg!


Sebuah hati sedang merasakan sakitnya kehilangan untuk yang kedua kalinya. Siapa lagi kalau bukan William.

__ADS_1


Apa ini masalahku dengannya? Rasanya sikapnya berubah menjadi dingin tidak seperti biasanya. Beberapa rekan kerjanya juga berpendapat seperti itu.


"Will, persiapkan dirimu untuk proyek ke luar kota bersama Caroline," ucapan papanya membuyarkan lamunannya.


William nampak bahagia, sedangkan Jack langsung memprotes sikap papanya.


"Pa, kenapa harus Will dan Caroline? Kenapa tidak aku saja yang berangkat dengan Will?" tanya Jack. Pria itu sengaja ingin menjauhkan Caroline darinya.


"Jack, kalau kalian berdua yang berangkat, proyek itu akan gagal. Karena kalian berdua selalu saja ribut," ucap papanya. Tidak ada lagi perdebatan antara papa dan anak.


Sementara di ruangan Caroline, dia sedang berbicara dengan rekan kerjanya, Shirley.


"Shirley, bagaimana menurutmu jika aku resign?" tanya Caroline.


Shirley yang tadinya sedang mengetik itu menghentikan pekerjaannya.


"Kenapa kamu ingin resign, Carol? Selama ini aku sangat bersyukur bisa bekerja bersamamu. Kamu orang baik yang mau membimbingku sampai seperti ini, dan__" Shirley sengaja menghentikan ucapannya agar Caroline mau menatap ke arahnya.


"Kenapa tidak kamu lanjutkan ucapanmu?" tanya Caroline. Dia memandang lekat manik mata Shirley.


"Aku orang yang paling tidak rela jika kamu resign. Titik no debat!" ucap Shirley.


"Aku tidak yakin akan bertahan di Austin Group," ucapan Caroline membuat Shirley mendongak menatapnya.


"Apa ada yang membuatmu merasa tertekan, Carol?"


Caroline mengangguk.


"Tolong, jangan resign. Aku akan membantumu menyelesaikan masalah ini. Ceritakan padaku! Kita cari solusi bersama," ucap Shirley.


Shirley adalah orang yang sangat beruntung bisa bekerja dengan Caroline. Awal masuk, Shirley selalu menjadi orang yang paling diabaikan karena tingkahnya yang aneh dan jarang bisa bergaul dengan orang lain. Perlahan Caroline mendekatinya, mendengar keluh kesahnya dan kemudian memberikan masukan pada gadis itu. Sampai akhirnya, Shirley menjadi pegawai yang bisa diandalkan untuk membantu pekerjaan Caroline. Jika Caroline sampai resign, tidak akan ada lagi orang yang bisa membimbingnya selain Caroline.


Caroline bisa terbuka pada Shirley karena gadis itu adalah sahabat terbaiknya selain sang mama.


"Aku tidak tau, Shirley. Kamu sudah bertemu Tuan William?" tanya Caroline.

__ADS_1


Siapa yang tidak tau Tuan William. Anak pertama keluarga Austin itu sangat tampan dan banyak digilai wanita.


"Iya dong. Dia kan spesial," jawab Shirley antusias. "Eh, memangnya kenapa?"


"Shirley, tolong rahasiakan dari siapapun," bisik Caroline. Gadis itu sengaja mendekati rekan kerjanya untuk lebih leluasa berbicara. Walaupun di ruangan itu hanya ada mereka berdua. "Tuan William berusaha mendekatiku dan kamu tau apa berita terburuknya?"


Ucapan Caroline membuat Shirley bingung. Harusnya kalau di dekati Tuan William akan terlihat sangat bahagia, tetapi Caroline malah bersikap aneh dan bahkan berencana untuk resign.


"Kamu aneh, Caroline. Semua orang berharap Tuan William mendekatinya, tetapi kenapa kamu berbeda?" ucap Shirley.


"Oh ayolah, Shirley. Tuan William itu sudah beristri. Memangnya kamu suka kalau aku di cap sebagai pelakor?" ucap Caroline.


Shirley langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia tidak percaya jika putra sulung Tuan Darius sudah menikah.


"Eh, tunggu Carol! Aku bukan gadis lemot seperti dulu, ya. Kalau Tuan William sudah menikah, kapan Austin Group mengadakan resepsi pernikahannya? Bahkan publik tidak tau jika Tuan Will sudah menikah?"


Ucapan Shirley ada benarnya. Kenapa keluarga Austin tidak mengumumkan putranya sudah menikah. Bahkan, Tuan Darius terkesan menutupi pernikahan putranya.


Kamu benar, Shirley. Sebenarnya, apa yang mereka inginkan dengan tidak mengumumkan pernikahan putranya?


"Lalu, bagaimana aku harus bersikap?" tanya Caroline.


Shirley sedang berpikir. Terkadang kepintarannya meniru Caroline karena terlalu sering berinteraksi dengan sekretaris Bosnya itu.


"Jangan resign dulu, Carol. Bersikaplah biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Yang lebih penting lagi, menghindar dengan Tuan Will saja. Yang lainnya, jangan ya?" usul Shirley.


Benar juga ucapan Shirley. Menghindari semua orang akan membuatnya dicap orang aneh, tetapi bagaimana caranya menghindari William Austin itu?


Caroline sedang berpikir. Namun, belum sempat dia mendapatkan jawabannya, Tuan Darius memanggilnya melalui interkom.


"Ya, Tuan?" ucap Caroline.


"Datanglah ke ruanganku sekarang! Bawakan berkas proyek ke luar kota. William akan mengeceknya," ucap Tuan Darius.


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Tuan Darius mengakhiri panggilannya. Belum sempat berpikir sudah dihadapkan masalah lagi dengan pria itu. Caroline tidak boleh terlena oleh rayuan William. Dia harus bisa menahan diri untuk tidak tergoda.


πŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡BersambungπŸ‡πŸ‡πŸ‡πŸ‡


__ADS_2