Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Mantanmu?


__ADS_3

"Apakah aku bisa meminta bantuan Anda, Tuan? Maksudku, aku ingin mencari pekerjaan lagi. Ya, walaupun statusku masih belum mengajukan resign, sih." Caroline berusaha mencari tempat kerja yang baru agar dia tidak terlalu terpuruk dengan kelakuan William sore ini. Pria itu hampir saja merenggut kesuciannya.


Sepertinya gadis ini cocok bekerja di perusahaanku, tetapi aku tidak mau mengatakan secara langsung bahwa aku CEO-nya. Lebih baik aku memintanya datang ke kantor dengan membawa surat lamaran lengkap. Setelah itu, aku akan mempertimbangkannya untuk dia bekerja sebagai apa. Sepertinya ini ide brilian.


"Kalau kamu mau, aku mempunyai seorang teman yang lumayan bisa diandalkan dalam urusan penerimaan karyawan. Dia memiliki kantor dan bisa jadi sedang membutuhkan karyawan. Apa kamu mau mencobanya?" tanya Lewis.


"Apapun pekerjaannya, Tuan. Saya tertarik untuk mencobanya." Caroline memantapkan hatinya untuk melepaskan Austin Group demi kenyamanan hatinya dan juga menjauhkan dari William. Pria itu semakin hari semakin nekat.


Lewis sangat tertarik pada gadis itu. Sepertinya ada magnet yang tiba-tiba ingin menarik gadis itu dalam kehidupannya. Tidak bisa dipungkiri, kecantikan alaminya mampu membuat Lewis semakin penasaran pada gadis itu. Dia seperti seorang bidadari yang sengaja dikirim untuk membuat kehidupan Lewis semakin lebih berwarna.


Sepanjang perjalanan, hari mulai gelap. Lewis juga membutuhkan istirahat sesaat untuk melanjutkan perjalanannya. Dia ingin mampir ke sebuah Cafe dan mencari kopi di sana.


"Kita mampir ke Cafe sebentar, yah? Aku lelah dan ingin menikmati secangkir kopi. Apalagi ini menjelang malam dan perjalanan sampai tujuan masih beberapa jam lagi. Tidak masalah, kan?" tanya Lewis.


Caroline akan aman bersama Lewis. Jadi, kemanapun pria itu mampir, dia akan tetap mengikutinya. Setidaknya dia sudah aman dari William.


Ah, kembali lagi pada William. Perasaan Caroline masih fifty-fifty. Nah, ini sangat parah, bukan? Dia baru saja disakiti, tetapi dia masih saja mencintainya. Ini hal terbodoh atau yang paling gila dilakukan oleh Caroline. Dia masih mengkhawatirkan pria itu, tetapi dia juga berusaha menghindarinya. Cinta memang gila!


Mungkin kamu sedang mencariku, Will. Aku sedang bersama seorang pria dan mungkin kamu juga akan cemburu padaku. Seperti aku cemburu padamu dan juga istrimu. Aku memang sudah gila, Will. Aku terlalu mencintaimu dan sangat sulit untuk menghapus namamu dari dalam hatiku. Kamu brengsek memang, tetapi aku tidak bisa menerimanya jika kamu memaksaku melepas kesucian tanpa ikatan pernikahan. Aku akan sangat menyakiti diriku sendiri, Will. Andai saja aku bisa memberikan pilihan padamu. Pilih aku atau istrimu? Bisakah kita bernegosiasi?


"Halo, Carol. Hei, kenapa melamun seperti itu? Apa yang sedang kamu pikirkan? Aku sedang meminta persetujuanmu, loh." Lewis membuyarkan lamunan gadis itu.


"Eh, iya. Memangnya apa yang kamu tanyakan padaku?" tanya Caroline.


"Bisa kita mampir ke Cafe sebentar? Aku lelah," ucap Lewis.


"Ah, baiklah. Aku juga ingin meminum kopi. Rasanya aku sangat ngantuk sekali," ucap Caroline menyetujuinya.

__ADS_1


Lewis mulai mengemudikan mobilnya mencari Cafe terdekat. Dia sudah hafal di mana Cafe yang paling dekat dari tempatnya saat ini. Sekitar sepuluh menit, mobil sudah memasuki halaman parkir Cafe. Kebetulan di wilayah ini, banyak Cafe yang memiliki halaman parkir sangat luas. Selain bisa digunakan sebagai tempat foto selfi, Cafe juga menyediakan beberapa buah Gazebo untuk menikmati kebersamaan bersama keluarga atau orang terkasih.


Sebenarnya Lewis ingin membukakan pintu untuk gadis itu, tetapi sepertinya dia lebih nyaman untuk membukanya sendiri. Tak jadi masalah bagi Lewis. Dia suka gadis mandiri yang tidak merepotkan.


"Mau di dalam Cafe atau di Gazebo itu?" Lewis menunjukkan Gazebo yang kebetulan kosong.


"Sebaiknya di dalam saja, Tuan. Di luar sangat dingin," ucap Caroline.


"Baiklah. Oh ya, panggil Lewis saja biar lebih akrab," ucap pria itu.


Lewis dan Caroline masuk bersama. Mereka memilih tempat yang tidak terlalu banyak peminatnya yaitu di tengah Cafe. Kebetulan tempat itu kosong dan tidak terlalu berdekatan dengan pengunjung lainnya.


"Mau pesan makanan apa? Pesanlah sesukamu, aku yang akan membayarnya." Lewis baru saja memperlakukan Caroline seperti kekasihnya. Dia memundurkan salah satu kursi agar Caroline duduk di situ.


"Apapun pesananmu, aku ikut saja, Lewis," jawab Caroline. Gadis itu merasa jika Lewis terlalu perhatian padanya dan itu rasanya sangat tidak nyaman sekali.


"Bagaimana kalau sepiring nasi goreng dan secangkir Cappuccino?"


"Benarkah?" tanya Lewis yang juga tidak percaya. Ada kesamaan antara dia dan gadis itu.


Awal yang baik, Lewis. Sepertinya ini perlu dipertimbangkan untuk bisa dekat dengannya. Sepertinya takdir sedang berpihak padaku.


Pelayan baru saja datang dan menanyakan pesanannya. Lewis menjawabnya secara detail seperti apa yang disepakati dengan Caroline. Dia tidak lupa menambahkan beberapa cemilan untuk sekadar bersantai sambil mengobrol sejenak.


Sembari menunggu pesanan datang, Lewis ingin memastikan keputusan Caroline untuk masuk ke perusahaannya.


"Kamu serius sedang mencari pekerjaan?"

__ADS_1


"Apakah aku seperti seseorang yang sedang bercanda, Tuan Lewis?" tanya Caroline.


Lewis memandang lekat gadis itu. Benar saja, tidak ada aura kebohongan di sana. Lewis yakin keputusannya untuk menerima gadis itu akan membuat perusahaannya semakin maju dan berkembang pesat.


"Baiklah, jika kamu memang sudah sangat serius, datanglah ke Augustine Group setelah persetujuan resign-mu keluar. Kamu tidak perlu khawatir, di sana pasti akan langsung diterima," ucap Lewis meyakinkan.


"Kenapa Anda bisa seyakin itu? Memangnya itu perusahaan milik nenek moyang Anda," canda Caroline.


"Sudah kubilang, perusahaan itu milik temanku. Aku bisa saja memintanya untuk langsung menerimamu jika kamu mau," balas Lewis tidak mau kalah.


Caroline tersenyum mendengar penuturan pria di hadapannya itu. Pria yang mengingatkannya pada William. Sedikit banyak, wajahnya memang sangat mirip atau Caroline-nya saja yang belum bisa move on dari pria brengsek itu.


"Hei, kenapa memandangku seperti itu? Awas jangan sampai naksir, loh," canda Lewis.


"Tidak, wajahmu mengingatkanku pada seseorang. Mungkin hanya sekedar mirip atau aku yang terus teringat padanya," ucap Caroline dengan tatapan mata sendu.


"Mantanmu?"


Caroline menggeleng. William bukan mantan lagi baginya, tetapi ancaman. Walaupun sebenarnya Caroline masih mencintainya.


"Bukan, hanya seorang teman," jawabnya.


"Sampai bisa sesedih itu jika hanya seorang teman?" tanya Lewis.


Lagi-lagi, Caroline merasa Lewis bisa membaca pikirannya. Dia bahkan tidak mengatakan jika itu mantan terindah dan yang paling brengsek menurutnya.


"Hanya masa lalu, Lewis. Lagipula itu sudah tidak penting lagi. Dia bahkan sudah menikah dan untuk apa aku masih bersedih." Caroline secepatnya harus yakin dan memutuskan untuk lepas dari William. Kalau bisa dari seluruh keluarganya.

__ADS_1


Sejak awal hubungannya dengan William sudah ditentang oleh Mama pria itu. Sekarang, kelakuan William yang semakin tidak bisa di toleransi lagi membuatnya harus segera bertindak.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


__ADS_2