Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Duda Baru


__ADS_3

Caroline sangat bersyukur. Kenyataannya dokter Freddy mau menerima alasan yang diberikannya. Sekarang dia sudah bebas dari pernikahan yang akan mengikatnya seumur hidup.


"Terima kasih atas pengertiannya, dokter," ucap Caroline.


"Kalau begitu, aku langsung pamit saja. Semuanya sudah selesai, Carol. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan," pamit dokter Freddy.


"Sekali lagi, terima kasih," ucap Caroline.


Gadis itu menatap kepergian dokter Freddy dengan perasaan lega. Bibi Fidela tidak paham maksud dari Nona majikannya yang menolak orang sebaik dokter Freddy. Sementara Tansy dan Hoshi terdiam ditempatnya. Mereka tidak berhak untuk ikut campur urusan majikannya.


"Maaf, Non. Bukannya Bibi sok tahu. Apa Nona tidak menyesal telah melepaskan pria sebaik dokter Freddy?" tanya Bibi Fidela.


Caroline dan Shirley terdiam mendengar ucapan pelayan itu.


Bibi benar. Seharusnya aku menyesal telah melepaskannya, tetapi hatiku tidak bisa dibohongi. Aku masih terlalu mencintai William.


"Tidak, Bi. Dokter Freddy berhak bahagia, tetapi tidak denganku. Oh ya, Bi, minta tolong Tansy dan Hoshi untuk membereskan tempat ini seperti semula, ya," perintahnya.


Caroline masuk kembali ke kamarnya diikuti Shirley dibelakangnya. Hari bahagia yang seharusnya menjadi miliknya berakhir seperti hari ini. Sebuah kegagalan pernikahan yang memang tidak pernah diinginkan.


Kebetulan pintu kamarnya masih terbuka. Caroline langsung masuk dan duduk di depan meja riasnya. Dia menatap dirinya di dalam cermin itu.


"Shirley, apa keputusanku benar?" tanya Caroline.


Shirley baru saja menutup pintu kamar itu. Dia berusaha menjadi penengah untuk masalah Caroline saat ini.


"Percayalah, kalau memang William jodoh terbaik untukmu, dia pasti akan kembali," jawabnya.


Caroline memutar badannya untuk menghadap kepada Shirley. Ucapan gadis itu membuatnya galau luar biasa. Kepercayaan tentang William untuk kembali hanya nol persen. Pria itu tidak akan mungkin berpisah dari istrinya.


"Itu tidak mungkin, Shirley. Dia masih terus bersama istrinya. Kamu tahu kan kalau mereka tidak mungkin bercerai. Aku juga tidak mau menjadi orang ketiga dalam rumah tangganya. Aku akan mencintainya dalam diam seperti dirimu yang mencintai Jack," ucapnya.


"Kamu meniruku? Ck, dasar tidak kreatif. Oh ya, hari ini kan sudah libur kerja. Apakah besok kamu akan melanjutkan cutimu itu? Saranku, lebih baik kamu masuk saja. Temani aku," pinta Shirley.


Sejenak Caroline terdiam. Berdiam diri di dalam rumah juga tidak bagus untuk kondisinya. Dia butuh teman untuk sekadar bersenang-senang dan melupakan masalahnya.


"Baiklah, aku masuk," ucapnya memberikan keputusan.


Shirley sangat senang. Dia menghampiri Caroline lalu memeluk gadis itu dengan sangat erat.

__ADS_1


"Uh, Carol ... aku senang sekali."


Caroline membalas pelukan Shirley dengan sangat erat. Dia juga sangat bahagia bersamaan dengan terlepasnya dokter Freddy dari dalam hidupnya.


...***...


Di tempat lain, tepatnya di Pengadilan. William sedang menunggu turunnya surat perceraiannya. Walaupun sebenarnya pihak Pengadilan bisa saja mengantar ke alamat yang sudah diberikan, tetapi William ingin secepatnya mendapatkan surat itu tanpa melalui perantara orang lain.


Tak banyak antrean hari ini. William bisa secepatnya menerimanya. Cukup menunggu sekitar satu sampai dua jam, barulah petugas pengadilan menyerahkan surat perceraiannya.


William menerimanya dengan sangat bahagia. Setelah ini fokusnya untuk mengejar Caroline. Setelah mendapatkan surat cerai itu, William tidak lagi tinggal di apartemen. Dia kembali pulang ke Mansion bersamaan dengan kepulangan adiknya dari rumah sakit.


"Pelayan, di mana mamaku?" tanya William ketika sudah berada di Mansion.


"Anu, Tuan. Nyonya ada di kamar Tuan Jack," jawab pelayan tersebut.


"Baiklah kalau begitu aku langsung menemui mereka," ucapnya.


Aura William nampak sangat bahagia. Selain perceraiannya telah selesai, status baru William adalah seorang duda.


Tok tok tok.


Ceklek!


Lavina yang membukakan pintu. Dia pikir ada pelayan yang memerlukannya.


"Will, kamu pulang, Nak?" tanya Lavina.


"Ma, bisa kita bicara sebentar?"


"Tentu, ayo Mama tutup pintunya dulu. Biarkan adikmu beristirahat."


Lavina mengajak William ke ruang tengah. Tempat yang biasanya untuk bercengkerama bersama keluarga.


"Duduklah!" perintah Lavina.


William duduk. Dia masih menyimpan surat cerainya itu disaku celananya.


"Ma, kalau misalnya aku menikah lagi, boleh?" tanya William. Dia masih ingin bermain teka-teki dengan Mamanya.

__ADS_1


"Tentu saja boleh, tetapi syaratnya surat perceraianmu sudah keluar. Mama juga yang akan mencarikan calon untukmu," ucap Lavina semringah.


Aku tidak mau itu. Aku hanya mau menikah dengan Caroline.


"Tidak, Ma. Aku akan mencari calon sendiri. Mama tidak perlu lagi mengurusi kehidupanku. Cukup doakan dan restui saja," ucapnya.


Lavina tidak menyangka kalau putranya bisa seyakin itu.


"Memangnya kamu mau menikah dengan siapa?" tanya Lavina.


"Caroline, Ma," jawab William.


Mata Lavina membulat sempurna mendengar nama itu lagi. Nama yang ratusan kali berusaha untuk dihapus dari memori putranya. Sepertinya takdir kehidupan keluarga Lavina tidak bisa terlepas dari bayang-bayang Caroline.


"Mama tidak akan pernah setuju! Sampai mati pun, Mama akan menolak pernikahanmu dengannya!" bentak Lavina.


William tertegun mendengar jawaban wanita yang dipanggilnya Mama selama ini. Bagaimana dia tega untuk menghentikan kebahagiaan putranya?


"Ma, kenapa selalu menolak gadis itu? Dia baik. Dia sangat sopan. Apa yang membuat Mama tidak menyukainya? Apa karena dia tidak selevel dengan kita?"


Lavina terdiam. Ingatannya berputar kembali ke masa lalu. Masa di mana suaminya enggan untuk menyentuh Lavina di malam pertamanya. Darius dengan gamblang menyatakan bahwa dia belum siap untuk menyentuhnya sebelum gadis yang dicintainya menikah dengan orang lain.


Lavina sebagai istri sahnya merasa kalah dengan gadis yang dicintai suaminya. Diam-diam Lavina menyelidikinya seorang diri. Setelah tahu ternyata hanya seorang gadis rendahan seperti Veronica yang menjadi saingannya, Lavina marah. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi berurusan dengan wanita itu dan keturunannya.


Kenyataannya saat ini, Lavina harus berperang lagi melawan putranya demi menghentikan niat William untuk menikahi keturunan Veronica.


"Kalau kamu mau tahu alasannya, tanyakan pada papamu. Semua jawaban ada di sana," ucapnya.


Lavina kesal sekali pada William. Dia bahkan tidak mau menuruti keinginan Mamanya. Dia malah ingin bersatu dengan Caroline. Bagaimana bisa Lavina hidup dengan memandang gadis itu setiap hari jika menjadi menantunya?


William sepertinya melihat aura kebencian pada diri mamanya. Sebagai duda baru, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk bertemu papanya.


William bergegas pergi ke kantor. Ini untuk pertama kalinya setelah beberapa bulan tidak menginjakkan kakinya di sana.


"Mau kemana kamu?" teriak Lavina.


William menoleh sesaat. "Menemui papa dan memperjuangkan cintaku, Ma."


Lavina semakin geram. Lima tahun membuang William ke luar negeri ternyata tidak membuat pria itu berubah. Sepertinya keputusan Lavina untuk membuat William bercerai dengan Roseanne juga salah. Sekarang wanita paruh baya ini harus menghadapi putranya yang kekeh pada pendiriannya itu.

__ADS_1


__ADS_2