
"Stop, Will! Jangan seperti ini. Tolong lepaskan aku," pinta Caroline. Gadis ini merasa sangat tertekan.
Beruntung rapat selesai lebih cepat, Tuan Darius dan Jack kembali ketika William hampir berhasil menyentuhnya untuk kedua kalinya.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Jack. Dia mencium gelagat buruk dari kakak maupun sekretarisnya.
"Hanya mencari berkas, Jack. Aku membantunya," jawab William.
Will pasti berbohong. Caroline tipe perempuan yang detail dan bukan pelupa. Pasti telah terjadi sesuatu di antara keduanya. Batin Jack.
Tuan Darius tidak curiga pada putranya. Will memang tipe pria yang disiplin dan hafal betul dimana letak berkas yang sebenarnya. Lima tahun tidak membuat putra sulungnya itu menjadi orang yang pelupa.
"Caroline, terima kasih banyak. Semua berkas yang kamu siapkan dan beberapa rancangan untuk beberapa proyek ke depan sudah disetujui oleh klien. Tinggal membuat kontraknya saja," ucap Tuan Will.
"Papa tak usah heran, Caroline adalah sekretaris terbaik yang dimiliki Austin Group," puji Jack di depan kakaknya.
Kamu sangat berharga bagi Austin Group dan untukku, Carol. Batin Jack.
"Untuk merayakan keberhasilan kita yang kesekian kalinya, aku akan mengajak kalian makan siang bersama," ajak Tuan Darius.
Oh astaga. Aku harus lepas dari jeratan William. Sebaiknya kutolak saja. Aku tidak nyaman berada di dekatnya. Hati dan pikiranku sangat kacau karenanya. Batin Caroline.
"Maaf, Tuan. Hari ini saya membawa bekal. Mungkin lain waktu saja," tolak Caroline.
"Tolong jangan ditolak, Carol. Bekal makan siangmu bisa kamu berikan pada teman atau rekan kerjamu. Mumpung putra sulungku sudah kembali." Tuan Darius sangat bangga pada William. Dia berharap setelah ini, William akan menggantikannya dan didampingi sekretaris hebat seperti Caroline.
Ya ampun, aku harus apa? Tuan Darius sangat berharap padaku. Aku tidak bisa menolaknya lagi. Jantung dan hatiku berada pada situasi yang tidak stabil. Batin Caroline.
"Baiklah, Tuan. Nanti akan kuberikan pada Shirley," balas Caroline. Dia sangat sulit menolak permintaan Tuan Darius yang telah mengangkat derajatnya sampai seperti ini.
"Ayo Will, Jack, kita pergi ke restoran Skyway. Kita pergi ke sana satu mobil saja. Ayo," ajak Tuan Darius.
"Ayo, Carol," ajak Jack.
Mereka berempat naik ke mobil Tuan Darius. Jack yang mengemudi, Tuan Darius duduk di sampingnya. Sedangkan Will dan Caroline berada di bangku penumpang.
__ADS_1
Aku seperti obat nyamuk melihat kebersamaan mereka. Batin Jack.
Jack fokus mengendarai mobilnya menuju restoran yang di maksud. Ketika berhenti di traffic light, Jack melirik sekilas. Kedua mantan kekasih itu saling duduk berjauhan. Jack sangat senang melihatnya.
Setelah warna lampu berubah menjadi hijau, Jack melanjutkan laju mobilnya dengan kecepatan sedang. Ketika Jack sedang fokus mengemudi, dia tidak menyadari jika Will telah menggenggam erat tangan Caroline. Gadis ini berusaha melepaskan tangan pria itu. Terlalu kuat berusaha melepaskan tangan kekar itu.
Will, kamu membuat perasaanku campur aduk. Benci dan rindu menjadi satu. Batin Caroline.
Tuan Darius tidak mengamati putranya karena dia sedang fokus pada ponselnya. Ada urusan penting dengan beberapa orang melalui ponselnya.
Barulah ketika mendekati restoran, William baru melepaskannya.
Mereka langsung masuk. Ternyata Tuan Darius sudah reservasi untuk empat orang. Ketika sampai di dalam, mereka langsung ditunjukkan tempatnya.
Makanan sudah tersaji di meja. William duduk di samping papanya dan tepat berada di depan Caroline.
"Langsung saja dimakan. Aku sudah lapar," ucap Tuan Darius.
Jack tidak akan berhenti mengganggu Caroline. Dia penasaran pada kakaknya. Apakah sudah benar-benar move on dari Caroline atau belum?
Caroline geram. Jack selalu saja memanfaatkan situasi hanya untuk keuntungan dirinya sendiri.
"Maaf, Tuan Jack. Anda bisa mengambil sendiri, kenapa harus memintaku untuk mengambilnya?" protes Caroline.
Caroline dan Jack seperti Tom and Jerry. Keduanya tidak pernah akur walaupun pekerjaan mereka selalu berhasil. Caroline berusaha sabar menghadapi CEO tanggung itu.
Tuan Darius tidak heran pada kelakuan putra bungsunya.
"Kamu salah, Jack. Kamu harus bersikap sopan pada nona sekretaris ini. Nona, bisa minta tolong ambilkan makanan untukku?" ucap William.
Caroline berada di antara dua orang yang tidak jelas. Makan siangnya kali ini semakin membuatnya kesal.
"Berhentilah menggoda sekretaris papa. Kalian bisa ambil makanan sendiri," protes Tuan Darius. Daritadi kedua putranya tidak lekas mengisi piring makannya dengan beberapa makanan yang dihidangkan.
Daripada membuat papanya kesal, kedua putranya mengambil makanan masing-masing. Caroline selamat kali ini.
__ADS_1
William curi-curi pandang pada Caroline. Gadis itu mengalihkan pandangannya pada area lain di dalam restoran itu. Setelah selesai, Caroline sebenarnya ingin ke toilet, tetapi Tuan Darius mengajak lekas kembali ke kantor.
Ketika berada di dalam mobil, ponsel William berbunyi. Ada panggilan masuk. William mengambil ponselnya.
Roseanne calling? Ada apa? Batin William.
William tidak mengangkat telepon dari istrinya. Setelah bertemu dengan Caroline, mantan kekasihnya. Dia berubah lagi. Seperti bukan William yang dikenal. Entah ada gelora cinta yang membuncah pada gadis itu. Apalagi setelah Caroline muncul di hadapannya.
William memiliki janji di masa lalu yang harus di tepati pada gadis itu. Itulah sebabnya dirinya seakan terbawa kepada lingkaran masa lalunya dimana dia memiliki janji untuk menjadi seorang pria yang mencintai dan menyayangi Caroline seutuhnya.
Kenyataannya sekarang berbeda. William telah menikah dan memiliki seorang istri, tetapi dia tidak bisa jauh dari cinta pertamanya yang dijumpainya setelah beberapa tahun yang lalu.
Cintaku ini memang salah untukmu, Carol. Percayalah, aku memang bukan pria yang baik. Aku sangat mencintaimu bahkan rasa itu belum pudar dari dalam hidupku. Aku telah memiliki Roseanne, tetapi aku juga menginginkanmu. Apa ada yang salah dengan rasa cinta ini? Batin William.
Sepanjang perjalanan, Caroline enggan menatap pria di sampingnya. Dia berusaha meyakinkan dirinya untuk benar-benar melupakan William.
Please, hati dan pemilik raga ini. Tolong hentikan perasaanku padanya. Aku bersusah payah melupakannya, tetapi kenapa perasaan ini muncul lagi ketika bertemu dengannya? Hatiku menolak setiap sentuhannya, tetapi ragaku menuntut lebih padanya. Oh God, lama-lama jantungku yang bermasalah setiap bertemu dengannya. Batin Caroline.
"Carol, kenapa kamu melamun? Apa sedang memikirkan ide untuk bisnis papaku?" tanya William membuyarkan lamunan gadis itu.
Tuan Darius yang mendengar pertanyaan putranya langsung ikut ambil bagian untuk mengomentari.
"Bisa jadi, Will. Caroline terkadang menjadi pendiam," ucap Tuan Will.
Caroline yang merasa menjadi pusat pembicaraan, membalas ucapan mereka.
"Tentu saja, Tuan. Apapun akan kulakukan demi kemajuan Austin Group," jawabnya melirik ke arah William.
Sampai di kantor, Caroline langsung masuk ke ruangannya. Dia tidak mau kebersamaannya dengan William membuat hatinya berubah lagi. Dia berusaha move on dari pria itu dan berhasil. Tetapi sekarang? Seperti ada magnet yang menarik dirinya untuk tertarik lagi pada pria itu.
Ini sangat salah. Aku sepertinya sudah gila pada pria itu. Pesonanya tidak bisa kulupakan. Dia semakin dewasa. Batin Caroline.
Andai saja Caroline tahu jika William sudah beristri, mungkin tidak akan ada lagi perasaan kepadanya. Walaupun dia masih mencintainya, dia akan berusaha memupus rasa itu.
🍎🍎🍎🍎Bersambung🍎🍎🍎🍎
__ADS_1