
Roseanne beberapa kali mengamati pergerakan keluarga Austin. Dia bahkan pergi ke rumah sakit untuk sekadar melihat kondisi Elena. Bertepatan dengan hari itu, Roseanne melihat kalau Elena sekarat. Dia bahkan sampai datang ke pemakaman untuk membuat Jack merasa bersalah.
Hampir mencapai Mansion, dia melihat mantan Mama mertuanya datang dengan pria asing yang tidak dikenalnya.
"Tunggu, sebenarnya apa yang terjadi?" ucap Roseanne.
Mansion terbuka lebar. William sengaja membukanya karena Mamanya telah mengatakan kalau akan datang ke Mansion. Tentu saja William tidak menolak. Bagiamanapun, wanita itu masih mamanya.
"Mama datang dengan suami barumu?" William nampak tidak suka dengan Alex. Pria itu seperti pengecut yang rela meninggalkan istrinya yang sedang hamil.
"Tentu saja, Will. Papamu di mana?" tanya Lavina. Dia sengaja menanyakan hal itu demi memuluskan rencananya.
"Ada di kantor. Silakan duduk Ma dan Anda, Tuan Alex, silakan duduk!" perintah William.
Roseanne yang sedari tadi mengamati dari balik jendela. Dia berusaha mencerna keadaan yang sebenarnya. Sepertinya Mandolin tidak seperti dulu. Sekarang Rose melihat kedatangan Lavina yang tidak biasa itu.
Apa yang terjadi dengan keluarga ini? Kenapa Lavina datang dengan seorang pria? Dan, William menerimanya seperti tamu pada umumnya. Apa yang tidak kuketahui?
Roseanne melihat kedatangan penjaga yang hendak menutup pintu gerbangnya. Dia pikir, orang bebas untuk keluar masuk. Nyatanya penjaga itu hampir menutup pintunya.
"Eh, Nyonya Rose?" Pelayan itu terkejut.
"Ssttt! Jangan katakan pada siapapun kalau aku datang. Boleh aku berbicara denganmu sebentar?"
"Sebentar, Nyonya. Aku mau menutup pintu gerbangnya dulu."
Penjaga itu kemudian memberikan tempat untuk Roseanne yang pernah menjadi menantu keluarga Austin. Mau mengusir pun tak enak hati. Bagaimana pun juga,wanita ini pernah jadi orang terpenting di dalam Mansion yang dijaganya.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" selidik Roseanne. Niatnya membalas rasa sakit hatinya pada keluarga Austin kenapa malah dikejutkan dengan sesuatu yang sangat janggal.
"Ehm, Nyonya Lavina dan Tuan Darius sudah bercerai."
"What? Apa kamu serius?" Roseanne benar-benar tidak tahu mengenai masalah ini. Sangat mengejutkan sekali menurutnya.
__ADS_1
"Tentu, mana mungkin aku berani berbohong."
Bercerai membuat pikiran Roseanne ke mana-mana. Selama ini yang dia tahu hubungan kedua mantan mertuanya itu baik-baik saja. Ya, walaupun bisa dibilang tidak romantis. Yang membuatnya penasaran lagi, kenapa sampai bercerai?
"Kenapa sampai bercerai?" selidik Roseanne lagi.
Kalau masalah ini, penjaga tidak tahu secara mendetail. Yang dia tahu hanya Jack yang ikut mamanya dan William ikut papanya.
"Maaf, Nyonya. Kalau soal itu, aku tidak tahu persis. Namun, salah satu putra Tuan Darius ada yang ikut dengan Nyonya Lavina. Hanya itu yang kuketahui."
Niatnya balas dendam diurungkan. Toh keluarga Austin juga sudah hancur. Fokusnya sekarang adalah mengurus kelahiran bayinya.
"Baiklah, aku langsung pergi. Jangan katakan pada siapa pun jika aku datang."
Roseanne meninggalkan Mansion itu dengan penuh kemenangan. Tak perlu bersusah payah membuat keluarga Austin hancur. Sementara di ruang tamu terjadi perdebatan seru antara William dan Lavina. Wanita itu meminta haknya atas Mansion yang ditempatinya saat ini.
"Will, Mama datang ke mari karena sesuatu hal. Oh ya, kamu tentunya sudah tahu siapa Om Alex, kan? Dia Papa Caroline dan sekarang sudah menjadi suami Mama," jelasnya.
William tak habis pikir. Rupanya Mamanya malah memilih kembali ke pria itu daripada berusaha rujuk dengan papanya. William tak mengerti jalan pikirannya.
"Ehm, maaf. Istriku mengatakan kalau belum mendapatkan sepeser pun harta pembagian dari perceraian ini," jawab Alex.
"Apa? Jadi kalian ke mari hanya untuk mengambil harta dari papaku?" selidik William.
"Tentu saja, Will. Semenjak perceraian, papamu tidak lagi mentransfer sejumlah uang sebagai kompensasinya. Aku tahu kalau permintaanku ini terlalu tinggi. Apakah kamu pikir Jack tidak butuh biaya untuk pengobatan kakinya?" Lavina berusaha memelas untuk mendapatkan apa yang dikehendakinya.
"Maaf, Ma. Itu bukan urusanku. Mungkin papa sedang sibuk sehingga lupa untuk memberikan sejumlah uang kepadamu. Namun, yang aku heran, harusnya sudah bukan menjadi tanggung jawab papaku untuk menafkahimu. Kalian sudah bercerai dan mama sudah menikah lagi. Lebih baik minta suami mama untuk menghidupi mama dan bukan malah datang seperti ini," tegas William.
William tidak bisa menerima itu karena seratus persen mamanya bersalah. Jadi, tak ada alasan lain lagi untuk memberikan sepeser pun harta keluarga Austin.
Lavina tidak mau. Dia tetap meminta haknya. Bisa saja Lavina meminta pembagian saham perusahaan yang nilainya sangat besar itu, tetapi dia butuh tempat tinggal yang sangat layak untuknya saat ini. Alex berencana menjual apartemennya untuk biaya hidup mereka.
"Kalau papamu tidak mau mentransfer uang setiap bulannya untuk pengobatan Jack, maka sebagai gantinya, aku meminta kamu untuk meninggalkan Mansion ini!" teriak Lavina.
__ADS_1
Deg!
William terkejut dengan perangai mamanya yang sudah berubah bukan menjadi wanita yang elegan dan menjunjung tinggi harga diri lagi. Untuk kali ini, dia sudah menjatuhkan harga dirinya sendiri.
"Maaf, Tuan Alex. Bisa bawa mamaku pergi dari Mansion ini? Sepertinya ada yang salah dengannya," ucap William.
"Maaf, Will. Istriku sudah berjanji untuk mendapatkan haknya. Jika tidak, maka dia tidak akan pergi dari rumah ini."
Oh God. Rupanya Alex dan Lavina tak ada bedanya. Sama-sama gila harta. William sebaiknya menghubungi papanya untuk membicarakan ini.
"Tunggu, Ma. Aku akan menelepon papaku dulu. Aku harus berembuk dengannya. Bagaimana pun, Mansion ini adalah milik keluarga Austin dan bukan milik mama."
Lavina meradang. Putranya sendiri sangat tidak bersahabat dengannya. Kalau sampai dia menelepon Darius, sama saja dia cari mati.
"Tunggu! Tak perlu kamu menelepon papamu. Kau cukup memintanya darimu, Will. Apa kamu tidak kasihan pada Mama dan adikmu, hah?" bentak Lavina.
William tidak gentar menghadapi wanita itu. Bertepatan dengan itu, papanya menelepon.
"Ya, Pa?"
"Apa kamu tidak sibuk? Kalau tidak, tolong ke kantor sekarang!"
William menatap mamanya kemudian beralih ke pria asing yang sebenarnya adalah papa dari gadis yang dicintainya.
"Maaf, Pa. Aku tidak bisa. Mantan istrimu datang ke Mansion dan meminta Mansion ini untuknya," ucap William.
"Lepaskan saja! Papa tidak akan menyesal," balas Darius.
"Papa yakin?" selidik William.
"Yakin, Will. Lagi pula, Mamamu sudah berbuat banyak untuk kita," ucapnya kemudian Darius menutup teleponnya.
"Bagaimana? Apa mantan suamiku memberikannya padaku? Aku tahu, dia tidak akan tega padaku," ucap Lavina. Wanita itu merasa menang karena berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.
__ADS_1
"Ambilah, Ma. Papa sudah mengikhlaskannya."
Darius dan William memutuskan untuk keluar dari Mansion. Darius tak menyesal melepaskan Mansion itu untuk mantan istrinya. Lagi pula, dia masih bisa tinggal di apartemen yang dimiliki William asal aset perusahaannya tetap aman di tangannya.