
Caroline memutuskan pulang tanpa memakan makanan yang telah dibelikan Lewis. Perasaan gadis itu terguncang.
"Lewis, sebaiknya aku pulang saja," pamitnya.
"Kenapa terburu-buru? Kamu juga belum makan dari restoran tadi. Aku sudah membungkusnya untukmu. Kalau begitu, bawa saja pulang dan makanlah di rumah," pinta Lewis.
"Aku tidak berselera lagi. Rasanya aku malas untuk makan."
"Apa kamu masih memikirkan wanita itu atau malah memikirkan William, mantanmu itu?" tanya Lewis.
"Tidak untuk keduanya, Lewis. Aku butuh waktu menyendiri. Bisakah aku membatalkan rencana bekerjaku di sini. Maaf, bukan niatku untuk mempermainkanmu. Aku terlalu cepat memutuskan sesuatu," ucapnya beralasan.
Lewis sudah mempunyai rencana yang bagus untuk William. Dia tidak bisa melepaskan Caroline begitu saja. Niatnya sudah bulat untuk membuat pria itu mengalah padanya.
"Pikirkan kembali keputusanmu, Carol. Aku tidak akan memaksamu, tetapi kali ini kuberikan kelonggaran waktu sampai kamu benar-benar siap untuk bekerja ditempatku." Lewis tidak bisa menarik gadis itu terlalu kuat. Akan terasa sangat memaksa dan menimbulkan kecurigaan padanya.
"Terima kasih, Lewis. Kamu bisa mengerti keadaanku." Caroline secepatnya meninggalkan kantor Augustine Group dan pulang ke rumahnya. Dia masih merasa syok dengan tuduhan istri William yang seperti itu. Padahal Caroline harus melepaskan semua kenyamanan yang selama ini didapat dari Austin Group.
"Apa sebaiknya aku buka usaha saja di rumah? Setidaknya bisa meminimalkan pertemuanku dengan wanita itu. Tuduhannya tidak beralasan. Aku yakin, kedatangannya kala itu ke kantor karena ulah Jack. Sudah dipastikan Casanova tanggung itu selalu membuat masalah denganku," gerutu Caroline di dalam mobilnya.
Perjalanan Caroline tidaklah mudah. Dia harus berjuang untuk melupakan William dalam waktu yang cukup lama. Rasanya memang sulit menghilangkan nama itu darinya. Walaupun usahanya untuk membuka hati terbuka lebar untuk pria lain, tetapi bayangan akan janji William yang akan terwujud dalam waktu dekat selalu menghantuinya.
Caroline tahu, mencintai William adalah kenyataan pahit yang harus diterimanya saat ini. Dia harus melepasnya karena pria itu statusnya adalah suami orang. Selanjutnya, kesulitan akan didapatkan dari Mamanya. Wanita paruh baya itu pasti tidak akan setuju jika putranya mendapatkan gadis seperti Caroline. Dilema sudah jelas dihadapi Caroline. Dia seperti gadis bodoh yang berada di persimpangan jalan. Maju ke kanan dan kiri sama-sama terjerembab ke dalam jurang kehancuran.
Caroline telah sampai di rumahnya. Dia masuk dan menemui Mamanya yang sedang membereskan jemuran baju yang baru saja diangkatnya.
__ADS_1
"Mama, apa keputusanku masuk ke tempat lain terlalu terburu-buru?" tanya Caroline.
Veronica menoleh pada putrinya. Banyak pertanyaan yang mengganjal dipikirannnya, tetapi enggan untuk diutarakan mengingat Caroline sepertinya tidak mau bercerita padanya.
"Menurut Mama, itu sangat buru-buru. Mama tidak tahu masalah apa yang sedang kamu hadapi. Kamu juga tidak mau bercerita."
Caroline sangat khawatir jika Mamanya tahu kondisi yang sebenarnya. Dia pasti akan membenci William. Jauh dilubuk hatinya paling dalam, Caroline masih mengharap bisa bersatu dengan pria itu. Walaupun kenyataannya sangat tipis sekali.
"Ma, kalau misalnya aku membuka hati untuk Lewis, bagaimana? Apa Mama setuju?" Caroline hanya ingin persetujuan dari Mamanya untuk meyakinkan dirinya pada pria itu.
Dari awal bertemu pria itu, aku tidak suka padanya. Aku tidak tahu sebenarnya tujuan pria itu. Dia terlihat baik, tetapi ada sorot mata yang aku tidak suka padanya. Entah perasaan apa itu? Yang pasti, aku tidak suka putriku berdekatan dengannya. Walaupun ini pertama kalinya aku bertemu, tetapi aku yakin pria itu sangat tidak baik untuk putriku.
"Tidak ada gunanya kamu bertanya pada Mama. Jika Mama boleh memilih, antara William atau Lewis, Mama akan memilih William," ucap Veronica. Dia tahu, sorot mata William dari dulu selalu memancarkan keteduhan dan membuat Veronica percaya pada pria itu.
"Kalau misalnya William sudah beristri, apa yang harus kulakukan, Ma?"
Veronica menatap putrinya dengan segudang pertanyaan. Wanita itu merasa harus memecahkan teka-teki seorang diri.
"Ceritakan apa yang tidak Mama ketahui!" Veronica harus memaksa putrinya.
"Sebenarnya __" Caroline agak ragu untuk mengatakannya.
"Katakan! Jangan buat Mama semakin bersalah karena tidak mengingatkanmu," pintanya.
"William sudah menikah, Ma. Dia masih terus mengejarku. Makanya malam itu aku langsung kabur dari puncak dan kebetulan bertemu Lewis dengan tidak sengaja." Caroline akhirnya mengakuinya juga.
__ADS_1
"Kalau begitu, lupakan dia. Carilah pria lain, tetapi Mama tidak setuju jika kamu memilih Lewis. Perasaan Mama tidak nyaman pada pria itu. Kamu boleh percaya atau tidak. Malam itu, Mama yang memintanya untuk membangunkanmu. Mama tidak mau dia berusaha menggendongmu untuk masuk ke kamar. Seperti mencari kesempatan dalam kesempitan saja."
"Jadi, Mama tidak setuju aku bekerja di kantor Lewis?" tanyanya lagi.
"Apa maksudmu bekerja di kantornya?" Veronica tidak mengerti apapun rentang ucapan putrinya.
"Dia ternyata CEO-nya Augustine Group, Ma."
Veronica semakin tidak suka pada pria itu. Caroline boleh memilih siapapun asal bukan William maupun Lewis. Dari awal, Lewis sudah tidak jujur kepada putrinya. Itu juga yang membuat Veronica tidak suka padanya.
"Sudah Mama duga. Dari awal saja dia sudah berbohong. Selanjutnya, kebohongan apalagi yang diciptakan untukmu. Carilah pekerjaan ke tempat lain, atau kalau kamu merasa nyaman, kembalilah ke Austin Group. Mintalah perlindungan Tuan Darius. Pria itu sangat baik padamu. Percayalah, Mama sedang berpikir buruk tentang Lewis. Mengenai William, kamu bisa menghindarinya."
Berucap tidak semudah yang mengalami. Bagi Mamanya, menghindar adalah hal yang termudah. Namun, bagi Caroline menghindari William adalah hal yang paling sulit. Pria itu terus memojokkannya sampai Caroline kehabisan ide untuk menjauh darinya. Ditambah pertemuannya dengan istri William siang ini membuat Caroline mengeluhkan tentang kehidupannya.
"Ma, kenapa kebahagiaan tidak pernah berada dipihakku?" Caroline memeluk Mamanya.
"Sayang, bersabarlah. Kebahagiaan sedang mengejar kita. Lihat, bagaimana Mama mampu bertahan hanya berdua denganmu? Mama jauh lebih sulit menghadapi kenyataan pahit kehilangan Papamu." Veronica berusaha memberi semangat pada putrinya.
Caroline menangis. Sepertinya semua orang yang dicintainya terhempas begitu saja. Dia bahkan tidak bisa menggenggam salah satu dari mereka. Papanya maupun William, terlepas dari hidupnya secara tiba-tiba.
"Jangan menangis, sayang. Lihatlah Mama yang selalu ada bersamamu. Lepaskan mereka semua, sayang! Skenario yang sedang kita hadapi ini memang sangat menyedihkan, tetapi tidakkah kamu berpikir bahwa kehidupan kita jauh lebih baik? Lihat, kita punya rumah. Tempat ternyaman untuk berteduh. Itu hasil kerja kerasmu, sayang. Naluri seorang Mama tidak akan pernah salah untuk putrinya. Percayalah, jika William masih ditakdirkan untukmu, dia pasti akan kembali."
Veronica berusaha menjadi Mama yang bijak. Kegagalan pernikahannya tidak boleh dialami oleh putrinya. Itulah sebabnya, sampai Caroline berusia dua puluh tujuh tahun, Mamanya tidak pernah memaksanya untuk menikah. Dia membiarkan putrinya itu menentukan jalan hidupnya yang terus berada dalam pengawasannya.
🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓
__ADS_1