
Sepulang kerja, Caroline langsung masuk ke kamarnya. Kamar yang ukurannya lumayan luas dari rumah kontrakannya beberapa tahun yang lalu. Rumah yang dibelinya setelah bekerja keras di Austin Group. Selain itu, dia sering mendapatkan bonus ketika berhasil mendapatkan klien baru untuk mega proyek perusahaan itu.
Veronica, mama Caroline sudah tidak bekerja diluar rumah lagi. Dia fokus mengurus rumah baru yang dibeli putrinya dua tahun yang lalu.
Wanita paruh baya itu tidak melihat keberadaan putrinya sepulang kerja.
"Ada apa dengan gadisku itu? Tidak biasanya berlama-lama di dalam kamarnya," ucap Veronica.
Wanita itu mengetuk pintu kamar putrinya dan ingin memastikan keadaannya.
Tok tok tok.
Ceklek!
Caroline membuka pintunya.
"Mama, ada apa?" tanya Caroline yang masih memakai baju kerjanya.
"Boleh mama masuk?"
"Silakan, ma." Caroline kembali duduk di ranjang dengan perasaan tidak menentu. Dia masih teringat ciuman pertamanya dengan William. Pria itu sangat buas dan terlihat berna*su kepadanya.
"Kamu kenapa, sayang? Tumben sepulang kerja tidak keluar sama sekali. Apa ada masalah?" tanya mamanya. Wanita itu sengaja duduk diranjang menghadap putrinya.
Apa sebaiknya aku cerita sama mama jika William sudah kembali? Aku juga ingin menanyakan keputusan mama mengenai pria itu.
"William sudah kembali, ma."
Veronica memandang lekat manik mata putrinya. Ada segurat rasa kecewa yang ditunjukkan wanita paruh baya itu.
"Kamu pernah bilang ingin move on, tetapi kenapa sekarang berubah lagi?" tanya mamanya.
"Aku tidak berubah, ma. Perasaanku padanya sudah pupus beberapa tahun silam, tetapi__" Caroline memikirkan kata yang tepat untuk disampaikan pada mamanya. Dia tidak ingin mamanya tau jika pria itu tiba-tiba menciumnya.
__ADS_1
"Lalu apa yang membuatmu galau seperti ini?"
Veronica bahagia ketika putrinya memutuskan untuk melupakan pria yang sudah membantunya selama ini. Anak gadisnya itu bisa tumbuh menjadi orang yang mandiri dan bekerja keras sampai mendapatkan semua ini. Rumah, mobil, dan segala kebutuhan yang tidak pernah kekurangan.
"Perasaanku, ma," ucapnya tertunduk.
"Kamu masih mencintainya?" Selidik mamanya.
Tidak bisa dipungkiri, selama lima tahun tanpa William, Caroline merasa kesepian. Banyak lelaki yang mendekatinya, tetapi hatinya masih terpaut pada pria itu. Kalau dibilang masih cinta, memang kenyataannya demikian. Hati dan perasaannya tidak bisa dibohongi.
Caroline mengangguk. Dia tidak sanggup untuk berbohong.
"Sayang, lupakan saja! Bukankah selama ini mamanya tidak menyukaimu." Veronica ingat bagaimana gadisnya menceritakan kedatangan Nyonya Lavina beberapa kali dan dengan cara yang berbeda untuk memisahkan putri mereka dengan orang yang dicintainya.
"Hanya mamanya, ma. Tuan Darius maupun Jack baik padaku." Caroline beranjak dari ranjang menuju jendela dan membukanya lebar.
"Mama tidak berhak memaksa perasaanmu, sayang. Kalau kalian saling mencintai, mama tidak melarangnya. William pasti bisa memperjuangkanmu untuk mendekati mamanya." Veronica tidak bisa mematahkan semangat putrinya. Dia tidak ingin pernikahan yang dipaksakan sepertinya terjadi pada putri tunggalnya. Suaminya pergi meninggalkannya demi wanita lain.
"Mama setuju aku kembali pada William?" Caroline berbalik arah memandang mamanya dengan binar mata bahagia.
"Terima kasih, ma. Mama adalah orang yang selalu mendukung semua keputusanku," ucapnya.
Sebagai single parent sejak Caroline kecil, Veronica bekerja keras untuk tetap bertahan hidup dengan putrinya. Pernikahannya dengan seorang pria yang bernama Alex Ryder berhenti ditengah jalan. Saat itu, Veronica tengah mengandung keturunan Ryder, tetapi pria itu lebih memilih pergi meninggalkan Veronica. Beberapa tahun setelah kelahiran putrinya, Veronica mendapatkan surat cerai yang dikirimkan Alex Ryder.
Seharusnya sekarang putrinya bernama Caroline Ryder, tetapi ketika Veronica melahirkan, pria itu tidak tau dan tidak bertanggung jawab atas kehidupan wanita yang pernah menjadi bagian hidupnya.
"Tentu, sayang. Mama akan selalu mendukung kebahagiaanmu." Veronica melepas pelukannya. Putrinya sangat beruntung dicintai William. Berbeda dengan dirinya. Menikah dengan keluarga Ryder karena sebuah kesalahan. Veronica bukan keluarga kaya, tetapi nenek dari Alex memaksanya menikahi cucunya. Pernikahan Veronica dan Alex banyak ditentang keluarganya. Alex juga tidak pernah mencintai istrinya itu. Pria itu tetap memberikan nafkah lahir maupun batin sebagai wujud tanggung jawabnya. Setelah itu, dia ditinggal begitu saja.
"Kenapa Mama bersedih?" tanya Caroline.
"Mama hanya mengingat papamu, nak. Kamu beruntung, William sangat mencintaimu. Papamu, tidak ada sedikitpun rasa cinta untuk mama. Jika mama boleh memilih, mama akan mengejar cinta pria seperti William."
Caroline mendapatkan angin segar dari ucapan mamanya. Dia akan berjuang demi bersatu dengan cintanya. Sebenarnya Caroline penasaran dengan sosok papanya, Alex Ryder. Tetapi diurungkan niatnya. Dia takut membuat hati mamanya terluka kembali.
__ADS_1
Caroline sudah bisa tersenyum semringah. Dia merasa ciuman yang diberikan William mengatakan bahwa pria itu sangat mencintainya. Dia belum tau, jika pria itu telah menikah. Entah, apa yang akan terjadi jika kenyataan pria yang dicintainya itu telah beristri?
"Ma, sekali lagi terima kasih sudah mendukungku. Aku akan berjuang mendapatkan dirinya kembali." Caroline naik ke ranjang dan membaringkan tubuhnya di sana.
"Segera bersihkan dirimu. Mama akan menyiapkan makan malam," pamitnya. Veronica membiarkan putrinya menikmati kebahagiaannya.
Will, ciuman yang kamu berikan masih terasa dibibir dan membekas dihatiku. Mama sudah setuju jika kita menjalin hubungan lagi.
Caroline beranjak dari ranjang menuju cermin. Dia terus saja memegangi bibirnya sesekali membayangkan kejadian siang tadi.
"Rasanya aneh, Will. Tiba-tiba kamu datang setelah lima tahun tidak pernah bertemu. Kamu memberikan kejutan berupa ciuman mendadak yang membuatku merasa tidak karuan."
Setelah puas memandangi cermin, Caroline pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Jika berlama-lama di kamar, sebentar lagi mamanya akan datang menjemputnya untuk makan malam.
Caroline memakai baju yang lebih santai. Dia memakai kaos yang dulu biasa dipakai kekasihnya.
"Ini kaosmu, Will. Aku suka memakainya jika rindu padamu. Padahal lima tahun lalu, aku mengatakan putus. Sekarang aku pusing bagaimana caraku kembali padamu. Cinta memang meresahkan!" ucapnya sembari mengoles lipstik tipis di bibirnya. Berusaha menutupi sedikit memar agar tidak kelihatan. Sebelum itu, dia mengoleskan foundation pada bibirnya.
Setelah selesai, Caroline menuju ke meja makan. Di sana mamanya telah menyiapkan berbagai makanan kesukaannya.
"Kamu kelihatan makin cantik, sayang," puji mamanya.
"Hemm, mama bisa saja. Kecantikanku ini 'kan turunan dari mama," balasnya.
Caroline duduk kemudian mulai menyendok makanannya pindah ke piringnya. Dia terlihat semakin bahagia dengan kehadiran William lagi di dalam hidupnya.
"Anak mama bahagia sekali," ledek mamanya.
"Ma, aku sedang memikirkan cara untuk mendapatkan William kembali," ucapnya.
"Kalau dia mengatakan cinta, ya dijawab dengan cinta juga, sayang. Hanya seperti itu, apa harus belajar dari mama?" tanya Veronica.
"Mama lebih senior dariku."
__ADS_1
Keduanya menikmati makan malam dengan sangat bahagia. Putrinya telah membawa perubahan besar pada kehidupan Veronica.
ππππBersambungππππ