Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Kabar Perceraian


__ADS_3

Keesokan harinya, sesuai pembicaraan antara William dan Tuan Darius kemarin siang, hari ini William masuk ke kantor hanya selama Caroline cuti. Dia masih belum diizinkan untuk bertemu gadis itu.


Setelah kabar perceraiannya, William tidak tinggal lagi di apartemen, melainkan sudah kembali ke Mansion. Pagi ini, Tuan Darius sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya.


"Tumben Papa tidak memakai sopir?" tanya William. Dia diminta Tuan Darius untuk mengemudikan mobilnya.


"Mau dipakai mamamu. Biarkan saja, lagi pula kamu hari ini ke kantor, kan. Apa salahnya jika kamu yang mengemudikannya," ucap Tuan Darius.


Mereka sudah berada di dalam mobil yang akan membawanya ke kantor.


"Pa, bagaimana kita bisa menyukai orang yang sama?" tanya William penasaran. Dia menyukai Caroline dan Papanya pernah menyukai mamanya Caroline.


"Papa juga tidak tahu, Will. Mamanya Caroline memang wanita mandiri. Buktinya setelah ditinggal pergi suaminya begitu saja, dia masih bekerja dalam keadaan hamil. Papa terus terang saja kalau tiba-tiba bertemu dengan Alex, rasanya Papa ingin merontokkan semua tubuhnya. Membuatnya hancur lebur tak tersisa."


William merasa iba pada gadis itu. Semenjak dilahirkan belum pernah sekali pun bertemu dengan papanya. Dia yang memiliki keluarga utuh harusnya lebih bersyukur.


"Kira-kira kepergian papanya Caroline itu ke mana, Pa?" tanya William.


Tuan Darius tidak pernah tahu perginya pria itu. Pernikahan yang hanya bertahan beberapa tahun itu kandas begitu saja. Tuan Darius tidak pernah tahu kelanjutan hubungan antara Veronica dan Alex. Yang dia tahu hanyalah Veronica ditinggalkan pria itu dalam kondisi hamil.


"Papa tidak tahu, Will."


William semakin cepat melajukan kendaraannya. Hari ini, dia ingin cepat sampai di kantor Papanya dan duduk manis di sofa sambil sesekali membantu mengecek pekerjaan papanya.


Mobilnya mulai memasuki area parkir. Suasana masih sepi karena memang masih terlalu pagi. William mencari tempat parkir yang gampang untuk cepat keluar. Dipilihlah tempat parkir yang berada di sudut dan dekat pintu keluar.


"Will, Papa langsung ke ruangan, ya. Ada beberapa berkas yang harus diselesaikan," ucapnya. Tuan Darius tidak tahu jika hari ini Caroline sudah masuk kerja.


William pun bergegas turun. Dia mengekor dibelakang Papanya. Suasana kantor juga masih terlihat belum ramai.


Sampailah mereka di depan ruangan CEO. Tuan Darius membuka pintunya. Biasanya office boy akan membersihkan ruangannya sebelum Tuan Darius datang, tetapi pagi ini CEO paruh baya itu datang lebih awal.


Di ruangan lain, nampak Shirley baru saja datang. Di belakangnya bertepatan Caroline yang baru masuk.


"Shirley, aku tadi melihat mobil Tuan Darius sudah datang. Apa orangnya juga sudah datang, ya?" tanya Caroline.

__ADS_1


"Hemm, memangnya Tuan Darius itu pria yang suka terlambat. Tidak juga, kan," balasnya.


Ucapan Shirley benar. Dia harus secepatnya ke ruangan Tuan Darius dan meminta maaf kalau ternyata hanya mengambil cuti satu hari saja. Dia juga tidak menyampaikannya melalui pesan jika hari ini dia telah masuk.


"Kamu mau ke mana, Carol?" tanya Shirley.


"Ke ruangan Tuan Darius."


"Tunggu sebentar. Aku masih ingin menginterogasimu, Carol. Bagaimana perasaanmu hari ini? Masih terbebani dengan keputusan kemarin?" tanya Shirley.


Caroline memang sudah terlihat ceria. Dia sudah melepaskan dokter Freddy dengan ikhlas. Tidak ada raut penyesalan di wajahnya.


"Iya, Shirley. Aku baik-baik saja."


"Syukurlah kalau begitu. Masih ada rencana move on atau bertahan pada cinta lama yang tak kunjung termiliki?" tanya Shirley.


"Aku jalani saja kesendirianku. Itu lebih dari cukup untuk saat ini," jawabnya.


Caroline bergegas ke ruangan Tuan Darius. Biasanya di pagi hari, Tuan Darius meminta dibuatkan kopi olehnya.


Caroline mengetuk pintu ruangan Tuan Darius.


"Masuk!" jawab Tuan Darius.


Ceklek!


"Wi--" Hampir saja Tuan Darius keceplosan memanggil nama William. Pagi ini, Tuan Darius sengaja memintanya pergi ke pantry untuk membuatkan kopi, tetapi keterkejutan Tuan Darius melihat kedatangan Caroline membuatnya semakin bingung.


"Boleh saya masuk, Tuan?"


"Silakan, Carol. Bukankah hari ini sampai besok kamu masih cuti?" selidik Tuan Darius.


Caroline pasti marah jika melihat William di sini. Ah, aku harus bagaimana?


"Oh, soal itu, Tuan. Shirley yang memaksaku untuk masuk karena ada pekerjaannya yang tidak dipahami olehnya. Hanya sedikit, Tuan. Kalau sekadar lewat telepon, dia pusing mendengarnya," ucapnya beralasan.

__ADS_1


"Baiklah. Oh ya, berkas proyek di tangan Shirley apa sudah diserahkan padamu?" tanya Tuan Darius. Dia berusaha membuat Caroline agar lekas keluar dari ruangannya. Dia berharap agar Caroline tidak sampai bertemu dengan William. Setelah nanti William masuk, dia akan memintanya untuk lekas pulang.


"Kalau begitu aku kembali dulu, Tuan. Akan kutanyakan padanya." Caroline keluar dari ruangan Tuan Darius. Sebenarnya dia ingin masuk ke ruangannya, tetapi dia juga butuh kopi untuk semangat di pagi hari. Dia juga berencana membuatnya untuk Shirley. Caroline masuk ke pantry terlebih dahulu.


Ceklek!


Suasana pantry sedang sepi. Belum terlihat office girl lalu lalang di sana. Caroline tidak menyadari jika sebentar lagi William akan masuk. Tuan Darius memintanya membuat kopi, tetapi dia mampir dulu ke toilet.


Caroline fokus membuat dua cangkir cappucinno. Dia terbiasa merebus airnya terlebih dahulu. Dia tidak pernah mau menggunakan dispenser air panas itu. Menurutnya aroma Cappucinno-nya kurang segar.


Ceklek!


Caroline tidak menyadari jika William telah masuk.


"Tumben pantry masih sepi," gerutunya. "Kak, bisa dibuatkan dua cangkir kopi untuk Tuan Darius?"


Deg!


Suara itu? Suara yang tidak asing di telinga Caroline. Apakah dirinya sedang berhalusinasi? Caroline mencoba membalikkan badan.


"Will?" ucapnya.


William tidak menyangka jika hari ini malah bertemu Caroline. Dia merasa tidak enak harus bertemu dengan cara seperti ini.


Caroline sendiri hendak keluar dan kembali ke ruangannya. Dia merasa tidak nyaman karena keberadaan William.


"Carol, tunggu! Ada yang ingin kubicarakan denganmu," ucap William. Dia berusaha mencegah agar gadis itu tidak pergi terlebih dahulu.


Untung saja Caroline sudah mematikan kompor dan menuang airnya. Jika belum, bisa dipastikan dia akan melupakan segalanya. Caroline hampir keluar pantry. Posisinya memunggungi William, tetapi lelaki itu tidak peduli. Yang terpenting baginya adalah memberi tahu Caroline bahwa statusnya sekarang berubah.


"Tunggulah sebentar," ucap William.


Caroline berhenti. Dia seperti terhipnotis dengan suara pria itu. Dia tidak memberontak, tetapi tidak menanggapinya juga.


"Aku sudah bercerai dengan Roseanne. Aku sudah menjadi duda sekarang. Apa kamu masih menginginkanku?" tanya William to the point.

__ADS_1


Caroline tidak menjawab. Ada gelenyar aneh ditubuhnya. Antara perasaan senang dan sedih yang menderanya saat ini. Dia berusaha kembali ke meja pantry untuk mengambil nampannya yang sengaja ditinggalkan. Dia melewati William dengan tidak mengucapkan sepatah kata pun padanya. Dia langsung meninggalkan pria itu sendirian.


__ADS_2