Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Anak tak Dianggap


__ADS_3

Alex sudah menempati Mansion Darius yang sudah direbut oleh mantan istrinya. Setelah ini, Alex akan mencari keberadaan putrinya. Dia tahu kalau putrinya bekerja di perusahaan Darius. Dia ingin datang ke sana untuk menemuinya.


Alex ke sana tentunya tanpa sepengetahuan Lavina. Bisa saja wanita itu akan melarangnya untuk bertemu dengan putrinya. Dia menggunakan taksi untuk sampai ke kantor Austin. Sampai di sana, dia bertemu dengan resepsionis untuk menanyakan keberadaan gadis itu.


"Maaf, Tuan. Anda mencari siapa?" tanya Resepsionis.


"Ehm, sekretaris Tuan Darius ada?"


"Maksud Anda Nona Caroline?"


"Iya. Bisakah aku bertemu dengannya?"


"Tunggu sebentar, Tuan. Maaf, kalau boleh tahu dengan siapa, ya?"


"Katakan saja, Alex ingin berbicara," jawabnya.


Resepsionis menghubungi ruangan Caroline. Namun, gadis itu menolaknya untuk bertemu dengan Alex. Lagi pula, tidak ada hal lain lagi yang perlu dibahas dengannya. Semua sudah berakhir.


"Maaf, Tuan. Nona Caroline tidak bisa diganggu," ucap Resepsionis.


"Tolong usahakan. Ini penting sekali. Katakan kalau papanya yang datang," ucap Alex.


Resepsionis itu tentu tidak langsung percaya begitu saja karena yang dia tahu kalau Caroline hanya mempunyai seorang mama. Mamanya juga sudah meninggal, mana mungkin dia memiliki seorang papa yang menurut kabarnya, papanya sudah meninggal.


"Maaf, Tuan. Mungkin Anda salah orang. Papanya Nona Caroline sudah meninggal sejak lama."


Deg!


Bahkan semua orang mengenalnya sudah meninggal. Beginikah cerita yang dibuat Veronica pada putrinya? Mungkin saja wanita itu terlalu sakit hati dan membuat cerita bukan yang sebenarnya. Namun, Alex tidak akan menyerah. Dia akan menunggu sampai Caroline keluar untuk makan siang.


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih." Alex keluar gedung. Dia berniat menunggunya di restoran yang tak jauh dari kantor. Kalau memang masih bisa bertemu, Caroline pasti akan keluar dan mencari makan siang di restoran.


...🍓🍓🍓...


Jam makan siang telah tiba. Caroline mengajak Shirley untuk makan siang bersama. Kali ini tidak hanya berdua, melainkan dengan mengajak William.


"Shirley, makan siang di restoran ya?" ajak Caroline.


"Aku membawa bekal, Carol. Kalau makan di restoran, uangku akan cepat habis," tolak Shirley.


"Aku akan mentraktirmu."

__ADS_1


"Serius? Nanti uangmu habis, Carol. Makanku banyak sekali." Shirley tak enak hati terus menerus menerima pemberian Caroline. Ya, walaupun gadis itu rela memberikannya.


"Aku akan meminta uangnya pada William. Ayolah, Shirley! Aku bersama William juga. Please, jangan tolak!"


"Baiklah."


Caroline dan Shirley berjalan berdua. Di depan ruangan Tuan Darius, keduanya bertemu dengan William yang baru saja keluar.


"Sudah siap?" tanya William.


"Iya, Tuan Will. Kami siap untuk makan gratis," canda Shirley.


"Jangan seperti itu, Shirley. Kita makan bersama dan tidak ada namanya makanan gratis. Anggap saja kamu sedang beruntung telah menjaga calon istriku dengan baik."


Restoran terlihat sangat ramai sekali. Tak heran, jam makan siang banyak karyawan kantor yang keluar dan mencari makan siang di tempat ini. Restoran yang letaknya strategis di kelilingi gedung bertingkat yang memiliki banyak karyawan.


"Kamu mau makan apa?" tanya Caroline.


"Apa saja. Mungkin pesan sama sepertimu," balas Shirley.


"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Caroline pada William.


"Samakan saja." William hendak ke toilet untuk beberapa saat.


"Putriku," ucap Alex.


Caroline melihat sejenak wajah pria paruh baya yang tiba-tiba datang dan menemuinya.


"Maaf, mungkin Anda salah orang," tolak Caroline.


"Carol, jangan seperti itu. Izinkan aku berbicara denganmu sebentar saja," pinta Alex.


"Maaf, Tuan. Kami sedang makan siang dan Anda sudah mengganggunya," jawab Caroline.


"Tolong, izinkan aku berbicara sebentar denganmu." Alex terus saja memaksa sampai William kembali.


"Ada apa ini, Carol?" tanya William.


"Pria ini memaksaku untuk berbicara. Aku tidak mau, Will. Dia terus saja memaksanya," jelas Caroline.


Shirley tidak berani mengatakan apapun karena itu bukan urusannya. Dia cukup menjadi penonton dan pendengar yang baik.

__ADS_1


"Berbicaralah sebentar dengan papamu, Carol. Setelah ini terserah padamu," usul William.


"Baiklah."


Caroline mengikuti kemanapun Alex mengambil tempat duduk. Pria itu mempersilakannya dan memintanya untuk memesan makanan.


"Duduk dan pesanlah makanan!" ucap Alex.


"Terima kasih, Tuan. Aku sudah memesannya di mejaku. Katakan secepatnya, aku tidak punya banyak waktu," pinta Caroline.


"Sebelumnya aku meminta maaf padamu, Caroline. Meninggalkan mamamu adalah kesalahan yang sangat fatal. Namun, aku akan bertanggung jawab padamu kali ini," ucap Alex.


Caroline meradang. Bisa-bisa pria itu seenaknya akan bertanggung jawab setelah puluhan tahun membuat mamanya menderita. Setelah kepergian mamanya dia datang dan memberikan tanggung jawab. Terdengar sangat tidak adil jika Caroline menerimanya begitu saja.


"Maaf, Tuan. Anda salah orang rupanya. Kenapa baru sekarang Anda datang dan menemuiku?" Mata Caroline mulai berkaca-kaca, tetapi dia tidak boleh menangis di hadapan pria yang sudah membuat mamanya menderita. Dia harus tetap tegar.


"Ada alasan yang tidak bisa kuungkapkan padamu, Caroline. Maafkan papa." Alex tertunduk. Dia memang salah besar dalam hal ini. Dia lebih memilih orang lain daripada istrinya yang sedang hamil.


"Kalau begitu kita sama, Tuan Alex. Aku juga punya alasan penting untuk menolakmu. Jadi, biarkan aku kembali ke meja. Mungkin makan siangku sudah datang. Aku sangat kelaparan, Tuan. Meladeni Anda membuatku sangat lapar."


"Tunggu, Carol! Kita bisa bicara antara papa dan anak di sini. Apakah kamu akan menikah?" selidik Alex. Dia tahu kalau Caroline akan menikah dengan William dalam waktu dekat. Itu juga didapat dari Jack.


"Bukan urusan Anda, Tuan."


"Ayolah, Carol! Kumohon," rayu Alex pada putrinya.


"Anda tidak seharusnya bersikap seperti ini padaku, Tuan Alex. Bukankah Anda sendiri yang tidak pernah menganggap keberadaanku?"


Deg!


Inilah yang ditakutkan Alex sejak awal. Tapi mau bagaimana lagi? Dia tetap harus bertanggung jawab atas putrinya. Dari tempat lain, seseorang merasa geram pada pertemuan ini. Caroline lekas kembali kepada William dan Shirley.


"Bagaimana, sayang?" tanya William.


"Aku malas meladeninya, Will. Bukankah keberadaanku tidak pernah dianggap sama sekali? Untuk apa dia akan bertanggung jawab padaku. Aku bisa menghidupi diriku sendiri."


"Sudah, lupakan saja. Sekarang makanlah! Keburu dingin makanannya," ucap William.


Caroline sebenarnya malas sekali untuk makan karena pertemuannya barusan dengan pria yang masih ada hubungan darah dengannya. Namun, kalau dia mengabaikan makan siangnya, sama saja menyakiti dirinya sendiri.


"Shirley, maaf aku meninggalkanmu terlalu lama," ucap Caroline.

__ADS_1


"Tidak masalah, Carol. Lanjutkan lagi makanmu." Shirley memainkan ponselnya.


William memandangi calon istrinya yang terlihat sangat kesal itu. Tak lama, makan siang Caroline berakhir. Itupun dia memakannya secara terpaksa karena sudah tidak berselera lagi. Dia tidak berharap kalau papanya kembali. Dia cukup sadar diri menjadi anak yang tidak pernah diharapkan kehadirannya. Tentu saja membuat Caroline sangat anti terhadap Alex.


__ADS_2