Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Akhir Yang Bahagia


__ADS_3

Alex pulang ke Mansion. Dia tidak menyadari kalau istrinya itu mengikuti ke mana pun dia pergi. Sementara pengobatan Jack sudah berjalan dengan baik. Pria itu sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Namun, dia tidak berhak mencampuri urusan orang tuanya.


Mengenai Roseanne, Jack sudah tidak mengetahuinya lagi. Wanita itu menghilang bak ditelan bumi. Untung saja Jack tidak pernah mencarinya lagi. Mungkin wanita itu pergi karena melihat keluarganya yang sudah porak-poranda.


Alex baru saja mendaratkan tubuhnya di sofa ruang tamu Mansion. Kehidupannya sekarang mengandalkan kekayaan istrinya. Dia tidak bekerja lagi.


"Kamu dari mana?" tanya Lavina.


"Jalan-jalan," jawab Alex.


"Jalan-jalan atau bertemu anakmu, hah? Aku tidak suka lagi kalau kamu menemuinya."


Lavina tidak bisa menerima kenyataan bahwa suaminya malah mencari anak dari mantan istrinya yang sudah tiada.


"Kamu tidak berhak melarangku," jawab Alex.


Tentu saja Lavina semakin murka. Pria yang sudah menjadi suaminya itu berani melawannya. Hal itulah yang membuat Lavina semakin membenci Caroline. Bahkan, sebenarnya wanita paruh baya itu enggan menyetujui pernikahan putranya dengan gadis itu.


...❣️❣️❣️...


Hari H pernikahan yang sudah ditentukan tanggalnya, di rumah Caroline terlihat sangat sibuk. Semua pelayan dan penjaga rumah disibukkan dengan urusan dekorasi dan jamuan makan pasca pernikahan. Semua itu dilakukan oleh seluruh anggota keluarganya.


Caroline sedang di rias di dalam kamarnya. Dia ditemani Shirley, rekan kerjanya.


"Carol, akhirnya kamu menikah juga, ya? Wah, aku tidak menyangka kesabaran cintamu berbuah manis. Setelah ini apakah kamu masih bekerja di perusahaan Tuan Darius?"


"Entahlah, Shirley. Aku harus menanyakannya pada William."


Bibi Fidela menemui Caroline yang masih menyelesaikan make up nya. Gaun pengantinnya juga sangat indah.


"Non, Tuan Darius dan Tuan William sudah hadir. Petugas pencatat pernikahan juga sudah datang."


"Terima kasih, Bi."


Caroline menggenggam erat tangan Shirley. Dia berharap mendapatkan kekuatan lebih darinya.


"Semangat, Carol. Aku mendukungmu."


Caroline dan Shirley menuju ke halaman. Tempat di mana akan dilangsungkan pernikahannya yang hanya disaksikan kedua keluarga. Dia ingin membagi kebahagiaannya dan melupakan papanya.

__ADS_1


"Sayang, kamu cantik sekali," puji William.


"Terima kasih, Will."


"Papamu datang?" tanya William lagi.


"Aku tidak ingin melihatnya di sini. Cukup sudah menyakiti mamaku."


"Tidak bisa seperti itu, Carol. Papa sudah meminta Jack untuk membawa Tuan Alex ke sini. Ini hari bahagiamu. Berdamailah dengan keadaan dan selalu berbahagia," sahut Darius.


Kalau Tuan Darius sudah memberikan nasihatnya, Caroline tidak bisa menolaknya. Dia harus bahagia seperti calon suaminya.


Tak lama, Jack dan Alex datang. Dia naik taksi online. Darius berpesan agar mantan istrinya tidak tahu ke mana perginya. Jack mendekati Darius kemudian memeluknya.


"Pa, terima kasih kamu mau menerimaku lagi. Aku sudah mengikuti semua permintaanmu," ucap Jack pada Darius.


"Alex, temui putrimu. Jadilah saksi kebahagiaannya, walaupun dia masih belum bisa menerima kenyataan ini," ucap Darius.


"Terima kasih, Darius."


"Jack, temui juga adikmu. Bagaimana pun, dia masih berhubungan darah denganmu," pesan Darius pada Jack.


Caroline juga memberikan pelukan hangat kepada papanya. Dia tidak bisa menghapus kenyataan itu, tetapi dia bisa mengubur dalam masa lalunya. Mungkin hanya sebentar, setelah ini dia akan hidup berbahagia dengan William.


"Terima kasih. Papa sudah menyempatkan hadir di acara pernikahanku. Setidaknya aku memberimu kesempatan sebelum tante Lavina akan semakin membencimu," ucap Caroline.


"Jangan khawatir, Carol. Mama sekarang menjadi urusanku. Kamu adikku dan berhak hidup bahagia. Kakakku pasti akan membahagiakanmu," sahut Jack.


"Terima kasih, Kak. Rupanya selama ini kita masih berhubungan darah." Caroline sangat bahagia. Di hari bahagianya bisa bertemu orang-orang yang menjadi keluarganya.


William mendekati istrinya. Dia memeluk pinggang gadis itu. Rasanya kebahagiaan tiada henti sedang dirasakannya. Dia juga menerima ucapan selamat dari adiknya, Jack dan juga papa Alex.


"Selamat ya, Will. Akhirnya kamu bisa menikahi adikku," ucap Jack.


"Terima kasih, Jack. Bagaimana aku memanggilmu? Adik atau kakak ipar?" canda William.


Secara hubungan darah, Jack memang adiknya. Kalau hubungan kekerabatan, Jack merupakan kakak Caroline beda ibu. Rasanya lingkaran kehidupan mereka saling terhubung.


"Will, aku menitipkan putriku padamu. Bahagiakan dia. Aku sudah menyakitinya terlalu lama." Alex memang menyesal, tetapi semuanya sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Veronica juga sudah tiada.

__ADS_1


"Tentu saja, Alex. Putraku sangat mencintai putrimu sejak lama. Dia bahkan telah melalui beberapa proses sampai bisa bersama. Rasanya aku hampir tidak percaya. William dan aku mencintai orang yang saling terhubung. Kamu tak perlu cemburu. Ini hanya masa lalu. Fokusmu sekarang, jaga Jack dan Lavina dengan baik. Aku dan William akan menjaga Caroline dengan baik," jelas Darius.


"Terima kasih sudah menjagaku dengan baik. Aku sangat beruntung dikelilingi pria seperti kalian," ucap Caroline.


"Carol, ayo berfoto bersama. Aku siap menjadi fotografer dadakan," teriak Shirley membuyarkan obrolan mereka.


Mereka bergantian untuk foto bersama. Setelah William dan papanya, kini berganti Jack dengan Alex. Setelah itu giliran Bibi Fidela, Tansy, dan Hoshi. Semuanya bersuka cita. Sekarang giliran Shirley yang berfoto bersama pengantin barunya. Tak ada jarak di antara mereka. Walaupun Shirley hanya rekan kerja, tetapi gadis itu sudah dianggap seperti keluarga oleh Caroline.


Selesai berfoto bersama, dilanjutkan acara makan bersama. Di situlah kebahagiaan semakin terpancar. Caroline sekarang memiliki keluarga yang semakin lengkap walaupun tanpa mamanya.


"Sayang, bagaimana perasaanmu?" tanya William.


"Bahagia sekali, Will. Aku tidak menyangka kalau keyakinanku selama ini berbuah manis. Mencintaimu ternyata adalah hal yang paling sulit kulakukan," jelas Caroline.


"Kenapa sulit?"


"Banyak rintangan yang harus kuhadapi. Kita juga pernah berpisah terlalu lama. Kamu sempat menikah, tetapi aku berusaha bertahan untuk mencintaimu."


Kisah cinta William dan Caroline terlihat sangat rumit. Masa lalu orang tuanya telah membawanya pada cinta sejatinya. Perjalanan yang tidak begitu mudah menurutnya.


"Non Carol, Bibi sudah siapin kue tart. Kalian bisa potong kue bersama. Sebagai lambang kebahagiaan kalian berdua," ucap Bibi Fidela.


Acara potong kue berlangsung semarak. Kebahagiaan baru menyelimuti keluarga ini. Darius lega melihat kebahagiaan putranya. Hal yang paling di tunggu dalam acara pernikahan ini adalah pelemparan buket bunga. Di sana hanya ada dua orang yang saling memperebutkan. Siapa lagi kalau bukan Jack dan Shirley. Shirley memang menyukai Jack. Entah itu masih dirasakan gadis itu sampai sekarang atau sudah melupakannya.


"Ayo Jack, siap-siap!" teriak William. Dia pendukung adiknya, sementara istrinya menyuruh Shirley untuk menjadi pesaingnya.


"Ayo, Shirley! Jangan mau kalah!" teriak Caroline.


"Satu."


"Dua."


"Tiga."


Teriak mereka bersama-sama. Jack dan Shirley saling berebut. Rupanya bunga itu mereka dapatkan bersamaan. Semua orang yang ada di sana bersorak menggoda keduanya.


Perjuangan cinta William dan Caroline berakhir di pelaminan. Keduanya saling mencintai dan menyayangi sampai akhir hayat. Kekuatan cinta mereka tidak diragukan lagi.


...END...

__ADS_1


__ADS_2