Gelora Cinta Yang Sama

Gelora Cinta Yang Sama
Pria Aneh


__ADS_3

Caroline bergegas kembali ke ruangannya. Dia merasa ada kesempatan untuk mendapatkan William lagi. Dia akan mengatakan hal ini pada Shirley dan meminta pendapatnya.


Rasanya seperti mimpi bertemu lagi dengannya. Beberapa bulan kehilangan sosok yang dicintainya dan hari ini bertemu lagi. Rasanya sangat luar biasa.


Ini sangat gila. Kenapa wajahnya membuatku semakin tertarik? Biarlah aku tidak bisa move on darinya, memang kenyataannya aku tidak bisa untuk berhenti mencintainya.


Caroline meletakkan nampan kecil di mejanya. Sesaat dia terdiam untuk mencerna kejadian barusan. Antara mimpi dan kenyataan bersatu.


"Carol, kamu kenapa?"


"Eh, aku tidak apa-apa, Shirley. Oh ya, ini kopi untukmu," ucapnya. Caroline membiarkan temannya untuk mengambil kopinya sendiri.


"Terima kasih, Carol. Kamu baik sekali," pujinya.


"Shirley, boleh aku katakan sesuatu padamu?" tanya Caroline. Dia tidak sanggup menyimpannya seorang diri.


"Hemm, katakan saja," ucap gadis itu seusai menyeruput sedikit kopinya yang masih panas itu.


"Shirley, kalau semisal Tuan William sudah menjadi duda, apa kamu akan mendukungku untuk bersamanya?"


Sebelum berkomentar, gadis itu meletakkan cangkir kopinya terlebih dahulu. Dia takut khilaf kalau terkejut karena bisa berakibat fatal. Cangkir pecah, misalnya. Itu tidak ingin terjadi di dalam ruang kerjanya.


"Katamu mana mungkin Tuan William bercerai dengan istrinya? Sekarang pertanyaanmu aneh seperti itu," protes Shirley.


"Aku barusan bertemu dengannya."


"WHAT?" teriak Shirley. Gadis itu benar-benar terkejut.


"Sssttt! Jangan keras-keras. Aku khawatir kalau orangnya kebetulan lewat sini dan mendengar pembicaraan kita," protes Caroline.


Shirley terdiam. Ucapan Caroline benar juga. Dia harus menjaga sikap untuk tidak berlebihan walaupun di dalam ruangannya sendiri.


"Maaf, Carol. Aku terkejut," ucapnya.


"Baiklah, tak masalah. Lain kali jangan seperti itu."


"Ceritakan apa yang tidak kuketahui?" tanya Shirley.


"Will sudah bercerai dengan istrinya."


Shirley membekap mulutnya sendiri. Dia sangat terkejut dengan berita tersebut. Kali ini Caroline benar-benar membuatnya syok.

__ADS_1


"Kalau begitu kita bersaing untuk mendapatkan Tuan Will," canda Shirley.


"Ish, kenapa malah kamu mengejarnya?" tanya Caroline penasaran.


"Kan Tuan Will sudah menjadi duda. Sah saja kalau aku mau mengejarnya," canda Shirley lagi. Dia hanya menggoda rekan kerjanya itu.


"Kamu setuju kalau aku mengejarnya lagi?"


Shirley hanya mengangguk tanda setuju. Tidak ada alasan untuk move on jika status pria itu sudah berubah.


"Terima kasih, Shirley. Aku sangat senang sekali," jawab Caroline. Dia menghambur ke gadis itu untuk memeluknya. Tak lama, Caroline melepasnya lagi. "Maaf, Shirley. Aku melupakan permintaan Tuan Darius. Dia meminta berkas proyek yang ada padamu."


Kini Shirley yang semakin pusing. Pasalnya tidak ada berkas apapun yang sangat penting dan sedang dikerjakannya saat ini.


"Tidak ada berkas yang diminta Tuan Darius lagi. Semua sudah kuserahkan padanya, Carol," ucap Shirley.


Apa mungkin sebenarnya Tuan Darius sengaja melakukan itu agar aku tidak bertemu dengan putranya?


"Hemm, baiklah. Mungkin lupa juga. Aku akan ke sana sebentar dan menyampaikan kalau sudah tidak ada berkas lagi yang harus diberikan padanya."


"Kamu yakin akan masuk ke sana lagi? Bagaimana kalau ada Tuan Will di dalam sana?"


Sepertinya Caroline sudah tidak mengindahkan ucapan Shirley. Dia bergegas menyampaikan pada Tuan Darius. Keburu pria itu yang akan mengejarnya.


"Masuk!" ucap Tuan Darius.


Ceklek!


Caroline berusaha biasa saja menghadapi Tuan Darius. Di dalam sana memang William sedang duduk di sofa sedang menikmati secangkir kopi.


"Maaf, Tuan. Berkas yang Anda minta rupanya sudah tidak berada di tangan Shirley lagi," ucap Caroline.


"Oh, iya. Maafkan aku, Carol. Beberapa hari yang lalu dia sudah memberikannya padaku." Tuan Darius mengambil beberapa berkas kemudian menyerahkannya pada Caroline. "Minta Shirley untuk membuat surat kontrak kerjanya."


Caroline menerimanya kemudian langsung keluar ruangan itu. "Terima kasih, Tuan."


...***...


Siang ini, Caroline sengaja keluar makan bersama Shirley. Rasanya aneh harus makan di dalam pantry. Dia belum ingin bertemu dengan William lagi.


"Kamu mau makan di mana, Shirley?"

__ADS_1


"Restoran dekat BANK di depan sana," ucapnya. Dia sengaja memilih tempat yang tidak jauh dari kantornya supaya bisa lebih lama untuk makan dan bersantai di sana.


"Jalan kaki atau pakai mobil?" tawar Caroline.


"Pakai mobil saja, ya. Lagi pula tidak terlalu memutar juga, kan?" ajak Shirley.


"Baiklah," balas Caroline.


Shirley terbiasa naik taksi. Terkadang Caroline tidak tega dan mengantarnya pulang. Keduanya sudah berada di dalam mobil untuk menuju restoran terdekat.


"Rasanya takdir seperti mempermainkanku, Shirley," ucapnya.


"Bukan takdir yang mempermainkanmu, Carol. Memang jalan hidupmu yang seperti itu. Kalau misalnya Tuan Will melamarmu, apakah akan langsung kamu terima?"


Pertanyaan ini membuat Caroline ragu. Walaupun statusnya tak lagi menjadi masalah, tetapi masalah yang sebenarnya ada pada mamanya William.


"Aku tidak tahu, Shirley. Mungkin aku ingin menerimanya, tetapi mamanya Will tidak akan pernah merestuiku," ucapnya sendu.


Jarak restoran dengan kantornya tidak terlalu jauh sehingga mobilnya cepat sampai di area parkir. Keduanya langsung turun untuk segera masuk dan memesan makanan.


Hampir mencapai ruangan restoran, tak sengaja Caroline ditabrak oleh seorang pria dan langsung memaki gadis itu. Padahal jelas-jelas pria itu yang salah.


"Kalau jalan pakai mata! Apa orang tuamu tidak mengajarkan sopan santun untuk meminta maaf?" hardik pria itu.


Hal itu membuat Caroline sedikit terkejut. Dia bahkan memandang lekat kepada pria itu dan ada rasa kasihan padanya.


"Maaf, Tuan. Seharusnya Anda yang meminta maaf karena di sini Anda yang tidak sengaja menabrakku. Apakah aku perlu minta maaf kepada Anda?" balas Caroline.


Mungkin bagi pria itu, Caroline adalah wanita lemah yang bisa dituduh sesuka hatinya.


"Apakah mamamu tidak pernah mengajarkan sopan santun padamu, hah?"


Rasa sakitnya semakin menjalar ketika pria itu menyebut mamanya. Caroline lebih baik menghindar daripada tidak sanggup untuk menahan air matanya. Shirley yang berada di belakangnya otomatis reflek untuk memarahi pria itu.


"Lain kali Tuan yang harus hati-hati. Temanku itu berjalan di posisi yang benar. Andalah yang bersalah di sini," balas Shirley.


"Ck, kamu dengannya tak ada bedanya. Dasar gadis tak tahu sopan santun," bentaknya. Pria itu langsung pergi dari restoran setelah membuat keributan sesaat.


Caroline sudah duduk di kursi kemudian disusul Shirley. Gadis itu sepertinya juga sama kesalnya.


"Aku heran, pria tua macam apa itu? Dia yang salah, dia juga yang menyuruh meminta maaf. Dasar pria tua gila!" gerutu Shirley.

__ADS_1


"Lupakan. Aku malas mendengar ucapannya yang menyakitkan itu. Sepertinya sudah terbiasa untuk menyakiti orang. Lebih baik kamu memesan makanan sekarang. Kalau tidak, kita bisa terlambat kembali ke kantor." Caroline mengingatkan Shirley.


Gadis itu langsung memesan dua makanan yang sama. Selera Caroline dan dirinya tidaklah sulit. Hanya beberapa menit saja, makanan itu datang. Keduanya langsung menikmatinya.


__ADS_2