
William beristirahat di kamarnya. Dia sengaja tidak mengunci pintu karena Caroline pasti akan mencarinya jika terlambat bangun.
William merebahkan diri di ranjang yang tidak terlalu besar, tetapi sangat nyaman. Apalagi hawa Villa yang mendukung, membuatnya tak perlu lagi menggunakan pendingin ruangan.
Satu jam telah berlalu. William masih tertidur dengan pulas. Sementara di kamar Caroline, gadis itu sedang bersiap untuk pulang ke kota. Dia mengecek beberapa barang yang akan dimasukan ke dalam koper.
"Selesai dan semuanya beres," ucapnya.
Caroline bergegas pergi ke kamar William untuk meminta pria itu secepatnya berangkat ke kota supaya tidak terlalu malam.
Tok tok tok.
Caroline mengetuk pintu kamarnya, tetapi belum ada jawaban. Dia mencoba mengetuknya lagi.
Tok tok tok.
Ketukan kedua juga tidak ada jawaban. Caroline memberanikan diri untuk masuk dan membangunkan pria itu.
Ceklek!
Pria itu tertidur sangat pulas sekali. Pantas saja dua kali ketukan dia tidak menjawabnya. Caroline berusaha mengguncang tubuhnya agar dia bangun.
"Will, bangun!"
Pria itu masih dalam mimpi indahnya. Guncangan pertama gagal. Dia mencoba lagi yang kedua kalinya. William langsung menarik Caroline ke dalam pelukannya. Ternyata pada guncangan pertama, William telah bangun.
"Will, lepaskan! Jangan seperti ini. Kamu menyakitiku," protes Caroline.
Pria itu tidak menggubrisnya. Dia sudah tergila-gila pada Caroline terlalu lama. Dia sudah tidak kuat memendam perasaannya terlalu lama.
William langsung mendaratkan ciumannya pada bibir Caroline. Gadis itu memberontak sekuat tenaga, tetapi tetap saja dia masih kalah dengan William. Dia pasrah menikmati permainan gila pria itu.
William memberikan tanda kepemilikan di leher jenjang Caroline. Dia mulai mengabsen inci demi inci apa yang dimiliki gadis itu walaupun sebenarnya dia sudah memberontak. Cakaran demi cakaran sudah dirasakan William. Puncaknya, Gadis itu kemudian mendorong dengan kasar tubuh pria yang sempat menindihnya itu.
Bruk!
William terdorong ke tepian ranjang dan sempat terbentur. Caroline bergegas bangun dan meninggalkan kamar itu dengan deraian air mata. Secepatnya dia mengambil kopernya dan pergi dari Villa itu.
William baru menyadari kekeliruannya. Perasaannya yang terlalu bergelora membuatnya harus melakukan tindakan nekat itu. Sekarang, dia kehilangan Caroline untuk ketiga kalinya.
"Sial! Aku terlalu bersemangat untuk mendapatkannya sampai aku lupa cara untuk membuatnya luluh. Kalau seperti tadi, rasanya dia akan menjauhiku dengan cepat." William bergegas mengemas barangnya ke dalam koper.
__ADS_1
Setelah koper dan beberapa barangnya tidak ada yang ketinggalan, William menyerahkan kunci Villa pada penjaganya.
"Loh, bukankah ini masih ada dua hari lagi, Tuan?" Penjaga itu bingung karena terlalu cepat penyewa menyerahkan kuncinya.
"Ada perubahan jadwal dari perusahaan, Pak," ucap William.
William secepatnya mengemudikan mobilnya dan mencari keberadaan Caroline. Gadis itu pasti sudah kabur entah kemana.
Kawasan puncak di sore hari masih terlihat ramai. William akan sangat sulit menemukan keberadaan Caroline.
Sementara di tempat lain, dengan susah payah Caroline mencari tumpangan ke kota. Dia tidak ingin bertemu lagi dengan William. Pria itu sudah berubah menjadi orang yang kasar.
Ketika hendak menyeberang, dia hampir saja tertabrak sebuah mobil.
Citttt!
Untung saja pengemudi mobil itu segera mengerem dengan sigap. Tabrakan bisa dihindarkan. Pengemudi itu langsung turun dan menemui perempuan yang hampir ditabraknya.
"Nona baik-baik saja?" tanya pria itu.
Caroline masih merasa syok dengan dua kejadian yang hampir bersamaan. Pertama, William hampir memerkosanya. Kedua, dia hampir tertabrak mobil.
"Minumlah! Maaf, aku hampir saja membuatmua celaka," ucapnya.
Caroline menerima botol itu dan meminumnya dengan segera. Jantungnya berpacu dengan sangat cepat.
"Terima kasih," balas Caroline.
"Kalau boleh tau, kamu mau kemana? Kenapa berada di sini dengan membawa koper seperti itu?" tanya pria itu.
"Maaf, Tuan. Aku mau mencari tumpangan ke kota. Aku ketinggalan bus rombongan yang membawaku," Caroline berbohong. Dia tidak ingin pria itu tau masalah yang menimpanya. Lagipula dia hanya orang lain yang kebetulan lewat.
"Ternyata kejadian ini membawa berkah untukmu. Aku tak sengaja hampir menabrakmu. Kebetulan aku baru saja berlibur dan harus kembali ke kota secepatnya. Kamu bisa naik mobilku. Aku akan mengantarkanmu sampai rumah," ucap pria itu.
"Terima kasih, Tuan." Caroline telah setuju untuk naik mobil pria asing itu.
Pria itu membantu Caroline memasukkan kopernya ke dalam bagasi.
"Duduklah di depan. Kamu jangan khawatir, aku bukan pria jahat," ucapnya.
Dengan telaten, pria itu membukakan pintu depan untuk Caroline. Gadis itu secepatnya naik. Dia tidak ingin William menemukan keberadaannya.
__ADS_1
Setelah semua siap, pria itu mulai mengemudikan mobilnya. Perlahan namun pasti, Caroline terlepas dari jeratan William yang gila itu.
"Perkenalkan namaku Lewis. Siapa namamu?"
Caroline menengok sekilas. Wajah Lewis hampir ada kemiripan dengan William. Sepertinya Caroline sangat trauma pada pria itu sampai melihat Lewis seperti melihat dirinya.
"Kenapa tidak menjawabnya? Apa karena aku terlalu tampan?"
"Oh, maaf. Hanya terlihat mirip saja dengan seseorang. Oh ya, aku Caroline. Kamu bisa memanggilku, Carol."
"Sepertinya kita berjodoh," goda Lewis.
Caroline hanya tersenyum mendengar candaan Lewis. Sepanjang perjalanan, perasaan Caroline sangat lega. Lewis pria yang baik.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Caroline.
"Iya, aku menemukanmu seperti menemukan bidadari di tengah jalan."
Caroline dan Lewis tertawa. Canda pria itu mampu melupakan sejenak masalah yang dihadapinya. Setidaknya, Caroline juga harus memikirkan hari esok harus bagaimana? Dia secepatnya akan mengajukan resign di perusahaan Austin Group. William bisa saja berulah seperti tadi. Itu sangat mengerikan untuk Caroline.
"Hei, kenapa kamu terdiam? Apa bercandaku tidak lucu?" tanya Lewis.
"Bukan begitu, Tuan. Aku hanya sedang memikirkan pekerjaan saja. Aku mau mengajukan resign dan mencari tempat kerja baru," ucap Caroline terlihat sangat sedih.
"Memangnya kamu bekerja sebagai apa?" tanya Lewis.
Aku tidak boleh berkata jujur jika sebenarnya aku adalah sekretaris Austin Group. Lebih baik aku berbohong saja.
"Office Girl," jawabnya.
Lewis tertawa mendengar jawaban Caroline.
"Aku heran sama kamu. Lebih heran lagi kalau aku tau siapa HRD yang mempekerjakan kamu. Perempuan secantik dan seanggun kamu dijadikan Office Girl, lebih baik aku memecat langsung HRD sepertinya. Kamu cocoknya menjadi sekretaris. Kecantikan oke, terlihat smart juga, dan tidak pantas menjadi Office Girl."
Caroline terdiam. Lewis sepertinya bukan orang biasa. Dia bisa membaca karakter seseorang hanya dengan melihat wajahnya.
"Sudahlah, lupakan kata-kataku barusan. Aku terlalu bersikap berlebihan padamu," ucap Lewis.
Apa aku meminta bantuannya untuk mencarikan pekerjaan lagi, ya? Daripada aku harus kembali ke Austin Group. Lama-lama aku bisa kehilangan harga diriku di sana.
🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝
__ADS_1