
Caroline ditemani dokter Freddy, Tuan Darius, dan William pada saat pemakaman Mamanya. Dokter Freddy terus saja berada di samping gadis itu yang membuat William merasa cemburu. Baru kali ini, dia merasakan cemburu teramat sangat melihat kedekatan yang tidak biasa antara Caroline dan dokter Freddy.
"Carol, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Mamamu pasti sangat sedih jika melihatmu seperti ini," ucap dokter Freddy setelah pemakaman selesai.
"Baru beberapa jam yang lalu aku berbincang dengannya, dokter. Sekarang dia sudah pergi jauh dariku," ucapnya sesenggukan. Dia tidak mampu membendung air matanya ketika memulai proses pemakaman sampai selesai.
"Luapkan semuanya. Jangan kamu pendam, tetapi ingat untuk tidak terlalu lama larut dalam kesedihan. Kesehatanmu jauh lebih penting dari apapun," ucap dokter Freddy.
William jelas saja cemburu. Dokter Freddy baru berumur empat puluh tahun. Kecerdasan dan kharismanya sangat terlihat. Jauh berbeda dengannya yang terkadang masih kenakan-kanakan.
Tuan Darius sejak tadi mengamati tingkah putranya. Dia tidak berani berkomentar apapun. Pria itu lebih memilih untuk segera pulang dari pada melihat pemandangan yang sangat menyedihkan itu.
"Will, sebaiknya kita pulang saja. Biarkan dokter Freddy menghibur Caroline terlebih dahulu. Dia butuh teman untuk mengobrol," ucapnya.
"Tapi, Pa. Aku__"
"Lupakan saja dulu. Dia masih berduka." Tuan Darius mengingatkan.
William kali ini harus mengalah. Walaupun ini terlihat sangat cepat, dia masih ada urusan untuk membereskan Roseanne sebelum mengejar cinta Caroline kembali. Jangan sampai dia didahului oleh dokter Freddy.
"Caroline, kami pamit pulang dulu, ya. Kami turut berduka cita atas kepergian Mamamu," ucap Tuan Darius.
Caroline menghapus air matanya. Dia sebenarnya tidak sanggup untuk mengatakan ini di depan William. Mengingat pesan terakhir Mamanya untuk kembali ke Austin Group jauh lebih penting dari apapun.
"Terima kasih, Tuan. Secepatnya aku akan kembali ke Austin Group," ucapnya.
"Jangan terburu-buru, lagipula kamu sedang berduka. Aku akan menunggumu sampai kamu siap," balas Tuan Darius.
William terdiam. Harapannya pada Caroline sangat besar. Apalagi Papanya. Pria paruh baya itu sangat berjuang untuk mendapatkan kembali Caroline.
Setelah kepergian dua orang itu, tinggalah dokter Freddy dan Caroline.
"Mari kuantar pulang. Sudah menjelang petang, sebaiknya kamu beristirahat di rumah saja," ucap dokter Freddy.
__ADS_1
"Aku kesepian, dokter. Mama tidak ada. Aku takut sendirian."
Dokter Freddy berusaha menyentuh pipi gadis itu, tetapi diurungkannya. Sangat tidak pantas untuk bermesraan di depan makam Mamanya.
"Malam ini aku yang akan menemanimu," ucap dokter Freddy.
Caroline tidak menolak. Dia sudah mengenal dokter Freddy cukup lama. Dia pria yang baik menurutnya. Apalagi Caroline juga tahu, pria itu belum menikah dan tidak memiliki seorang kekasih. Dia terlalu fokus untuk bekerja di rumah sakit.
"Terima kasih, dokter." Caroline meninggalkan pemakaman. Dia pulang bersama dokter Freddy. Pria empat puluh tahun itu memperlakukan Caroline dengan sangat baik.
"Duduklah di depan," pintanya.
"Terima kasih, dokter," balas Caroline.
Sepanjang perjalanan, Caroline nampak diam. Dia belum bisa menerima kenyataan pahit ini atas kepergian Mamanya. Banyak pesan Mamanya yang harus dijalankan. Termasuk mencari pelayan dan penjaga rumah.
"Carol, jangan diam seperti itu! Aku seperti membawa patung saja," goda dokter Freddy.
"Apa yang Mamamu katakan? Mungkin aku bisa membantu," jawab dokter Freddy yang sedang fokus mengemudi.
"Mama memintaku untuk mencari pelayan dan penjaga rumah agar aku tidak kesepian. Apa dokter bisa membantuku?" Caroline menoleh sejenak pada pria itu. Pria yang berhati malaikat menurutnya.
"Iya, aku siap membantumu."
Dokter Freddy sebenarnya sudah menaruh hati pada gadis itu sejak lama. Dia melihat ketegaran Caroline untuk hidup berdua dengan Mamanya. Mungkin ini saatnya untuk mengutarakan perasaannya. Sebenarnya sangat tidak tepat, tetapi menunggu terlalu lama juga tidak baik.
"Carol, boleh aku bertanya padamu?"
"Silakan, dokter."
"Apakah kamu tidak ingin menikah?" Dokter Freddy tidak ingin berbasa-basi lagi. Sudah cukup dewasa bagi Caroline untuk memahami kata menikah itu.
"Entahlah, dokter. Mungkin belum menemukan orang yang tepat saja," ucapnya. Caroline terlalu fokus memikirkan hatinya yang tidak bisa menghapus nama William dari sana. Bukan tidak mungkin nama itu akan terhapus selamanya, tetapi untuk saat ini nama itu terlalu kuat bersemayam di sana.
__ADS_1
"Kalau misalnya ada seorang pria yang menaruh hati padamu, apakah kamu akan menerimanya?" Tidak banyak waktu untuk mengobrol hal seperti ini kecuali saat bertemu. Mungkin ini saat yang tepat bagi dokter Freddy untuk mengatakannya.
Caroline terdiam. Dia belum membalas apapun ucapan dokter Freddy. Sebenarnya tidak ada salahnya Caroline membuka hati untuk orang lain. Toh, pesan terakhir Mamanya kalau memang William menjadi jodohnya pasti akan bertemu.
"Maaf, dokter. Mungkin aku tidak bisa langsung menerimanya. Jika dia berkenan, aku akan mencoba menjalani hubungan dengannya."
Sudah jelas di telinga dokter Freddy. Gadis itu mencoba memberikan harapan untuknya. Tinggal bagaimana dokter Freddy berani mengatakan pada gadis itu jika pria yang di maksud adalah dirinya.
Mobil sengaja berjalan lambat, tetapi tetap saja akan sampai pada saat yang tepat. Dokter Freddy membukakan pintu untuk Caroline. Gadis itu langsung masuk dan duduk di ruang tamu.
Dokter Freddy masih di luar. Dia sepertinya harus menunggu beberapa waktu sampai kondisi Caroline benar-benar pulih.
Aku harus bersabar sampai Caroline siap menerimaku. Dia hidup sendirian, tidak ada salahnya aku berusaha untuk mendapatkannya.
Setelah meyakinkan dirinya, dokter Freddy masuk dan menemui Caroline yang masih berada di ruang tamu.
"Kenapa tidak langsung ke kamar?" tanya dokter Freddy.
"Aku sengaja menunggumu, dokter. Aku belum menunjukkan di mana kamarmu untuk malam ini," ucap Caroline dengan tatapan lurus ke depan tanpa melihat dokter itu.
"Maaf, aku sepertinya terlalu lama di luar."
"Tidak masalah, dokter. Kamu sudah membantuku menyelesaikan pemakaman Mama dengan sangat cepat."
"Sama-sama."
Setelah itu suasana menjadi hening. Tak ada pembicaraan lagi antara keduanya. Caroline lebih memilih untuk menyandarkan tubuhnya pada sofa ruang tamu itu.
Aku terlalu lama terpuruk memikirkan nasib cintaku. Sekarang aku juga sudah kehilangan Mama. Aku butuh sandaran untuk berbagi keluh kesah dan kebahagiaan. Namun, sampai saat ini aku belum menemukannya. Mama melarangku melanjutkan hubungan dengan Lewis. Entah, ada rahasia apa dengan pria itu? Secepatnya aku harus datang ke sana dan memutuskan untuk tidak melanjutkan bekerja dengannya.
Lain halnya dengan dokter Freddy. Pria itu tidak melamun, tetapi terus memandang wajah Caroline yang sedang memikirkan sesuatu itu. Niatnya untuk mengatakan perasaannya harus ditunda dulu untuk beberapa hari ke depan. Lagi pula, dia bisa mengatakannya lewat pesan jika dokter Freddy takut untuk ditolak oleh Caroline.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1