
Caroline merasakan kegalauan yang luar biasa. Dia belum mendapatkan keputusan dari William. Mungkin saja pria itu sedang berusaha keras untuk meyakinkan mamanya.
Caroline sebenarnya tidak paham dengan sikap tante Lavina, mamanya William. Sejak dahulu, wanita paruh baya itu selalu membencinya. Dia selalu mengupayakan untuk memisahkan Caroline dari putranya.
"Apakah aku harus menemuinya dan menanyakan alasannya membenciku? Atau aku menunggu keputusan dari William saja?" Caroline melihat wajahnya di cermin. Sebentar lagi usianya akan memasuki dua puluh sembilan tahun. Baginya mengejar karier bukan prioritas, tetapi mengejar William belum ada titik temu yang membuatnya yakin akan bersatu dengan pria itu. Kalau sudah seperti ini, pikiran Caroline pasti teringat mamanya.
Andai mama tahu rumitnya kehidupanku setelah mama pergi. Mungkin Mama tidak akan pernah tega untuk meninggalkanku. Aku harap bisa tetap kuat dan bertahan menghadapi apapun kondisinya. Walaupun penolakan tante Lavina berulang-ulang, aku yakin William tidak akan pernah diam.
Caroline keluar kamarnya. Dia bermaksud masuk ke kamar mamanya yang sudah lama kosong.
"Non, mau ke kamar mama, ya?" tanya Bibi Fidela.
"Iya, Bi. Oh ya, Tansy suruh ke kamar mamaku ya, Bi. Aku tunggu di sana," perintah Caroline.
"Iya, Non. Gadis itu baru saja selesai menyiram bunga di halaman."
"Terima kasih, Bi. Kalian semua memang keluargaku yang sangat baik."
"Terima kasih, Nona."
Caroline langsung masuk ke kamar mamanya, sedangkan Bibi Fidela langsung menjemput Tansy yang baru saja meletakkan selang air pada tempatnya.
"Tansy," panggil Bibi Fidela.
"Ya, Ma. Ada apa?"
"Nona Caroline menunggumu di kamar mamanya. Pergilah!"
"Baik, Ma."
Tansy masih sangat muda. Gadis itu penurut sekali. Makanya Caroline tidak pernah mengeluhkan semua tugas pelayan dan penjaga rumahnya. Sepertinya dokter Freddy telah meninggalkan kenyamanan untuknya.
Tok tok tok.
Tansy mengetuk pintu.
"Masuk!" jawab Caroline. Gadis itu sedang memandang foto mamanya yang masih tertata rapi di atas mejanya. Walaupun kamar itu kosong, tak pernah sekalipun Caroline benar-benar mengosongkannya. Terkadang dia mampir untuk sekadar melepas lelah di sana.
"Ada apa, Nona?" tanya Tansy yang saat ini sudah berada di dalam kamar itu.
__ADS_1
"Tansy, bagaimana rasanya punya mama?" tanya Caroline.
"Sangat tenang, Nona. Mama Fidela selalu menyayangiku walaupun papaku sudah tidak ada," jawabnya.
"Aku dan kamu hampir sama, Tansy. Namun, sekarang semuanya berubah. Aku sudah tidak memiliki keduanya. Bahkan pertama kali aku terlahir, tak pernah sedikit pun mendengar suara papaku. Apakah kamu sempat bertemu dengan papamu?" selidik Caroline.
"Iya, Nona. Papaku meninggal ketika aku baru berusia dua belas tahun. Hidupku juga rasanya hancur kala itu, tetapi Mama terus saja menguatkanku," jawabnya sendu.
"Setidaknya kamu pernah melihat papamu, Tansy. Kalau aku, bahkan di mana dia berada aku tidak pernah tahu. Mama tidak pernah cerita. Entah, sebenarnya ada masalah apa yang membuat papaku meninggalkan mama. Pernah suatu hari aku bertanya pada mama dan dia mengatakan kalau papaku pergi begitu saja. Setelah itu, mama melarangku menanyakannya lagi."
Tansy memang berasal dari keluarga sederhana, tetapi dia jauh lebih beruntung dibandingkan majikannya. Hanya saja, majikannya jauh lebih kaya dari pengamatan mata Tansy. Menurut Tansy, Caroline itu gadis yang baik. Walaupun belum menikah, Caroline selalu memperhatikan kondisi pelayan dan penjaga rumahnya. Itulah sebabnya Bibi Fidela, Tansy, dan Hoshi betah bekerja bersamanya.
"Oh ya, Tansy. Apakah pekerjaanmu dan Bibi Fidela telah selesai? Kalau sudah, aku mau mengajak kalian ke makam mama. Aku ingin memperkenalkan kalian sebagai keluargaku," ucapnya.
"Tunggu, Nona. Aku pergi sebentar menemui mama. Setelah itu, aku akan kembali lagi ke sini," pamitnya.
Gadis itu sangat cekatan sekali. Dia pelayan yang selalu membuat Caroline menumpahkan segala keluh kesahnya. Dia gadis yang sangat cerdas menurutnya. Hanya saja, nasib baik belum pernah memihaknya.
Tak lama, Bibi Fidela dan Tansy menghadap. Sejak tadi pintu kamar itu memang dibiarkan terbuka.
"Nona, apakah mau mengajak kami pergi ke makam Nyonya Veronica?" tanya Bibi Fidela.
"Iya, Non. Kebetulan sekali karena kami memang belum pernah ke sana," jawab Bibi Fidela.
"Baguslah. Bibi dan Tansy bersiaplah. Aku tunggu di mobil," ucap Caroline.
Gadis itu langsung keluar dari kamar mamanya diikuti Bibi Fidela dan Tansy. Caroline mampir ke kamarnya sebentar untuk berganti pakaian.
Setelah itu, Caroline keluar dan langsung menunggu mereka di mobil.
Bibi Fidela dan Tansy kini sudah masuk ke dalam mobil. Sebenarnya mereka sangat tidak nyaman karena membuat majikannya menjadi sopir dadakan seperti itu.
"Non, sebelumnya Bibi minta maaf, ya," ucap Bibi Fidela.
"Ehm, minta maaf untuk apa, Bi?"
Mobil Caroline mulai keluar gerbang. Setelah itu, Hoshi menutup gerbangnya kembali.
"Telah menjadikan Nona sopir dadakan. Maklum kami bisanya juga menumpang," jawab Bibi Fidela.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Bi. Aku senang bisa bersama kalian."
Jarak makam dan rumahnya tidak terlalu jauh. Tak butuh waktu lama untuk sampai di sana. Caroline mencari tempat parkir di bawah pohon yang sangat rindang. Setelah itu, dia turun dan langsung masuk ke makam bersama pelayannya.
Sampai di sana, Caroline berjongkok sebentar dan mengusap nisannya.
"Ma, Caroline datang bersama Bibi Fidela dan Tansy. Mereka pelayan di rumahku, Ma. Mama pernah bilang untuk menganggap mereka keluargaku. Mama tidak marah kan kalau mereka kuajak ke sini bertemu mama dan mengenal mama."
Bibi Fidela dan Tansy mulai berkaca-kaca mendengar ucapan majikannya. Mereka tidak menyangka kalau majikannya sangat rapuh.
"Nona baik-baik saja, kan?" tanya Bibi Fidela. Wanita itu sangat khawatir padanya.
"Caroline baik, Bi. Jangan khawatir, ya," balasnya.
Setelah beberapa lama berdiri di sana, Caroline sengaja meminta mereka agak menjauh. Atau menunggunya di dekat mobil karena Caroline ada hal penting yang disampaikan ke makam mamanya.
"Bibi dan Tansy, tunggu di dekat mobil saja tidak apa-apa. Aku masih merindukan mama."
"Baik, Non. Ayo, Tansy," ajak Bibi Fidela.
Caroline melanjutkan curhatannya di makam mamanya.
"Ma, aku tidak tahu apakah mama akan merestui aku atau tidak jika aku memutuskan untuk kembali kepada William. Aku bingung, Ma. Mamanya William belum memberikan restunya kepadaku. Apa aku bisa menjalaninya, Ma?" keluhnya.
Walaupun mamanya tidak bisa menjawab curahan hatinya, tetapi Caroline merasa lega sudah mengatakannya.
"Ma, mungkin ini saatnya aku harus yakin bisa bersatu dengan William. Mama tahu sendiri kan kalau hanya pria itu yang mampu membuat aku jatuh hati? Aku sudah lama mencintainya, ma. Aku tidak ingin terpisah lagi darinya. Mama juga tahu itu kan?" ucap Caroline sesenggukan.
Selepas mengatakan perasaannya di makam mamanya, Caroline segera kembali. Dia tidak mungkin membiarkan pelayannya menunggu terlalu lama. Setelah itu, Caroline pulang ke rumah dengan hati yang lebih tenang dan semakin mantab untuk bersatu dengan William.
...💟💟💟...
Hai kakak readers di manapun berada. Jangan bosan ya, Emak selalu hadir untuk merekomendasikan karya teman Emak. Yuk kepoin, jangan lupa berikan bintang, masukkan favorit, kemudian baca, dan jangan lupa tinggalkan komentar.
Find The Perfect Love by Author eveliniq
Terima kasih. Luv Yu All 💝💝💝
__ADS_1